← Cukup Memandang, Katanya

Chapter Twenty Seven

Empat Tahun

POV: Freya Calista · (Arc 2 — Dunia Kerja · THE REVEAL)


“Adrian,” kataku. “Kamu inget payung yang kamu kasih ke aku, di tengah hujan, empat tahun lalu?”

Aku melihat wajahnya berubah. Melihat pemahaman menabraknya seperti ombak—pelan dulu, lalu semua sekaligus. Melihat matanya melebar, mulutnya terbuka sedikit, seluruh tubuhnya membeku dalam kesadaran yang mustahil: bahwa aku tahu. Bahwa aku selalu tahu.

“Kamu—“ Suaranya nyaris tak terdengar di atas hujan. “Nggak ada yang tahu soal itu. Aku nggak ninggalin nama. Aku pastiin—“

“Kamu pastiin nggak ada yang tahu. Aku tahu.” Aku tersenyum, dan air mata jatuh bersama senyum itu. “Itu masalahnya, Adrian. Kamu ngabisin bertahun-tahun mastiin kamu nggak keliatan. Dan selama itu, aku ngeliatin kamu.”

Aku menarik napas. Ini dia. Empat tahun—lebih—yang kupendam, yang kusimpan rapat-rapat bahkan dari Nadine, yang kutahan bahkan pas memeluknya di tepi sungai. Semuanya akan keluar sekarang, di bawah kanopi ini, dengan hujan sebagai saksi.

“Aku suka kamu sejak awal kuliah, Adrian.”

Kata-katanya menggantung di udara basah.

“Bukan sejak kamu masuk ByteDance. Bukan sejak kita sekantor. Sejak awal. Sejak semester-semester pertama, waktu aku—entah gimana—merhatiin satu cowok pendiam yang selalu keliatan capek, yang selalu buru-buru dari satu tempat ke tempat lain, yang duduk di perpustakaan bukan buat gengsi tapi buat curi tidur di antara kelas dan kerja. Aku merhatiin kamu jauh sebelum kamu mulai merhatiin aku. Dan waktu akhirnya aku sadar kamu juga merhatiin aku—cara kamu buru-buru nunduk tiap mata kita hampir ketemu, cara kamu selalu ada di deket tapi nggak pernah bener-bener deket—aku...”

Suaraku retak. Aku membiarkannya retak.

“Aku tahu ini kedengeran gila.” Aku tertawa, basah, di sela air mata. “Aku pengacara, Adrian. Aku terlatih kedengeran waras. Dan ini bagian di mana aku kedengeran kayak orang paling nggak waras di dunia, jadi tolong, tahan dulu penilaiannya sampai aku selesai. Karena kalau aku berhenti sekarang, aku nggak akan pernah berani mulai lagi.”

Ia tidak bicara. Ia cuma mengangguk pelan, matanya tak lepas dariku, dan sesuatu di keheningannya—keheningan yang mendengarkan, bukan menghakimi—memberiku keberanian untuk melanjutkan.

“Aku nunggu. Aku pikir, cepat atau lambat, dia bakal maju. Cowok yang merhatiin sedetail itu pasti bakal ngomong. Tapi kamu nggak pernah ngomong. Dan lama-lama aku ngerti kenapa: karena kamu udah mutusin, di dalam kepalamu, bahwa kamu nggak pantes. Bahwa kamu terlalu sibuk, terlalu miskin waktu, terlalu—apalah alasan yang kamu kasih ke diri kamu sendiri. Aku ngeliat kamu milih mundur, berulang-ulang, dan aku menghormati itu. Aku nggak mau maksa masuk ke tembok yang kamu jaga mati-matian. Jadi aku ikut nunggu. Dua orang bodoh, saling suka, sama-sama diem.”


“Dompet aku yang ilang di perpustakaan,” lanjutku, karena sekarang bendungannya sudah jebol dan tidak ada gunanya menahan sisa air. “Yang balik tanpa nama. Aku nggak pernah bisa buktiin, tapi aku tahu itu kamu. Cara kamu mastiin nggak ketahuan—itu kamu banget. Dan payung itu...”

