Chapter Twenty Five
Adrian Balik Menyerang
POV: Adrian Pramudya · (Arc 2 — Dunia Kerja)
Ada satu kalimat yang kubawa pulang dari Singapura, dan bukan kalimatku. Kalimat ibu, dari meja makan berminggu-minggu lalu: Sekali ini, jangan diitung. Ambil aja.
Dan ada satu kesadaran yang kubawa dari malam di tepi sungai itu—malam ketika aku hancur di bahu Freya dan, untuk pertama kalinya seumur hidup, seseorang memegangku balik: bahwa aku sudah lelah, benar-benar lelah, jadi orang yang selalu memberi payung lalu berjalan pergi ke dalam hujan.
Empat tahun—lebih—aku mencintai Freya Calista dengan cara paling pengecut yang ada: dari kejauhan, dalam diam, dengan aturan-aturan yang kubuat untuk melindungi diriku dari satu-satunya hal yang benar-benar kuinginkan. Dan ke mana semua kehati-hatian itu membawaku? Ke apartemen yang terlalu sepi. Ke satu kotak kosong yang kujaga tetap kosong dengan bangga bodoh. Ke penyesalan di koridor belakang panggung yang masih terasa tajam setelah empat tahun.
Aku sudah muak menjaga jarak. Jadi aku memutuskan—dengan ketakutan yang membuat tanganku dingin, tapi memutuskan—untuk berhenti mundur.
Butuh waktu untuk sampai ke keputusan itu. Bukan satu momen dramatis, tapi rangkaian hal-hal kecil yang menumpuk. Ibu, yang bilang “ambil aja”. Gilang, dengan penyesalannya soal meja kosong. Malam di tepi sungai, ketika aku menangis dan dunia tidak runtuh—ternyata dunia tidak runtuh, ternyata aku boleh tidak kuat dan langit tetap di tempatnya. Backhug di kantor kosong, ketika Freya memelukku dari belakang dan aku, untuk pertama kalinya, tidak menjauh. Setiap hal kecil itu adalah satu batu bata yang kucabut dari tembokku sendiri, sampai suatu pagi aku bangun—jam empat, seperti biasa—dan menyadari bahwa temboknya sudah terlalu rendah untuk kusembunyikan di baliknya, dan aku tidak lagi ingin membangunnya kembali.
Dan ternyata, kalau kau menghabiskan seluruh hidupmu mundur, momen kau akhirnya maju terasa seperti melompat dari tebing.
Kesempatannya datang, seperti biasa, dari Freya sendiri.
Sejak Singapura, ia makin berani—makin manja, makin sering menyentuh, makin sering menggodaku dengan senyum yang tahu persis efeknya. Ia menikmati kekuasaannya atasku, dan sejujurnya, sebagian dari diriku juga menikmati diberi kuasa atas. Tapi ada bagian lain, bagian yang baru tumbuh sejak tepi sungai itu, yang mulai bosan selalu jadi pihak yang kelabakan. Bagian yang ingin, sekali saja, melihat siapa yang kelabakan kalau posisinya kubalik.
Ia berdiri di sebelah mejaku sore itu, menunjukkan sesuatu di laptopnya, berdiri terlalu dekat seperti kebiasaan barunya yang tak tahu malu. Aku bisa mencium wangi sabun sederhana itu. Aku bisa merasakan hangat lengannya yang hampir menyentuh lenganku. Dan ketika ia selesai, alih-alih kembali ke mejanya, ia menyandarkan pinggul ke tepi mejaku, menatapku dengan senyum jahil yang sudah kuhafal, dan berkata:
“Kamu tahu nggak, Adrian, kamu itu makin lama makin susah dibaca. Dulu tiap aku deket, telinga kamu langsung merah. Sekarang kadang enggak. Kamu belajar, ya?” Ia mencondongkan badan sedikit, menurunkan suara jadi godaan, matanya berkilat penuh percaya diri. “Atau jangan-jangan kamu udah kebal sama aku?”
Dulu, kalimat seperti itu akan membuat sistem operasiku crash. Dulu, aku akan menggumamkan sesuatu yang canggung, menunduk, membiarkannya menang.
Tapi itu Adrian yang lama. Adrian yang lama sudah kutinggal di tepi sungai Singapura, menangis di bahu seseorang yang memilih memegangnya balik.
