Chapter Thirteen
Bidadari yang Sama
POV: Adrian Pramudya · (Arc 2 — Dunia Kerja)
Empat tahun. Aku sudah membangun seluruh hidupku di atas satu asumsi sederhana: bahwa aku tidak akan pernah melihatnya lagi.
Dan sekarang ia berdiri sepuluh meter di depanku, di ruang serbaguna kantorku, tersenyum ke arah tiga puluh orang asing, dengan cahaya lampu neon biasa yang entah bagaimana tetap tampak istimewa di rambutnya.
Freya Calista. Lebih tua empat tahun, tapi tetap dia. Kalau dulu ia adalah cahaya yang membuat perpustakaan lupa bernapas, sekarang ia adalah versi cahaya itu yang sudah belajar berdiri di depan orang—lebih tenang, lebih pasti, lebih... dewasa. Rambutnya lebih pendek. Cara bicaranya lebih mantap. Tapi kalau ia menyingkirkan seuntai rambut dari pipinya dengan tangan kiri—dan ia melakukannya, tepat saat itu, gerakan yang sama persis yang kusimpan bertahun-tahun—aku tahu, dengan kepastian yang membuat lututku lemas, bahwa ini adalah orang yang sama.
“Halo, semuanya,” katanya, suaranya jernih, menyapu ruangan dengan tatapan yang tenang. “Nama saya Freya. Saya akan bergabung di divisi legal. Senang sekali bisa jadi bagian dari tim ini. Mohon bantuannya, ya.”
Ruangan bertepuk tangan. Gilang, di sampingku, bertepuk paling semangat sambil berbisik, “Bang. Bang. Aku bilang apa. Penyegaran. PENYEGARAN, Bang.” Aku tidak menjawab. Aku tidak bisa. Seluruh energiku terpakai habis untuk satu tugas: tetap berdiri tegak dan tidak menunjukkan bahwa dunia batinku baru saja mengalami gempa berkekuatan penuh.
Karena inilah lelucon paling kejam dari takdir yang tidak kupercaya: selama empat tahun, aturan ketigaku berbunyi dia tidak boleh pernah tahu. Aku menjaga jarak dengan sempurna justru supaya kami tidak pernah berada di ruangan yang sama sebagai orang yang saling kenal. Dan sekarang, tanpa kuminta, tanpa kurencanakan, semesta menaruh kami di satu ruangan, satu kantor, satu daftar gaji—dan aku tidak punya satu pun aturan yang menutupi kemungkinan ini, karena aku terlalu yakin kemungkinan ini tidak akan pernah terjadi.
Otakku, yang biasanya bisa memecahkan masalah paling rumit dengan tenang, sekarang cuma bisa mengulang satu pertanyaan bodoh berulang-ulang: kenapa di sini? kenapa dia? kenapa sekarang? Ia lulusan hukum terbaik. Dunia terbuka lebar untuknya. Dari semua kantor di semua kota, kenapa ia memilih kantor kecil ini—kantor tempat, dari sekian banyak orang, kebetulan ada aku?
Aku tidak punya jawaban. Aku bahkan tidak tahu bahwa pertanyaan itu punya jawaban—jawaban yang, kalau saja aku berani menebaknya saat itu, akan mengubah segalanya. Tapi aku tidak berani menebak. Menebak adalah bentuk lain dari berharap, dan aku sudah bersumpah, empat tahun lalu di seberang lapangan wisuda, untuk berhenti berharap soal ini.
Jadi aku melakukan satu-satunya hal yang kubisa: aku menganggapnya kebetulan yang kejam. Sebuah kesialan statistik. Ujian yang harus kulewati dengan cara yang sama seperti aku melewati segalanya—dengan menunduk, bekerja, dan tidak menginginkan apa pun.
Aku berharap bisa kabur sebelum pengenalan formal. Aku tidak bisa.
Setelah acara bubar, Mbak Vero—dengan semangat kekeluargaan yang biasanya kuhargai tapi hari itu kukutuk diam-diam—menggiring Freya berkeliling memperkenalkannya ke tiap divisi. Dan divisi teknis, tentu saja, tidak luput.
“Nah, ini tim teknis kita,” kata Mbak Vero. “Kecil tapi otaknya paling encer sekantor. Dan ini—“ ia menepuk bahuku, “—Adrian, Tech Lead kita. Anak paling rajin sekantor, datang subuh pulang malam. Kalau ada urusan legal soal data atau AI, nanti Mbak Freya banyak koordinasi sama tim Adrian.”
