← Cukup Memandang, Katanya

Chapter Two

Cahaya yang Tak Boleh Dikejar

POV: Adrian Pramudya · (Arc 1 — Kampus)


Keesokan harinya, aku menghukum diriku sendiri dengan bekerja lebih keras. Itu caraku menebus dosa.

Dan dosaku, malam sebelumnya, adalah tiga puluh menit. Tiga puluh menit yang kuhabiskan di perpustakaan untuk memandangi seseorang yang bahkan tidak kukenal, alih-alih menyelesaikan modul klien yang tenggatnya menagih. Tiga puluh menit yang, dalam pembukuan hidupku, tercatat merah.

Jadi pagi itu aku datang ke kedai lima belas menit lebih awal. Kubersihkan mesin espresso sampai mengilap, kususun gelas sampai rapi seperti barisan tentara.

“Yan.” Pak Har baru datang, masih menenteng kunci, dan langsung menatap barisan gelas itu dengan curiga. “Kamu abis berantem sama pacar, ya?”

“Saya nggak punya pacar, Pak.”

“Nah, itu masalahnya.” Ia menaruh kunci, menuang kopi untuk dirinya sendiri. “Orang yang gelasnya serapi ini pasti lagi lari dari sesuatu. Zaman muda saya, saya lari dari utang. Kamu lari dari apa?”

Aku tidak menjawab. Aku cuma mengelap meja yang sebenarnya sudah bersih. Pak Har terkekeh, menganggap diamku sebagai kemenangan, dan kembali ke urusannya. Ia tidak tahu betapa dekat tebakannya. Aku memang sedang lari. Bukan dari utang. Dari sesuatu yang belum sempat jadi utang, tapi sudah menagih bunga.

Sepanjang pagi aku sibuk. Sengaja sibuk. Karena aku tahu, kalau tanganku diam, pikiranku akan kembali ke sudut perpustakaan itu, dan aku tidak sanggup membiayai kemewahan semacam itu dua hari berturut-turut.

Masalahnya, tubuh bisa disibukkan. Kepala tidak selalu mau menurut.

Di sela mengelap meja, tiba-tiba saja aku teringat Bapak.

Aku jarang mengizinkan diriku mengingat Bapak. Bukan karena aku lupa—justru sebaliknya. Ingatan tentang Bapak seperti pisau yang kusimpan di laci paling bawah: masih tajam, masih bisa melukai, jadi lebih baik tidak sering-sering dibuka.

Tapi pagi itu laci itu terbuka sendiri.

Bapak seorang sopir. Truk pengangkut barang, rute antarkota, kadang pergi tiga hari baru pulang. Aku ingat bau keringat dan bensin di bajunya setiap ia pulang. Aku ingat tangannya yang besar dan kasar, yang bisa mengangkatku ke bahunya dengan satu gerakan.

Dan aku ingat—ini yang lucu, dan justru karena lucu maka paling menyakitkan—bagaimana Bapak paling tidak bisa menyimpan rahasia. Setiap ia pulang membawa oleh-oleh, ia akan bilang, “Jangan buka lemari yang atas, ya,” dengan wajah yang sudah tersenyum-senyum sendiri, sampai aku dan Kayla kecil tinggal menghitung mundur berapa detik sebelum ia sendiri yang tidak tahan dan membuka lemari itu untuk kami. Ibu selalu menggeleng. “Bapakmu itu,” katanya, “kalau jadi maling, sehari juga ketahuan.”

Aku tersenyum tipis di depan meja kedai, mengingat itu. Lalu senyum itu memudar, karena ingatan tidak pernah puas berhenti di bagian yang manis.

Bapak juga punya satu kebiasaan lain: berkata “nanti”.

”Nanti kalau Bapak libur, kita ke pantai, ya, Yan.”

”Nanti kalau Bapak punya waktu, Bapak ajarin naik sepeda.”

”Nanti, ya. Sabar. Bapak lagi ngumpulin waktu buat kalian.”