Jadi aku tidak menunduk. Aku menoleh, menatapnya langsung—cukup lama sampai senyum jahilnya mulai goyah—dan ketika tangannya, yang bertumpu di mejaku, dengan iseng mengetuk-ngetuk dekat tanganku, aku meraihnya. Kutangkap tangan itu. Kugenggam. Dan aku menariknya pelan sampai ia sedikit kehilangan keseimbangan dan harus menopang dirinya dengan tangan satunya di sandaran kursiku, wajahnya tiba-tiba jauh lebih dekat ke wajahku dari yang ia rencanakan.
“Berhenti,” kataku pelan, menatap matanya, suaraku rendah dan mantap dengan cara yang mengejutkan diriku sendiri. “Atau aku beneran nggak bisa nahan.”
Dunia berhenti.
Senyum jahil Freya lenyap sepenuhnya. Aku menyaksikan—dengan kepuasan yang tak pernah kuduga bisa kurasakan—wajahnya memerah, merah padam, merah yang biasanya jadi milikku. Aku menyaksikan matanya melebar, napasnya tercekat, dan untuk pertama kalinya sejak ia berjalan masuk ke ruang serbaguna itu berminggu-minggu lalu, Freya Calista—perempuan paling tenang, paling terkendali, paling selalu-selangkah-di-depan yang pernah kukenal—kehilangan seluruh kata-katanya.
Dan di detik itu, menatapnya begitu dekat, aku menyadari sesuatu yang membuat dadaku hangat sekaligus perih: begitu inilah rasanya. Selama berminggu-minggu, Freya-lah yang selalu memegang kendali—yang mendekat, yang menggoda, yang membuatku kelabakan sementara ia tetap tenang. Aku selalu mengira ketenangan itu berarti ia tidak segugup aku. Sekarang, melihat topeng itu retak dalam satu detik, aku tahu aku salah. Ia sama gugupnya. Ia cuma lebih ahli menyembunyikannya. Dan mengetahui itu—mengetahui bahwa aku bisa membuat perempuan setenang ini kehilangan keseimbangan dengan satu kalimat—terasa seperti menemukan bahwa aku, ternyata, tidak selemah yang selalu kukira di hadapannya.
“Kamu—“ ia mulai, dan berhenti. Menelan. Mencoba lagi. “Kamu nggak boleh gitu.”
“Kenapa nggak boleh?” Aku belum melepaskan tangannya. Kurasakan jantungnya lewat denyut nadi di pergelangan itu—cepat, sama cepatnya dengan jantungku, dan itu memberiku keberanian yang tak pernah kupunya. “Kamu boleh manggil aku ‘sayang’ di depan telinga. Kamu boleh bilang wangiku enak. Kamu boleh meluk aku dari belakang di kantor kosong. Tapi aku nggak boleh gini?” Aku memiringkan kepala sedikit. “Nggak adil, Mbak Freya. Selama ini kamu yang bikin aku kelabakan. Sekarang giliran aku.”
“Itu beda—“
“Beda gimana?”
Ia membuka mulut. Menutupnya. Membuka lagi. Dan tidak ada satu pun argumen hukum yang cakap keluar dari pengacara paling tajam yang pernah kutemui, karena ia terlalu sibuk memerah dan mencoba menarik kembali kendali yang, untuk pertama kalinya, ada sepenuhnya di tanganku.
“...Nggak adil,” ia akhirnya bergumam, mengulang kataku, kalah, dan sesuatu tentang melihatnya kalah—Freya yang selalu menang, Freya yang selalu selangkah di depan—dengan senyum tak berdaya di wajahnya yang memerah, membuat sesuatu di dadaku hampir meledak.
Aku melepaskan tangannya—pelan, dengan sengaja pelan—dan menyandarkan diri kembali ke kursiku, dan berkata dengan setenang yang bisa kukumpulkan, “Balik kerja, Mbak Freya. Telinga kamu merah, tuh.”
Ia berjalan kembali ke mejanya dengan langkah yang jelas-jelas dipaksakan tenang, dan aku mendengarnya bergumam sesuatu yang terdengar seperti “nggak nyangka” dan “sejak kapan dia bisa gitu”, dan aku—untuk pertama kalinya dalam empat tahun urusan Freya Calista—membiarkan diriku tersenyum penuh kemenangan.
“BANG.” Gilang meluncur ke mejaku begitu Freya cukup jauh, wajahnya seperti orang yang baru menyaksikan mukjizat. “Bang. Apa yang barusan aku liat. Abang. ABANG. Yang tadi itu—Abang nge-flirt balik?! Abang bikin Mbak Freya salting?!”
“Aku lagi kerja, Gilang.”
