Chapter Three
Aturan Main
POV: Adrian Pramudya · (Arc 1 — Kampus)
Kalau kau ingin melakukan sesuatu yang buruk dengan hati tenang, buatlah aturan. Aturan membuat kejahatan terasa seperti disiplin.
Maka aku membuat aturan.
Aku menulisnya—benar-benar menulisnya—di halaman belakang buku catatan Basis Data, dengan pensil, kecil-kecil, di sudut yang tidak akan dilihat Reza kalau ia iseng meminjam. Tiga baris. Kelihatannya konyol sekarang, tapi waktu itu aku memperlakukannya seperti pasal undang-undang.
Satu: boleh melihat, tidak boleh mencari.
Artinya, kalau kebetulan berpapasan, kalau ia kebetulan ada di perpustakaan pada jam jedaku, itu takdir, dan takdir tidak melanggar perjanjian. Tapi aku tidak boleh mengubah rute, tidak boleh datang lebih awal, tidak boleh memperpanjang jeda demi kemungkinan bertemu.
Dua: maksimal lima menit.
Sekali lihat, lima menit. Setelah itu, mata kembali ke buku, ke layar, ke hidup yang sebenarnya. Lima menit adalah dosis yang kuhitung cukup untuk mengganjal, tidak cukup untuk kecanduan. Begitu pikirku. Aku memang sok tahu soal kecanduan untuk orang yang belum pernah mencobanya.
Tiga: dia tidak boleh pernah tahu.
Ini yang paling penting. Karena selama dia tidak tahu, tidak ada yang terluka. Dia tetap hidup dalam kalimatnya sendiri, aku tetap hidup dalam kalimatku, dan komaku yang kecil itu tetap jadi milikku—aman, tersembunyi, tak terganggu oleh kenyataan bahwa aku bukan siapa-siapa yang layak masuk ke dalam kalimatnya.
Dengan tiga aturan itu, aku merasa aman. Seperti pencuri yang memakai sarung tangan.
Selama beberapa hari, sistemku bekerja. Aku melihatnya tiga kali—sekali di perpustakaan, sekali menyeberang di depan gedung rektorat, sekali dari kejauhan di kantin—dan setiap kali aku mematuhi lima menitku dengan disiplin seorang biksu. Aku bahkan bangga. Aku pikir aku telah menemukan cara untuk memiliki sesuatu yang indah tanpa membayar harganya.
Aku juga, tanpa sengaja, mulai tahu hal-hal kecil. Bukan karena mencari—sesuai aturan satu—tapi karena informasi kadang datang sendiri kalau kau cukup diam dan cukup memperhatikan. Aku tahu ia anak Fakultas Hukum, dari buku dan dari almamater teman-temannya. Aku tahu ia biasa membawa botol minum warna hijau yang penyok di satu sisi—botol mahal yang diperlakukan seperti barang murah, atau barang murah yang dicintai seperti mahal, aku tidak tahu yang mana. Aku tahu ia menulis dengan tangan kiri.
Hal-hal kecil. Receh. Tapi aku menyimpannya seperti orang menyimpan receh: satu per satu, sampai tanpa sadar sudah cukup untuk membeli sesuatu yang tidak kuniatkan kubeli.
Aturan satu mulai retak pada hari kelima.
Hari itu jedaku jatuh pukul dua, dan aku tahu—entah dari mana aku tahu, dan itulah masalahnya—bahwa pukul dua adalah jam ketika ia biasa lewat perpustakaan. Aku berdiri di persimpangan koridor. Ke kiri, jalan menuju laboratorium tempat seharusnya aku mengerjakan proyek. Ke kanan, jalan memutar yang lebih jauh, yang melewati perpustakaan.
Kakiku, tanpa persetujuan resmi dari kepala, sudah setengah menghadap ke kanan.
Aku berdiri di situ mungkin sepuluh detik. Sepuluh detik yang terasa seperti sidang. Di satu sisi ada aturan yang kutulis sendiri dengan pensil; di sisi lain ada bagian diriku yang berbisik bahwa memutar sedikit tidak akan membunuh siapa-siapa. Pada akhirnya aku berbalik ke kiri—menang tipis, seperti tim yang kebobolan di menit akhir tapi tetap juara—dan berjalan ke laboratorium dengan langkah yang sengaja kubuat cepat, supaya tidak sempat berubah pikiran.
