Chapter Twenty Eight
Cukup, Katanya
POV: Adrian Pramudya · (Arc 2 — Dunia Kerja)
“Katakan sesuatu, Adrian. Aku udah nunggu empat tahun buat denger jawabanmu.”
Aku tidak bisa bicara.
Bukan karena aku tidak punya kata-kata. Justru sebaliknya—aku punya terlalu banyak, empat tahun terlalu banyak, dan semuanya mendesak keluar sekaligus sampai tersumbat di tenggorokan dan yang tersisa cuma napas gemetar dan mata yang panas.
Aku berdiri di bawah payung reyot yang kuberikan empat tahun lalu, payung yang kukira sudah lenyap ke dunia seperti semua hal lain yang pernah kulepaskan, dan aku menatap perempuan yang baru saja membentangkan empat tahun hidupnya di antara kami seperti orang membentangkan peta harta karun. Dan aku, yang seumur hidup pandai menghitung, tidak bisa memahami angka-angkanya.
Empat tahun. Firma-firma besar yang ditolak. S2 yang dilepas. Karier yang diarahkan, batu bata demi batu bata, menuju satu ruang serbaguna kecil tempat aku kebetulan berdiri. Demi aku. Demi orang yang menghabiskan seluruh hidupnya yakin bahwa ia tidak cukup berharga untuk diinginkan siapa pun.
“Kenapa,” akhirnya keluar, suaraku pecah. “Kenapa aku, Freya? Aku nggak—“ Kata-kata lama itu, kata-kata yang sudah kupakai seumur hidup untuk menjelaskan kenapa aku tak boleh menginginkan apa pun, keluar sendiri. “Aku nggak pantes segitunya. Aku cuma—aku anak yang jualan waktunya buat bertahan hidup. Aku bukan siapa-siapa. Kamu bisa dapet siapa aja. Kenapa kamu buang empat tahun buat orang kayak aku?”
Dan Freya—Freya yang selalu punya jawaban, Freya si pengacara tajam—menatapku dengan mata basah dan berkata, dengan kelembutan yang menghancurkanku:
“Karena kamu satu-satunya orang yang aku kenal yang bakal mikir ngasih payung ke orang asing di hujan itu hal biasa. Itu jawabannya, Adrian. Kamu nggak pernah ngerti kamu istimewa, dan itu justru yang bikin kamu istimewa.”
Sesuatu di dalamku, tembok terakhir, batu bata terakhir yang masih kupegang dengan kepalan putih—runtuh.
Dan untuk pertama kalinya, aku berhenti berdebat. Aku berhenti menghitung. Aku berhenti mencari alasan kenapa aku tak boleh punya ini. Seumur hidup aku memperlakukan keinginan seperti utang—sesuatu yang akan menagih bunga, sesuatu yang tak sanggup kubayar. Tapi berdiri di bawah payung itu, menatap perempuan yang membangun empat tahun demi berdiri di sini, aku akhirnya mengerti sesuatu yang tak pernah kupahami: ada hal-hal yang bukan utang. Ada hal-hal yang diberikan, cuma-cuma, karena kau berharga bagi seseorang. Dan menolaknya bukan kebijaksanaan. Menolaknya cuma cara lain untuk terus menghukum diri sendiri atas dosa yang tak pernah kulakukan—dosa dilahirkan miskin, dosa kehilangan ayah terlalu dini, dosa harus jadi kuat sebelum sempat jadi anak-anak.
Empat tahun ia menungguku maju. Malam ini, akhirnya, aku maju.
“Aku juga,” kataku, dan begitu kata pertama keluar, sisanya mengalir seperti bendungan jebol. “Aku juga suka kamu sejak awal, Freya. Perpustakaan. Semester-semester pertama. Aku lihat kamu baca buku dekat jendela dan aku—aku pikir kamu kayak koma. Di tengah hidup aku yang isinya cuma titik. Kerja, titik. Pulang, titik. Terus ada kamu, dan tiba-tiba ada jeda. Ada napas.”
Aku melihat matanya melebar. Aku terus bicara, karena kalau aku berhenti sekarang aku akan tenggelam.
