Chapter Nineteen
Orang Ketiga
POV: Adrian Pramudya · (Arc 2 — Dunia Kerja)
Aku selalu bangga pada satu hal: aku bukan orang yang cemburu. Cemburu adalah kemewahan emosional untuk orang yang punya sesuatu untuk dijaga, dan aku, sepanjang hidup, tidak pernah mengizinkan diriku memiliki apa pun yang bisa direbut.
Lalu Damar datang, dan aku menemukan, dengan rasa jijik pada diri sendiri, bahwa aku ternyata sangat, sangat mampu cemburu.
Damar dari divisi Business Development. Ia jenis orang yang, kalau masuk ruangan, ruangan itu menyesuaikan diri padanya—bukan dengan cara sunyi seperti Freya, tapi dengan cara ramai: orang tertawa lebih keras, obrolan jadi lebih hidup, ada semacam gravitasi hangat yang berpusat padanya. Tinggi, rapi, mudah tertawa, dan punya bakat langka membuat siapa pun merasa jadi orang paling menarik di ruangan ketika ia bicara dengan mereka. Ia hafal nama satpam. Ia mentraktir tim ketika mereka lembur. Ia, secara menyebalkan, adalah orang baik.
Dan minggu itu, Damar menemukan Freya.
Aku menyaksikannya dari mejaku—empat meter, jarak kutukan itu—ketika Damar pertama kali mampir ke meja legal dengan alasan tipis soal “review kontrak vendor”, lalu tinggal jauh lebih lama dari yang dibutuhkan review kontrak vendor mana pun. Aku mendengar Freya tertawa pada sesuatu yang ia katakan. Tawa yang sopan, mungkin. Tawa basa-basi, mungkin. Tapi tawa, dan bukan aku yang menyebabkannya.
Sesuatu di dalam dadaku, sesuatu yang tidak pernah kuizinkan bersuara, mengeluarkan geraman rendah untuk pertama kalinya dalam hidupku.
Hari-hari berikutnya, polanya makin jelas. Damar punya cara mendekat yang mudah, alami, tanpa beban—hal yang bagiku terasa seperti sihir. Ia mampir bawa dua es kopi, satu untuk Freya, “kebetulan beli dua”. Ia bersandar santai di sekat meja legal, mengajak Freya bicara soal apa saja—film, akhir pekan, restoran baru—dengan kelancaran orang yang tidak pernah, sekali pun dalam hidupnya, menghitung sepuluh alasan untuk tidak melakukan sesuatu sebelum melakukannya. Ia melakukan, dalam hitungan hari, apa yang tidak berani kulakukan dalam hitungan tahun.
Yang paling menyiksa: aku tidak bisa membencinya. Aku sudah mencoba. Tapi Damar terlalu tulus untuk dibenci. Ketika salah satu junior tim-ku bingung soal sesuatu, Damar-lah yang berhenti membantu, sabar, tanpa diminta. Ketika office boy sakit, Damar yang mengorganisir patungan. Ia bukan playboy licik dari sinetron yang bisa kubenci dengan nyaman. Ia laki-laki baik yang kebetulan menyukai perempuan yang sama denganku—dan yang, tidak seperti aku, punya keberanian untuk menunjukkannya.
Kalau Freya memilih Damar, aku sadar dengan pahit, itu bukan pilihan yang salah. Itu justru pilihan yang masuk akal. Damar bisa memberinya semua yang bisa kuberi, plus satu hal yang tak pernah bisa kuberi: seseorang yang tidak takut.
“Bang.” Gilang menggeser kursinya, suaranya berbisik dengan kegembiraan seorang komentator yang baru saja melihat gol. “Bang, Abang liat nggak? Situasi berkembang.”
“Aku lagi kerja.”
“Abang dari tadi buka file yang sama, nggak scroll-scroll. Abang lagi nguping.” Ia menyeringai. “Damar, Bang. Dia PDKT ke Mbak Freya. Terang-terangan. Aku respek sih, gaspol banget dia. Kemarin dia ajak Mbak Freya makan siang. Hari ini bawain teh. Besok mungkin bawain orang tua.”
“Bukan urusan kita.”
“Bang.” Gilang menatapku dengan tatapan yang terlalu tajam untuk kenyamananku. “Rahang Abang ngunci. Dari tadi. Tiap Damar ketawa, rahang Abang ngunci sedikit. Aku ngukur. Itu grafik cemburu, Bang. Naik-turun mengikuti volume tawa Damar.”
