← Cukup Memandang, Katanya

Chapter One

Orang yang Tak Punya Waktu

POV: Adrian Pramudya · (Arc 1 — Kampus)


Ada dua hal yang tidak pernah cukup dalam hidupku: uang dan waktu. Dan dari keduanya, waktu adalah yang paling kejam, karena uang setidaknya bisa dicari. Waktu cuma bisa habis.

Aku belajar itu sejak umur tujuh tahun.

Malam itu, seperti biasa, alarmku berbunyi pukul empat pagi. Bukan pukul lima, bukan pukul setengah lima. Empat, tepat, karena tiga puluh menit pertama adalah milik ibu—waktu ketika aku menyeduh teh untuknya sebelum ia membuka mata, supaya ketika ia bangun, gelas itu sudah hangat menunggu, dan ia tidak perlu repot menyalakan kompor dengan tangan yang sudah keriput oleh jarum dan benang selama dua puluh tahun.

Ibuku penjahit. Rumah kami—petak kontrakan dua kamar di gang yang bahkan mobil pun harus menahan napas untuk lewat—selalu berbau kain baru dan minyak mesin jahit tua. Suara mesin itu adalah lagu pengantar tidurku sejak kecil. Tektektektek. Sampai sekarang, kalau malam terlalu sunyi, aku justru tidak bisa tidur.

Aku menuang teh, meletakkannya di meja dekat mesin jahit, lalu melirik ke kamar sebelah.

“Kak.” Suara Kayla, serak, dari balik selimut. Adikku, kelas dua belas, mata masih terpejam. “Soal nomor tujuh… jawabannya B, kan?”

“Kamu ngigau soal fisika?”

“Aku nggak ngigau. Aku mikir. Beda.” Ia menarik selimut lebih tinggi. “B, ya?”

“Tidur.”

“Berarti bukan B.” Ia mendengus, langsung terlelap lagi, seolah percakapan tadi memang cuma cabang mimpinya. Aku menutup buku pelajaran yang tergeletak terbuka di dadanya, meletakkannya di meja. Anak itu keras kepala. Turunan siapa, aku tidak tahu. Pura-pura tidak tahu.

Pukul setengah lima aku sudah di jalan.

Kerjaan pertamaku dimulai pukul lima: menata rak dan menyalakan mesin di sebuah kedai kopi dekat kampus, tempat aku menjadi barista sekaligus—kalau sedang sepi—petugas kebersihan sekaligus penjaga kasir. Pak Har, bosku, memanggilku “anak ajaib” bukan karena aku pintar, tapi karena aku tidak pernah telat, tidak pernah izin, dan tidak pernah minta tambahan. Baginya itu keajaiban. Bagiku itu cuma matematika. Aku tidak punya cukup uang untuk sakit, jadi aku memutuskan untuk tidak sakit.

“Yan,” kata Pak Har pagi itu, mengamati mesin espresso yang sudah kubersihkan sampai mengilap sebelum ia datang. “Kamu tahu nggak, orang normal itu kalau kerja subuh mukanya kayak zombi. Kamu malah kayak abis liburan.”

“Saya emang lagi liburan, Pak. Dari tidur.”

Ia tertawa, melempar handuk ke arahku. Itu satu-satunya bentuk kasih sayang yang ia tahu.

Pukul delapan aku ganti seragam, dari celemek jadi kemeja lusuh yang kusetrika sendiri, lalu berlari ke gedung Ilmu Komputer. Kuliah sampai sore. Di sela-sela, kalau ada jeda dua jam, aku tidak nongkrong di kantin seperti yang lain. Aku buka laptop bekas yang layarnya sudah retak di sudut kiri, dan mengerjakan proyek freelance—menulis kode untuk klien-klien yang tidak pernah kutemui, yang cuma kukenal lewat nama pengguna dan tenggat waktu. Itu kerjaan keduaku. Yang membayar paling besar, dan menyiksa paling dalam.

