← Cukup Memandang, Katanya

Chapter Five

Dua Dunia

POV: Adrian Pramudya · (Arc 1 — Kampus)


Ada angka yang kuhafal lebih baik daripada rumus mana pun: sisa saldo di rekeningku.

Pagi itu angka itu berbunyi seratus dua puluh tiga ribu. Dan di hadapannya berbaris angka-angka lain yang jauh lebih percaya diri: kontrakan yang jatuh tempo minggu depan, naik lima puluh ribu dari tahun lalu “karena harga-harga, Mas, maklum”; obat batuk ibu yang sudah dua kali kutunda beli; dan selembar formulir dari sekolah Kayla untuk simulasi ujian masuk kedokteran, dengan biaya yang membuatku menutup laptop pelan-pelan supaya tidak membantingnya.

Yang seharusnya menyelamatkanku adalah pembayaran dari klien freelance—proyek besar yang kuselesaikan pukul tiga pagi tempo hari. Tapi pagi itu masuk pesan darinya: ”Bro, ada revisi dikit ya. Pembayaran nyusul abis revisi. Thanks!”

“Revisi dikit” adalah dua kata paling mahal dalam bahasa manusia.

Aku menatap layar retak itu lama. Lalu aku melakukan hal yang selalu kulakukan ketika angka-angka mulai mengepung: aku berhenti merasakannya, dan mulai menghitungnya. Perasaan tidak membayar kontrakan. Perhitungan, kadang, bisa.

“Kak.” Kayla muncul dari kamar, masih berseragam, menyodorkan ponselnya ke mukaku dengan mata berbinar bahaya. “Aku punya ide bisnis.”

“Nggak.”

“Kakak belum denger.”

“Idemu yang kemarin bikin kita rugi seribu lima ratus.”

“Itu karena marketnya belum siap.” Ia duduk, serius seperti direktur. “Yang ini beda. Aku jualan jasa. Ngerjain PR anak SMP. Tarif per soal. Aku udah bikin daftar harga—“ ia menggeser layar, “—matematika paling mahal, karena paling banyak yang nyerah.”

Aku menatap daftar harga itu. Rapi. Ada tingkatan. Ada diskon paket. Ada, astaga, syarat dan ketentuan.

“Kayla,” kataku. “Kamu harusnya fokus ujian.”

“Aku fokus, kok. Ini sampingan. Biar Kakak nggak sendirian nanggung.” Ia bilang itu ringan, sambil lalu, seolah kalimat itu tidak baru saja menekan sesuatu di dadaku sekeras kepalan. “Lagian aku udah gede. Masa Kakak terus.”

Aku ingin melarangnya. Aku ingin bilang bahwa menanggung rumah ini adalah pekerjaanku, bukan pekerjaan anak kelas dua belas yang mimpinya sebesar itu. Tapi aku juga tahu, kalau aku melarang, aku sedang berpura-pura punya pilihan yang sebenarnya tidak kupunya.

Jadi aku cuma bilang, “Matematika jangan dinaikin. Nanti nggak ada yang beli.”

Wajahnya langsung cerah, dan ia menghabiskan lima menit berikutnya mendebat strategi harga denganku seolah kami sedang mengelola perusahaan, bukan menambal hidup. Untuk lima menit itu, angka-angka di kepalaku diam. Adikku punya bakat langka: membuat kemiskinan terasa seperti proyek yang seru, bukan penjara.

Dari ruang depan, terdengar suara ibu—dan di ujung kalimatnya, batuk. Batuk yang kering, pendek, yang belakangan makin sering muncul di sela-sela kata dan makin lama ia coba tahan supaya kami tidak dengar.

“Kayla, Adrian,” panggilnya, suaranya masih ceria menutupi yang tadi. “Sarapan dulu. Ibu bikin nasi goreng. Tapi telurnya satu, dibagi tiga, ya. Jangan protes.”

“Ibu makan yang paling banyak,” kataku, masuk ke ruang depan.

“Ibu udah kenyang ngeliatin kalian.” Ia tersenyum, tangannya masih memegang gunting kain, di sisinya tumpukan jahitan pesanan yang harus selesai malam ini. Aku melihat lingkaran samar di bawah matanya, dan aku tahu ia begadang lagi.