“Aku nggak cemburu.”
“Bang, Abang ngetik ‘asdfgh’ di dokumen arsitektur. Tiga kali. Aku liat.”
Aku menatap layarku. Di tengah dokumen desain sistem yang serius, memang, ada baris ‘asdfgh’. Tiga kali. Aku menghapusnya dengan martabat yang sudah tidak kupunya. Lalu, karena tanganku jelas sedang tidak bisa dipercaya, aku menutup dokumen itu sepenuhnya sebelum ia mencatat lebih banyak bukti kekacauanku.
“Damar orang baik,” kataku akhirnya, dan itu justru bagian terburuknya. “Dia cocok sama siapa aja. Dia—“ aku mencari kata yang tidak menyakitkan tapi tidak menemukannya, “—normal. Dia bisa ngajak orang makan siang tanpa mikirin sepuluh alasan buat nggak ngelakuinnya. Dia bisa maju.”
Gilang menatapku, dan untuk sekali ini seringainya memudar. “Bang. Abang tahu nggak kenapa Abang bilang gitu?”
“Kenapa?”
“Karena Abang ngebandingin diri Abang sama dia. Dan orang cuma ngebandingin diri sama saingan.” Ia menepuk mejaku pelan. “Abang nganggep dia saingan, Bang. Berarti Abang udah ngaku, minimal ke diri sendiri, bahwa ada yang Abang perjuangin. Cuma Abang-nya aja yang belum berani ngomong sama Abang sendiri.”
Kadang Gilang mengatakan hal yang terlalu benar untuk seorang yang mejanya penuh bungkus keripik. Aku tidak membalasnya. Aku cuma kembali menatap layar, dan kali ini tidak berani mengetik apa-apa, takut jariku mengkhianatiku lagi.
Puncaknya datang hari Jumat.
Aku sedang mengambil kopi di pantry ketika Damar masuk, tersenyum lebar, dan—karena semesta memang tidak pernah lelah menyiksaku—memulai obrolan.
“Adrian, kan? Tech Lead.” Ia menjabat tanganku, ramah, tulus, menyebalkan. “Gue Damar. Eh, mau nanya nih, lo kan sering koordinasi sama tim legal ya. Mbak Freya itu—dia udah ada yang punya belum sih? Kayaknya belum, tapi gue nggak mau salah langkah. Lo tau nggak?”
Dan di sinilah aku, berdiri di pantry, memegang kopi, dihadapkan pada pertanyaan paling sederhana di dunia dan paling mustahil untuk kujawab.
Dia udah ada yang punya belum?
Jawaban jujurnya: aku tidak tahu. Aku tidak punya hak apa pun atas jawaban itu. Freya bukan milikku, tidak pernah, tidak akan. Aku adalah orang yang selama empat tahun memilih mencintainya dari kejauhan justru supaya tidak pernah harus mengajukan klaim apa pun. Aku sudah menyerahkan hakku untuk cemburu sejak lama—atau begitulah yang kukira.
“Aku nggak tahu,” kataku. Suaraku rata. Datar. Sempurna. “Kami cuma rekan kerja.”
“Oh oke oke. Berarti aman ya buat gue coba.” Damar menyeringai, menepuk bahuku dengan bersahabat. “Thanks, bro. Lo enak diajak ngomong. Nggak semua Tech Lead mau ngobrol sama anak BD, biasanya pada sok sibuk. Nanti kita lunch bareng ya, tim.”
Ia pergi. Dan aku berdiri di pantry itu, memegang kopi yang tiba-tiba terasa pahit dengan cara yang tidak ada hubungannya dengan kopi, dan menyadari bahwa aku baru saja—dengan mulutku sendiri, dengan suaraku yang rata dan datar dan sempurna—memberi lampu hijau pada laki-laki lain untuk mendekati satu-satunya perempuan yang pernah kuinginkan.
Kami cuma rekan kerja.
Aku sudah mengucapkan versi kalimat itu seumur hidup. Memandang dari jauh saja sudah cukup. Kami cuma rekan kerja. Dia tidak boleh pernah tahu. Kalimat-kalimat sopan untuk menutupi satu kebenaran yang sama: bahwa aku selalu, selalu memilih mundur, dan menyebut kemundurankan itu sebagai kebijaksanaan.
Tapi berdiri di pantry itu, mendengar gema kalimatku sendiri, untuk pertama kalinya kemunduran itu tidak terasa seperti kebijaksanaan.
Terasa seperti pengecut.
