← Cukup Memandang, Katanya

Chapter Eight

Beban yang Tak Diceritakan

POV: Adrian Pramudya · (Arc 1 — Kampus)


Ada beban yang kita ceritakan supaya terasa lebih ringan. Dan ada beban yang justru kita simpan sendiri, karena menceritakannya cuma akan memindahkannya ke pundak orang yang kita sayangi. Aku spesialis jenis yang kedua.

Semester itu adalah semester terberat yang pernah kualami.

Skripsi mulai menagih. Klien freelance seolah bersekongkol untuk menaruh tenggat mereka di minggu yang sama. Giliran di kedai tidak bisa kukurangi karena justru sekarang aku butuh uang paling banyak. Dan di tengah semua itu, aku masih harus jadi kakak, jadi anak, jadi tembok yang tak boleh retak—karena kalau tembok retak, seisi rumah kehujanan.

Aku belajar tidur dalam potongan-potongan. Dua puluh menit di sela kelas. Sepuluh menit di bus. Sekali, aku ketiduran berdiri di belakang mesin espresso, dan Pak Har harus menyenggol sikuku pelan. Ia tidak memarahiku. Ia cuma bilang, “Yan, kopi bisa bikin melek, tapi nggak bisa bikin muda lagi. Pelan-pelan,” lalu diam-diam menambahkan potongan roti ke jatah makan siangku tanpa berkata apa-apa.

Ada satu malam yang paling kuingat dari periode itu. Aku sedang mengerjakan revisi skripsi dan sebuah tenggat klien pada saat bersamaan, laptop retakku panas seperti setrika, dan di layar dua dokumen berebut perhatianku. Jam menunjukkan pukul dua pagi. Aku sudah tiga puluh jam tidak tidur benar. Dan pada satu titik, aku mendapati diriku menatap kursor yang berkedip di layar kosong, tidak menulis apa-apa, cuma menatap—terlalu lelah untuk melanjutkan, terlalu bertanggung jawab untuk berhenti. Aku menampar pipiku sendiri, pelan, dua kali, seperti membangunkan mesin yang mulai mati. Lalu aku lanjut. Karena berhenti bukan pilihan yang tersedia untuk orang yang di belakangnya berbaris ibu, adik, dan sederet tagihan yang tak peduli aku mengantuk atau tidak.

Aku terima roti itu. Aku sudah lama berhenti menolak kebaikan yang datang dalam bentuk makanan.

Di rumah, bebannya berbeda bentuk, tapi sama beratnya. Kayla sedang di masa simulasi ujian, dan cara ia mengelola stres adalah dengan mengubah seluruh rumah jadi ruang perang.

“Kak,” katanya suatu malam, menempel di dinding kamar sederet kertas warna-warni penuh rumus. “Aku bikin sistem. Tiap kali aku bisa jawab soal, aku tempel stiker bintang. Tiap kali salah, aku tempel stiker tengkorak.”

Aku menatap dinding itu. Tengkoraknya jauh lebih banyak dari bintangnya. “Kayla, dindingmu kayak kuburan.”

“Itu namanya jujur sama diri sendiri.” Ia menempel satu tengkorak lagi dengan khidmat. “Motivator bilang, kenali kelemahanmu.”

“Motivator nggak bilang kamu harus merayakannya pakai tengkorak.”

“Aku improvisasi.” Ia berbalik, menyeringai, dan untuk sesaat ia terlihat persis seperti Bapak—senyum yang sama, keras kepala yang sama. “Tenang, Kak. Nanti kalau aku keterima kedokteran, tengkorak-tengkorak ini jadi kenang-kenangan. Kita bingkai. Kita pajang. ‘Perjuangan Dokter Kayla, Edisi Terbatas.’”

Aku tertawa—benar-benar tertawa, capek dan pendek, tapi tulus—dan untuk satu momen kecil, rumah kontrakan sempit itu terasa cukup. Bukan karena bebannya hilang, tapi karena ada orang yang menanggungnya bersamaku sambil menempel stiker tengkorak. Itu, aku sadar, adalah bentuk kekayaan yang tidak bisa dibeli orang dari dunia mana pun.

