← Cukup Memandang, Katanya

Chapter Fourteen

Protokol Jarak

POV: Adrian Pramudya · (Arc 2 — Dunia Kerja)


Empat tahun lalu, aku bertahan hidup dengan tiga aturan yang kutulis pakai pensil di halaman belakang buku catatan. Sekarang, di usia dua puluh lima, sebagai Tech Lead yang katanya dewasa dan mapan, aku melakukan hal yang persis sama.

Aku membuat aturan lagi.

Aku menyebutnya—dalam kepalaku, karena tentu saja aku tidak akan menuliskannya di mana pun yang bisa dilihat Gilang—Protokol Jarak. Sebuah kerangka profesional untuk bertahan hidup di kantor yang sekarang berisi Freya Calista.

Satu: interaksi hanya seperlunya, dan hanya soal kerjaan. Tidak ada basa-basi. Tidak ada obrolan pantry. Kalau ia butuh koordinasi teknis, aku jawab, lengkap, sopan, lalu selesai.

Dua: jangan pernah berdua saja kalau bisa dihindari. Selalu ada Gilang, selalu ada tim, selalu ada meja rapat dengan orang lain. Kerumunan adalah tameng.

Tiga: tetap profesional, apa pun yang terjadi di dalam sini. Aku menunjuk dadaku sendiri waktu memikirkan poin ini, seolah dadaku adalah karyawan bermasalah yang perlu diberi peringatan tertulis.

Aturan-aturan ini, kupikir, jauh lebih matang dari versi mahasiswaku. Ini bukan soal cinta terpendam yang melankolis. Ini soal profesionalisme. Ini soal tidak mencampur urusan pribadi—pribadi yang bahkan ia tidak tahu ada—dengan pekerjaan. Orang dewasa melakukan ini setiap hari. Aku pasti bisa.

Aku bahkan menyusun argumen pembenarannya, seperti biasa. Perasaan yang kusimpan empat tahun lalu itu, kataku pada diriku, bukan cinta sungguhan—cuma kekaguman seorang mahasiswa kesepian pada sesuatu yang indah dan tak terjangkau. Semacam efek samping dari kelelahan dan kemiskinan. Sekarang aku sudah berubah. Aku sudah punya segalanya. Aku bukan lagi anak berlaptop retak yang butuh satu titik lembut untuk bertahan hidup. Jadi logikanya sederhana: kalau perasaan itu cuma produk dari keadaan lamaku, maka di keadaan baruku, perasaan itu seharusnya tidak punya tempat untuk tumbuh.

Logika yang rapi. Logika yang meyakinkan. Logika yang, seperti kebanyakan logika yang kususun soal Freya, ternyata salah total.

Aku sungguh percaya itu, selama kira-kira empat puluh delapan jam.


Ujian pertama datang lebih cepat dari yang kuduga, dalam bentuk sebuah undangan rapat yang masuk ke kalenderku hari Kamis pagi.

Data Privacy & AI Compliance Review — Kickoff. Peserta: Legal (F. Calista), Engineering (A. Pramudya + tim).

Aku menatap undangan itu dengan perasaan seperti terpidana membaca jadwal sidangnya. Tentu saja. Tentu saja tugas pertama Freya di sini adalah sesuatu yang mengharuskannya berkoordinasi langsung, intens, berminggu-minggu, dengan divisi teknis. Dengan aku. Perusahaan AI selalu punya seribu urusan hukum soal data—data pengguna, pelatihan model, kepatuhan regulasi—dan semua itu, mau tidak mau, melewati mejaku.

Protokol Jarak poin dua langsung terancam sebelum sempat kuuji. Aku sempat berpikir untuk mendelegasikan rapat ini ke salah satu anggota timku—alasan yang masuk akal, Tech Lead tidak harus hadir di setiap kickoff—tapi aku tahu itu justru akan mengundang pertanyaan. Menghindar terlalu rapi kadang lebih mencurigakan daripada hadir. Jadi aku hadir. Karena itulah yang dilakukan orang yang tidak punya apa-apa untuk disembunyikan, dan aku sangat ingin terlihat seperti orang yang tidak punya apa-apa untuk disembunyikan.