Tapi sepanjang jalan ke kiri itu, aku sadar satu hal yang tidak menyenangkan: aku tidak lagi berdebat soal apakah aku menyukainya. Perdebatan itu sudah kalah entah kapan. Yang tersisa cuma perdebatan soal seberapa jauh aku akan membiarkan diriku menyukainya. Dan itu, aku tahu, adalah jenis perdebatan yang selalu dimenangkan oleh pihak yang paling ingin kalah.
Lalu, pada suatu siang, dia tertawa.
Aku sedang antre membeli roti termurah di kantin ketika seluruh sudut ruangan itu berubah nada. Aku tahu ada tawa bukan karena aku mendengarnya lebih dulu, tapi karena aku melihat efeknya: dua mahasiswa di meja dekat kasir menoleh serempak; seorang ibu kantin yang sedang menggoreng berhenti sejenak dengan sudut bibir naik, entah untuk apa; bahkan bapak-bapak satpam yang biasanya cuma menatap kosong ke arah pintu ikut tersenyum tipis, seolah tawa itu menular lewat udara sebelum sampai ke telinga.
Baru setelah itu suaranya sampai padaku. Tawa yang lepas, yang sedikit terlalu keras untuk sopan santun, yang berakhir dengan bunyi sendok jatuh karena si empunya tawa tak sempat menahan tangannya.
Aku menoleh. Tentu saja aku menoleh. Menahan diri untuk tidak menoleh sama saja seperti menahan diri untuk tidak berkedip ketika ada yang melempar pasir ke matamu.
Dan aku melihatnya, bukan sebagai lukisan diam di perpustakaan, tapi sebagai manusia yang hidup, yang berantakan: buru-buru menutup mulut dengan tangan karena malu sudah tertawa sekeras itu, memungut sendok yang jatuh, berkata sesuatu pada temannya yang membuat mereka semua tertawa lagi—lebih pelan kali ini, seolah sepakat untuk mengecilkan volume kebahagiaan supaya muat di dalam ruangan.
Lima menit, kataku pada diriku sendiri. Ini masih dalam lima menit.
Aku bohong. Aku berdiri di antrean itu jauh lebih lama dari lima menit, dan ketika ibu kantin memanggilku dengan nada kesal, “Dek, maju, Dek! Yang di belakang udah ngantre!”, aku baru sadar barisan di belakangku sudah mengular sampai hampir keluar pintu, dan beberapa orang menatapku dengan tatapan yang jelas bertuliskan ini orang kenapa.
Aku membeli rotiku dengan muka semerah bendera, membawanya ke sudut, dan makan sambil pura-pura tidak baru saja mempermalukan diri di depan umum demi sebuah tawa yang bahkan bukan ditujukan padaku.
Dan diam-diam, di dalam laci kepalaku yang khusus untuk hal-hal yang tidak boleh kumiliki, aku menyimpan tawa itu. Suaranya. Bunyi sendok yang jatuh. Cara ia mengecilkan volume.
Aku tahu aku baru saja melanggar aturan keduaku. Aku memutuskan untuk tidak menghukum diriku kali ini. Aku bilang, ini pengecualian. Aku tidak tahu bahwa “pengecualian” adalah kata favorit setiap orang yang sedang jatuh ke jurang sambil meyakinkan diri bahwa ia cuma menuruni tangga.
“Kamu senyum-senyum sendiri.”
Reza. Muncul dari mana entah, langsung menjatuhkan diri di kursi seberangku, meletakkan nampannya, dan menatapku dengan ekspresi seorang detektif yang baru menemukan sidik jari di tempat kejadian perkara.
“Nggak,” kataku, secepat mungkin. Terlalu cepat.
“Barusan. Pas ngeliatin roti. Kamu senyum.” Ia memicingkan mata. “Adrian Pramudya senyum ke roti. Ini kiamat, atau kamu jatuh cinta sama roti.”
“Aku nggak senyum.”
“Roti seharga tiga ribu bikin kamu bahagia gitu? Berarti standar kebahagiaanmu murah banget. Kasihan. Aku aja butuh minimal martabak.” Ia mencomot separuh rotiku tanpa izin, mengunyah, lalu tiba-tiba berhenti, matanya melebar dengan kengerian teatrikal. “Atau—jangan-jangan—bukan rotinya.”
“Reza.”
“Ada cewek.” Ia menepuk meja sampai sendoknya sendiri melompat. “Ya ampun. Ada cewek! Mana? Yang mana? Yang tadi ketawa kenceng banget itu, ya? Anak Hukum yang bikin satu kantin—“
“Reza.” Suaraku keluar lebih tajam dari yang kumau.