Puncaknya datang pada suatu malam ketika aku pulang dan mendapati lampu ruang depan masih menyala, tapi mesin jahit ibu diam. Itu salah. Mesin itu selalu menyala kalau lampu menyala. Keheningannya membuat jantungku turun ke perut sebelum kepalaku sempat memproses kenapa.

Ibu tergeletak di kursi, kepalanya bersandar, wajahnya pucat, keringat dingin di dahi. Batuknya—yang selama ini ia sebut “cuma masuk angin”—ternyata sudah lama bukan masuk angin.

“Bu!” Aku berlutut di depannya, panik yang jarang kubiarkan muncul akhirnya bocor. “Bu, bangun. Bu.”

Ia membuka mata, tersenyum lemah, dan hal pertama yang ia katakan—hal pertama—adalah, “Jahitan pesanan Bu Ratna belum selesai. Tolong bilang besok, ya.”

Aku ingin marah. Aku ingin berteriak, Ibu hampir pingsan dan yang Ibu pikirin jahitan? Tapi aku tahu, kalau aku marah, aku sedang marah pada cermin. Karena aku sama persis. Kami berdua adalah orang yang, bahkan saat tumbang, masih memikirkan pekerjaan yang belum selesai, tanggung jawab yang belum tertunaikan, orang lain sebelum diri sendiri.

Malam itu kubawa ibu ke klinik dua puluh empat jam. Aku memesan ojek yang ongkosnya membuatku meringis, tapi ada hal-hal yang tidak bisa menunggu subuh. Sepanjang jalan ibu bersandar di bahuku, ringan—terlalu ringan, seolah bertahun-tahun bekerja telah mengikis tubuhnya sedikit demi sedikit tanpa pernah kusadari—dan aku memeluknya erat, marah pada diriku sendiri karena baru menyadari betapa ringannya ia sekarang.

Demam biasa, kata dokter, kelelahan, kurang istirahat, ditambah batuk yang harus diperiksa lebih lanjut kalau tidak membaik dalam seminggu. Kata “diperiksa lebih lanjut” menggantung di udara seperti awan yang belum kuizinkan diriku tatap. Obat ditebus—dengan uang yang seharusnya untuk hal lain, tapi tubuh ibu tidak bisa antre di belakang formulir Kayla. Kayla ikut, memegang tangan ibu di ruang tunggu, dan untuk sekali ini tidak ada satu pun lelucon keluar dari mulutnya. Tidak ada stiker bintang, tidak ada tengkorak. Anak itu takut. Aku takut. Kami cuma tidak mengatakannya, karena di keluarga ini, ketakutan adalah barang yang kami simpan sendiri-sendiri, seperti beban.

Dalam perjalanan pulang, sambil menggendong tas obat, aku membuat keputusan yang sebenarnya sudah kubuat berkali-kali, cuma malam itu jadi paling tegas: tidak ada ruang. Tidak ada ruang untuk hal-hal yang bukan keharusan. Tidak ada ruang untuk keinginan, untuk kemewahan, untuk perempuan yang membuat satu ruangan lupa cara bernapas. Rumah ini butuh aku utuh, waras, dan hadir. Dan aku tidak punya sisa apa pun untuk dibagi.

Dalam perjalanan pulang, sambil menggendong tas obat, aku membuat keputusan yang sebenarnya sudah kubuat berkali-kali, cuma malam itu jadi paling tegas: tidak ada ruang. Tidak ada ruang untuk hal-hal yang bukan keharusan. Tidak ada ruang untuk keinginan, untuk kemewahan, untuk perempuan yang membuat satu ruangan lupa cara bernapas. Rumah ini butuh aku utuh, waras, dan hadir. Dan aku tidak punya sisa apa pun untuk dibagi.

Aku menutup laci itu di kepalaku—laci tempat kusimpan tawa Freya, kopinya, senyum yang kukira untukku—dan kali ini kukunci lebih rapat dari sebelumnya.


