← Cukup Memandang, Katanya

Chapter Twenty

Cemburu yang Tak Diakui

POV: Freya Calista · (Arc 2 — Dunia Kerja · sudut pandang dijaga)


Aku tahu Adrian cemburu jauh sebelum ia sendiri tahu.

Itu bukan kesombongan. Itu cuma hasil dari bertahun-tahun mengamatinya—keahlianku yang tak tertulis di CV. Aku hafal bahasa tubuhnya seperti orang hafal lagu masa kecil: aku tahu artinya ketika rahangnya mengunci sedikit, ketika ia mengetik terlalu keras, ketika ia “kebetulan” butuh sesuatu dari printer tepat ketika Damar sedang berdiri di meja legal.

Adrian mengira dirinya tak terbaca. Itu bagian paling manis dan paling menyedihkan dari dirinya: ia begitu yakin bahwa temboknya sempurna, padahal dari tempatku, tembok itu punya jendela-jendela kecil yang lupa ia tutup.

Hari Selasa, misalnya. Damar mampir bawa dua es kopi, dan aku—dari sudut mataku, keahlian yang kupelajari dari orang yang sama yang sedang kuamati—melihat Adrian tiba-tiba “butuh” ke printer yang letaknya kebetulan mengharuskannya lewat dekat mejaku. Ia tidak mencetak apa-apa. Ia berdiri di printer, menatap layar kecilnya, menekan tombol acak, lalu kembali ke mejanya dengan tangan kosong. Seorang Tech Lead yang bisa membangun sistem untuk jutaan pengguna, kalah oleh satu printer, demi mengukur seberapa dekat Damar berdiri denganku.

Hari Rabu, ketika Damar membuatku tertawa, aku sengaja melirik—dan menangkapnya: rahang Adrian mengunci, jarinya berhenti di keyboard, matanya menatap layar terlalu keras. Ia menahan sesuatu. Aku hafal ekspresi itu. Itu ekspresi yang sama seperti bertahun-tahun lalu, di belakang panggung seminar, ketika ia hampir mengatakan sesuatu lalu menelannya.

Dan lewat salah satu jendela itu, minggu ini, aku melihat sesuatu yang membuat jantungku melompat dan tenggelam pada saat yang sama:

Adrian cemburu. Yang artinya Adrian peduli. Yang artinya—setelah bertahun-tahun aku bertanya-tanya apakah aku sedang mengejar bayangan—mungkin, akhirnya, mungkin, ini dua arah.

Aku seharusnya bahagia. Sebagian besar diriku memang bahagia.

Masalahnya, kebahagiaan itu datang dengan harga yang tak nyaman: seorang laki-laki baik bernama Damar, yang tidak melakukan kesalahan apa pun kecuali menyukaiku dengan cara yang jujur dan berani.


Damar tidak jahat. Itu yang membuat semuanya rumit.

Kalau ia playboy licik, aku bisa menolaknya dengan bersih dan tanpa rasa bersalah. Tapi Damar tulus. Ia mengajakku makan siang dengan sopan, menerima “maaf, aku ada kerjaan” tanpa memaksa, membawakan kopi tanpa embel-embel, tertawa mudah, dan memperlakukan semua orang di kantor—bukan cuma aku—dengan kehangatan yang sama. Ia jenis laki-laki yang seharusnya membuat perempuan mana pun beruntung.

Cuma saja hatiku sudah lama ditempati orang lain, dan tidak ada kamar kosong tersisa. Sudah tidak ada sejak zaman perpustakaan, sejak payung di tengah hujan, sejak seorang mahasiswa pendiam mengajariku—tanpa pernah tahu—bahwa cinta yang paling dalam justru yang paling tak banyak bicara.

Jadi aku menghadapi Damar dengan satu-satunya cara yang adil: jujur, tapi lembut. Ketika ia mengajakku makan siang berdua untuk kesekian kali, aku menatapnya dan berkata baik-baik, “Damar, kamu orang baik. Serius. Tapi aku nggak bisa. Bukan kamu—ada alasannya, dan alasannya bukan tentang kamu sama sekali. Kamu pantes dapet orang yang bisa suka kamu balik sepenuhnya. Dan itu bukan aku.”

