← Cukup Memandang, Katanya

Chapter Twenty Six

Sejarak Senti

POV: Adrian Pramudya · (Arc 2 — Dunia Kerja)


Aku memutuskan akan mengatakannya pada hari Jumat.

Aku bahkan merencanakannya—kebiasaan lama, tapi kali ini untuk hal yang benar. Aku menawarkan mengantar Freya pulang, seperti yang mulai jadi kebiasaan kami. Aku akan berhenti di suatu tempat, mungkin di jembatan penyeberangan yang menghadap kota, dan aku akan mengucapkan tiga kata yang sudah kutahan sejak seorang mahasiswa berlaptop retak pertama kali melihat cahaya di perpustakaan. Tidak ada payung untuk kuberikan lalu kabur. Tidak ada hujan untuk kutembus. Kali ini aku akan tinggal, dan mengatakannya, dan membiarkan apa pun terjadi.

Sederhana. Aku sudah menghadapi server yang tumbang, rapat lintas benua, kemiskinan, kehilangan. Mengucapkan tiga kata pada perempuan yang jelas-jelas juga menyukaiku seharusnya tidak semenakutkan ini.

Ternyata semenakutkan itu. Mungkin lebih.

Sepanjang hari Jumat itu, aku—dua puluh lima tahun, Tech Lead—melakukan hal-hal yang memalukan untuk kuakui. Aku melatih kalimatku di kaca kamar mandi kantor, dan seorang kolega masuk tepat ketika aku berbisik “Freya, dari dulu aku—“ ke cermin, dan aku terpaksa berpura-pura sedang mengecek gigi. Aku menulis dan menghapus draf ucapan di aplikasi notes sampai belasan versi, satu bahkan dengan poin-poin bernomor, sebelum aku sadar bahwa menyatakan cinta dengan bullet points mungkin bukan ide terbaik. Gilang, yang entah bagaimana mencium ada sesuatu, cuma menepuk bahuku pagi tadi dan berkata, “Bang, apa pun rencana Abang hari ini, satu saran: jangan pakai kata ‘efisien’. Cewek benci kata ‘efisien’ pas lagi romantis.” Ia bahkan tidak tahu detailnya. Ia cuma tahu wajahku. Aku mulai curiga seisi kantor tahu sesuatu yang bahkan belum kuberitahukan pada Freya.

Malam itu hujan—tentu saja hujan, semesta punya rasa humor yang konsisten—dan aku mengantarnya pulang, dan di depan gedung apartemennya, di bawah kanopi yang menahan hujan, kami berhenti. Air jatuh deras di sekeliling, menciptakan tirai yang membuat kami terasa seperti satu-satunya dua orang di dunia. Persis seperti empat tahun lalu. Hanya saja kali ini, aku tidak akan berjalan pergi.

“Adrian,” katanya, membalikkan badan menghadapku, dan ada sesuatu di wajahnya—sesuatu yang tegang, gugup, yang tidak biasa untuknya. “Aku—“

“Tunggu,” potongku, karena kalau aku tidak mengatakannya sekarang, aku takut keberanianku akan menguap seperti selalu. “Biar aku dulu. Tolong. Kalau nggak sekarang, aku nggak tahu kapan aku berani lagi.”

Ia menutup mulutnya. Mengangguk. Menunggu.

Dan aku, jantung berdebar seperti genderang, menatap perempuan yang telah kucintai lebih lama dari yang berani kuakui, dan mulai—


Tapi kata-kata itu tidak keluar seperti yang kurencanakan. Karena begitu aku menatapnya—benar-benar menatapnya, di bawah cahaya remang kanopi, dengan hujan sebagai latar—seluruh naskah yang kususun buyar, dan yang tersisa cuma kebenaran mentah.

Aku mengangkat tanganku, ragu-ragu, dan menyingkirkan seuntai rambut basah dari pipinya—gerakan yang sudah ribuan kali kusaksikan ia lakukan sendiri, gerakan yang selama bertahun-tahun cuma berani kutonton dari jauh. Ia terdiam, membeku pada sentuhan itu. Aku membiarkan tanganku tinggal di sisi wajahnya, dan merasakan ia sedikit menekan pipinya ke telapak tanganku, seolah tangan itu adalah sesuatu yang sudah lama ia tunggu.

