Chapter Eleven
Empat Tahun Kemudian
POV: Adrian Pramudya · (Arc 2 — Dunia Kerja)
Empat tahun mengubah banyak hal. Tapi ada satu yang tidak berubah: aku masih bangun pukul empat pagi.
Bedanya, sekarang aku bangun bukan karena harus. Aku bangun karena tubuhku tidak tahu cara lain. Kau bisa membawa orang keluar dari kemiskinan, tapi kau tidak bisa dengan mudah mengeluarkan kemiskinan dari orangnya; ia tinggal di sana, di bawah kulit, dalam bentuk kebiasaan-kebiasaan kecil yang menolak pergi. Bangun subuh. Mematikan lampu yang tak terpakai. Menghitung, meski tak ada lagi yang perlu dihitung.
Aku menuang kopi—kopi asli sekarang, bukan sachet—dan berjalan ke jendela apartemen yang menghadap kota. Lampu-lampu masih menyala di kejauhan, kota yang belum sepenuhnya bangun. Aku suka jam ini. Jam ketika dunia masih diam dan aku bisa berpura-pura, sebentar, bahwa waktu adalah milikku.
Rumah untuk ibu sudah lunas dua tahun lalu. Bukan kontrakan, bukan petak sempit di gang yang harus menahan napas—rumah, dengan halaman kecil tempat ibu sekarang menanam cabai dan menjahit bukan karena harus, tapi karena ia bilang tangannya “gatal kalau nganggur”. Batuk yang dulu membuatku menahan napas di ruang tunggu klinik sudah lama sembuh; ternyata memang cuma kelelahan bertahun-tahun, yang obatnya adalah istirahat yang tak pernah bisa kubelikan untuknya dulu. Sekarang bisa.
Kayla masuk kedokteran. Tentu saja ia masuk. Dinding kamarnya yang dulu penuh stiker tengkorak sekarang penuh catatan anatomi, dan ia masih menyeringai dengan cara yang sama persis seperti Bapak. Ia sudah tidak menjual jasa PR ke anak SMP. Ia sekarang, katanya, “investasi negara”. Aku membiayai kuliahnya tanpa ia perlu tahu berapa persisnya, karena ada kebahagiaan tertentu dalam memberi tanpa membuat orang merasa berutang.
Kadang, kalau aku pulang ke rumah ibu di akhir pekan, kami bertiga makan malam di meja yang cukup besar untuk kami bertiga dan masih menyisakan satu kursi kosong—kursi yang, tanpa pernah kami bicarakan, selalu kami biarkan untuk Bapak. Ibu akan bercerita soal cabainya, Kayla akan mengeluh soal dosen sambil menghabiskan dua porsi, dan aku akan duduk mendengarkan, dan untuk beberapa jam itu, seluruh perjuangan bertahun-tahun terasa terbayar lunas. Ini yang dulu kuperjuangkan. Ini yang membuat setiap subuh, setiap giliran ganda, setiap tenggat yang mencekik, jadi masuk akal.
Aku Tech Lead sekarang. Empat tahun dari fresh graduate berlaptop retak jadi orang yang memimpin tim. Laptop retak itu, ngomong-ngomong, masih kusimpan di laci—tidak terpakai, tidak pula kubuang. Ada barang-barang yang kaupertahankan bukan karena berguna, tapi karena mereka tahu siapa dirimu sebelum kau jadi dirimu yang sekarang. Gaji tiga digit—angka yang dulu kupikir salah ketik, sekarang jadi angka yang kuurus tiap bulan dengan ketenangan orang yang sudah terbiasa. Mobil di basement. Semua kotak yang dulu kucentang dalam mimpi, sudah tercentang.
Aku menang. Setiap perang yang kumulai di umur tujuh tahun, sudah kumenangkan.
Lalu kenapa, di jam empat pagi yang sunyi ini, apartemen seluas ini terasa sedikit terlalu sepi?
Aku tidak membiarkan diriku menjawab pertanyaan itu. Aku sudah ahli tidak menjawab pertanyaan-pertanyaan tertentu.
Tapi pagi itu, saat aku menutup gorden, gerimis tipis mulai turun di luar—gerimis yang malas, jenis yang sama seperti bertahun-tahun lalu—dan tanpa kuminta, tanganku berhenti di gorden, dan sesuatu di dadaku ikut berhenti sebentar.
