Chapter Twenty Nine
Cinta yang Manis
POV: Adrian Pramudya, lalu Freya Calista · (Arc 2 — Dunia Kerja)
Ternyata, jadian dengan seseorang yang sudah kaucintai empat tahun punya efek samping yang tidak terduga: kau jadi tidak bisa berhenti tersenyum, dan seluruh kantor menyadarinya.
“BANG.” Gilang menggebrak mejaku pada Senin pagi pertama kami sebagai—istilahnya masih terasa asing di kepalaku—pasangan. “Bang, aku tahu. Aku TAHU. Jangan bohong. Muka Abang tuh kayak orang menang lotere terus dikasih bonus nemu uang di jalan.”
“Aku lagi kerja, Gilang.”
“Abang senyum ke laporan sprint, Bang. LAPORAN SPRINT. Nggak ada yang senyum ke laporan sprint kecuali orang yang lagi—“ ia berhenti, matanya melebar, menoleh ke meja Freya yang empat meter jauhnya, lalu kembali ke aku, lalu ke Freya lagi, seperti menonton pertandingan tenis yang akhirnya mencetak poin. “Kalian jadian.”
Aku tidak menjawab. Tapi dari seberang ruangan, Freya—yang jelas menguping—mengangkat cangkir kopinya ke arahku dengan senyum yang sama sekali tidak berusaha disembunyikan.
“KALIAN JADIAN.” Gilang berdiri, menunjuk kami bergantian, suaranya cukup keras untuk membuat setengah kantor menoleh. “Empat meter! Aku bilang apa dari dulu! Empat meter itu bukan kebetulan logistik, itu—“ ia mengusap air mata dramatis, “—aku bangga, Bang. Aku bangga. Anakku udah nikah.” Ia terisak palsu. “Undangannya kapan?”
“Kita baru jadian tiga hari, Gilang.”
“Nggak apa-apa. Aku sabar. Aku udah sabar empat tahun—eh, itu Abang. Aku baru dua tahun.” Ia menyeka air mata imajiner terakhir dan menyeringai. “Tapi serius, Bang. Selamat. Beneran. Kalian berdua tuh kayak dua orang yang muterin gedung yang sama dari arah berlawanan selama bertahun-tahun, terus akhirnya ketemu di pintu. Capek nontonnya. Lega akhirnya.”
Aku melempar penghapus. Ia menghindar, tertawa, dan kembali ke mejanya sambil bersiul.
Menjadi pasangan Freya Calista, aku belajar dengan cepat, berarti menyerah pada kenyataan bahwa aku akan selalu jadi pihak yang lebih mudah dibuat salah tingkah.
Ia mencium keningku di lift ketika pintu tertutup, lalu berpura-pura tidak melakukan apa-apa ketika pintu terbuka lagi. Ia menyelinap ke pantry ketika aku sedang membuat kopi dan memelukku dari belakang, dagu di bahuku, sampai Gilang masuk dan membuat suara tersedak dramatis (“Ruang publik, woy! Ada anak kecil!”—tidak ada anak kecil). Ia mengirim pesan di tengah rapat: ”Kamu keliatan serius banget pas mikir. Bahaya. Fokus dong, Pak Tech Lead.” yang membuatku salah menjawab pertanyaan tim Shanghai untuk pertama kalinya dalam sejarah.
Dan aku—yang selama empat tahun jadi tembok, yang menghitung setiap keinginan sampai mati—membiarkan semuanya. Lebih dari membiarkan. Menikmatinya. Membalasnya, kadang, dengan keberanian kecil yang masih terasa asing tapi makin lama makin nyaman: menggenggam tangannya di bawah meja rapat, menyisihkan rambut dari wajahnya ketika tak ada yang lihat, membiarkan diriku, untuk pertama kalinya, jadi orang yang dicintai secara terang-terangan.
Bahkan Damar, ketika akhirnya tahu, memperlakukannya dengan kelas yang membuatku makin tak bisa membencinya. Ia menghampiri mejaku suatu hari, mengulurkan tangan, dan berkata dengan seringai tulus, “Bro. Gue denger. Selamat, ya. Beneran.” Lalu, lebih pelan, “Gue udah nebak dari dulu sih. Tiap gue deket Freya, muka lo kayak mau nabok gue pake keyboard. Sekarang gue ngerti kenapa.” Ia menepuk bahuku. “Jaga dia baik-baik. Orang kayak dia langka.”
“Aku tahu,” kataku, dan untuk pertama kalinya, aku benar-benar tahu.
Ada satu sore yang akan kuingat lama. Kantor sudah kosong, lampu setengah dimatikan, dan kami berdua masih di sana—bukan karena kerjaan, tapi karena kami menemukan bahwa kami suka tinggal, di ruang yang sama, meski cuma diam. Freya duduk di tepi mejaku, membaca sesuatu di ponselnya, kakinya menjuntai, dan aku menatapnya—benar-benar menatapnya, terang-terangan, tanpa aturan lima menit, tanpa laci di kepala tempat aku dulu menyimpan setiap pecahan dirinya secara diam-diam.
