Chapter Twenty One
Tugas ke Singapura
POV: Adrian Pramudya, lalu Freya Calista · (Arc 2 — Dunia Kerja · bagian Freya dijaga)
Ada email yang mengubah hidupmu dengan satu baris. Aku sudah pernah menerima satu, beberapa minggu lalu, tentang seorang new joiner bernama Freya Calista. Aku pikir aku sudah kebal.
Aku belum kebal.
”Compliance review dengan kantor Singapura butuh perwakilan langsung. Legal + Engineering. Tolong Adrian & Freya berangkat Kamis, tiga hari. Tiket & hotel diurus travel. Thanks!”
Aku membaca email dari Mbak Vero itu tiga kali, mencari celah, mencari cara agar ini tidak berarti apa yang jelas-jelas berarti: tiga hari. Di kota lain. Berdua.
“Bang.” Gilang muncul di belakangku, membaca layarku tanpa izin seperti biasa, dan seringainya melebar sampai batas wajah manusia. “Bang. BANG. Dinas. Berdua. Singapura. Tiga hari.” Ia menepuk-nepuk mejaku seperti genderang perang. “Bang, ini bukan tugas kantor. Ini takdir yang nyamar jadi tugas kantor.”
“Ini review kepatuhan data, Gilang.”
“Bang, semesta udah nyiapin: kota romantis, hotel, makan malam, kalian berdua jauh dari kantor. Kalau Abang pulang dari Singapura masih jomblo, aku resign. Serius. Aku nggak sanggup jadi saksi kegagalan sebesar itu.”
Aku menyuruhnya kembali kerja. Tapi malam sebelum berangkat, aku mendapati diriku—dua puluh lima tahun, Tech Lead, dewasa—berdiri di depan lemari terlalu lama, memikirkan kemeja mana yang harus kubawa, seolah kemeja bisa menyelamatkanku dari tiga hari yang akan menghancurkan setiap sisa Protokol Jarak yang masih kupunya.
Di bandara, Gilang mengirim pesan bertubi-tubi meski tidak diajak. ”Bang inget: 1) buka pintu buatin dia, 2) jangan ngomongin server pas makan malam, 3) KALAU ADA MOMEN, JANGAN NGOMONG ‘ITU CUMA DETERGEN’ LAGI.” Lalu, lima menit kemudian: ”Bang aku doain dari sini. Restu bawahan itu kuat, Bang.” Aku mematikan notifikasi dan mencoba, gagal, untuk tidak tersenyum.
Di pesawat, semesta menyelesaikan pekerjaannya.
Kursi kami bersebelahan—tentu saja, tiket diurus travel, dan travel jelas bersekongkol dengan Gilang. Freya duduk di dekat jendela, aku di lorong, dan di antara kami ada sandaran tangan sempit yang menjadi medan perang paling sunyi dalam sejarah penerbangan sipil.
Aku menghabiskan lepas landas dengan menatap lurus ke depan, membaca kartu keselamatan seolah akan ada kuis. Freya membuka laptop, bekerja sebentar, lalu—karena penerbangan pagi dan ia jelas kurang tidur—mulai mengantuk. Aku bisa melihatnya dari sudut mata: kepalanya mengangguk-angguk, terjaga sebentar, mengangguk lagi.
Lalu, di suatu titik di atas Laut Jawa, kepalanya jatuh ke bahuku.
Aku membeku.
Seluruh tubuhku membeku, dengan cara yang persis sama seperti empat tahun lalu ketika ia memanggilku “sayang”, ketika ia bilang wangiku enak, ketika ia menjatuhkan diri ke dalam hidupku tanpa izin dan tanpa peringatan. Kepalanya di bahuku. Rambutnya menyentuh rahangku. Napasnya, pelan dan teratur, terdengar di telingaku.
Dan lalu—seolah bahu saja belum cukup untuk menghancurkanku—tangannya, dalam tidur, menemukan tanganku di sandaran, dan menggenggamnya.
Bukan genggaman erat. Genggaman setengah sadar, ringan, jari-jarinya melingkari jari-jariku seperti orang yang mencari sesuatu untuk dipegang dalam mimpi. Tapi bagiku, genggaman itu mengirim aliran listrik dari ujung jari sampai ke tempat di dadaku yang sudah bertahun-tahun kupasangi tembok.
Aku punya dua pilihan. Menarik tanganku pelan, membangunkannya, mengembalikan segalanya ke wilayah aman dan profesional. Atau tidak bergerak.
Aku tidak bergerak.