Betapa aneh, pikirku, di tengah semua debar itu. Selama empat tahun aku mencintainya dari jarak yang kubuat jadi aturan, dan aku selalu mengira aku sedang melindungi diriku dari kekecewaan yang pasti datang. Aku tak pernah, sekali pun, membayangkan kemungkinan ini: bahwa di ujung semua kehati-hatianku, ada wajah yang menekan ke telapak tanganku, ada seseorang yang menungguku sama seperti aku menunggunya.

“Freya,” kataku pelan, suaraku nyaris tenggelam oleh hujan. “Aku udah capek mundur. Empat tahun aku—“ aku menelan, kehilangan naskah, menemukan kebenaran, “—empat tahun aku pikir kamu terlalu jauh. Terlalu terang. Terlalu nggak mungkin buat orang kayak aku. Aku ngeliatin kamu dari jauh dan bilang ke diriku sendiri itu udah cukup. Padahal itu nggak pernah cukup. Nggak sekali pun. Aku cuma terlalu pengecut buat ngaku.” Aku menarik napas gemetar. “Tapi malam ini, aku cuma pengin kamu tahu satu hal. Cuma satu, dulu.”

Aku menarik dahiku ke dahinya. Dekat. Sedekat yang belum pernah kami capai. Cukup dekat untuk merasakan napasnya bercampur napasku, cukup dekat sampai dua puluh sentimeter yang selalu memisahkan kami akhirnya menyusut jadi nol—jadi senti, jadi napas, jadi ambang.

Empat tahun aku mengukur jarak kami dalam satuan yang selalu terlalu besar: seberang perpustakaan, seberang lapangan, seberang lorong fakultas. Lalu empat meter di kantor. Lalu dua puluh sentimeter di tepi sungai. Dan sekarang, akhirnya, nol. Dahiku di dahinya, matanya menutup, bulu matanya basah, dan seluruh dunia yang selama ini kubangun untuk menjaga jarak ini runtuh jadi satu titik hangat di mana kening kami bertemu.

“Jangan pergi,” bisikku, dan aku tidak sepenuhnya tahu apa maksudku—jangan pergi malam ini, jangan pergi dari hidupku, jangan pernah pergi—tapi aku mengucapkannya dengan seluruh diriku. “Apa pun yang kamu mau ceritain, apa pun itu, aku nggak akan ke mana-mana. Cukup... jangan pergi.”

Aku merasakannya bergetar. Aku merasakan tangannya naik, menggenggam pergelangan tanganku yang di wajahnya, tidak menarik—menahan. Aku memiringkan kepala. Jarak antara bibir kami menyusut jadi hitungan milimeter. Aku bisa merasakan tarikan itu, tak tertahankan, seluruh empat tahun menariknya jadi satu titik—

Ini dia. Setelah semua kehati-hatian, semua kemunduran, semua “cukup” yang kuucapkan sebagai kebohongan sopan—ini dia. Aku akan menciumnya. Aku, Adrian Pramudya, yang dulu memilih basah demi tidak menyebut namanya, akan menutup jarak terakhir itu, dan untuk pertama kalinya dalam hidupku aku akan mengambil sesuatu untuk diriku sendiri, tanpa menghitungnya, tanpa menyebutnya “cukup”—

“Tunggu.” Freya menarik napas tajam, dan menekan pelan dadaku—tidak mendorong menjauh, tapi menahan, menghentikan kami di ambang. Matanya, ketika kutatap, basah, dan bukan karena hujan. “Tunggu, Adrian. Aku—aku nggak bisa. Nggak bisa kayak gini.”

