← Cukup Memandang, Katanya

Chapter Seven

Satu Payung

POV: Adrian Pramudya · (Arc 1 — Kampus)


Hujan turun tanpa pemberitahuan sore itu, seperti kebanyakan hal buruk—dan, ternyata, kebanyakan hal yang mengubah hidup.

Aku baru selesai giliran sore di kedai, badan lelah, kepala penuh tenggat, ketika langit yang tadinya cuma mendung memutuskan untuk tumpah sekaligus. Dalam hitungan menit, halaman kampus berubah jadi kolam, dan mahasiswa berhamburan mencari atap seperti semut yang sarangnya disiram.

Aku punya satu senjata: payung lipat butut warna biru pudar yang kubeli tiga tahun lalu di pasar. Salah satu jarinya patah, jadi kalau dibuka penuh ia sedikit miring, seperti orang yang jalannya pincang tapi ngotot tetap jalan. Aku menyayanginya justru karena itu. Kami sama-sama reyot, sama-sama bertahan.

Aku membuka payung pincang itu dan bersiap menembus hujan menuju halte, ketika aku melihatnya.

Freya. Berdiri di bawah atap gedung fakultas, sendirian, memeluk buku-bukunya ke dada, menatap hujan dengan ekspresi orang yang sedang menghitung kemungkinan—dan kalah di semua kemungkinan. Teman-temannya tidak ada. Payung tidak ada. Ojek daring, dari cara ia berkali-kali menatap ponsel lalu menghela napas, jelas tidak ada juga. Hujan seperti ini melipatgandakan harga segala hal, dan bahkan orang dari dunia yang bisa melupakan harga pun kadang terjebak oleh cuaca.

Aku berhenti.

Dan untuk beberapa detik, aku cuma berdiri di tepi hujan, memegang payung pincangku, sementara di kepalaku terjadi perang yang lebih ribut dari suara air yang jatuh.

Aturan satu: boleh melihat, tidak boleh mencari. Aku tidak mencarinya; ini kebetulan. Aturan aman.

Aturan dua: maksimal lima menit. Aku sudah melewatinya. Aturan gugur.

Aturan tiga: dia tidak boleh pernah tahu.

Di situlah seluruh persoalannya. Karena kalau aku menghampirinya sekarang, menawarkan payung, berbicara—dia akan tahu. Wajahku akan tercatat. Aku akan berhenti jadi latar dan mulai jadi seseorang. Dan begitu aku jadi seseorang di matanya, aku tidak akan pernah bisa kembali jadi bukan siapa-siapa yang aman.

Setiap logika yang kupunya menyuruhku pergi. Lewat saja. Dia akan menemukan cara pulang; orang selalu menemukan cara. Bukan tanggung jawabku. Aku punya tenggat malam ini. Aku menggigil membayangkan basah, dan aku tidak punya seragam ganti untuk giliran besok pagi. Ada seribu alasan bagus, dan semuanya benar.

Tapi ada hal lucu tentang melihat seseorang yang kaucintai kedinginan: semua logikamu tiba-tiba terdengar seperti alasan.

Aku menatapnya sekali lagi—cara ia memeluk buku-bukunya lebih erat setiap kali angin membawa percikan hujan ke arahnya, cara bahunya menegang menahan dingin, cara ia menatap ponselnya untuk kesekian kali lalu menyerah dan memasukkannya ke tas. Ia tidak mengeluh. Ia cuma menunggu, dengan kesabaran orang yang terbiasa percaya bahwa keadaan pada akhirnya akan membaik.

Dan aku tahu, saat itu juga, bahwa aku tidak akan bisa berjalan pergi dan hidup dengan tenang malam ini kalau kubiarkan ia berdiri di sana.

Kakiku bergerak sebelum kepalaku selesai memutuskan.


Aku menghampirinya. Setiap langkah terasa seperti melanggar hukum yang kubuat sendiri. Jantungku memukul-mukul rusuk seolah ingin kabur duluan.