Aku duduk di kursi lorong itu, kaku seperti patung, selama satu jam empat puluh menit sisa penerbangan, tidak berani bernapas terlalu keras, tidak berani menggerakkan tangan, membiarkan kakiku kesemutan dan lenganku mati rasa, karena mengganggu tidurnya terasa seperti dosa yang tak sanggup kutanggung. Pramugari lewat menawarkan minuman; aku menolak dengan gerakan kepala sekecil mungkin. Ada pengumuman turbulensi; aku berdoa turbulensinya tidak membangunkannya.
Otakku, sepanjang seratus menit itu, sibuk melakukan hal yang paling tidak berguna sekaligus paling manusiawi: mencatat semuanya. Berat kepalanya di bahuku. Wangi rambutnya. Cara napasnya melambat saat tidurnya makin dalam. Bentuk jari-jarinya yang melingkari jariku. Aku menyimpan semuanya, satu per satu, dengan ketelitian orang yang tahu ia mungkin tidak akan pernah mendapatkan ini lagi—kebiasaan lama, menyimpan receh, menabung momen untuk musim kering yang selalu kuyakini akan datang.
Ada saat, di tengah semua itu, di mana aku hampir tertawa pada diriku sendiri. Aku memimpin tim yang membangun sistem untuk jutaan orang. Aku bernegosiasi dengan kantor pusat di tiga zona waktu. Dan di sini aku, lumpuh total, disandera oleh satu kepala yang tertidur di bahuku, terlalu takut bergerak seolah satu gerakan salah bisa meruntuhkan seluruh langit.
Empat tahun lalu, aku memberikan payungku dan berjalan pergi supaya tidak ada yang terluka. Sekarang, di ketinggian tiga puluh ribu kaki, aku melakukan kebalikannya: aku duduk diam, membiarkan tangan mati rasa, memilih tinggal—hanya untuk beberapa jam pinjaman ini, hanya untuk genggaman yang bahkan tidak ia sadari, hanya untuk berpura-pura, sebentar saja, bahwa tangan ini boleh kugenggam balik.
Memandang dari jauh saja sudah cukup, kataku dulu.
Betapa jauh aku sudah menyimpang dari kalimat itu. Sekarang bahkan “cukup dekat untuk menggenggam tangannya dalam tidur” pun terasa kurang.
Ketika pesawat mulai turun dan ia terbangun, ia mengangkat kepala, menyadari posisi kami, dan—untuk sepersekian detik sebelum topeng profesionalnya kembali—aku melihat wajahnya memerah. “Astaga, maaf. Aku ketiduran. Berat, ya, bahu kamu jadi—“
“Nggak apa-apa,” kataku cepat. Terlalu cepat. “Kamu keliatan capek.”
Ia menatapku sebentar, tangannya—yang baru saja ia sadari sedang menggenggam tanganku—ditariknya pelan, dan kami berdua pura-pura tidak ada apa-apa, dengan payah, sepanjang sisa pendaratan. Tapi telapak tanganku masih terasa hangat di tempat jarinya tadi melingkar, dan aku tahu, dengan kepasrahan total, bahwa aku akan mengingat penerbangan biasa ini lebih lama dari penerbangan mana pun dalam hidupku.
⟡ Sisi Freya
POV: Freya Calista · (sudut pandang dijaga)
Aku tidak berpura-pura ketiduran. Aku ingin memperjelas itu, minimal pada diriku sendiri.
Aku benar-benar mengantuk—penerbangan pagi, semalam tidak bisa tidur karena terlalu gugup soal tiga hari ini. Jadi ketika kepalaku mulai jatuh, itu asli. Yang tidak asli, mungkin, adalah betapa sedikit perlawanan yang kuberikan ketika kepala itu memutuskan bahwa bahu di sebelahnya adalah tempat yang tepat untuk beristirahat.
Dan tanganku—tanganku yang mencari tangannya dalam separuh tidur—aku tidak tahu apakah itu refleks atau keinginan yang menyelinap keluar saat pertahananku lengah. Mungkin keduanya. Mungkin, setelah bertahun-tahun menjaga jarak yang kupaksakan pada diriku sendiri, tubuhku memutuskan bahwa ia sudah cukup lama menunggu, dan mengambil apa yang tidak berani diminta oleh mulutku.