Aku masih menyimpannya. Bukan bendanya—benda itu sudah lama tak lagi di tanganku. Yang kusimpan cuma bayangannya: sebuah payung reyot yang kuberikan di tengah hujan, sebuah punggung yang tak kutoleh, sebuah “cukup” yang kuucapkan di seberang lapangan wisuda. Sebuah wajah yang, empat tahun kemudian, masih bisa kupanggil dengan jelas kalau aku cukup bodoh untuk membiarkannya muncul.
Aku jarang membiarkannya muncul. Aku sudah punya rumah, mobil, gaji, keluarga yang aman. Aku sudah punya segalanya yang dulu kudaftar. Dan aku sudah lama berdamai dengan kenyataan bahwa satu kotak—satu-satunya kotak—akan tetap kosong selamanya, dan bahwa itu adalah harga yang kubayar dengan sukarela agar kotak-kotak lain bisa terisi.
Cukup, kataku dulu. Dan aku sudah membuktikan pada diriku sendiri bahwa aku bisa hidup dengan “cukup” itu. Empat tahun sudah kubuktikan.
Aku menutup gorden sepenuhnya. Aku menghabiskan kopiku, mandi, dan berangkat kerja lebih pagi dari siapa pun, seperti biasa.
Kantor ByteDance Indonesia menempati satu lantai di gedung tinggi di segitiga emas. Kecil, untuk ukuran nama sebesar itu—kira-kira tiga puluh orang total. Kebanyakan divisi bisnis, marketing, operasional. Tim teknis yang kupimpin cuma lima orang yang berkantor di sini; sisanya tersebar di Beijing, Shenzhen, Singapura. Karena itu hidupku diatur oleh zona waktu yang bukan zona waktuku: rapat pukul sepuluh malam dengan tim Shanghai, panggilan subuh dengan Singapura, dan sebulan atau sekali kuartal, koper dan penerbangan ke kantor pusat untuk hal-hal yang tidak bisa diselesaikan lewat layar.
Aku suka pekerjaan ini. Aku suka masalah yang bisa dipecahkan dengan logika, sistem yang bisa diperbaiki kalau rusak, kode yang jujur—kalau salah, ia error; kalau benar, ia jalan; tidak ada zona abu-abu, tidak ada perasaan yang harus ditebak. Dunia yang bisa kukendalikan. Setelah bertahun-tahun hidup di dunia yang tak bisa kukendalikan, ada kenyamanan luar biasa dalam itu.
Orang-orang menyangka aku ambisius. Aku tidak. Aku cuma tidak tahu cara berhenti. Bekerja keras sudah jadi bahasa ibuku, satu-satunya cara aku tahu untuk mencintai orang: dengan memastikan mereka tidak kekurangan. Dan karena orang-orang yang kucintai kini sudah tidak kekurangan apa pun, aku mengalihkan seluruh kerja keras itu ke satu-satunya tempat yang tersisa—pekerjaan ini. Ia menampung energi yang tak lagi punya sasaran. Ia mengisi jam-jam yang, kalau kubiarkan kosong, akan mulai mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang tak ingin kujawab.
“Bang Adrian.” Gilang, salah satu engineer timku, menjatuhkan diri di kursi sebelah begitu aku duduk, membawa dua gelas kopi dari pantry dan menyodorkan satu padaku tanpa diminta. “Bang, serius nih, Abang tuh datang jam berapa sih? Aku udah coba datang jam tujuh biar keliatan rajin, eh Abang udah kayak udah kerja tiga jam.”
“Karena aku emang udah kerja tiga jam.”
“Itu bukan manusia namanya, Bang. Itu server.” Gilang menyeruput kopinya. Ia lima tahun lebih muda dariku, berisik, dan punya bakat langka mengubah kantor sunyi jadi ramai cuma dengan hadir. Kadang ia mengingatkanku pada Reza—yang sekarang, ngomong-ngomong, kerja di startup lain dan masih mengirimiku meme jam dua pagi. “Btw Bang, denger-denger kita mau ada anak baru. Beberapa, katanya. Divisi legal mau nambah orang.”
“Legal bukan urusan kita.”
“Ya tapi kan kalau ada anak baru, ada muka baru, ada suasana baru.” Gilang mengedipkan mata dengan makna yang tidak kuminta. “Kantor kita ini kering, Bang. Butuh penyegaran. Butuh—gimana ya—romansa kantor.”
“Gilang.”