“Aku bikin aturan. Beneran nulis di buku catatan, pake pensil. Boleh liat, nggak boleh nyari. Maksimal lima menit. Dan yang paling penting—kamu nggak boleh pernah tahu. Karena aku pikir, kalau kamu tahu, aku bakal berharap, dan aku nggak punya ruang buat berharap. Aku punya ibu, ada adik, ada tagihan, ada waktu yang selalu kurang. Cinta itu kemewahan, Freya, dan aku lagi berhemat.” Aku tertawa, tawa yang lebih dekat ke tangis. “Iya, itu aku yang balikin dompet kamu. Iya, itu aku yang kasih payung terus jalan nembus hujan. Dan tiap kali, tiap kali aku mundur, aku bilang ke diri aku sendiri kalimat yang sama.”
“Aku inget semua momen kita,” lanjutku, karena sekarang tak ada gunanya menahan apa pun. “Tiap satu. Tawa kamu di kantin—aku antre kelamaan cuma buat dengerin, sampai orang-orang marah. Waktu kamu naik panggung seminar dan bikin satu aula diem. Waktu kita papasan di belakang panggung dan kamu—kamu nunggu aku ngomong sesuatu, dan aku cuma bilang ‘permisi’ terus jalan. Aku nyesel soal ‘permisi’ itu selama empat tahun, Freya. Empat tahun aku muter ulang momen itu, mikir ‘gimana kalau’.” Suaraku serak. “Ternyata kamu juga inget. Ternyata selama ini kita muter ulang momen yang sama, di kepala masing-masing, terpisah cuma beberapa meter, sama-sama nyesel, sama-sama diem.”
Betapa bodohnya kami. Dua orang yang saling mencintai, saling memperhatikan, saling menyimpan setiap detail kecil—dan menghabiskan bertahun-tahun terpisah oleh tembok yang kami berdua bangun, masing-masing yakin bahwa yang satu terlalu jauh untuk yang lain. Kesedihan dan keindahannya menusuk bersamaan: semua tahun yang terbuang, dan fakta bahwa, meski terbuang, cinta itu tidak pernah mati di kedua sisi.
Aku menatapnya, di bawah payung yang sama, dan akhirnya—akhirnya—mengucapkannya untuk terakhir kali, bukan sebagai tanggul, tapi sebagai sesuatu yang kutinggalkan selamanya:
“‘Memandang dari jauh saja sudah cukup.’ Itu yang selalu aku bilang. Ratusan kali. Dan kamu tahu apa, Freya? Kamu bener. Kamu bener banget.” Suaraku pecah sepenuhnya. “Itu bohong paling besar yang pernah aku ucapkan seumur hidup aku. Nggak pernah cukup. Nggak sekali pun. Tiap kali aku bilang ‘cukup’, yang aku maksud sebenernya ‘aku nggak berani.’ Empat tahun aku bilang cukup, padahal aku sekarat pengin lebih.”
Hujan menderu di sekeliling kami, tapi di bawah payung pincang itu, dunia terasa diam.
“Kamu bilang kamu yang jalan,” kataku, suaraku turun jadi bisikan. “Empat tahun kamu jalan ke arah aku, sementara aku diem di tempat, terlalu takut buat gerak. Jadi biar aku—“ aku menelan, mengumpulkan seluruh keberanian yang pernah kumiliki dan yang tak pernah kupunya, “—biar sekali ini aku yang jalan sisanya.”
Dan aku melakukan hal yang tak pernah kulakukan seumur hidup.
Aku maju.
Aku mengangkat tanganku ke sisi wajahnya—tangan yang dulu cuma berani menyerahkan payung lalu menariknya kembali—dan kali ini aku tidak menariknya kembali. Aku membiarkannya tinggal, menangkup pipinya, ibu jariku menghapus air mata dan air hujan yang bercampur di sana. Aku menatap matanya, memberinya satu detik terakhir untuk mundur kalau ia mau.
Ia tidak mundur. Ia mencondong.
Dan aku menutup jarak terakhir itu—jarak yang butuh empat tahun, satu payung, ribuan lima-menit yang dicuri, satu malam di tepi sungai, dan seluruh keberanian yang kubangun sejak Singapura—dan menciumnya.
Lembut. Pelan. Penuh empat tahun yang tertahan. Bibirnya asin karena air mata, hangat di tengah hujan yang dingin, dan aku merasakan ia menghela napas ke dalam ciuman itu—napas lega, napas orang yang sudah menunggu terlalu lama—dan tangannya meraih kerah jaketku, menariknya, seolah takut aku akan berubah pikiran dan berjalan pergi lagi.
