← Cukup Memandang, Katanya

Chapter Fifteen

Kopi yang Terlalu Pas

POV: Freya Calista · (Arc 2 — Dunia Kerja · sudut pandang dijaga)


Semua orang mengira aku perempuan yang tenang. Itu keahlianku. Aku bisa berdiri di depan tiga ratus orang dan membaca pernyataan sikap tanpa suaraku goyah. Aku bisa menegosiasikan klausul kontrak dengan orang yang dua kali umurku dan tidak berkedip. Ketenangan adalah topeng yang sudah kupakai begitu lama sampai kebanyakan orang mengira itu wajah asliku.

Kebanyakan orang belum pernah melihatku pada pagi hari kedua kerja, berdiri di depan mesin kopi kantor, menatap tombol-tombolnya seperti menatap soal ujian yang tidak kupelajari, dengan jantung berdebar konyol cuma karena akan membawakan segelas kopi untuk seorang laki-laki.

Ini memalukan. Aku dua puluh empat tahun. Aku sarjana hukum. Aku pernah mempermalukan pengacara senior di ruang mediasi tanpa menaikkan nada suara. Dan pagi itu, tanganku sedikit gemetar saat menekan tombol americano, dan aku harus menekannya dua kali karena yang pertama meleset.

Ada dua Freya, aku sudah lama tahu itu. Ada Freya yang dilihat orang: tenang, rapi, terkendali, sedikit dingin. Dan ada Freya yang lain—yang cuma keluar untuk satu orang, yang gugup dan bodoh dan berdebar dan sama sekali tidak sesuai dengan citranya. Selama bertahun-tahun, Freya yang kedua ini kusimpan rapat-rapat, kuberi makan diam-diam, kubiarkan hidup di ruang tersembunyi di dalam dadaku tanpa pernah kuizinkan keluar.

Sekarang, untuk pertama kalinya, ruang itu ada di gedung yang sama dengan orangnya. Dan aku sedang mempertaruhkan seluruh ketenangan yang kubangun bertahun-tahun demi segelas americano.

Karena aku tahu ia minum americano. Hitam. Tanpa gula.

Aku tidak akan menjelaskan dari mana aku tahu. Ada hal-hal yang lebih aman kusimpan sendiri—bahkan dari diriku sendiri, kalau aku sedang jujur. Cukup dikatakan bahwa aku memperhatikan. Aku selalu memperhatikan. Itu keahlianku yang lain, yang tidak kutulis di CV: aku bisa mengamati seseorang begitu lama dan begitu diam sampai aku hafal hal-hal kecilnya tanpa ia pernah tahu aku ada.

Ironis, kan? Selama ini aku selalu mengira akulah satu-satunya yang mengamati. Aku punya alasan untuk mulai menduga bahwa mungkin aku salah—bahwa mungkin, selama ini, ada seseorang yang mengamatiku juga. Tapi itu dugaan yang belum berani kupegang erat-erat. Kalau ternyata salah, aku tidak yakin bisa menanggung kecewanya.


Rencananya sederhana. Rencananya selalu sederhana di kepalaku, dan selalu berantakan begitu bertemu kenyataan bernama Adrian Pramudya.

Rencana: bawakan kopi. Bersikap ramah. Cair. Rekan kerja yang baik. Bangun jembatan pelan-pelan, alami, tanpa terburu-buru, tanpa membuatnya curiga, tanpa membuatnya menutup diri—karena aku tahu, aku sangat tahu, bahwa laki-laki ini punya tembok yang kalau kaudobrak dari luar cuma akan makin tinggi. Ia harus membukanya dari dalam. Tugasku bukan mendobrak. Tugasku cuma membuatnya, pelan-pelan, ingin membuka.

Aku sudah sabar selama ini. Aku bisa sabar sedikit lebih lama.

Itu teorinya.

Prakteknya: aku berjalan ke mejanya dengan dua gelas kopi—satu untukku, biar terlihat wajar, biar terlihat seperti “oh aku kebetulan bikin, sekalian” alih-alih “aku menghabiskan sepuluh menit menimbang apakah ini terlalu cepat”—dan setiap langkah, rencana tenangku menguap sedikit demi sedikit sampai yang tersisa cuma seorang perempuan gugup yang berharap kopinya tidak tumpah.