Ia mengangkat wajah ketika aku sudah dekat—dekat sekali, lebih dekat dari yang pernah kuizinkan selama ini—dan aku melihat matanya sedikit melebar, terkejut ada orang asing menghampirinya di tengah hujan.

Aku tidak memberi diriku waktu untuk berpikir. Kalau aku berpikir, aku akan kalah.

Aku menutup payung pincangku, mengulurkannya kepadanya dengan gagang lebih dulu, dan berkata—suaraku entah bagaimana keluar rata, meski di dalam segalanya bergemuruh—“Pakai ini.”

Ia menatap payung itu. Menatapku. “Eh—nggak usah, Mas, nanti kamu—“

“Aku deket.” Bohong. Halteku sepuluh menit jalan kaki. “Nggak apa-apa.”

“Tapi—“

“Bukunya bisa basah.” Aku menaruh gagang payung itu ke tangannya sebelum ia sempat menolak lagi, memaksanya menerima dengan satu-satunya cara yang kutahu: cepat, sebelum keberanianku habis. Jari kami bersentuhan sepersekian detik di gagang payung—sentuhan pertama, tak sengaja, dan aku merasakannya sampai ke tulang belakang—lalu aku menariknya lepas.

Dan sebelum ia bisa mengatakan apa pun lagi, sebelum ia bisa bertanya, aku berbalik dan melangkah masuk ke hujan.

“Tunggu—“ suaranya di belakangku, hampir tenggelam oleh derasnya air. “Mas! Namamu siapa?”

Aku tidak berhenti.

Aku tidak menoleh.

Karena aku tahu, kalau aku menoleh—kalau aku melihat wajahnya sekali lagi, menyebut namaku, membiarkan namaku hidup di mulutnya—aku tidak akan pernah punya kekuatan untuk berjalan pergi. Dan aku harus berjalan pergi. Itu satu-satunya hadiah yang bisa kuberikan yang tidak akan menagih bunga: kebaikan tanpa nama, sekali lagi, supaya tidak ada yang terluka. Supaya yang terluka cuma aku, di tempat yang tak bisa dilihat siapa-siapa.

Hujan membasahiku sampai ke kulit dalam hitungan detik. Dingin. Seragam kedaiku menempel di badan. Sepatuku penuh air, mengeluarkan bunyi becek di setiap langkah. Orang-orang yang berteduh menatapku seolah aku gila—satu orang berjalan santai menembus hujan, tanpa payung, tanpa berlari, tanpa buru-buru.

Mereka tidak salah. Mungkin aku memang sedikit gila.

Dan di tengah semua itu, aku mengucapkan mantra lamaku, mantra yang selama berminggu-minggu jadi tanggulku—

Memandangnya dari sini saja sudah lebih dari cukup.

—tapi kali ini kata-kata itu tersedak di tenggorokan, karena aku sadar aku bahkan tidak sedang memandangnya. Aku sedang membelakanginya. Aku sedang berjalan menjauh, di bawah hujan, memberikan satu-satunya payungku dan menyimpan seluruh basahnya untuk diriku sendiri, dan menyebut itu “cukup”.

Itu bukan cukup. Itu tidak pernah cukup. Itu cuma kata paling sopan yang kupunya untuk menutupi betapa aku menginginkan sesuatu yang kuputuskan tak boleh kumiliki.

Aku berjalan sepuluh menit di bawah hujan menuju halte, sendirian, menggigil, dan—ini bagian yang tidak akan kuceritakan pada Reza—tersenyum. Tersenyum bodoh, tersenyum sakit, karena untuk pertama kalinya aku memberikan sesuatu yang benar-benar berarti pada seseorang yang benar-benar berarti, meski ia tak akan pernah tahu dari siapa.

Payung pincang itu sekarang miliknya. Dan entah kenapa, itu terasa seperti meninggalkan sepotong kecil diriku dalam genggamannya—bagian yang reyot, bagian yang bertahan, bagian yang tidak pernah berani kuperkenalkan.