Ia berhenti. Menatapku. Dan untuk seorang yang biasanya cuma bisa bercanda, ada momen singkat di mana ekspresinya berubah serius—terlalu serius—dan aku tahu ia melihat sesuatu di wajahku yang tidak kupasang dengan sengaja.
“Wih,” katanya pelan. “Beneran.”
Aku tidak menjawab. Kadang tidak menjawab adalah jawaban yang paling jujur.
Reza bersandar, melipat tangan, menatap langit-langit kantin seolah di sana tertulis wahyu. Ia diam lebih lama dari biasanya—cukup lama sampai aku hampir berharap ia kembali bercanda, karena Reza yang serius selalu lebih menakutkan daripada Reza yang berisik.
“Adrian,” katanya akhirnya. “Kamu tahu nggak, dari semua orang di kampus ini, kamu itu satu-satunya yang punya alasan buat bahagia tapi milih buat sibuk terus. Nilai bagus. Otak encer. Muka—yah, lumayan, nggak bikin susu basi. Tapi kamu perlakuin dirimu kayak mesin yang cuma boleh nyala kalau ada kerjaan.” Ia menunjuk rotiku dengan dagunya. “Sekali ini—sekali aja—kalau ada yang bikin kamu lupa maju di antrean, tolong jangan langsung kamu bunuh perasaannya sebelum sempet napas.”
“Dia jauh,” kataku pelan. Itu satu-satunya kejujuran yang berani kuberikan. “Terlalu jauh.”
“Jauh secara jarak, atau jauh secara kamu yang mutusin dia jauh?”
Aku tidak menjawab itu juga. Karena jawabannya, aku takut, adalah yang kedua.
Reza menghela napas, mengembalikan separuh rotiku yang tinggal seperempat, lalu menepuk bahuku ketika berdiri. “Ya udah. Tapi inget ya, Yan. Aturan itu dibikin manusia. Dan manusia—“ ia menyeringai, mengangkat nampannya, “—paling jago ngelanggar bikinan sendiri.”
Ia pergi, meninggalkanku dengan seperempat roti dan sebuah kalimat yang tidak kuminta.
Aku menatap roti itu. Aku memikirkan tiga baris pensil di halaman belakang buku catatanku—tiga aturan rapi yang tadi pagi kubanggakan seperti benteng.
Lalu aku memikirkan tawa yang tadi kusimpan di laci, dan bagaimana laci itu, entah sejak kapan, sudah tidak bisa lagi kukunci.
Malam itu, sebelum tidur, aku membuka halaman belakang buku catatan itu. Aku menatap tiga baris pensilku lama-lama. Sebentar aku berpikir untuk menambah aturan keempat, sesuatu yang lebih tegas, lebih tinggi tanggulnya. Tapi tanganku tidak bergerak. Karena aku tahu, jauh di dalam, bahwa menambah aturan pada saat itu sama saja dengan menambah pagar pada rumah yang pintunya sudah kubiarkan terbuka.
Jadi aku menutup buku itu. Mematikan lampu. Dan berbaring memandangi langit-langit, mendengarkan suara mesin jahit ibu yang masih menyala pelan di ruang depan—tektektektek—suara yang biasanya menenangkanku, tapi malam itu terdengar seperti hitungan mundur untuk sesuatu yang belum kupahami.
- 1 Orang yang Tak Punya Waktu
- 2 Cahaya yang Tak Boleh Dikejar
- 3 Aturan Main reading
- 4 Kebaikan Tanpa Nama
- 5 Dua Dunia
- 6 Kompor Bernama Reza
- 7 Satu Payung
- 8 Beban yang Tak Diceritakan
- 9 Nyaris
- 10 Cukup
- 11 Empat Tahun Kemudian
- 12 Nama di Daftar Onboarding
- 13 Bidadari yang Sama
- 14 Protokol Jarak
- 15 Kopi yang Terlalu Pas
- 16 Meja yang Mendekat
- 17 Error di Sini, Sayang
- 18 Wangi yang Salah
- 19 Orang Ketiga
- 20 Cemburu yang Tak Diakui
- 21 Tugas ke Singapura
- 22 Makan Malam "Urusan Kerja"
- 23 Retak yang Ditunjukkan
- 24 Pulang Bawa Perasaan
- 25 Adrian Balik Menyerang
- 26 Sejarak Senti
- 27 Empat Tahun
- 28 Cukup, Katanya
- 29 Cinta yang Manis
- 30 Sejauh Nol Meja