Chapter Seventeen
Error di Sini, Sayang
POV: Freya Calista · (Arc 2 — Dunia Kerja · sudut pandang dijaga)
Nadine bilang aku terlalu sabar. Mungkin ia benar. Jadi hari itu aku memutuskan untuk berhenti sabar—sedikit saja—dan melihat apa yang terjadi.
Selama seminggu terakhir, aku sudah membangun pijakan. Kopi tiap pagi—yang ia terima dengan kaku tapi tak pernah tolak. Pertanyaan-pertanyaan teknis yang membawaku ke mejanya. Basa-basi kecil yang ia balas singkat tapi tak pernah mentah. Pelan-pelan, aku memetakan Adrian Pramudya seperti memetakan medan: di mana ia nyaman, di mana ia menegang, kapan ia hampir tersenyum sebelum menahannya.
Dan yang paling kusadari adalah ini: ia tidak pernah, sekali pun, menghindariku. Ia pasang tembok, iya. Ia jaga jarak, iya. Tapi tembok yang dijaga oleh orang yang benar-benar tidak peduli terasa berbeda dari tembok yang dijaga oleh orang yang mati-matian menahan diri. Aku sudah cukup lama mempelajari tembok laki-laki ini—dari jauh, dulu, dan dari dekat, sekarang—untuk tahu yang mana yang kuhadapi.
Rencananya, seperti biasa, terdengar bagus di kepalaku: dobrak sedikit ketenangan Adrian, lihat reaksinya, ukur seberapa dalam tembok itu, cari retakan. Aku ini pengacara. Aku terlatih membaca lawan bicara, mencari titik lemah, memilih momen. Menghadapi satu laki-laki pendiam seharusnya bukan tantangan.
Aku lupa satu variabel penting: bahwa laki-laki pendiam itu adalah satu-satunya orang di dunia yang bisa membuat seluruh pelatihanku menguap dalam tiga detik.
Kesempatan datang siang itu. Adrian sedang menatap layarnya dengan kening berkerut—ekspresi konsentrasi yang, ya ampun, masih saja membuatku lupa napas setelah bertahun-tahun—dan dari mejaku empat meter jauhnya, aku bisa melihat ia terjebak pada sesuatu. Ia mengetik, menghapus, mengetik lagi, memijat pangkal hidungnya. Bug, mungkin. Aku tidak mengerti kodenya, tapi aku mengerti bahasa tubuh orang yang buntu.
Ini dia. Alasan yang sah untuk mendekat.
Aku menghabiskan sekitar tiga puluh detik meyakinkan diriku bahwa ini murni profesional—rekan kerja membantu rekan kerja—sebelum berdiri, mengambil map kosong sebagai alibi, dan berjalan ke mejanya dengan langkah yang kubuat sesantai mungkin, seolah jantungku tidak sedang menggedor rusuk.
“Mas Adrian, boleh nanya soal—“ Aku berhenti, pura-pura baru melihat layarnya. “Eh, kamu lagi stuck, ya?”
“Sedikit.” Ia bahkan tidak menoleh, terlalu fokus. “Ada yang error dari semalam, nggak ketemu-ketemu.”
Dan di situlah aku melakukan hal yang, seandainya kupikirkan matang-matang, mungkin tidak akan kulakukan. Tapi aku tidak memikirkannya matang-matang. Itu masalahnya. Di dekat dia, aku berhenti memikirkan hal-hal matang-matang.
Aku menunduk untuk melihat layarnya—dan sengaja, dengan sangat sengaja meski akan kusangkal sampai mati, membiarkan bahuku menyentuh bahunya. Sentuhan ringan, sekilas, jenis yang bisa dianggap tidak sengaja oleh siapa pun yang tidak tahu bahwa aku menghabiskan setengah detik penuh menghitungnya. Ia tidak menjauh. Itu sudah jadi data pertamaku hari itu: ia tidak menjauh.
Aku semakin menunduk. Dekat. Terlalu dekat—cukup dekat untuk mencium samar kopi dan sesuatu yang lain, sesuatu yang khas dia—dan menunjuk satu baris di layarnya, entah baris apa, aku bahkan tidak tahu apakah itu benar, dan berkata dengan suara yang keluar jauh lebih pelan dari yang kurencanakan, tepat di dekat telinganya:
“Coba cek yang ini. Kayaknya errornya di sini... sayang.”
Waktu berhenti.