Freya menoleh padaku.
Dan untuk pertama kalinya dalam empat tahun—untuk pertama kalinya sejak koridor belakang panggung seminar itu, sejak “permisi” yang kusesali sampai sekarang—mata kami bertemu, sengaja, dari jarak satu langkah, tanpa ada payung atau kabel atau mesin kopi yang bisa kujadikan tameng.
Aku menahan napas, menunggu. Menunggu tanda pengenalan. Menunggu kilat di matanya yang berkata aku ingat kamu—kamu yang di perpustakaan, kamu yang di seminar, kamu yang entah-apa. Aku sudah menyiapkan diri untuk itu, untuk rasa malu, untuk kecanggungan menjelaskan sesuatu yang tak bisa dijelaskan.
Kilat itu tidak datang.
Ia mengulurkan tangan, tersenyum sopan—senyum profesional yang sama yang ia berikan pada semua orang di ruangan tadi—dan berkata, “Halo, Adrian. Freya. Senang berkenalan.”
Senang berkenalan.
Seolah kami baru bertemu. Seolah tidak ada empat tahun. Seolah aku bukan orang yang pernah memberinya payung di tengah hujan, mengembalikan dompetnya tanpa nama, membuatkannya kopi tanpa ia sadari, dan menyimpan tawanya di laci kepalaku seperti harta.
Tentu saja. Tentu saja ia tidak ingat. Kenapa ia harus ingat? Bagi dia, aku memang tak pernah lebih dari latar—“Mas” di kedai, petugas teknis di seminar, sosok tak bernama di seberang lapangan wisuda. Aku menghabiskan empat tahun kuliah memastikan aku tidak terlihat, dan aku berhasil dengan sangat sempurna. Ini adalah kemenangan aturan ketigaku. Dan rasanya seperti kalah.
Aku menjabat tangannya. Kulitnya hangat. Sentuhan yang berlangsung dua detik dan yang, seperti sentuhan pertama di gagang payung dulu, kurasakan jauh lebih lama dari dua detik.
Aneh, bagaimana tubuh mengingat hal-hal yang kepala coba lupakan. Dua detik itu, telapak tangannya di telapak tanganku, dan seluruh empat tahun yang kubangun untuk melupakannya terasa seperti tak pernah terjadi. Aku kembali jadi mahasiswa berlaptop retak yang berdiri di antara rak buku, menyimpan tawa seseorang seperti receh terakhir. Aku kembali jadi orang yang basah kuyup di tengah hujan, memberikan payung, dan berjalan pergi. Semua versi diriku yang mencintainya dalam diam tiba-tiba berdiri berdesakan di dalam satu tubuh yang, secara lahiriah, cuma sedang berjabat tangan sopan dengan rekan kerja baru.
“Adrian,” kataku. Suaraku, syukurlah, keluar rata. Datar. Profesional. Suara Tech Lead, bukan suara orang yang jantungnya sedang berlari maraton. “Sama-sama. Nanti kalau ada yang perlu dikoordinasikan, tim kami siap bantu.”
“Terima kasih.” Ia tersenyum lagi. Lalu—dan mungkin ini cuma imajinasiku, mungkin ini cuma harapan bodoh yang tak pernah benar-benar mati—selama sepersekian detik, senyum itu tampak sedikit berbeda dari senyum yang ia berikan pada Gilang dan yang lain. Sedikit lebih lama. Sedikit lebih... hangat. Seolah ada sesuatu di baliknya yang tidak ia ucapkan.
Lalu Mbak Vero menariknya ke divisi berikutnya, dan momen itu lewat, dan aku berdiri di sana dengan tangan yang masih terasa hangat dan hati yang kacau balau.
“Bang.” Gilang menyikut lenganku, matanya berbinar seperti anak kecil di toko mainan. “BANG. Abang liat nggak tadi? Dia senyum ke Abang beda, Bang. Beda! Aku saksinya!”
“Kamu ngarang.”
“Aku engineer, Bang, aku nggak ngarang, aku observasi. Ada data. Senyum ke aku: 0,8 detik. Senyum ke Abang: minimal 2 detik. Itu signifikan secara statistik!”
“Gilang, balik kerja.”
“Bang, ini kesempatan! Dia cakep, pinter, baru, dan Abang jomblo abadi. Ini kayak takdir nulis skenario khusus buat Abang—“
“Gilang.” Suaraku cukup tajam untuk membuatnya berhenti. Ia mengangkat tangan, menyerah, tapi seringainya tidak hilang.