Adrian sedang menatap layar, alisnya berkerut sedikit—ekspresi konsentrasi yang, ya ampun, sama persis seperti dulu—dan ia tidak menyadari kedatanganku sampai aku sudah berdiri di samping mejanya.

“Pagi,” kataku. Suaraku, syukurlah, keluar setenang topengku. “Aku bikin kopi, kebanyakan. Kamu mau? Americano.”

Ia mengangkat wajah. Dan selama satu detik—satu detik yang kusimpan diam-diam—ada sesuatu yang melintas di matanya sebelum ia menutupnya kembali dengan sopan santun profesional. Sesuatu yang tidak sempat kubaca. Sesuatu yang, kalau aku berani berharap, terlihat seperti kaget.

“...Americano,” ulangnya, pelan.

“Iya.” Terlalu cepat. Aku menaruh gelas itu di mejanya, mencoba terdengar santai. “Kenapa? Kamu nggak suka kopi hitam?”

“Nggak—maksudku, iya. Aku suka americano.” Ia menatap gelas itu, lalu menatapku, dan aku bisa melihat pertanyaan terbentuk di wajahnya, pertanyaan yang paling kutakuti. “Dari mana kamu tahu aku minum americano?”

Nah.

Inilah momen yang harusnya sudah kuantisipasi, dan memang kuantisipasi, dan tetap saja membuat perutku turun ke lantai. Karena jawaban jujurnya terlalu panjang, terlalu berbahaya, terlalu—terlalu—untuk diberikan pada hari kedua kerja kepada laki-laki yang belum siap mendengarnya.

Jadi aku melakukan apa yang selalu kulakukan: aku berlindung di balik ketenangan.

“Tebak aja,” kataku ringan, mengangkat bahu. “Kamu keliatan kayak orang americano. Serius, hitam, nggak neko-neko.” Aku tersenyum, membiarkan lelucon kecil itu menutupi debar di dadaku. “Kalau salah, ya udah, kopinya buat aku aja.”

Ia menatapku beberapa saat—terlalu lama, cukup lama untuk membuatku takut ia melihat menembus topengku—lalu sudut bibirnya naik sedikit. Bukan senyum penuh. Setengah senyum. Tapi bagiku, yang sudah bertahun-tahun mengoleksi setiap pecahan ekspresinya dari kejauhan, setengah senyum itu terasa seperti kemenangan besar.

“Nggak salah,” katanya. “Makasih.”

“Sama-sama.” Aku menaruh gelasku sendiri di meja kosong sebelahnya, pura-pura mengecek sesuatu di ponselku, memberi diriku alasan untuk tinggal tiga detik lebih lama. “Oh iya, soal review kepatuhan itu—mungkin nanti aku butuh ngobrol lebih detail sama kamu soal alur datanya. Nggak apa-apa?”

“Nggak apa-apa. Itu kerjaan.” Datar. Sopan. Tembok.

“Oke. Makasih, Mas Adrian.” Aku hampir mengambil gelasku dan pergi—tapi tanganku, seolah punya rencana sendiri yang tak kukonsultasikan, malah meraih map di lenganku. “Oh, sekalian. Ini formulir persetujuan akses data buat review-nya. Perlu tanda tanganmu di halaman terakhir.”

Alasan yang sah. Alasan kerja. Tapi kalau aku jujur pada diriku sendiri—dan pagi itu aku sedang sangat tidak jujur pada diriku sendiri—aku tahu formulir itu sebenarnya bisa kukirim lewat email.

Aku mengeluarkan lembaran itu dan menyodorkannya. Ia meraihnya. Dan selama sepersekian detik, ujung jariku menyentuh ujung jarinya di tepi kertas—sentuhan yang sama sekali tidak disengaja, sentuhan yang terjadi jutaan kali sehari antara rekan kerja di seluruh dunia dan tidak berarti apa-apa—

—kecuali bagiku, sentuhan itu mengalir naik dari ujung jari ke suatu tempat di dadaku yang sudah bertahun-tahun tidak disentuh siapa pun. Aku menahan napas. Aku berharap ia tidak dengar. Aku berharap wajahku tetap jadi wajah Freya yang tenang, bukan wajah Freya yang satunya.

Ia menarik kertas itu—tidak buru-buru, atau mungkin cuma perasaanku—dan menandatanganinya dengan tangan kanan, cepat, rapi. “Udah.”