Rapat itu berlangsung di ruang kaca kecil. Aku datang lebih awal—kebiasaan—dan sengaja duduk di ujung meja, sejauh mungkin dari kursi yang mungkin ia pilih, dengan Gilang dan dua anggota tim lain sebagai penyangga. Tameng kerumunan. Sesuai protokol.

Freya masuk tepat waktu, membawa laptop dan map, dan menyapa semua orang dengan ramah profesional. “Pagi, semuanya. Makasih udah nyempetin. Aku janji nggak akan makan waktu kalian lebih dari yang perlu.”

Ia duduk. Dan—karena semesta punya selera humor yang buruk—satu-satunya kursi kosong yang tersisa, karena Gilang dengan cerdik telah menggeser tasnya ke kursi sebelahnya untuk “ruang gerak”, adalah kursi tepat di seberangku.

Aku menatap Gilang. Gilang menatap langit-langit dengan ekspresi malaikat.

Rapat berjalan profesional. Freya ternyata sangat cakap—ia sudah membaca dokumentasi teknis kami, mengajukan pertanyaan yang tajam soal penyimpanan data dan anonimisasi, mencatat dengan tangan kiri di map-nya. Aku menjawab setiap pertanyaan dengan lengkap, tepat, datar. Aku jadi versi terbaik dari diriku yang profesional: jelas, membantu, tanpa cela.

Yang tidak kuantisipasi adalah betapa sulitnya menjaga Protokol Jarak ketika orang di seberang meja begitu... kompeten. Aku sudah menyiapkan diri menghadapi Freya yang cantik. Aku belum menyiapkan diri menghadapi Freya yang pintar—yang menangkap celah dalam alur data kami sebelum aku sempat menjelaskannya, yang mengajukan pertanyaan yang bahkan membuat Gilang berhenti mengunyah dan berpikir serius. Empat tahun lalu ia adalah cahaya yang kukagumi dari jauh. Sekarang ia adalah rekan kerja yang membuatku, secara profesional murni, terkesan. Dan kekaguman profesional, ternyata, jauh lebih berbahaya daripada kekaguman dari kejauhan, karena yang ini punya alasan yang sah.

Sepanjang itu, aku menjalankan Protokol Jarak dengan disiplin militer. Aku tidak menatap terlalu lama. Aku tidak tersenyum kecuali ketika sopan. Aku memanggilnya “Mbak Freya”, ia memanggilku “Mas Adrian” atau “Adrian”, dan kami memperlakukan satu sama lain persis seperti dua profesional yang baru bertemu—yang, dari sisinya, memang begitu adanya.

Sekali, cuma sekali, protokol itu hampir jebol. Ketika ia menjelaskan sesuatu sambil menggeser laptopnya ke tengah meja untuk kutunjukkan diagram, tangannya berhenti sebentar di dekat tanganku, dan aku mendapati diriku menatap tangan itu—tangan kidal yang dulu memegang gagang payung reyotku, tangan yang menulis di podium seminar—satu detik terlalu lama. Aku menariknya kembali ke layar. Tidak ada yang melihat. Kecuali, mungkin, Gilang, yang sejak tadi mengamati kami seperti orang menonton pertandingan tenis.

Sistemnya bekerja. Aku hampir bangga.

Lalu, di akhir rapat, saat semua orang membereskan barang, ia bertanya sesuatu yang tidak ada di agenda.

“Mas Adrian dari jurusan apa waktu kuliah? Kayaknya paham hukum data juga, nggak cuma teknisnya.”

Pertanyaan biasa. Basa-basi kantor yang wajar. Tapi jantungku melewatkan satu ketukan, karena selama sepersekian detik aku takut—atau berharap, aku tidak yakin yang mana—bahwa ini adalah awal dari ia mengenaliku.

“Ilmu Komputer,” jawabku, sehati-hati mungkin. “Universitas—“ aku menyebut nama kampus kami. Kampus yang sama. Empat tahun kami menghirup udara yang sama di sana.

Aku menunggu reaksinya. Kilat pengenalan. “Oh, aku juga di sana!” atau apa pun.