Sepanjang akhir pekan, kalimat Gilang dan pertanyaan Damar berputar di kepalaku seperti dua lagu yang saling menimpa.
Abang nganggep dia saingan. Berarti ada yang Abang perjuangin.
Dia udah ada yang punya belum?
Dan di suatu titik, entah kapan, di antara mencuci piring di apartemen yang terlalu sepi dan menatap laptop retak lama yang masih kusimpan di laci, aku berhenti berpura-pura tidak tahu jawabannya.
Aku cemburu. Aku cemburu sampai ke tulang, cemburu dengan cara yang jelek dan kekanak-kanakan dan sama sekali tidak sesuai dengan Tech Lead dewasa yang kubanggakan. Dan cemburu, aku akhirnya mengerti, bukan bukti bahwa aku kehilangan kendali.
Cemburu adalah bukti bahwa perasaan yang kukira sudah kukubur empat tahun lalu, di seberang lapangan wisuda, dengan satu kata “cukup”—tidak pernah benar-benar mati. Aku cuma menguburnya hidup-hidup. Dan sekarang, dengan Damar berdiri di tepi kuburan itu membawa sekop, perasaan itu mencakar-cakar dari dalam tanah, menuntut untuk diakui.
Aku duduk di apartemenku, Minggu malam, dan mengakuinya—untuk pertama kalinya, tanpa syarat, tanpa perhitungan:
Aku mencintai Freya Calista. Aku selalu mencintainya. Bukan cinta mahasiswa yang melankolis, bukan efek samping kelelahan dan kemiskinan seperti yang kubohongkan pada diriku di Bab hidupku yang lalu. Cinta yang bertahan empat tahun tanpa kuberi makan, cinta yang cukup keras kepala untuk hidup di bawah tanah dan menunggu, cinta yang cuma butuh satu perempuan berjalan masuk ke ruang serbaguna untuk bangkit lagi seolah tak pernah kukubur.
Dan aku muak, benar-benar muak, jadi orang yang selalu memilih basah di tengah hujan sementara orang lain masuk dan mengambil payungnya.
Aku memikirkan ibu, dan kalimatnya di meja makan. Sekali ini, jangan diitung. Ambil aja. Aku memikirkan Gilang, dan penyesalannya soal meja kosong dan “gimana kalau”. Aku memikirkan diriku sendiri empat tahun lalu, di koridor belakang panggung, ketika sebuah pintu terbuka dan aku memilih berdiri di luar—dan bagaimana penyesalan itu masih terasa, masih tajam, setelah empat tahun.
Aku tidak mau menambah satu penyesalan lagi ke koleksi yang sudah terlalu berat itu.
Pertanyaannya sekarang bukan lagi apakah aku mencintainya.
Pertanyaannya adalah apakah aku cukup berani, sebelum orang lain yang lebih berani mengambilnya lebih dulu. Dan untuk pertama kalinya, jawabannya—yang selama ini selalu “tidak, aku tidak sanggup”—terasa seperti sedang berubah, pelan-pelan, jadi sesuatu yang lain.
Terasa seperti “mungkin”. Dan “mungkin”, dari orang sepertiku—orang yang menghabiskan seumur hidup mengubah setiap “mungkin” jadi “tidak” demi keamanan—adalah revolusi.
- 1 Orang yang Tak Punya Waktu
- 2 Cahaya yang Tak Boleh Dikejar
- 3 Aturan Main
- 4 Kebaikan Tanpa Nama
- 5 Dua Dunia
- 6 Kompor Bernama Reza
- 7 Satu Payung
- 8 Beban yang Tak Diceritakan
- 9 Nyaris
- 10 Cukup
- 11 Empat Tahun Kemudian
- 12 Nama di Daftar Onboarding
- 13 Bidadari yang Sama
- 14 Protokol Jarak
- 15 Kopi yang Terlalu Pas
- 16 Meja yang Mendekat
- 17 Error di Sini, Sayang
- 18 Wangi yang Salah
- 19 Orang Ketiga reading
- 20 Cemburu yang Tak Diakui
- 21 Tugas ke Singapura
- 22 Makan Malam "Urusan Kerja"
- 23 Retak yang Ditunjukkan
- 24 Pulang Bawa Perasaan
- 25 Adrian Balik Menyerang
- 26 Sejarak Senti
- 27 Empat Tahun
- 28 Cukup, Katanya
- 29 Cinta yang Manis
- 30 Sejauh Nol Meja