Aku kembali ke mejaku. Aku membuka laptop. Aku menatap layar tanpa melihat apa pun.
Dari sudut mataku—pengkhianat yang bahkan setelah empat tahun tak bisa kudisiplinkan—aku bisa melihat Freya di ujung ruangan, sedang diperkenalkan pada meja legal, menaruh tasnya, menata mejanya yang baru. Dan aku memperhatikan sesuatu yang membuat dadaku sesak dengan cara yang sudah lama tak kualami: ruangan berubah di sekitarnya, persis seperti dulu. Anak marketing yang tadinya berisik jadi sedikit lebih rapi bicaranya. Dua orang operasional “kebetulan” lewat meja legal dua kali. Bahkan Mbak Vero, yang sudah puluhan kali melakukan onboarding, tampak lebih bersemangat dari biasanya.
Ia bahkan belum melakukan apa-apa. Ia baru menata pulpen di mejanya. Dan seluruh lantai, tanpa sadar, sudah menyesuaikan diri dengan kehadirannya, cara besi menyesuaikan diri dengan magnet.
Aku menunduk ke layar sebelum ada yang memergoki ke mana mataku tertuju. Empat tahun latihan. Aku masih ingat caranya. Melihat tanpa terlihat melihat.
Karena inilah kenyataan baru yang harus kuhadapi, kenyataan yang membuat empat tahun ketenangan runtuh dalam satu pagi: perempuan yang kucintai dari kejauhan selama bertahun-tahun—satu-satunya jeda di kalimat hidupku, satu-satunya kotak yang kubiarkan kosong—sekarang bekerja di kantor yang sama denganku. Akan kulihat setiap hari. Akan kuajak koordinasi soal data dan AI. Akan duduk beberapa meja dariku, minum kopi di pantry yang sama, menghirup udara yang sama.
Tidak ada lagi “jauh”.
Dan tanpa “jauh”, mantra yang selama ini menyelamatkanku kehilangan seluruh maknanya. Bagaimana caraku “memandangnya dari kejauhan saja” kalau kejauhan itu sudah tidak ada? Bagaimana caraku menyimpannya dengan aman di laci kalau laci itu sekarang duduk di ruangan yang sama, bernapas, tersenyum, nyata?
Aku sudah menang melawan segalanya. Kemiskinan. Kelelahan. Waktu.
Tapi hari itu, menatap layar yang tak kulihat, aku menyadari satu hal dengan kejelasan yang dingin: satu-satunya perang yang kukira sudah kumenangkan dengan cara menghindarinya—perang itu, ternyata, baru saja dimulai. Dan kali ini, tidak ada tangga darurat untuk kabur, tidak ada hujan untuk kutembus, tidak ada kejauhan untuk kujadikan tempat sembunyi. Kali ini, medan perangnya adalah delapan jam sehari, lima hari seminggu, di meja yang jaraknya cuma beberapa langkah dari mejaku.
Semoga aku cukup kuat. Empat tahun lalu aku memilih tidak maju karena aku tak sanggup. Aku belum tahu apakah aku sudah cukup berubah—atau apakah, di dekat dia, aku akan selamanya jadi mahasiswa berlaptop retak yang memilih basah demi tidak menyebut namanya.
- 1 Orang yang Tak Punya Waktu
- 2 Cahaya yang Tak Boleh Dikejar
- 3 Aturan Main
- 4 Kebaikan Tanpa Nama
- 5 Dua Dunia
- 6 Kompor Bernama Reza
- 7 Satu Payung
- 8 Beban yang Tak Diceritakan
- 9 Nyaris
- 10 Cukup
- 11 Empat Tahun Kemudian
- 12 Nama di Daftar Onboarding
- 13 Bidadari yang Sama reading
- 14 Protokol Jarak
- 15 Kopi yang Terlalu Pas
- 16 Meja yang Mendekat
- 17 Error di Sini, Sayang
- 18 Wangi yang Salah
- 19 Orang Ketiga
- 20 Cemburu yang Tak Diakui
- 21 Tugas ke Singapura
- 22 Makan Malam "Urusan Kerja"
- 23 Retak yang Ditunjukkan
- 24 Pulang Bawa Perasaan
- 25 Adrian Balik Menyerang
- 26 Sejarak Senti
- 27 Empat Tahun
- 28 Cukup, Katanya
- 29 Cinta yang Manis
- 30 Sejauh Nol Meja