← Cukup Memandang, Katanya

Chapter Sixteen

Meja yang Mendekat

POV: Adrian Pramudya · (Arc 2 — Dunia Kerja)


Protokol Jarak bertahan tepat satu minggu sebelum Freya, dengan santai, memindahkan seluruh premisnya.

Secara harfiah. Ia memindahkan mejanya.

Aku baru sadar Senin pagi, ketika aku datang—paling awal, seperti biasa—dan menemukan bahwa tata letak lantai sedikit berubah. Meja di dekat divisi teknis, yang selama ini kosong dipakai barang-barang gudang, sekarang bersih, rapi, dan diduduki oleh seorang perempuan yang sedang menata pulpennya dengan tenang seolah ini hal paling biasa di dunia.

“Pagi, Mas Adrian,” sapanya, tanpa mengangkat wajah dari laptopnya, seolah kami sudah bertahun-tahun bertetangga meja.

Aku berdiri di ambang pintu dengan tas masih di bahu, memproses. “Kamu... pindah?”

“Iya.” Ia mendongak, tersenyum, seolah menjelaskan cuaca. “Review kepatuhannya butuh koordinasi intens sama tim teknis, kan? Bolak-balik dari meja legal ke sini nggak efisien. Aku ngomong sama Mbak Vero, dia setuju. Katanya biar ‘kolaboratif’.” Ia mengangkat bahu, gerakan yang begitu wajar sampai mustahil dibantah. “Jadi... halo, tetangga.”

Secara logistik, ia benar. Secara profesional, tidak ada satu pun alasan untuk keberatan. Secara pribadi—secara pribadi, Protokol Jarak baru saja ditembak mati di siang bolong, dan pembunuhnya tersenyum sambil menata pulpen.

Yang membuatku bingung bukan cuma perpindahannya, tapi ketenangannya. Ia melakukannya seolah ini keputusan paling logis di dunia, tanpa secuil pun kecanggungan, tanpa tanda bahwa ia menyadari apa pun tentang efeknya padaku. Dan itu masuk akal, kataku pada diriku—karena memang tidak ada efek yang ia sadari. Bagi dia, aku rekan kerja. Bagi dia, pindah meja demi efisiensi adalah hal wajar. Seluruh drama yang terjadi hanya terjadi di satu tempat: di dalam kepalaku, tempat yang tak seorang pun bisa lihat, tempat yang sudah bertahun-tahun jadi satu-satunya panggung untuk perasaan yang tak pernah kuizinkan naik ke permukaan.

Aku menggumamkan sesuatu yang kuharap terdengar seperti “oh, oke, bagus” dan berjalan ke mejaku sendiri, yang sekarang—kuukur dengan mata, panik—berjarak kira-kira empat meter dari mejanya. Empat meter. Setelah bertahun-tahun menjaga jarak dalam satuan “seberang perpustakaan” dan “seberang lapangan”, hidupku menyusut jadi empat meter.


Empat meter, ternyata, adalah jarak yang sangat kejam. Bukan jarak yang memisahkan; jarak yang menggoda.

Cukup jauh untuk tidak bisa kuajak bicara tanpa alasan. Cukup dekat untuk bisa kulihat sepanjang hari, di ujung mataku, tanpa perlu menoleh: cara ia mengetik cepat lalu berhenti untuk berpikir, dagu bertumpu di tangan kiri; cara ia menyingkirkan rambut ketika serius; cara ia tersenyum kecil pada layar ketika membaca sesuatu yang lucu, senyum untuk dirinya sendiri yang tidak ditujukan pada siapa-siapa dan yang justru karena itu terasa paling jujur.

Semua yang dulu cuma bisa kucuri dalam potongan lima menit di perpustakaan, sekarang tersedia sepanjang hari, delapan jam, gratis. Dan itu bukan berkah. Itu siksaan pelan-pelan.

Karena Protokol Jarak dibangun di atas kelangkaan. Aturan lima menit dulu berhasil justru karena melihatnya adalah barang langka; kelangkaan membuatnya bisa dijatah. Tapi bagaimana caraku menjatah sesuatu yang sekarang melimpah? Bagaimana caraku “memandang dari kejauhan saja” kalau kejauhan itu tinggal empat meter, dan setiap kali aku mengangkat wajah dari layar, ia ada di sana, nyata, dalam jangkauan suara?