Aku menelan.

“Malam itu, waktu kamu kasih payung terus jalan nembus hujan tanpa noleh, meski aku manggil-manggil—Adrian, kamu nggak akan pernah ngerti apa yang terjadi di dalam diriku malam itu. Aku berdiri megang payung reyot kamu, ngeliatin punggung kamu ilang di hujan, dan aku sadar aku nggak mau kehilangan orang ini. Orang yang ngasih satu-satunya payungnya terus milih basah. Orang yang berbuat baik justru dengan mastiin dia nggak keliatan. Aku belum pernah ketemu orang kayak gitu. Dan aku takut, kalau aku diem terus nunggu kamu maju, aku bakal kehilangan kamu selamanya.”

Hujan menderu. Adrian berdiri diam, air mata—atau hujan, aku tak bisa membedakan—di wajahnya, mendengarkan seolah hidupnya bergantung pada setiap kataku.

“Terus kita lulus,” kataku. “Dan aku tahu, habis wisuda, orbit kita bakal pisah selamanya. Kamu ke duniamu, aku ke duniaku, dan kita nggak akan pernah ketemu lagi. Aku inget berdiri di seberang lapangan wisuda, ngeliatin kamu dari jauh, dan aku bikin janji sama diriku sendiri.” Suaraku menguat sekarang, mantap, meski air mata terus jatuh. “Aku janji: kalau kamu nggak akan pernah menoleh, maka aku yang bakal bikin kamu menoleh. Berapa lama pun.”

“Freya...” Namanya keluar dari mulut Adrian seperti doa yang tak selesai.

“Kamu bilang cukup memandang dari jauh, Adrian.” Aku menatapnya lurus, dan di sinilah, akhirnya, kukeluarkan kalimat yang sudah bertahun-tahun kusimpan. “Aku nggak. Buatku, memandang dari jauh nggak pernah cukup. Makanya aku yang jalan.”


“Aku cari tahu kamu ke mana,” kataku, dan sekarang bagian yang paling kutakutkan, bagian yang mungkin membuatnya lari. “Butuh waktu. Aku tanya sana-sini, aku cari, sampai aku tahu kamu keterima di ByteDance sebagai engineer. Dan aku...”

Aku menutup mata sebentar, lalu membukanya.

“Aku ngarahin seluruh karierku ke sana. Aku ambil spesialisasi hukum teknologi, data, kekayaan intelektual—bukan karena itu passion-ku dari lahir, tapi karena itu jalan yang bisa bawa aku ke perusahaan kayak ByteDance. Aku tolak tawaran dari firma-firma besar yang lain, tempat yang gajinya lebih gede, karirnya lebih bergengsi. Aku tolak kesempatan lanjut S2 ke luar negeri. Semua orang pikir aku gila—Nadine pikir aku gila, keluargaku pikir aku gila—nolak semua itu buat ngejar posisi legal staff di kantor kecil yang cuma tiga puluh orang.” Aku tertawa, tawa yang setengah isak. “Butuh empat tahun, Adrian. Empat tahun aku bangun jalan, batu bata demi batu bata, biar suatu hari aku bisa jalan masuk ke satu ruangan dan nemuin kamu di sana.”

Aku melihat pertanyaan terbentuk di matanya—pertanyaan yang tak sanggup ia ucapkan—dan aku menjawabnya sebelum ia bertanya.

“Kamu mau tanya kenapa. Kenapa segitunya. Kenapa aku ngorbanin empat tahun, nolak semua yang lebih masuk akal, demi satu cowok yang bahkan belum pernah ngobrol panjang sama aku.” Aku menggeleng pelan. “Aku nanya diriku sendiri hal yang sama, berkali-kali, di malam-malam pas aku capek dan ragu dan mikir aku emang gila. Tapi tiap kali, jawabannya sama: karena orang yang ngasih satu-satunya payungnya ke orang asing terus milih basah—orang yang berbuat baik justru dengan mastiin dia nggak keliatan—orang kayak gitu langka, Adrian. Langka banget. Dan aku udah cukup dewasa buat tahu bahwa kalau kamu nemu sesuatu yang langka, kamu nggak ngukur-ngukur untung ruginya. Kamu perjuangin. Titik.”