Sore sampai malam, tergantung. Kadang balik ke kedai. Kadang lanjut koding sampai mata perih dan huruf-huruf di layar mulai berenang. Ada malam ketika aku menyelesaikan satu proyek pukul tiga pagi, menekan tombol kirim, lalu duduk memandangi layar retak itu selama satu menit penuh—bukan karena bangga, tapi karena terlalu lelah bahkan untuk berdiri. Pukul sebelas atau dua belas—atau tiga—aku pulang, dan kalau beruntung, aku sempat tidur empat jam sebelum alarm pukul empat berbunyi lagi.

Begitu terus. Senin sampai Minggu. Minggu bukan hari libur; Minggu cuma hari dengan jadwal yang berbeda.

Ada yang bertanya, sekali, kenapa aku tidak mengambil beasiswa saja dan berhenti kerja. “Kan kamu dapat beasiswa penuh, Adrian. Kenapa masih banting tulang?”

Aku cuma tersenyum. Beasiswa penuh menanggung biaya kuliah. Beasiswa penuh tidak menanggung kontrakan yang naik setiap tahun, tidak menanggung obat maag ibu, tidak menanggung les Kayla yang mati-matian ingin masuk kedokteran. Beasiswa penuh adalah tembok yang menahan hujan, tapi aku masih harus mencari sendiri makanan di dalam rumahnya.

Aku tidak mengeluh. Sungguh. Ini bukan kisah sedih. Aku bangga pada tembok itu—aku memenangkannya dengan tiga tahun begadang di SMP dan tiga tahun lagi di SMA, dengan peringkat yang tidak pernah turun karena aku tahu, sangat tahu, bahwa satu-satunya tiket keluar dari gang sempit ini adalah otakku. Dan aku tidak akan pernah menyia-nyiakan tiket.

Yang tidak kupunya cuma satu barang mewah: keinginan.

Aku sudah lama berhenti menginginkan hal-hal. Sepatu baru, ponsel yang layarnya tidak berbayang, akhir pekan yang kosong—semua itu kuletakkan di rak paling tinggi dalam kepalaku, di tempat yang tidak bisa kuraih, lalu kubiarkan berdebu. Karena menginginkan sesuatu yang tak bisa kaumiliki hanya melahirkan satu hal: luka. Dan aku sudah cukup punya persediaan luka. Aku sedang berhemat.

“Kamu ini manusia atau jadwal berjalan?”

Itu Reza. Sahabatku—kalau kata “sahabat” bisa disematkan pada orang yang kerjaannya menghina hidupku setiap hari. Kami satu jurusan. Ia menjatuhkan diri di kursi sebelahku di kelas Struktur Data, kakinya diangkat ke kursi depan, membuka bungkus roti yang harganya mungkin setara dengan sarapanku selama tiga hari.

“Manusia,” jawabku, mata tetap di layar retak.

“Manusia nggak makan siang cuma dari air keran dan gengsi.” Ia menyodorkan setengah rotinya. “Nih. Sebelum kamu pingsan dan aku disuruh gotong ke UKS. Aku males gotong, punggungku sakit.”

Aku menatap roti itu. Menatap Reza. Lalu mengambilnya, karena menolak makanan gratis adalah kemewahan yang juga tidak kupunya.

“Kapan sih kamu istirahat?” tanyanya, mengunyah. “Sekali-sekali hidup, dong. Cari pacar, kek.”

Aku hampir tertawa. Hampir. “Pacar butuh waktu. Waktu butuh uang. Uang butuh kerja. Kerja makan waktu. Aku nggak sanggup bayar bunganya.”

“Kamu ngomongin cinta kayak ngomongin cicilan.”

“Karena memang mirip,” kataku. “Bedanya, kalau cicilan telat, cuma disita barang. Kalau cinta telat, yang disita hati.”

Reza berhenti mengunyah, menatapku, lalu menggeleng seolah aku kasus yang sudah tak tertolong. “Kamu tua banget buat umur dua puluh. Nanti pas umurmu enam puluh, kamu bakal kayak bayi, ya? Balik lagi.”