Mantra lamaku—yang selama bertahun-tahun jadi tanggulku—benar-benar tidak berfungsi lagi. Kau tidak bisa berkata “memandang dari jauh saja sudah cukup” ketika tidak ada lagi “jauh”. Kalimat itu jadi tak bermakna, seperti payung di dalam ruangan.

Dan yang lebih buruk: ia mulai memperhatikanku balik. Atau aku mulai gila. Salah satu.

Hal-hal kecil. Segelas kopi di pagi hari, americano, tanpa diminta, yang katanya “kebetulan bikin kebanyakan”—setiap hari. Sebuah pertanyaan teknis yang sebenarnya bisa ia cari sendiri tapi ia bawa ke mejaku, hanya untuk berdiri di sana beberapa menit lebih lama dari yang perlu. Sebuah komentar tentang cuaca, tentang makan siang, tentang meme yang beredar di grup kantor—remah-remah percakapan yang, satu per satu, menembus Protokol Jarak seperti air menembus retakan halus di beton.

Aku bertahan mati-matian. Aku menjawab sopan, singkat, profesional. Aku tidak membiarkan diriku menikmatinya.

Aku bohong. Aku menikmatinya. Setiap detik menyiksa yang menyenangkan itu.

Siang itu, misalnya, ia menghampiri mejaku membawa laptopnya. “Mas Adrian, boleh minta tolong? Aku bingung soal alur retensi data ini. Kalau user hapus akun, data pelatihannya gimana?”

Pertanyaan yang sah. Pertanyaan yang, seperti kata Gilang, sebenarnya bisa dijawab lewat dokumentasi yang sudah kukirim. Tapi ia berdiri di sana, menunggu, laptop di tangan, dan aku—yang bisa menjelaskan arsitektur data pada tim Shenzhen tanpa berkedip—tiba-tiba mendapati mulutku sedikit kering.

“Boleh.” Aku menggeser kursi, dan ia menunduk untuk melihat layarku, dan tiba-tiba jarak empat meter yang tadi kukeluhkan menyusut jadi empat puluh sentimeter. Aku bisa mencium wangi sabun yang sederhana itu lagi. Aku bisa melihat, dari sudut mata, bahwa ia menggigit bibir bawahnya sedikit saat berkonsentrasi. Aku menjelaskan alur retensi data dengan suara yang, kuharap, terdengar lebih stabil daripada tanganku yang tiba-tiba tidak tahu harus diletakkan di mana.

“Oh, gitu.” Ia mengangguk, mencatat, lalu menatapku—terlalu dekat, terlalu lama. “Kamu jelasin sesuatu yang rumit jadi gampang banget. Nggak semua orang bisa gitu.”

Pujian kerja biasa. Tapi caraku menerimanya sama sekali tidak biasa: aku mengangguk kaku, menggumamkan “cuma kebiasaan”, dan diam-diam mengulang kalimatnya di kepala sepanjang sisa hari seperti remaja bodoh.

Aku dua puluh lima tahun. Aku Tech Lead. Dan seorang perempuan bilang aku pandai menjelaskan, lalu aku tidak bisa fokus selama tiga jam.


“Bang.” Gilang, tentu saja, punya pendapat.

Ia menggeser kursinya ke sebelahku sore itu, saat Freya sedang keluar untuk rapat divisi lain, dan berbisik dengan intensitas seorang komentator pertandingan.

“Bang, aku nggak mau ngomporin ya. Tapi sebagai temen, sebagai bawahan yang peduli, sebagai saksi mata—aku wajib lapor.”

“Jangan lapor.”

“Meja dia pindah ke sini, Bang. Ke SINI. Dari sekian sudut kantor, dia milih sudut yang jaraknya empat meter dari Abang.” Ia mengangkat empat jari. “Empat meter, Bang. Itu bukan kebetulan logistik. Itu keputusan.”

“Itu buat koordinasi review.”