“Kamu tahu nggak,” kataku, dan ia mendongak, “dulu aku nyimpen tiap momen kamu. Tawa kamu, cara kamu nyingkirin rambut, semuanya. Kayak orang miskin nyimpen receh. Karena aku pikir itu satu-satunya yang bakal aku punya dari kamu—recehan momen, dicuri dari jauh.”
Ia menatapku, matanya melembut. “Dan sekarang?”
“Sekarang aku nggak perlu nyimpen recehan lagi.” Aku meraih tangannya. “Sekarang aku punya kamu utuh. Dan aku masih belum kebiasa. Tiap pagi aku bangun dan mikir ini nggak nyata.”
Ia turun dari meja, berdiri di antara kakiku, dan menangkup wajahku dengan kedua tangan. “Ini nyata, Adrian. Aku di sini. Aku nggak ke mana-mana.” Ia mencium keningku, pelan. “Empat tahun aku bangun jalan ke kamu. Kamu pikir aku bakal ke mana?”
Dan aku menariknya ke pelukan, di kantor kosong yang setengah gelap, dan untuk sekali—untuk sekian kalinya sekarang, dan aku berharap untuk selamanya—aku tidak menghitung apa pun.
⟡ Sisi Freya
POV: Freya Calista
Hari Minggu, Adrian mengajakku makan malam di rumah ibunya. Dan aku—yang bisa berdiri di depan tiga ratus orang tanpa gemetar, yang menegosiasikan kontrak dengan orang dua kali umurku—menghabiskan satu jam penuh berdiri di depan lemari, tidak tahu harus pakai apa untuk bertemu seorang ibu yang, tanpa ia tahu, sudah kuhormati bertahun-tahun sebagai ibu dari laki-laki yang kucintai.
Rumahnya kecil, hangat, berbau masakan dan kain. Ada mesin jahit tua di sudut. Ada halaman dengan pot-pot cabai. Dan ada satu kursi kosong di meja makan yang, aku tahu tanpa bertanya, milik seseorang yang tak lagi ada.
Ibu Adrian menyambutku dengan pelukan sebelum aku sempat bilang apa-apa. “Jadi ini Freya,” katanya, memegang wajahku dengan kedua tangan, menatapku dengan mata yang berkaca. “Cantik. Tapi bukan itu. Kamu—“ ia berhenti, seolah mencari kata, “—kamu yang bikin anak Ibu senyum ke HP, ya?”
Aku tertawa, malu. “Kayaknya iya, Bu.”
“Empat tahun Ibu doain anak Ibu. Bukan doain sukses—dia udah sukses. Ibu doain dia nemu orang yang bikin dia pengin sesuatu buat diri dia sendiri, sekali aja.” Ia menggenggam tanganku, dan suaranya pecah sedikit. “Makasih, Nak. Makasih udah jadi jawaban doa Ibu.”
Aku tidak tahu harus menjawab apa. Jadi aku memeluknya, ibu dari laki-laki yang kucintai, dan menahan air mataku sendiri, karena kalau aku mulai menangis di sini aku tidak akan berhenti.
Kayla, adiknya, jauh lebih tidak sopan dan aku langsung menyukainya. “Jadi Kakak yang bikin abangku berubah drastis,” katanya, menyipitkan mata seperti detektif, menyodok garpu ke arahku. “Aku mau tanya-tanya. Sebagai anak kedokteran dan sebagai adik yang selama ini nderita punya kakak setegar batu. Pertama: gimana caranya? Kedua: bisa diulang nggak buat aku ntar?”
“Kayla,” Adrian memperingatkan.
“Aku serius, Kak. Ini penelitian. Abangku ketawa tiga kali sejak Kak Freya dateng. TIGA. Rekor sepanjang masa. Terakhir dia ketawa tiga kali dalam semalam itu waktu—“ ia berpikir, “—nggak pernah. Ini pertama kali. Bersejarah.”
Makan malam itu penuh tawa. Penuh cerita—Kayla membocorkan aib masa kecil Adrian (ternyata ia pernah menangis karena tak bisa menyelamatkan ikan cupang, dan pernah menghafal seluruh jadwal kereta demi menghemat ongkos), ibu menimpali, Adrian protes dengan telinga memerah, dan aku duduk di tengah semua itu, di kursi yang bukan kursi kosong itu, dan merasakan sesuatu yang tidak kuduga: aku merasa pulang.