Ia cuma mengangguk sopan. “Oh, bagus. Berarti udah kebayang kenapa aku bakal sering ganggu tim kamu.” Ia tersenyum, mengumpulkan map-nya, dan pergi.

Itu saja. Tidak ada kilat. Tidak ada pengenalan. Kami satu kampus selama empat tahun dan bagi dia itu bahkan bukan kebetulan yang cukup menarik untuk dikomentari.

Aku memberitahu diriku sendiri bahwa ini bagus. Ini persis yang kuinginkan. Protokol Jarak berhasil sempurna justru karena, di matanya, tidak ada jarak yang perlu dijaga—karena aku tidak pernah cukup dekat untuk punya jarak.

Anehnya, “berhasil” kali ini terasa persis seperti dulu: seperti kalah.


“Bang.” Gilang menyusulku ke pantry setelah rapat, suaranya berbisik konspiratif. “Bang, aku merhatiin ya.”

“Kamu selalu merhatiin. Itu masalahmu.”

“Bang, serius. Tadi di rapat. Abang tuh aneh.” Ia menyipitkan mata, seperti detektif murahan. “Abang biasanya kalau rapat sama divisi lain santai, kadang bercanda dikit. Tadi Abang kaku kayak papan. Formal banget. ‘Mbak Freya, silakan.’ ‘Mbak Freya, betul.’ Abang manggil orang lain nggak pernah selengkap itu.”

“Aku profesional.”

“Abang manggil Mbak Vero ‘Mbak Ve’. Manggil aku ‘Gilang’ doang, kadang ‘woy’. Tapi ke Mbak Freya, tiap kalimat lengkap pakai ‘Mbak Freya’. Itu bukan profesional, Bang. Itu—“ ia menunjuk mukaku dengan penuh kemenangan, “—gugup.”

“Aku nggak gugup.”

“Bang. Aku engineer. Aku baca pola. Dan pola Abang hari ini itu polanya orang yang lagi berusaha keras kelihatan nggak peduli.” Ia menyeruput kopinya, puas. “Dan orang yang berusaha keras kelihatan nggak peduli itu, biasanya, paling peduli.”

Aku menatapnya. Untuk seorang yang laporannya selalu telat, Gilang punya kemampuan menyebalkan untuk membaca hal-hal yang tidak kuminta ia baca.

“Balik kerja, Gilang.”

“Siap, Bang.” Ia berjalan pergi, lalu berhenti, menoleh. “Tapi Bang, off the record ya—Mbak Freya itu keliatan baik. Pinter. Dan dia merhatiin Abang juga tadi, pas Abang nunduk mikir. Aku liat.” Ia mengangkat bahu. “Cuma bilang.”

Ia pergi sebelum aku sempat membalas.

Aku berdiri di pantry, memegang kopi yang tidak kubutuhkan, mencerna kalimat terakhir itu dengan hati yang menolak tenang. Dia merhatiin Abang juga.

Bohong, kataku pada diriku. Gilang ngarang. Gilang selalu ngarang.

Tapi malam itu, di apartemen, aku memutar ulang rapat tadi di kepala—kebiasaan buruk yang kupikir sudah kutinggalkan. Aku mengingat cara Freya mengajukan pertanyaan, cara ia mencatat, cara ia bilang “Berarti udah kebayang kenapa aku bakal sering ganggu tim kamu” dengan senyum yang, kalau kupikir-pikir lagi, tidak sepenuhnya senyum orang asing. Dan aku mengingat momen yang tadi kucoba lupakan: satu detik ketika, saat aku menjawab pertanyaan teknis dan menunduk mengetik, aku merasa—cuma merasa, tak ada bukti—bahwa ia sedang menatapku. Bukan menatap layar. Menatap aku.

Aku menutup pikiran itu, seperti biasa. Aku sudah punya seribu jam latihan menutup pikiran soal Freya.

Tapi Protokol Jarak, aku mulai curiga, punya satu cacat mendasar yang tidak kusadari saat menyusunnya: ia dirancang untuk menjaga jarak dari seseorang yang jauh. Dan aku belum tahu—belum berani tahu—apa yang harus kulakukan kalau, entah bagaimana, orang itu ternyata tidak sejauh yang selama ini kukira.