Aku tidak berjalan pergi.
Aku bahkan tidak ingin. Untuk pertama kalinya, tidak ada bagian dari diriku yang menghitung, tidak ada suara di kepalaku yang mengingatkan soal waktu atau harga atau tanggung jawab. Cuma ada ini: hujan, payung, bibirnya, dan perasaan—asing, menakutkan, luar biasa—bahwa aku, akhirnya, ada di tempat yang benar. Bukan memberi lalu kabur. Bukan memandang dari jauh. Ada di sini, penuh, tinggal.
Untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku tinggal. Aku memilih menginginkan sesuatu untuk diriku sendiri, dengan lantang, tanpa menghitungnya, tanpa menyebutnya kemewahan yang tak sanggup kubeli. Aku menciumnya di bawah payung reyot yang akhirnya pulang, dan payung itu miring ke kiri seperti selalu, meneteskan air di satu sisi, dan sama sekali tidak sempurna, dan itu justru membuatnya sempurna.
Ketika kami akhirnya menarik diri—cuma sedikit, dahi masih menempel di dahi—Freya tertawa. Tawa lepas itu, tawa yang dulu kudengar dari seberang kantin dan kusimpan di laci kepalaku, sekarang terjadi lima sentimeter dari wajahku.
“Empat tahun,” bisiknya, setengah tertawa setengah menangis. “Empat tahun buat satu ciuman. Kamu ini lambat banget, Adrian Pramudya.”
“Aku bukan lambat,” gumamku, dan untuk pertama kalinya aku membiarkan diriku menggodanya balik tanpa panik. “Aku menyeluruh. Aku ngerjain semua hal dengan bener. Termasuk ini.”
“Oh ya?” Ia menaikkan alis, dan aku bisa melihat Freya yang jahil kembali, Freya yang berani. “Menyeluruh gimana?”
Jadi aku menciumnya lagi, untuk memperjelas maksudku.
Dan di suatu tempat di seberang jalan, samar di antara suara hujan, aku bersumpah aku mendengar ponselku bergetar—pasti Gilang, entah bagaimana, dengan indra keenamnya yang mengganggu—tapi untuk sekali ini, untuk pertama kalinya dalam hidup yang selalu kuatur berdasarkan kebutuhan orang lain, aku mengabaikannya.
Malam ini milikku. Milik kami.
Empat tahun aku bilang memandang dari jauh sudah cukup.
Ternyata, yang benar-benar cukup adalah ini: berdiri sedekat ini, di bawah payung yang sama, dengan perempuan yang tidak pernah berhenti berjalan ke arahku bahkan ketika aku terlalu takut untuk balas melangkah. Perempuan yang, dari semua orang di dunia, memilih menghabiskan empat tahun membangun jalan menuju seorang anak lelaki yang menyeduh teh untuk ibunya di jam empat pagi dan mengira dirinya tak layak dicintai.
Ini. Ini lebih dari cukup. Ini segalanya. Dan untuk pertama kalinya seumur hidup, aku tidak menghitungnya, tidak menakar-nakarnya, tidak menyimpannya untuk musim kering—aku cuma mengambilnya, dengan kedua tangan, dan tinggal.
- 1 Orang yang Tak Punya Waktu
- 2 Cahaya yang Tak Boleh Dikejar
- 3 Aturan Main
- 4 Kebaikan Tanpa Nama
- 5 Dua Dunia
- 6 Kompor Bernama Reza
- 7 Satu Payung
- 8 Beban yang Tak Diceritakan
- 9 Nyaris
- 10 Cukup
- 11 Empat Tahun Kemudian
- 12 Nama di Daftar Onboarding
- 13 Bidadari yang Sama
- 14 Protokol Jarak
- 15 Kopi yang Terlalu Pas
- 16 Meja yang Mendekat
- 17 Error di Sini, Sayang
- 18 Wangi yang Salah
- 19 Orang Ketiga
- 20 Cemburu yang Tak Diakui
- 21 Tugas ke Singapura
- 22 Makan Malam "Urusan Kerja"
- 23 Retak yang Ditunjukkan
- 24 Pulang Bawa Perasaan
- 25 Adrian Balik Menyerang
- 26 Sejarak Senti
- 27 Empat Tahun
- 28 Cukup, Katanya reading
- 29 Cinta yang Manis
- 30 Sejauh Nol Meja