“Bu, batuknya—“

“Cuma masuk angin. Ibu tahu badan Ibu sendiri.” Ia mengibaskan tanganku sebelum sempat kuselesaikan. “Uangnya buat formulir Kayla dulu. Batuk mah nggak butuh uang, butuh sabar.”

Kalimat itu, diucapkan seringan itu, adalah jenis kalimat yang membuatku ingin bekerja sepuluh kali lebih keras dan pada saat yang sama membuatku merasa gagal sepuluh kali lipat. Aku menelan protesku bersama suapan nasi goreng yang tiba-tiba terasa sulit ditelan, dan diam-diam memindahkan jatah telurku ke piring ibu ketika ia berpaling.

Ia tahu. Ia selalu tahu. Tapi ia membiarkanku, karena ia mengerti bahwa kadang seorang anak butuh diizinkan menjaga ibunya, sekecil apa pun caranya.


Siang itu aku mengambil giliran ekstra di kedai. Pak Har butuh orang, aku butuh uang; kami sepakat tanpa banyak kata, seperti biasa.

Aku sedang membuat pesanan ketika pintu kedai terbuka, lonceng kecil di atasnya berdenting, dan seisi ruangan—untuk sepersekian detik—berubah nada. Aku tidak perlu menoleh untuk tahu siapa. Aku sudah belajar mengenali kedatangannya dari cara dunia bereaksi: obrolan di meja pojok yang melambat, seorang pelanggan yang lupa mengaduk kopinya, Pak Har sendiri yang tiba-tiba menegakkan punggung dan berbisik, “Wih, ada bidadari nyasar.”

Freya. Bersama dua temannya. Memilih meja dekat jendela.

Dan aku, dengan celemek basah dan tangan berbau kopi, adalah orang yang akan membuatkan minumnya.

Ini pertama kalinya jarak kami sedekat ini. Bukan dua deret meja perpustakaan. Bukan satu lantai gedung. Ini satu meja kasir, satu transaksi, satu “mau pesan apa” yang tak bisa kuhindari.

Temannya yang memesan. Freya sibuk membaca menu di dinding, dahinya berkerut kecil—ekspresi yang sama seperti waktu ia membaca buku hukumnya. Ketika giliran memesan, ia menyebut satu jenis kopi, lalu menambahkan, “Yang nggak terlalu manis, ya, Mas. Makasih.” Ia tersenyum. Padaku. Senyum sopan pelanggan pada barista, senyum yang ia berikan pada siapa saja, senyum yang tidak berarti apa-apa—

—dan yang akan kuingat sampai malam.

Ia tidak mengenaliku. Tentu saja tidak. Bagaimana ia bisa mengenali orang yang seluruh keberadaannya ia rancang untuk tidak terlihat? Bagiku ia adalah pusat ruangan. Bagi ia, aku adalah “Mas”. Latar. Tangan yang menyodorkan gelas.

Aku membuat kopinya dengan hati-hati berlebihan, seolah takaran yang tepat bisa menjembatani sesuatu yang sebenarnya tak bisa dijembatani takaran apa pun.

Dari balik mesin, aku bisa mengamati meja itu tanpa terlihat mengamati—keahlian yang sudah kuasah berbulan-bulan. Freya dan teman-temannya duduk dengan cara orang yang tidak pernah menghitung berapa lama boleh duduk sebelum harus pesan lagi. Salah satu dari mereka memesan dua kue tambahan tanpa melirik harga; yang lain membuka laptop keluaran terbaru, tipis, layarnya utuh tanpa retak. Bukan pamer. Justru sebaliknya—mereka tidak menyadarinya sama sekali. Barang-barang itu bagi mereka seperti udara: ada, dipakai, tak terpikirkan.

Aku menatap tanganku sendiri yang menuang susu. Kuku pendek karena praktis. Kulit yang mengelupas sedikit di buku jari karena air panas dan sabun cuci. Tangan yang tahu harga segala hal karena harus. Itulah perbedaannya, pikirku—bukan pada baju atau tas atau kopi, tapi pada apa yang boleh kaulupakan. Orang di meja itu bisa melupakan harga, melupakan waktu, melupakan besok. Aku tidak pernah diberi kemewahan untuk lupa.