Tapi hati adalah pencuri ulung. Ia tahu cara membuka laci yang kaukunci, di saat kau paling lengah.

Beberapa hari kemudian, di antara dua kelas, gerimis tipis turun—bukan hujan, cuma gerimis yang malas—dan aku sedang berjalan cepat menuju perpustakaan untuk mencuri istirahat, ketika aku melihatnya.

Freya. Menyeberang lapangan. Dan di atas kepalanya, memayungi dari gerimis tipis itu, adalah sebuah payung.

Payung lipat butut warna biru pudar. Yang salah satu jarinya patah, sehingga terbuka sedikit miring ke kiri.

Payungku.

Aku berhenti di tempat, di tepi koridor, dan untuk beberapa detik aku lupa cara berpikir. Ia menyimpannya. Bukan cuma menyimpan—ia memakainya. Dari sekian banyak payung yang pasti dimiliki orang dari dunianya, dari sekian banyak payung baru yang bisa ia beli tanpa berpikir, ia memilih membawa payung reyot pincang yang diberikan orang asing di tengah hujan.

Aku tidak tahu apa artinya. Aku tidak berani menebak apa artinya, karena menebak adalah bentuk lain dari berharap, dan berharap adalah kemewahan yang tadi malam baru saja kularang lagi untuk diriku sendiri.

Mungkin ia cuma tidak sempat beli yang baru. Mungkin ia cuma praktis. Mungkin, mungkin, mungkin.

Tapi cara ia memegang gagangnya—dengan dua tangan, hati-hati, seolah takut jari yang patah itu makin patah—tidak terlihat seperti orang yang sekadar praktis. Terlihat seperti orang yang sedang menjaga sesuatu.

Dan ada hal lain yang menusukku lebih dalam. Payung itu, di tangannya, tidak lagi terlihat butut. Cahaya siang menembus kainnya yang pudar dan membuat biru lusuh itu tampak seperti biru yang sengaja dipilih. Miringnya yang pincang, di tangannya, tidak lagi tampak seperti cacat—tampak seperti gaya. Seolah benda paling reyot yang kupunya, begitu berpindah ke tangannya, entah bagaimana ikut naik kelas.

Barangkali begitulah rasanya. Barangkali kalau aku pun berpindah ke tangannya, ke dunianya, aku juga bisa berhenti terlihat reyot. Tapi pikiran itu terlalu berbahaya untuk kuselesaikan, jadi kupotong di tengah, seperti biasa.

Ia berjalan melintas, tidak melihatku, hilang di balik gedung. Dan aku berdiri di sana, di tepi koridor, gerimis menyentuh bahuku, merasakan dua hal sekaligus yang seharusnya tidak bisa hidup berdampingan: patah, dan bahagia.

Malam itu, di rumah, di sela menjaga ibu yang tidur dan menyelesaikan tenggat yang tak kenal ampun, aku mengizinkan diriku satu jeda. Cuma satu. Aku memejamkan mata dan membiarkan bayangan payung pincang di tangannya itu menetap sebentar.

Memandangnya dari sini saja sudah lebih dari cukup.

Kali ini aku tidak mengucapkannya sebagai tanggul, tidak sebagai larangan, tidak sebagai kepahitan. Kali ini aku mengucapkannya dengan cara yang berbeda—lebih pelan, hampir lembut—seperti seseorang yang, di tengah hidup yang tak memberinya banyak, bersyukur atas satu-satunya jeda yang ia punya.

Itu satu-satunya istirahat yang kuizinkan untuk diriku. Melihatnya, dari jauh, membawa sepotong kecil diriku yang reyot itu ke mana-mana tanpa tahu itu milik siapa.

Lalu aku membuka mata, kembali ke layar, kembali ke beban, kembali jadi tembok.

Karena tembok tidak boleh retak. Bahkan ketika di baliknya, diam-diam, ada retakan halus yang berbentuk seperti payung.