⟡ Selipan Freya

POV: Freya Calista · (Arc 1 — Kampus · sudut pandang dijaga)


Aku berdiri di bawah hujan yang tidak lagi menyentuhku, memegang payung butut yang salah satu jarinya patah, menatap punggung yang menjauh sampai ditelan tirai air.

“Mas!” panggilku sekali lagi, lebih keras. “Namamu siapa?!”

Ia tidak menoleh. Ia terus berjalan, bahunya basah kuyup, seragamnya menempel di punggung, masuk semakin dalam ke hujan seolah tidak keberatan sama sekali menukar keringnya dengan keringku.

Dan aku berdiri di situ, bodoh, dengan payung di tangan dan pertanyaan yang tak terjawab di mulut.

Payungnya jelek. Aku bilang ini dengan sayang, tapi tetap: payungnya jelek. Warnanya sudah pudar, gagangnya lecet, dan satu jarinya patah sehingga kalau kubuka penuh, ia sedikit miring ke kiri. Ini bukan payung yang dibeli orang yang punya banyak payung. Ini payung satu-satunya. Payung yang dirawat karena tak ada gantinya.

Dan orang itu—siapa pun dia—memberikannya padaku, lalu memilih basah.

Aku merasakan sesuatu yang aneh menekan dadaku. Bukan cuma terima kasih. Sesuatu yang lebih dari itu, sesuatu yang tidak kutahu namanya, sesuatu yang membuatku ingin berlari menembus hujan mengejar punggung itu dan memaksanya menerima payungnya kembali, atau setidaknya memaksanya memberitahuku siapa dia—supaya kebaikan sebesar ini tidak lenyap begitu saja tanpa wajah, tanpa nama, tanpa cara untuk kubalas.

Aku sudah biasa dengan orang yang berbuat baik lalu ingin dilihat. Yang membantu sambil memastikan bantuannya tercatat. Bukan karena mereka jahat—cuma manusiawi; semua orang ingin diakui. Tapi orang ini kebalikannya. Ia berbuat baik justru dengan cara memastikan ia tidak dilihat. Seolah bagi dia, ketahuan adalah kegagalan. Seolah maksud dari kebaikannya bukan supaya aku berterima kasih, tapi cukup supaya aku tidak lagi kedinginan.

Aku belum pernah bertemu orang seperti itu. Dan tanpa kusadari, aku mulai ingin tahu—bukan sekadar penasaran biasa—orang macam apa yang tega pada dirinya sendiri sebegitu rupa demi orang lain yang bahkan tak ia kenal.

Tapi hujan terlalu deras, dan ia terlalu cepat, dan ketika aku akhirnya memutuskan untuk bergerak, punggung itu sudah tidak ada.

Aku pulang dengan payung pincang itu memayungiku, sedikit miring ke kiri, seolah ia pun menoleh ke arah pemiliknya pergi.

Malam itu, aku tidak menaruh payung itu di rak bersama payung-payung lain. Aku menaruhnya di sudut kamarku, disandarkan pelan ke dinding, seperti sesuatu yang ingin kujaga. Aku bilang pada diriku sendiri itu supaya nanti bisa kukembalikan—kalau aku menemukan pemiliknya. Kalau.

Tapi jauh di dalam, aku tahu ada alasan lain yang belum berani kuucapkan.

Ada hangat kecil yang menetap di dadaku, sama seperti malam ketika dompetku kembali tanpa nama. Hangat yang sama. Dari, aku mulai curiga, sumber yang sama.

Aku menatap payung pincang di sudut kamar itu lama sekali sebelum tidur. Dari luar, suara hujan mulai mereda, berubah jadi gerimis, lalu jadi tetes-tetes terakhir yang jatuh dari atap. Tapi di dalam dadaku, sesuatu baru saja mulai—pelan, hangat, dan sama sekali tak kupahami.

“Aku akan menemukanmu,” gumamku pada payung itu—pada pemiliknya, pada sosok tak berwajah yang dua kali sudah berbuat baik lalu menghilang. “Suatu hari. Entah bagaimana. Entah butuh berapa lama.”

Aku belum tahu betapa sungguh-sungguhnya aku akan menepati kalimat itu.