Aku, bocah tujuh tahun itu, percaya pada setiap “nanti”. Aku menabung “nanti” seperti menabung koin di celengan ayam, yakin suatu hari celengan itu akan pecah dan tumpah jadi pantai, sepeda, dan Bapak yang duduk santai di rumah tanpa harus buru-buru pergi lagi.

Celengan itu tidak pernah pecah.

Bapak pergi pada satu subuh yang tidak berbeda dari subuh lainnya, berpamitan dengan mengecup kening kami yang setengah tidur, menjanjikan pulang hari Kamis. Truknya tidak pernah sampai tujuan. Jalanan basah, tikungan tajam, dan sebuah “nanti” yang tiba-tiba berubah jadi “tidak akan pernah”.

Aku tidak akan menceritakan bagian setelah itu. Bagian ibu yang menangis tanpa suara supaya kami tidak dengar. Bagian celengan ayam yang akhirnya kupecahkan sendiri—bukan untuk pantai, tapi untuk membeli beras. Bagian ketika aku, di umur tujuh tahun, memahami satu hal yang mestinya belum boleh dipahami anak seumuranku:

Bahwa menginginkan sesuatu di masa depan adalah taruhan. Dan masa depan tidak selalu menepati janji.

Sejak itu aku berhenti menabung “nanti”. Aku berhenti menginginkan hal-hal yang harus ditunggu. Aku belajar mengambil apa yang ada sekarang, mengerjakan apa yang bisa dikerjakan hari ini, dan tidak pernah—tidak pernah—menaruh hatiku pada sesuatu yang bisa direbut waktu.

Lap di tanganku berhenti bergerak. Meja sudah bersih dari tadi.

“Yan.” Pak Har melempar handuk kecil ke arahku, membangunkanku dari tempat yang jauh. “Ngelamun. Sana kuliah, keburu telat. Dan bawa itu—“ ia menyodorkan sepotong roti isi yang tidak laku, “—muka kamu udah kayak orang belum makan tiga hari. Bikin pelanggan takut.”

Aku menerima roti itu. Dan untuk sepersekian detik, sebelum keluar pintu, aku bertanya-tanya kenapa dari semua hari, justru hari ini Bapak datang mengunjungiku.

Lalu aku tahu jawabannya, dan jawaban itu membuatku tidak nyaman.

Bapak datang sebagai peringatan.


Sialnya, peringatan tidak selalu berhasil.

Sore itu aku punya kelas Basis Data di gedung yang, entah kebetulan atau tidak, jalur tercepatnya melewati depan Fakultas Hukum. Aku sudah melewati jalur itu ratusan kali selama dua tahun. Ratusan kali, dan tidak pernah sekali pun aku memperhatikan siapa yang lalu-lalang di sana.

Hari itu berbeda.

Hari itu, tanpa kuperintahkan, mataku bergerak sendiri. Menyapu koridor. Mencari.

Aku bahkan tidak sadar sedang melakukannya sampai aku sadar aku kecewa—kecewa!—karena tidak menemukan apa yang kucari. Dan begitu kesadaran itu datang, aku berhenti di tengah jalan, sampai seorang mahasiswa hampir menabrak punggungku dan menggerutu, “Woy, ini jalan atau tempat parkir?”

Aku minta maaf. Aku menyingkir. Aku berdiri di tepi koridor seperti orang linglung.

Apa-apaan ini.

Aku menegur diriku sendiri dengan bahasa yang tidak akan kutulis di sini. Aku bahkan tidak tahu namanya. Aku tidak tahu apa pun tentangnya. Dan lihat aku sekarang—berdiri mematung di depan fakultas yang bukan fakultasku, mencari sosok yang kemarin sore kulihat selama tiga puluh menit terkutuk itu, seolah tiga puluh menit itu telah menanam sesuatu di dalam dadaku yang mulai tumbuh tanpa izin.

Aku memaksa kakiku berjalan. Masuk kelas. Duduk. Membuka buku.

Dan di sanalah takdir memutuskan untuk mempermainkanku.