Aku melihat Adrian mundur setengah langkah, tangannya menutup mulutnya, dan aku tahu—aku tahu persis—apa yang lewat di kepalanya. Karena aku baru saja menggambarkan sesuatu yang, buat orang seperti dia, terlalu besar untuk dicerna: bahwa dia, yang seumur hidup merasa tak pantas diinginkan siapa pun, yang selalu jadi pemberi dan tak pernah penerima, yang menghitung setiap keinginan sampai keinginan itu mati—ternyata diinginkan sebegitu rupa sampai ada orang yang membangun empat tahun hidupnya demi dia. Tanpa ia minta. Tanpa ia tahu. Tanpa ia pernah, sedetik pun, merasa layak.

“Jadi waktu aku jalan masuk ke ruang serbaguna itu di hari pertama,” kataku pelan, “dan kamu kaget setengah mati—itu bukan kebetulan, Adrian. Nggak ada yang kebetulan. Kopi americano yang aku hafal. Meja yang aku pindahin biar deket kamu. Semuanya. Aku ngerancang semuanya. Karena aku udah nunggu empat tahun, dan aku nggak mau nunggu satu hari lebih lama lagi tanpa deket kamu.”


Aku tahu ini saatnya. Aku sudah menyimpannya di dalam tasku sejak pagi, dibungkus plastik supaya tidak basah, karena entah bagaimana aku tahu—aku selalu tahu—bahwa hari ini payung ini akhirnya pulang.

Aku mengeluarkannya.

Payung lipat butut, warna biru pudar, yang salah satu jarinya patah. Sudah empat tahun disimpan di sudut kamarku, disandarkan pelan ke dinding, dijaga seperti sesuatu yang berharga. Aku membukanya—dan ia terbuka, seperti dulu, sedikit miring ke kiri, pincang, reyot, dan bagiku paling indah dari semua payung di dunia.

Aku mengangkatnya di atas kepala kami berdua, keluar dari bawah kanopi, ke tepi hujan, sehingga air jatuh di sekeliling kami tapi tidak menyentuh kami—dinaungi oleh payung yang sama, empat tahun kemudian.

“Kamu kasih aku payung ini terus kamu pergi,” bisikku, menatapnya di bawah naungan biru pudar itu, wajah kami sedekat tadi lagi. “Empat tahun aku simpan. Nungguin kamu balik buat ngambilnya. Dan sekarang—“ suaraku pecah sepenuhnya, “—sekarang aku ngasih balik ke kamu. Tapi kali ini, Adrian, kali ini aku nggak mau kamu jalan pergi. Kali ini kita berdiri di bawah payung yang sama. Sama-sama. Sampai kamu bilang kamu nggak mau.”

Adrian menatapku—menatap payung, menatapku, menatap empat tahun yang baru saja kubentangkan di antara kami—dan wajahnya, wajah laki-laki yang tak pernah kubayangkan bisa serapuh dan sepenuh ini, hancur dan utuh pada saat yang sama.

Ia membuka mulut. Ia mencoba bicara. Tapi tidak ada kata yang keluar, cuma napas yang gemetar, cuma tangan yang terangkat perlahan untuk menyentuh gagang payung di atas kepalaku—gagang yang sama yang ia lepaskan empat tahun lalu—dan berhenti di sana, jarinya menyentuh jariku, di bawah hujan, di bawah payung reyot yang akhirnya pulang.

“Katakan sesuatu,” bisikku, takut, penuh harap, seluruh hidupku menggantung di senyapnya. “Tolong. Apa aja. Katakan sesuatu, Adrian. Aku udah nunggu empat tahun buat denger jawabanmu.”