Di sela makan, ibu menarikku ke dapur dengan alasan “bantuin Ibu ambil buah”, padahal buahnya sudah di meja. Di dapur kecil itu, ia menggenggam tanganku lagi, dan berkata pelan, “Nak, Ibu mau minta satu hal. Anak Ibu itu... dari kecil dia mikirin semua orang kecuali diri dia sendiri. Dia bakal ngasih kamu segalanya. Bakal kerja mati-matian buat kamu, kayak dia kerja mati-matian buat kami.” Matanya menatapku dalam. “Tapi tolong, sesekali, paksa dia nerima. Paksa dia diurus. Dia nggak akan minta—dia nggak tahu caranya minta. Jadi kamu yang harus tahu kapan dia butuh dijaga, meski dia bilang dia nggak apa-apa.”
“Aku janji, Bu,” kataku, dan aku bersungguh-sungguh sampai ke tulang. “Aku udah lama belajar baca dia. Aku tahu kapan dia bilang ‘nggak apa-apa’ padahal apa-apa.”
Ibu menatapku lama, lalu tersenyum—senyum yang sama seperti Adrian, senyum yang harus ditunggu—dan berkata, “Ibu tahu kamu tahu. Itu sebabnya Ibu tenang.”
Kembali ke meja, Kayla langsung menyipit curiga. “Kalian ngomongin apa di dapur? Kok lama? Buahnya udah di sini dari tadi.”
“Urusan perempuan,” kata ibu ringan.
“Aku juga perempuan!”
“Urusan perempuan yang bukan anak kedokteran semester tiga,” koreksi ibu, dan seluruh meja tertawa, bahkan Adrian, yang tawanya—Kayla langsung mencatat dengan keras, “EMPAT. Rekor baru!”—membuat dadaku hangat sampai penuh.
Malam itu, dalam perjalanan pulang, aku menyandarkan kepala ke bahu Adrian di kursi penumpang—bahu yang sama tempat aku pura-pura tidur di pesawat ke Singapura, bahu yang aku peluk waktu dia hancur di tepi sungai—dan aku teringat sesuatu.
Aku teringat berdiri di seberang lapangan wisuda, empat tahun lalu, menonton punggung Adrian yang bersiap menghilang ke dunia yang tak menyertakanku. Aku ingat berbisik janji pada sosok yang tak mendengar: kalau kamu nggak akan pernah menoleh, aku yang akan bikin kamu menoleh. Aku ingat betapa mustahilnya janji itu terdengar saat itu—seorang gadis, di seberang lapangan, bersumpah mengejar seorang cowok yang bahkan belum pernah benar-benar mengobrol dengannya, ke tempat yang belum ia tahu, lewat jalan yang belum ia bangun.
Empat tahun. Semua orang bilang aku gila.
Dan sekarang, di sini, kepala di bahunya, tangannya menggenggam tanganku di lampu merah, keluarganya yang baru saja memelukku seperti aku sudah lama jadi bagian dari mereka—sekarang janji mustahil itu terwujud. Bukan cuma dia menoleh. Dia berbalik sepenuhnya. Dia berjalan sisa jaraknya sendiri, akhirnya, untuk menemuiku di tengah.
“Kamu senyum,” kata Adrian, meliriku di lampu merah.
“Kebiasaan baru,” kataku. “Gara-gara kamu.”
Ia menggenggam tanganku lebih erat, dan tersenyum—senyum yang jarang, senyum yang harus ditunggu, senyum yang sekarang jadi milikku—dan tidak berkata apa-apa lagi, karena tidak ada yang perlu dikatakan.
Aku sudah menunggu empat tahun untuk sedekat ini.
Ternyata, kedekatan itu jauh lebih manis dari apa pun yang berani kubayangkan selama menunggu.
- 1 Orang yang Tak Punya Waktu
- 2 Cahaya yang Tak Boleh Dikejar
- 3 Aturan Main
- 4 Kebaikan Tanpa Nama
- 5 Dua Dunia
- 6 Kompor Bernama Reza
- 7 Satu Payung
- 8 Beban yang Tak Diceritakan
- 9 Nyaris
- 10 Cukup
- 11 Empat Tahun Kemudian
- 12 Nama di Daftar Onboarding
- 13 Bidadari yang Sama
- 14 Protokol Jarak
- 15 Kopi yang Terlalu Pas
- 16 Meja yang Mendekat
- 17 Error di Sini, Sayang
- 18 Wangi yang Salah
- 19 Orang Ketiga
- 20 Cemburu yang Tak Diakui
- 21 Tugas ke Singapura
- 22 Makan Malam "Urusan Kerja"
- 23 Retak yang Ditunjukkan
- 24 Pulang Bawa Perasaan
- 25 Adrian Balik Menyerang
- 26 Sejarak Senti
- 27 Empat Tahun
- 28 Cukup, Katanya
- 29 Cinta yang Manis reading
- 30 Sejauh Nol Meja