Damar menatapku sebentar, lalu—khas dia—tersenyum, meski senyumnya sedikit lebih tipis dari biasa. “Ada orang lain, ya?”

Aku tidak menjawab. Tapi diamku, kurasa, adalah jawaban.

“Yah.” Ia mengangkat bahu, menerima dengan keanggunan yang membuatku makin merasa bersalah karena tak bisa membalas perasaannya. “Sayang banget. Tapi respek. Orang itu beruntung, siapa pun dia. Semoga dia sadar.” Ia menepuk mejaku pelan, tanda perpisahan yang sopan, dan kembali jadi rekan kerja yang baik—tanpa drama, tanpa dendam, tanpa membuatku merasa harus menghindarinya. Laki-laki baik sampai ke ujung, bahkan dalam kekalahan.

Ia berhenti sebentar sebelum benar-benar pergi, dan menoleh dengan seringai jahil yang tak sepenuhnya bercanda. “Eh, off the record. Yang beruntung itu—dia ada di kantor ini juga, kan? Soalnya tiap gue deket kamu, ada satu orang yang mukanya kayak lagi nahan mau nabok gue pakai keyboard.” Ia terkekeh. “Tenang, gue nggak bakal bilang siapa. Tapi kalau dia nggak segera gerak, bilangin ya—kesempatan bagus nggak nunggu selamanya.”

Aku membeku sedikit, tapi Damar sudah berlalu, bersiul, kembali menyebar kehangatannya ke seluruh kantor seolah tak pernah baru saja ditolak. Aku menghela napas—lega dan bersalah dan sedikit takjub sekaligus. Bahkan dalam kalah, Damar berhasil membuatku merasa dilihat. Dunia butuh lebih banyak laki-laki seperti Damar.

Sayangnya, hatiku cuma butuh satu laki-laki, dan itu bukan Damar.

Aku menghela napas lega. Satu masalah selesai, dengan bersih, tanpa ada yang terluka lebih dari yang perlu.

Tinggal satu masalah. Yang jauh lebih besar. Yang duduk empat meter dariku dan cemburu pada bayangan yang bahkan sudah tidak ada.


Karena inilah bagian yang tak nyaman untuk kuakui, bahkan pada Nadine:

Aku tidak langsung memberitahu Adrian bahwa Damar bukan siapa-siapa.

Aku bisa. Semudah berjalan empat meter dan berkata, “Eh, Damar udah aku tolak, kok. Tenang.” Kalimat sesederhana itu. Kalimat yang akan menghapus rahang yang mengunci itu, mengembalikan warna ke wajahnya, meredakan grafik cemburu yang—aku yakin—sedang naik-turun di dadanya sepanjang hari.

Tapi aku tidak melakukannya. Dan aku benci bahwa aku tidak melakukannya.

Sebagian karena aku takut. Karena kalimat “Damar udah aku tolak” akan mengundang pertanyaan “kenapa”, dan “kenapa” akan menyeretku terlalu dekat ke jawaban yang belum berani kuucapkan, jawaban yang kalau kuucapkan terlalu cepat akan membuat Adrian—aku kenal betul tipenya—memasang tembok yang lebih tinggi dari yang pernah kupanjat.

Tapi sebagian lagi, sebagian yang lebih jujur dan lebih memalukan, karena... cemburunya Adrian adalah tanda pertama yang jelas, setelah bertahun-tahun keraguan, bahwa ia merasakan sesuatu. Dan aku, egois, ingin melihatnya sedikit lebih lama. Ingin melihat buktinya. Ingin membiarkan cemburu itu bekerja—bukan menyiksanya, tapi mendorongnya. Karena aku tahu, aku selalu tahu, bahwa laki-laki ini tidak akan pernah maju kalau tidak ada yang memaksanya keluar dari tempat amannya.

“Kamu jahat,” kata Nadine ketika kuceritakan, meski nadanya tanpa kejaman. “Kamu biarin dia cemburu padahal kamu bisa selesaiin dalam sepuluh detik.”