“Bang, empat tahun aku kenal Abang, Abang nggak pernah bikin siapa pun salting kecuali server yang lagi down. Dan barusan Abang bikin cewek paling cool sekantor merah kayak tomat pakai satu kalimat.” Ia mengusap air mata imajiner. “Aku bangga, Bang. Anakku udah gede. Udah bisa nge-gombal.”
“Itu bukan gombal.”
“Terus apa?”
Aku menatap layar, dan untuk sekali ini tidak menyangkal. “Itu jujur.”
Gilang terdiam, lalu menyeringai lebar. “Wih. Makin parah. Jujur lebih bahaya dari gombal, Bang.” Ia menepuk bahuku, dan untuk sekali ini seringainya berubah jadi sesuatu yang lebih hangat. “Serius, Bang. Aku seneng. Dari dulu Abang keliatan kayak orang yang nyimpen semua buat orang lain. Sekali ini Abang ngambil sesuatu buat diri sendiri. Itu... bagus, Bang.”
“Kamu tumben nggak ngomporin.”
“Bang, ngomporin itu buat orang yang butuh dikompor. Abang udah nyala sendiri sekarang. Aku tinggal nonton.” Ia berdiri, mengangkat gelas kopinya seperti bersulang. “Lagian aku udah janji sama diri sendiri: kalau Abang akhirnya berani, aku nggak akan bercanda. Aku akan diem, respek, dan diam-diam kirim doa.” Ia menyeringai lagi. “...Terus baru bercanda besoknya. Ada masa berkabung buat kejombloan Abang yang legendaris itu, Bang. Panjang umur, semoga tenang di alam sana.”
Aku melempar penghapus ke arahnya. Ia menghindar, tertawa, dan kembali ke mejanya, meninggalkanku dengan perasaan yang belum pernah kupunya di kantor ini: ringan.
Aku tidak menjawab, tapi kalimat itu—yang menggemakan kalimat ibu, yang menggemakan kalimatku sendiri di apartemen sepi—duduk di dadaku dengan nyaman.
Untuk pertama kalinya, aku tidak sedang mundur.
Aku sedang maju. Dan meski setiap langkah maju terasa seperti melompat dari tebing, aku mulai mengerti sesuatu yang tak pernah kupahami dalam empat tahun kehati-hatian:
Kadang, tebing itu bukan tempat kau jatuh. Kadang, tebing itu tempat kau akhirnya belajar bahwa kau bisa terbang.
Aku belum mengatakannya pada Freya—tiga kata itu, kalimat itu, hal yang sudah kutahan bertahun-tahun. Belum. Tapi untuk pertama kalinya, “belum” tidak lagi berarti “tidak akan pernah”.
“Belum” cuma berarti “sebentar lagi”.
Dan malam itu, di apartemen yang untuk pertama kalinya tidak terasa terlalu sepi, aku mulai menyusun—bukan aturan, untuk sekali ini, tapi keberanian. Aku akan mengatakannya. Segera. Aku akan berhenti jadi orang yang memberi payung lalu berjalan pergi. Kali ini aku akan tinggal, dan mengucapkan namanya, dan membiarkan diriku menginginkan sesuatu untuk diriku sendiri, dengan lantang, tanpa menghitungnya.
Aku tidak tahu, saat itu, bahwa Freya sedang menyusun keberaniannya sendiri untuk sesuatu yang jauh lebih besar. Aku tidak tahu bahwa sebelum aku sempat mengucapkan pengakuanku, ia akan lebih dulu mengucapkan pengakuannya—dan mengubah segalanya.
- 1 Orang yang Tak Punya Waktu
- 2 Cahaya yang Tak Boleh Dikejar
- 3 Aturan Main
- 4 Kebaikan Tanpa Nama
- 5 Dua Dunia
- 6 Kompor Bernama Reza
- 7 Satu Payung
- 8 Beban yang Tak Diceritakan
- 9 Nyaris
- 10 Cukup
- 11 Empat Tahun Kemudian
- 12 Nama di Daftar Onboarding
- 13 Bidadari yang Sama
- 14 Protokol Jarak
- 15 Kopi yang Terlalu Pas
- 16 Meja yang Mendekat
- 17 Error di Sini, Sayang
- 18 Wangi yang Salah
- 19 Orang Ketiga
- 20 Cemburu yang Tak Diakui
- 21 Tugas ke Singapura
- 22 Makan Malam "Urusan Kerja"
- 23 Retak yang Ditunjukkan
- 24 Pulang Bawa Perasaan
- 25 Adrian Balik Menyerang reading
- 26 Sejarak Senti
- 27 Empat Tahun
- 28 Cukup, Katanya
- 29 Cinta yang Manis
- 30 Sejauh Nol Meja