Ia tidak salah soal yang pertama. Aku memang merasa tua. Bukan di badan—badanku masih bisa berlari dari kedai ke kelas tanpa ngos-ngosan. Tapi di dalam sini, di bagian yang mestinya masih ringan dan bodoh dan berani, aku sudah lama merasa seperti kakek tua yang menjaga toko: hati-hati, hemat, dan tidak lagi percaya pada kejutan.

Sampai sore itu.

Sore itu aku punya jeda tiga jam—kelas dosen dibatalkan, dan klien freelance-ku sedang libur. Tiga jam. Kemewahan yang begitu langka sampai aku hampir tidak tahu harus mengapakannya. Maka aku melakukan hal paling masuk akal bagi orang sepertiku: aku pergi ke perpustakaan untuk mencuri tidur di antara rak buku, tempat yang sejuk dan gratis dan tak seorang pun akan menyuruhku pergi.

Aku memilih meja di sudut, dekat jendela besar yang menghadap taman. Aku meletakkan kepala di atas lengan. Aku memejamkan mata.

Lalu, entah kenapa, aku membukanya lagi.

Dan aku tahu ada seseorang yang datang bukan karena aku melihatnya lebih dulu—tapi karena ruangan berubah.

Dua mahasiswa di meja sebelah yang sedari tadi berdebat soal jadwal tiba-tiba berhenti, kalimat menggantung di udara. Petugas perpustakaan yang biasanya memelototi siapa pun yang bersuara di atas bisikan justru mengangkat wajah, lalu melunak, seolah lupa sedang marah pada apa. Seorang anak lelaki di dekat rak sejarah kehilangan halaman bukunya, membolak-balik bingung, tak sadar bibirnya sedikit terbuka.

Baru setelah itu aku menoleh ke arah yang mereka semua, diam-diam, sedang tuju.

Perempuan itu duduk di meja seberang, dua deret dariku, membuka buku tebal—hukum, mungkin, dari tebalnya—tanpa tahu bahwa kedatangannya baru saja mengubah suhu satu ruangan penuh orang asing. Ia tidak melakukan apa-apa. Ia cuma ada. Dan entah bagaimana, “cuma ada”-nya cukup untuk membuat seisi perpustakaan lupa sejenak pada hal-hal yang tadinya penting.

Aku pernah membaca, di suatu tempat, bahwa hidup manusia adalah kalimat panjang penuh titik. Kerja. Titik. Pulang. Titik. Bangun. Titik. Kalimat yang datar, lengkap, dan berakhir sebelum sempat menjadi indah.

Perempuan itu adalah koma.

Jeda kecil di tengah kalimat yang selama ini kukira sudah selesai. Napas di antara dua beban. Sesuatu yang membuatku, untuk pertama kalinya sejak entah kapan, tidak ingin waktu berjalan cepat.

Aku tidak tahu namanya. Aku tidak tahu jurusannya, angkatannya, suara tawanya. Aku tidak tahu apa pun tentangnya, dan—ini bagian yang paling kupahami—aku tidak berniat mencari tahu. Karena aku kenal diriku sendiri. Aku tahu apa yang terjadi kalau orang sepertiku mulai menginginkan sesuatu yang membuat orang lain saja lupa cara membaca.

Jadi aku melakukan satu-satunya hal yang aman.

Aku memandanginya. Diam. Dari sudut yang tak terlihat. Menyimpan gambar itu baik-baik, hati-hati, seperti orang miskin menyimpan uang receh terakhirnya.

Lalu, ketika cahaya sore mulai memudar dan ia menutup bukunya, aku pura-pura kembali menunduk ke meja, dan berkata pada diriku sendiri kalimat yang akan kuulang ratusan kali setelahnya—kalimat yang kukira waktu itu adalah kebenaran, padahal cuma cara paling sopan untuk berbohong:

Memandangnya dari sini saja sudah lebih dari cukup.

Aku bahkan hampir memercayainya.