Kata itu—sayang—keluar begitu saja, meluncur dari suatu tempat di dalam diriku yang tidak sempat kusaring, dan begitu ia keluar, aku ingin menariknya kembali dan menelannya bulat-bulat. Empat tahun aku menjaga jarak dengan begitu hati-hati, dan sekarang aku baru saja memanggil laki-laki ini “sayang” di jam kerja, di dekat telinganya, dengan suara yang bahkan tidak berusaha terdengar profesional.
Adrian membeku.
Benar-benar membeku. Jarinya berhenti di atas keyboard. Bahunya menegang. Dan perlahan—sangat perlahan, seperti orang yang takut gerakan mendadak akan meledakkan sesuatu—ia menoleh, dan wajah kami tiba-tiba berjarak sekitar dua puluh sentimeter, dan aku bisa melihat telinganya memerah, merah padam sampai ke ujung, dan matanya—matanya menatapku dengan campuran panik dan sesuatu yang lain, sesuatu yang membuat jantungku sendiri lupa cara bekerja.
Dua puluh sentimeter. Setelah bertahun-tahun mengukur jarak kami dalam satuan lapangan dan lorong fakultas, sekarang aku bisa menghitung bulu matanya. Aku bisa melihat bahwa ia tidak seklinis yang ia tampakkan—ada garis lelah halus di sudut matanya, ada rahang yang menegang bukan karena marah tapi karena menahan, ada napas yang, kalau aku tidak salah dengar, ikut tercekat sepersekian detik. Dan untuk satu momen gila, satu momen di mana waktu terasa mengental seperti madu, aku sadar bahwa kalau salah satu dari kami bergerak dua puluh sentimeter lebih dekat, sesuatu akan terjadi yang tidak akan bisa ditarik kembali.
Tak satu pun dari kami bergerak. Tapi tak satu pun dari kami menjauh juga, bukan selama sedetik-dua-detik yang panjangnya seperti seumur hidup itu.
“...Apa?” katanya akhirnya, suaranya serak.
Otak pengacaraku, yang terlatih untuk selalu punya jawaban, memberikan tepat nol jawaban.
“Maksudku—“ Aku menegakkan badan secepat mungkin, menjauh, merasakan wajahku sendiri mulai panas. “Sa—salah ngomong. Kebiasaan. Aku manggil semua orang gitu. Adik-adikku, temen-temen, semua.” Bohong. Bohong besar. Aku tidak pernah memanggil siapa pun “sayang” seumur hidupku. “Errornya. Yang di baris itu. Coba cek.”
Ia menatap layar. Menatapku. Menatap layar lagi. Dan—mukjizat—entah karena baris yang kutunjuk asal itu kebetulan benar, atau karena semesta memutuskan untuk mengasihani kami berdua, ia bergumam, “...Oh. Missing semicolon. Astaga. Dari semalam gara-gara ini.”
“Nah, kan.” Suaraku terlalu ceria, terlalu lega. “Udah, ya. Aku balik ke meja.”
Aku kembali ke mejaku dengan langkah yang kupaksa tenang dan wajah yang, aku yakin, tidak tenang sama sekali. Aku bisa merasakan pipiku panas sepanjang empat meter itu, dan aku bersumpah aku bisa merasakan tatapannya di punggungku—meski ketika aku akhirnya berani mengintip, ia sudah menunduk ke layar, terlalu buru-buru menunduk, seperti orang yang baru saja ketahuan menatap.
Data kedua hari itu: ia menatap punggungku, dan buru-buru berpaling saat aku hampir memergokinya.
Nadine sudah menunggu dengan tatapan penuh tuntutan. “Aku liat dari sini. Kamu ngomong apa sampai dia semerah itu?”
Aku menutup wajah dengan kedua tangan. “Aku manggil dia ‘sayang’.”
Nadine tersedak kopinya. “Kamu APA?”
“Nggak sengaja! Keceplosan! Aku niatnya cuma mau nunjuk error biar keliatan santai terus—terus mulutku jalan sendiri—“ Aku mengerang pelan ke telapak tanganku. “Nadine, aku pengacara. Aku bisa debat sama hakim. Aku bisa baca kontrak lima puluh halaman tanpa kelewat satu koma. Kenapa aku nggak bisa ngontrol satu kata di depan satu cowok?”
“Karena,” kata Nadine, menepuk bahuku dengan simpati yang dibumbui geli, “hakim nggak bikin kamu jatuh cinta. Beda departemen, beda hukum acaranya.” Ia menyeruput kopinya, lalu memiringkan kepala, menatapku dengan cara yang membuatku waspada. “Tapi ngomong-ngomong, Frey. Buat orang yang katanya ‘strateginya matang’, kamu tuh berantakan banget kalau udah nyangkut dia. Kamu tahu kenapa?”