“Aku cuma bilang secara statistik, Bang. Tiga puluh orang, kerja bareng tiap hari, tekanan tinggi. Itu resep. Aku bukan ngarang, aku baca artikel.” Ia menyeruput lagi. “Abang sendiri kapan, Bang? Masa Tech Lead ganteng, mapan, mobil ada, jomblo terus. Ibu Abang nggak nanya-nanya?”
Ibu memang bertanya. Dengan caranya yang halus—menaruh porsi makan berlebih “kalau-kalau ada yang mau kamu ajak”, menyebut anak tetangga yang “sudah nikah, lho”, menatapku sedikit terlalu lama setiap kali aku pulang sendirian. Aku selalu mengalihkan pembicaraan. Karena bagaimana caraku menjelaskan bahwa aku sudah pernah menyimpan sesuatu, dulu, sebuah jeda kecil di tengah hidup yang penuh titik, dan bahwa aku telah menutupnya dengan begitu rapi sampai aku hampir lupa itu pernah ada?
Hampir.
“Aku sibuk,” kataku pada Gilang, membuka laptop. “Itu jawabannya.”
“‘Sibuk’ itu bukan alasan, Bang. Itu tempat sembunyi.” Gilang menunjuk ke arahku dengan gelas kopinya, penuh keyakinan seorang filsuf pantry. “Aku tuh perhatiin ya, Bang. Abang itu ke semua orang baik. Ngajarin junior sabar banget, nggak pernah marah, bela tim kalau ada masalah sama Singapur. Tapi ke diri sendiri? Pelit. Abang kasih semua orang waktu Abang, kecuali buat Abang sendiri.”
Aku berhenti mengetik sebentar. Untuk seorang engineer yang laporannya selalu telat, Gilang kadang mengatakan hal yang terlalu tepat.
“Kamu laporan sprint kemarin belum masuk,” kataku, mengalihkan.
“Nah, itu dia. Tiap kali obrolan mulai kena, Abang banting setir ke kerjaan.” Ia tertawa, mengangkat tangan menyerah. “Oke oke. Tapi inget ya, Bang. Orang yang paling jago benerin sistem orang lain, biasanya paling males benerin sistemnya sendiri. Karena takut nemu bug-nya.”
“Laporan. Sprint. Sekarang.”
“Siap, Bang.” Ia berdiri, tapi berhenti di ujung meja, menyeringai jahil. “Tapi serius soal anak baru, Bang. Feeling-ku kuat. Kantor ini mau ada plot twist.”
Aku mengibaskan tangan menyuruhnya pergi. Kata “plot twist” itu, entah kenapa, menempel di kepalaku lebih lama dari seharusnya—bukan karena aku percaya, tapi karena ada nada di suara Gilang yang, kalau kupikir-pikir belakangan, terdengar hampir seperti ramalan.
Aku tidak tahu—sungguh, aku tidak punya firasat sedikit pun—bahwa “penyegaran” yang dibicarakan Gilang bukan sekadar muka baru. Bahwa badai yang paling tenang selalu datang dengan cara paling biasa: lewat email dari HR, di pagi yang tak berbeda dari pagi mana pun.
Aku menghabiskan hari itu dengan tenang. Rapat. Kode. Panggilan dengan Singapura. Pulang. Menelepon ibu. Tidur.
Hari terakhir hidupku yang lama. Aku cuma belum tahu.
- 1 Orang yang Tak Punya Waktu
- 2 Cahaya yang Tak Boleh Dikejar
- 3 Aturan Main
- 4 Kebaikan Tanpa Nama
- 5 Dua Dunia
- 6 Kompor Bernama Reza
- 7 Satu Payung
- 8 Beban yang Tak Diceritakan
- 9 Nyaris
- 10 Cukup
- 11 Empat Tahun Kemudian reading
- 12 Nama di Daftar Onboarding
- 13 Bidadari yang Sama
- 14 Protokol Jarak
- 15 Kopi yang Terlalu Pas
- 16 Meja yang Mendekat
- 17 Error di Sini, Sayang
- 18 Wangi yang Salah
- 19 Orang Ketiga
- 20 Cemburu yang Tak Diakui
- 21 Tugas ke Singapura
- 22 Makan Malam "Urusan Kerja"
- 23 Retak yang Ditunjukkan
- 24 Pulang Bawa Perasaan
- 25 Adrian Balik Menyerang
- 26 Sejarak Senti
- 27 Empat Tahun
- 28 Cukup, Katanya
- 29 Cinta yang Manis
- 30 Sejauh Nol Meja