Sambil menunggu, aku tak sengaja mendengar mereka. Salah satu temannya menggoda, “Eh, jadi si cowok misterius yang balikin dompetmu itu belum ketemu juga? Duh, romantis banget nggak sih. Kayak drama.”

“Bukan romantis,” jawab Freya, tapi ada yang lembut di suaranya. “Cuma... baik. Aku cuma pengin bilang makasih. Beneran makasih. Bukan yang basa-basi.”

“Sok tahu kamu. Bilang aja penasaran orangnya kayak apa.”

“Ya penasaran, sih.” Ia tertawa kecil, mengaku. “Sedikit.”

Aku menaruh kopinya di nampan. Aku mengantarnya ke meja. Aku berdiri satu meter dari perempuan yang sedang membicarakan diriku—diriku yang lain, diriku yang tak bernama—tanpa tahu bahwa orang itu sedang meletakkan gelas di depannya.

“Kopinya, Mbak.” Suaraku datar. Profesional. Sempurna.

“Makasih, Mas.” Ia bahkan tidak mengangkat wajah dari obrolannya.

Dan aku berjalan kembali ke balik kasir, membawa rahasia yang begitu besar sampai terasa lucu: aku bisa saja mengakhiri pencariannya saat itu juga. Satu kalimat. Itu aku. Dua kata yang ia tunggu.

Aku tidak mengatakannya.

Karena di antara aku dan meja dekat jendela itu, bukan cuma ada satu meter lantai kedai. Ada jarak yang tidak bisa diukur langkah: jarak antara orang yang membuat kopi dan orang yang meminumnya tanpa berpikir dari mana kopi itu datang. Jarak antara seratus dua puluh tiga ribu dan seseorang yang memesan minuman tanpa sekali pun melirik harganya.

Kami hidup di dua dunia yang kebetulan berbagi satu ruangan. Dan aku sudah cukup dewasa untuk tahu bahwa dua dunia yang berbagi ruangan bukan berarti bisa berbagi hidup.

Sepanjang sisa giliranku, aku mengulang mantra itu—tapi kali ini maknanya bergeser, mengeras jadi sesuatu yang lebih pahit dari sekadar kehati-hatian.

Memandangnya dari sini saja sudah lebih dari cukup.

Karena “dari sini”, aku baru mengerti, bukan cuma soal jarak yang kupilih. Ini soal jarak yang memang sudah ada sejak awal, jauh sebelum aku memilih apa pun—jarak yang kubuat sendiri jadi aturan supaya tidak perlu kuakui bahwa aku memang tidak pernah punya tempat di sana.

Freya pulang sore itu tanpa pernah tahu bahwa cowok misterius yang ia cari sudah membuatkannya kopi, mengantarnya ke meja, dan berkata “sama-sama” di dalam hati untuk terima kasih yang tak pernah benar-benar ia alamatkan.

Aku mengelap meja bekasnya setelah ia pergi. Ada noda kopi kecil di tepi. Aku membersihkannya, dan—ini bodoh, aku tahu ini bodoh—aku sedikit menyesal menghapusnya.

Malam itu di rumah, sebelum kembali ke tenggat yang menungguku, aku memindahkan seluruh sisa saldoku ke satu dompet, menghitungnya dua kali, lalu menyisihkan lembar-lembar untuk formulir Kayla lebih dulu, obat ibu kedua, dan sisanya—yang tinggal recehan—untuk diriku sendiri, paling akhir, seperti biasa. Aku tidak mengeluh soal urutan itu. Aku yang menyusunnya. Aku cuma, sesekali, bertanya-tanya bagaimana rasanya jadi orang yang tidak perlu menyusun apa pun. Orang di meja dekat jendela itu. Lalu aku menutup dompet, membuka laptop, dan kembali bekerja—karena bertanya-tanya juga, ternyata, adalah kemewahan yang tak sanggup kubayar lama-lama.