“Jangan dijawab sendiri.”
“Karena buat semua hal lain dalam hidupmu, kamu selalu punya kendali. Kamu ngerencanain, kamu ngukur, kamu nunggu momen yang tepat.” Nadine menurunkan suaranya. “Tapi sama dia, kamu nggak bisa ngendaliin hasilnya. Kamu bisa ngasih semua yang kamu punya dan tetep aja dia bisa milih nggak. Dan itu yang bikin kamu takut. Bukan dia. Tapi kenyataan bahwa ini satu-satunya hal dalam hidupmu yang nggak bisa kamu menangin cuma dengan kerja keras.”
Aku terdiam. Karena, seperti biasa, Nadine terlalu tepat, dan kebenaran yang terlalu tepat selalu terasa seperti ditelanjangi.
Aku mengintip dari sela jari ke arah meja Adrian. Ia sudah kembali menatap layar—tapi ia tidak mengetik. Ia cuma menatap, tangannya diam, telinganya masih agak merah, dan ada sesuatu di rahangnya yang mengeras dan mengendur bergantian, seperti orang yang sedang berdebat sengit dengan dirinya sendiri.
Dan meski aku malu setengah mati, meski aku ingin menghilang ditelan lantai, ada bagian kecil di dadaku yang—diam-diam, tidak tahu diri—merasa menang.
Karena reaksi seperti itu, telinga semerah itu, kebekuan seperti itu—itu bukan reaksi seorang rekan kerja pada rekan kerja. Aku sudah cukup lama mengamatinya, dari jauh dan sekarang dari dekat, untuk tahu perbedaannya.
Tembok itu, akhirnya, retak sedikit. Dan lewat retakan sekecil itu, aku sempat mengintip: di baliknya, ternyata, tidak ada laki-laki dingin yang tak peduli. Di baliknya ada seseorang yang sama gugupnya denganku, sama takutnya denganku, mungkin sama lamanya menahan sesuatu denganku.
Mungkin.
Aku tidak berani memikirkan seberapa “sama”-nya. Kalau kupikirkan terlalu jauh, aku takut aku akan mengharapkan sesuatu yang, kalau ternyata salah, akan menghancurkanku dengan cara yang tak akan bisa kutata ulang.
Jadi aku menyimpannya. Satu retakan. Satu telinga merah. Satu “sayang” yang keceplosan tapi tidak sepenuhnya kusesali. Dan satu momen dua puluh sentimeter di mana, aku hampir yakin, ia sama tidak inginnya menjauh seperti aku.
Cukup untuk hari ini. Aku sudah belajar menghargai kemenangan kecil. Aku sudah lama sekali hidup dari kemenangan-kemenangan kecil, mengumpulkannya satu per satu seperti orang menabung receh untuk sesuatu yang besar.
Dan sambil pura-pura mengetik, dengan jantung yang masih belum tenang, aku membuat satu keputusan yang membuatku takut sekaligus bersemangat:
Besok, aku akan berani sedikit lagi. Sedikit saja. Selangkah demi selangkah, sampai tembok itu ia buka sendiri dari dalam.
- 1 Orang yang Tak Punya Waktu
- 2 Cahaya yang Tak Boleh Dikejar
- 3 Aturan Main
- 4 Kebaikan Tanpa Nama
- 5 Dua Dunia
- 6 Kompor Bernama Reza
- 7 Satu Payung
- 8 Beban yang Tak Diceritakan
- 9 Nyaris
- 10 Cukup
- 11 Empat Tahun Kemudian
- 12 Nama di Daftar Onboarding
- 13 Bidadari yang Sama
- 14 Protokol Jarak
- 15 Kopi yang Terlalu Pas
- 16 Meja yang Mendekat
- 17 Error di Sini, Sayang reading
- 18 Wangi yang Salah
- 19 Orang Ketiga
- 20 Cemburu yang Tak Diakui
- 21 Tugas ke Singapura
- 22 Makan Malam "Urusan Kerja"
- 23 Retak yang Ditunjukkan
- 24 Pulang Bawa Perasaan
- 25 Adrian Balik Menyerang
- 26 Sejarak Senti
- 27 Empat Tahun
- 28 Cukup, Katanya
- 29 Cinta yang Manis
- 30 Sejauh Nol Meja