Sesuatu di dadaku jatuh. Ketakutan lama, yang tak pernah benar-benar mati, langsung bangkit: tentu saja. Tentu saja aku salah baca. Tentu saja aku, yang tak tahu apa-apa soal ini, salah menerjemahkan segalanya. “Maaf, aku—kalau kamu nggak mau, aku—aku salah baca, ya? Maaf—“

“Bukan itu.” Ia menggeleng cepat, tangannya masih di dadaku, matanya menatapku dengan sesuatu yang menyakitkan—takut, dan sayang, dan bersalah, semua sekaligus. “Bukan karena aku nggak mau. Aku mau. Ya Tuhan, Adrian, kamu nggak akan pernah tahu seberapa lama aku mau.” Suaranya retak di kata “lama”, retak dengan cara yang membuatku berhenti bernapas. “Justru karena itu. Karena aku nggak bisa nyium kamu, nggak bisa mulai apa pun sama kamu, sebelum kamu tahu sesuatu. Sesuatu tentang aku. Tentang kita. Sesuatu yang harusnya aku ceritain dari lama, dan aku pengecut, dan aku terus nunda karena aku takut kamu bakal—“

Ia berhenti, mengambil napas gemetar, dan mundur selangkah—menciptakan jarak yang, setelah sedekat tadi, terasa seperti jurang.

Aku berdiri di sana, hujan menderu di belakangnya, dan mencoba memahami. Ada apa? Apa yang bisa begitu besar sampai ia menahan sesuatu yang jelas-jelas kami berdua inginkan? Pikiranku berlomba mencari kemungkinan terburuk—ia sudah punya orang lain, ia akan pindah kerja, ia sakit, ada sesuatu yang salah—dan tak satu pun dari tebakanku, tak satu pun, mendekati kebenaran yang sebenarnya, karena kebenaran yang sebenarnya adalah hal yang tak pernah, dalam empat tahun, berani kubayangkan.

“Aku harus cerita sesuatu,” katanya, suaranya pelan tapi mantap sekarang, suara orang yang akhirnya memutuskan melompat. “Dan setelah kamu denger, mungkin kamu bakal ngeliat aku beda. Mungkin kamu bakal ngerasa semuanya... kebanyakan. Terlalu banyak. Terlalu intens. Mungkin kamu bakal takut.” Ia menelan. “Tapi aku nggak mau kamu jatuh cinta sama versi diriku yang setengah. Kamu berhak tahu siapa yang sebenarnya kamu suka. Dari awal. Semuanya. Bahkan kalau itu artinya aku kehilangan kamu tepat pas aku akhirnya dapet kamu.”

Hujan terus turun di sekeliling kami. Jantungku, yang tadi berdebar karena satu alasan, sekarang berdebar karena alasan yang sama sekali berbeda—sebuah firasat, dingin dan aneh, bahwa hidupku sedang berdiri di ambang sesuatu yang akan mengubah segalanya.

“Oke,” kataku pelan. “Aku dengerin. Aku nggak akan ke mana-mana, inget? Aku baru aja bilang jangan pergi—masa aku sendiri yang pergi. Cerita aja. Apa pun itu.”

Ia menatapku lama, hujan memantul di belakangnya, air mata dan air hujan bercampur di pipinya, dan menarik satu napas dalam—napas orang yang akan menyerahkan sesuatu yang sudah ia jaga bertahun-tahun.

Aku tidak tahu apa yang akan ia katakan. Tapi ada sesuatu di caranya menatapku—seolah ia sedang memandang seseorang yang sudah lama ia kenal, jauh lebih lama dari beberapa minggu kami bekerja bersama, jauh lebih lama dari yang masuk akal—yang membuat firasat dingin itu makin kuat. Seolah, selama ini, ada percakapan lain yang berlangsung di bawah percakapan kami, dan aku baru akan mendengar bagian yang tak pernah kutahu ada.

“Adrian,” katanya. “Kamu inget payung yang kamu kasih ke aku, di tengah hujan, empat tahun lalu?”

Dan seluruh dunia—hujan, kanopi, kota, waktu—berhenti.

Karena tidak ada satu orang pun di muka bumi ini yang seharusnya tahu soal payung itu. Tidak ada saksi. Tidak ada nama yang kutinggalkan. Aku sudah memastikannya—aku selalu memastikannya—dengan seluruh kehati-hatian seorang laki-laki yang menghabiskan hidupnya jadi tak terlihat.

Kecuali, ternyata, aku tidak pernah benar-benar tak terlihat.

Kecuali, ternyata, ada seseorang yang melihatku sepanjang waktu.