“Aku tahu.”

“Kenapa nggak kamu selesaiin?”

Aku menatap Adrian dari seberang ruangan. Ia sedang menatap layarnya dengan kening berkerut, tapi aku tahu—dari cara matanya sesekali melirik ke arah meja legal, ke tempat Damar tadi berdiri—bahwa ia tidak benar-benar bekerja. Ia sedang berperang dengan sesuatu di dalam dirinya. Dan untuk pertama kalinya dalam bertahun-tahun, ia sedang kalah pada perang itu—yang, ironisnya, adalah satu-satunya cara ia bisa menang.

“Karena,” kataku pelan, “bertahun-tahun aku suka dia, dan dia nggak pernah tahu. Bertahun-tahun aku liat dia milih diem, milih mundur, milih ngerasa dirinya nggak cukup. Dan sekarang, akhirnya, kami sedekat ini.” Aku menelan sesuatu di tenggorokanku. “Kalau cemburu ini yang akhirnya bikin dia berani—kalau ini yang bikin dia buka tembok itu dari dalam—maka aku nggak mau ngerampok dia dari kesempatan itu dengan buru-buru bikin semuanya aman lagi.”

“Dia harus milih aku, Nadine. Dengan sadar. Dengan berani. Bukan karena aku permudah semuanya, tapi karena dia akhirnya memutuskan aku layak diperjuangkan. Kalau aku selesaiin sekarang, kalau aku bilang ‘Damar bukan siapa-siapa, tenang’, dia bakal balik nyaman di temboknya. Dan besok, atau bulan depan, atau tahun depan, dia bakal ketemu alasan lain buat mundur lagi. Aku nggak mau nyelametin dia dari cemburu. Aku mau cemburu ini nyelametin dia dari kebiasaannya sendiri.”

Nadine menatapku lama. “Dan kalau dia nggak pernah berani?”

Pertanyaan itu menusuk, karena aku sudah menanyakannya pada diriku sendiri seribu kali di malam-malam sepi.

“Maka aku yang akan maju,” kataku akhirnya. “Aku udah janji sama diriku sendiri, dulu, di suatu tempat—di suatu hari yang dia nggak akan pernah tahu betapa pentingnya buatku. Kalau dia nggak akan pernah menoleh, aku yang akan bikin dia menoleh. Tapi aku pengin ngasih dia kesempatan buat jadi berani dulu. Karena aku tahu tipenya: kalau dia yang milih maju, dia nggak akan pernah nyesel seumur hidupnya. Tapi kalau aku yang nyeret dia, dia bakal selalu ngerasa dia nggak pernah pantes. Dan aku nggak mau nikah—“ aku berhenti, wajahku memanas karena kata itu keluar tanpa izin, “—maksudku, aku nggak mau bareng sama orang yang diam-diam ngerasa dia nggak pantes buat bareng aku.”

Nadine tersenyum kecil, menangkap kata yang kutelan tadi tapi cukup baik untuk tidak menggodanya. “Kamu udah kepikiran sampai situ, ya.”

“Aku selalu kepikiran sampai situ,” kataku pelan. “Itu masalahnya jatuh cinta sama satu orang terlalu lama. Kamu udah nyusun seluruh masa depan di kepala, tinggal nunggu orangnya nyampe.”

Aku kembali menatap layar, ke arah dokumen yang tidak kubaca, sementara empat meter jauhnya, seorang laki-laki yang kucintai lebih lama dari yang berani kuakui sedang belajar—pelan, menyakitkan, indah—bahwa ada hal-hal yang tidak bisa kaujaga tetap aman dengan cara menghindarinya.

Ayo, Adrian, pikirku, pada punggung yang tak mendengar. Sekali ini. Beranilah. Aku ada di sini. Aku selalu ada di sini, jauh lebih lama dari yang bisa kamu bayangkan.

Aku cuma butuh kamu yang akhirnya berjalan empat meter itu. Empat meter yang, buatku, sudah kutempuh bertahun-tahun dari arah yang berlawanan.