“Makasih.” Aku menerima kembali map itu, dan kali ini, dengan susah payah, kupaksa tanganku tidak mencari sentuhan yang kedua.

Aku mengambil gelasku sendiri dan berjalan pergi, memaksa langkahku santai, meski setiap sel di tubuhku ingin menoleh untuk melihat apakah ia sedang menatap punggungku.

Aku tidak menoleh. Aku sudah belajar, entah dari mana, bahwa kadang tidak menoleh adalah bentuk keberanian tersendiri.

Cara punggungnya menjauh tadi—tegak, tenang, tak menoleh—mengingatkanku pada sesuatu. Pada seseorang, dulu, yang juga berjalan menjauh tanpa menoleh, meski aku memanggil-manggil di tengah hujan. Aku menepis pikiran itu secepat ia datang. Terlalu berani untuk kupegang sekarang. Terlalu banyak yang bisa hancur kalau aku salah menduga.

Tapi pikiran itu, seperti gema, tidak sepenuhnya mau pergi.


Di meja legal, Nadine—satu-satunya orang di kantor ini yang tahu lebih dari yang seharusnya—menyambutku dengan seringai. “Gimana? Berhasil?”

“Dia nanya dari mana aku tahu kopinya,” bisikku, menjatuhkan diri di kursi.

“Terus kamu bilang apa?”

“‘Tebak aja.’”

Nadine menepuk dahinya dengan telapak tangan, dramatis. “Freya. Kamu naksir cowok ini dari zaman entah kapan, kamu udah nyusun pendekatan sematang skripsi, dan begitu dia nanya, senjata andalanmu ‘tebak aja’?”

“Aku nggak bisa langsung bilang, ‘Oh, aku tahu karena aku merhatiin kamu sejak—‘” Aku berhenti. Menelan sisa kalimatnya. Bahkan pada Nadine, ada bagian yang tidak kuucapkan lengkap, karena mengucapkannya lengkap terasa seperti membuka pintu yang belum waktunya kubuka—bukan padanya, tapi pada diriku sendiri. “Nggak bisa. Belum. Kalau aku terlalu cepat, dia bakal lari. Aku kenal tipenya. Makin kaudekati dari depan, makin dia mundur. Satu-satunya cara adalah bikin dia yang maju. Dan itu butuh waktu.”

“Kamu udah kasih dia banyak waktu,” kata Nadine, pelan, kehilangan nada bercandanya. “Kadang aku mikir, Freya, jangan-jangan bukan dia yang butuh waktu. Jangan-jangan kamu yang lebih nyaman nunggu daripada ngambil risiko ditolak.”

Aku tidak menjawab. Karena Nadine, seperti biasa, terlalu tepat, dan kebenaran yang terlalu tepat selalu butuh waktu untuk kutelan.

“Dia bakal lari,” Nadine mengulang, menirukan nadaku tadi, “atau kamu yang takut?”

“Dua-duanya bisa benar sekaligus,” kataku akhirnya, dan itu jawaban paling jujur yang bisa kuberikan.

Aku menyeruput kopiku yang mulai dingin dan meliriknya sekilas dari seberang ruangan—Adrian, di mejanya, memegang gelas americano yang kubawakan. Ia tidak meminumnya buru-buru. Ia menatapnya sebentar, dengan ekspresi yang tidak bisa kubaca dari jarak ini, memutar gelasnya pelan di tangan, sebelum akhirnya menyesapnya. Ada sesuatu dalam cara ia memperlakukan gelas itu—terlalu hati-hati untuk sekadar kopi gratis dari rekan kerja baru—yang membuat dugaan yang tadi tak berani kupegang erat-erat, sedikit menguat.

Dan aku, yang katanya perempuan paling tenang di kantor ini, harus menahan diri untuk tidak tersenyum terlalu lebar di depan layar laptopku sendiri.

Aku sudah menunggu lama untuk berada sedekat ini. Aku bisa menunggu sedikit lebih lama untuk sisanya.

Aku selalu bisa menunggu. Itu, mungkin, keahlianku yang paling menyakitkan—dan, aku mulai curiga, juga keahlian orang yang duduk di seberang ruangan sana, memegang kopinya seolah takut menumpahkannya.