Kelasku hari itu ada di lantai tiga, dengan jendela lebar yang menghadap ke lapangan tengah kampus. Aku sengaja memilih kursi paling depan, paling dekat papan, paling jauh dari godaan. Tapi di tengah dosen menjelaskan soal indeks dan tabel, mataku—pengkhianat itu—tertarik ke jendela, ke bawah, ke lapangan.

Dan aku melihatnya menyeberang.

Ia berjalan bersama dua temannya, memeluk buku tebal yang sama, langkahnya tidak buru-buru. Dari lantai tiga ia terlihat kecil, cuma satu titik di antara puluhan titik lain yang menyeberangi lapangan. Tapi aku tahu mana dia bukan karena aku mengenali wajahnya dari jarak sejauh itu—aku tidak bisa. Aku tahu karena seorang mahasiswa yang berjalan berlawanan arah menoleh saat berpapasan dengannya, lalu menoleh lagi, lalu hampir menabrak tiang. Karena penjual es di pojok lapangan berhenti mengipasi dagangannya. Karena, sesaat, arus orang di lapangan itu seperti melambat di sekitar satu titik, cara air melambat di sekitar batu.

Aku menemukannya dengan membaca gangguan yang ia tinggalkan, bukan dengan melihatnya langsung.

“Saudara Adrian.” Suara dosen. “Karena Anda tampak sangat tertarik pada jendela, mungkin Anda bisa jelaskan perbedaan primary key dan foreign key?”

Seisi kelas menoleh. Aku berdiri, dan—syukurlah—otakku, tidak seperti mataku, masih patuh. Aku menjelaskan dengan benar, lengkap, sampai dosen mengangguk puas dan menyuruhku duduk. Reza, dari kursi belakang, berbisik cukup keras, “Sombong.”

Tapi begitu aku duduk kembali, dan menoleh sekilas ke jendela, lapangan sudah kosong. Titik itu sudah menyeberang. Dan anehnya, dadaku terasa seperti kelas yang baru saja ditinggalkan—lega, dan sepi pada saat yang sama.

Tapi sepanjang sisa dua jam pelajaran, sebagian kecil kepalaku—bagian yang mestinya sudah kututup rapat sejak umur tujuh—terus mengetuk-ngetuk pintunya, pelan, sabar, seperti seseorang yang tahu cepat atau lambat akan dibukakan.

Aku tahu apa yang sedang terjadi. Aku bukan orang bodoh. Aku sudah membaca cukup banyak buku untuk mengenali gejalanya, dan aku sudah cukup jujur pada diri sendiri untuk tidak berpura-pura ini sekadar penasaran.

Ini adalah awal dari keinginan.

Dan keinginan, bagi orang sepertiku, adalah cahaya yang datang dari bintang yang sudah lama mati—indah dilihat, tapi kalau kaukejar, kau hanya akan menempuh jarak yang mustahil menuju sesuatu yang sebenarnya sudah tidak ada untukmu.

Malam itu, di kontrakan, aku duduk di depan mesin jahit ibu yang sudah beristirahat, menatap layar laptop yang retak di sudut kiri. Ada tenggat yang harus kukejar. Ada uang yang harus kucari. Ada ibu yang batuknya belakangan makin sering, dan adik yang mimpinya jauh lebih mahal dari yang berani ia ucapkan.

Semua itu nyata. Semua itu menungguku. Semua itu adalah “sekarang” yang tidak boleh kutinggalkan demi “nanti” yang belum tentu ada.

Aku menarik napas panjang, menutup laptop sebentar, dan mengulang mantra yang kemarin kususun—mantra yang, sekarang setelah kupikir-pikir, adalah kesalahan pertama dari serangkaian panjang kesalahan yang manis.

Memandangnya dari sini saja sudah lebih dari cukup.

Aku mengucapkannya pelan, di dalam kepala, sekali. Lalu dua kali. Seperti tanggul yang kubangun dari pasir untuk menahan laut, kutumpuk kata itu tinggi-tinggi, berharap kalau kuulang cukup sering, ia akan cukup kuat.

Aku benar-benar berpikir tanggul itu akan bertahan.