“Bang, review-nya bisa lewat email, Teams, telepon, atau kalau mau canggih, hologram. Nggak ada yang WAJIB pindah meja.” Gilang menyandarkan diri, melipat tangan, puas seperti detektif yang baru memecahkan kasus. “Dan lagi, Bang, aku merhatiin—dia bawain Abang kopi tiap pagi. TIAP pagi. Dia nggak bawain aku. Aku juga anggota tim, Bang. Aku juga haus. Tapi enggak. Cuma Abang.”

Aku membuka mulut untuk membantah, lalu menutupnya lagi, karena aku tidak punya bantahan yang jujur.

“Dan Abang—“ Gilang menunjukku dengan telunjuk, “—Abang tuh, tiap dia dateng bawa kopi, Abang langsung kaku kayak murid ketauan nyontek. Terus Abang minum kopinya pelan-pelan banget, kayak sayang mau habis. Aku LIAT, Bang.”

“Kamu terlalu banyak merhatiin orang. Itu nggak sehat.”

“Aku engineer yang bosen, Bang. Merhatiin orang itu hobi.” Ia menyeringai, lalu—jarang untuknya—melembut sedikit. “Serius, Bang. Aku nggak tahu ada apa antara Abang sama dia, dan aku nggak akan maksa. Tapi aku belum pernah liat Abang kayak gini. Empat tahun aku kerja sama Abang, Abang selalu keliatan kayak orang yang udah selesai sama hidup. Tenang, tapi mati rasa. Beberapa hari ini Abang keliatan... hidup. Susah, gugup, kacau—tapi hidup.”

Aku tidak menjawab. Karena aku tidak tahu bagaimana menjawab tanpa mengakui bahwa ia benar.

“Boleh aku jujur, Bang?” Gilang menurunkan suaranya, dan untuk sekali ini tidak ada seringai sama sekali. “Aku dulu punya kesempatan. Sama seseorang. Aku mikir, ah, nanti aja, belum siap, takut ditolak, banyak alasan. Terus dia keburu sama orang lain. Sampai sekarang aku masih kepikiran gimana kalau dulu aku berani.” Ia mengangkat bahu, mencoba ringan tapi tidak sepenuhnya berhasil. “Aku cuma nggak mau Abang, sepuluh tahun lagi, jadi aku. Ngeliatin meja kosong sambil mikir ‘gimana kalau’.”

Kalimat itu mengenai tempat yang tidak kuduga. Karena aku sudah pernah punya “gimana kalau” itu—empat tahun lalu, di koridor belakang panggung seminar, ketika sebuah pintu terbuka dan aku memilih berdiri di luar. Aku sudah tahu persis rasa penyesalan yang Gilang gambarkan, karena aku sudah membawanya selama empat tahun.

“Balik kerja, Gilang,” kataku, tapi suaraku tidak setajam biasanya.

“Siap, Bang.” Ia berdiri, menepuk bahuku. “Tapi renungin ya. Sambil minum kopi yang dia bawain.”

Ia pergi, meninggalkanku dengan kalimat yang menempel lebih lama dari yang kumau.

Hidup.

Aku menatap meja kosong berjarak empat meter itu, meja yang sebentar lagi akan kembali diisi oleh perempuan yang, tanpa izin, tanpa penjelasan, tanpa alasan yang masuk akal, telah memutuskan untuk memindahkan seluruh hidupnya empat meter lebih dekat ke hidupku.

Dan untuk pertama kalinya dalam empat tahun, aku mendapati diriku bukan bertanya bagaimana caraku menjaga jarak

—tapi, diam-diam, dengan rasa takut yang bercampur sesuatu yang sudah lama tak kukenali:

Bagaimana kalau aku tidak mau menjaga jarak lagi?

Aku menutup pikiran itu, seperti biasa. Empat tahun latihan menutup pikiran soal Freya seharusnya membuatku ahli.

Kali ini, ia tidak sepenuhnya mau tertutup. Dan yang paling menakutkanku bukan itu—yang paling menakutkanku adalah aku tidak lagi sepenuhnya yakin aku ingin menutupnya.