Yang kutahu pasti cuma ini: aku setengah terjaga sepanjang penerbangan itu. Setengah terjaga, dan sepenuhnya sadar bahwa ia tidak menarik tangannya. Bahwa ia duduk sekaku papan selama berjam-jam, tidak bergerak, membiarkan tangannya kupegang. Aku bisa merasakan ketegangan di tubuhnya, ketegangan orang yang menahan napas, dan aku tahu—dengan kepastian yang membuat dadaku hangat sampai sakit—bahwa ia tidak bergerak bukan karena tidak peduli, tapi karena terlalu peduli.
Laki-laki yang tidak peduli akan menarik tangannya. Laki-laki yang membeku selama seratus menit demi tidak membangunkanmu—itu laki-laki yang sedang berperang dengan dirinya sendiri, dan sedang kalah, dan diam-diam bersyukur atas kekalahannya.
Aku hafal tanda-tanda itu. Aku sudah lama sekali belajar membacanya.
Ketika aku “terbangun” dan menarik tanganku dan minta maaf dan menyalahkan rasa capek, aku melakukannya bukan karena malu—yah, sedikit malu—tapi karena aku tahu, kalau aku mengakui bahwa aku setengah sadar sepanjang tadi, ia akan memasang temboknya lagi, lebih tinggi, dan tiga hari ini akan berubah jadi tiga hari kaku penuh permintaan maaf.
Jadi aku memberinya jalan keluar. Aku memberinya “aku ketiduran, maaf”, supaya ia bisa memberiku “nggak apa-apa, kamu capek”, supaya kami berdua bisa berpura-pura, dan supaya pura-pura itu memberi kami ruang untuk terus mendekat tanpa harus mengakui bahwa kami sedang mendekat.
Itu tarian yang aneh, yang kami tarikan. Dua orang yang saling mendekat sambil berpura-pura tidak. Tapi setelah bertahun-tahun, aku sudah belajar: kadang, dengan orang seperti Adrian, satu-satunya cara maju adalah dengan pura-pura kau tidak sedang maju.
Nadine pernah bilang aku terlalu memahami Adrian—terlalu sabar membaca setiap gerakannya, terlalu telaten menyusun strategi di sekitar temboknya. “Kamu kok bisa hafal orang yang bahkan belum pernah ngobrol panjang sama kamu?” tanyanya sekali. Aku tidak menjawab. Karena jawabannya terlalu panjang, dan sebagian darinya adalah cerita yang belum siap kuceritakan pada siapa pun—cerita tentang bertahun-tahun memperhatikan seseorang dari jarak yang kupaksakan, mengumpulkan potongan-potongan kecilnya, sampai aku hafal peta dirinya lebih baik daripada ia hafal dirinya sendiri.
Aku menatap keluar jendela, ke Singapura yang mulai muncul di bawah, gedung-gedung berkilau di bawah matahari pagi, dan mengizinkan diriku satu senyum kecil yang tidak ia lihat.
Di sebelahku, Adrian masih pura-pura sibuk membereskan meja lipat yang sebenarnya sudah rapi. Telinganya masih agak merah. Dan aku, yang katanya perempuan paling tenang di kantor, harus menahan seluruh diriku untuk tidak meraih tangannya lagi—kali ini dalam keadaan sadar penuh, kali ini dengan sengaja, kali ini untuk tidak melepaskannya lagi.
Belum. Bukan sekarang. Bukan aku yang harus melakukannya lebih dulu.
Tiga hari. Aku sudah menunggu jauh lebih lama dari tiga hari untuk sedekat ini.
Aku tidak berniat menyia-nyiakan satu menit pun.
- 1 Orang yang Tak Punya Waktu
- 2 Cahaya yang Tak Boleh Dikejar
- 3 Aturan Main
- 4 Kebaikan Tanpa Nama
- 5 Dua Dunia
- 6 Kompor Bernama Reza
- 7 Satu Payung
- 8 Beban yang Tak Diceritakan
- 9 Nyaris
- 10 Cukup
- 11 Empat Tahun Kemudian
- 12 Nama di Daftar Onboarding
- 13 Bidadari yang Sama
- 14 Protokol Jarak
- 15 Kopi yang Terlalu Pas
- 16 Meja yang Mendekat
- 17 Error di Sini, Sayang
- 18 Wangi yang Salah
- 19 Orang Ketiga
- 20 Cemburu yang Tak Diakui
- 21 Tugas ke Singapura reading
- 22 Makan Malam "Urusan Kerja"
- 23 Retak yang Ditunjukkan
- 24 Pulang Bawa Perasaan
- 25 Adrian Balik Menyerang
- 26 Sejarak Senti
- 27 Empat Tahun
- 28 Cukup, Katanya
- 29 Cinta yang Manis
- 30 Sejauh Nol Meja