Chapter Twenty Two
Makan Malam "Urusan Kerja"
POV: Adrian Pramudya · (Arc 2 — Dunia Kerja)
Hari pertama di Singapura habis untuk kerja sungguhan. Rapat kepatuhan dengan kantor regional berlangsung enam jam, penuh istilah hukum dan diagram alur data, dan untuk enam jam yang penuh syukur itu, aku dan Freya kembali jadi apa yang seharusnya: dua profesional yang cakap, saling melengkapi, menyelesaikan pekerjaan dengan rapi. Ia menangani sisi hukumnya, aku sisi teknisnya, dan tim Singapura mengangguk-angguk puas. Di ruang rapat, dengan meja panjang dan orang lain di sekeliling, aku aman. Ada peran untuk kumainkan. Peran selalu lebih mudah daripada diri sendiri.
Bahkan di ruang rapat itu, aku tak bisa sepenuhnya tak sadar akan dia. Cara ia mengambil alih ketika seorang manajer Singapura mencoba mengecilkan satu risiko hukum—tenang, tegas, tanpa menaikkan suara, menutup argumen orang itu dengan satu kalimat yang membuat seluruh ruangan diam. Aku pernah melihat versi Freya ini dulu, sekali, di podium seminar kampus empat tahun lalu. Kekuatan yang sama, yang membuat ruangan menenang bukan karena ia berteriak, tapi karena ia bicara. Dan menyaksikannya lagi, sekarang, dari kursi di sebelahnya alih-alih dari balik panggung—aku harus menunduk ke catatanku supaya tak ada yang melihat ekspresi di wajahku.
Masalahnya, rapat selesai pukul enam. Dan malam, ternyata, tidak punya agenda.
“Kita makan malam bareng, yuk,” kata Freya di lift, nadanya santai, terlalu santai. “Sekalian bahas poin-poin buat besok. Biar efisien.”
Biar efisien. Aku mengenali kalimat itu. Itu kalimat yang sama jenisnya dengan “aku bikin kopi kebanyakan” dan “aku pindah meja biar kolaboratif”—kalimat alibi, kalimat yang memberi alasan kerja pada sesuatu yang bukan soal kerja. Aku sudah cukup lama mengamati Freya untuk mengenali pola ini: ia selalu membungkus keberaniannya dalam kertas kado bernama “urusan kerja”, supaya kalau ditolak, ia bisa berpura-pura tidak pernah menawarkan apa pun. Itu, aku sadar dengan sesuatu yang menghangat di dada, adalah versi dirinya dari tembokku sendiri. Kami berdua ternyata sama-sama pengecut, cuma dengan gaya yang berbeda.
Dan aku, yang seharusnya menolak demi Protokol Jarak yang sudah sekarat, mendengar mulutku sendiri berkata:
“Boleh.”
Satu kata. Dan Protokol Jarak, yang sudah lama koma, akhirnya mengembuskan napas terakhirnya. Aku hampir bisa mendengarnya—suara pelan sebuah aturan yang mati, aturan yang sudah kubawa dalam berbagai bentuk sejak umur tujuh tahun. Anehnya, aku tidak sesedih yang kukira. Aku justru merasa, untuk pertama kalinya dalam waktu yang lama, sedikit lebih ringan.
Restoran yang ia pilih—atau yang direkomendasikan hotel, aku tidak yakin, dan tidak berani bertanya karena jawabannya bisa berarti terlalu banyak—terletak di tepi sungai, dengan lampu-lampu kota yang memantul di air dan udara malam yang hangat. Meja kami di luar, dekat pagar, menghadap ke lampu-lampu itu.
Kalau ini bukan kencan, ia adalah tiruan kencan yang sangat meyakinkan—dan aku, yang belum pernah benar-benar berkencan seumur hidup, tidak punya cara untuk membedakannya.
Kami memesan. Kami membuka laptop selama kira-kira empat menit, pura-pura membahas “poin-poin untuk besok”, sebelum sama-sama menyerah pada kepura-puraan itu dan menutup laptop tanpa perlu mengatakannya. Lalu, tanpa agenda, tanpa peran, tanpa meja rapat penuh orang untuk bersembunyi di baliknya—kami cuma bicara.
Dan di sinilah aku menemukan sesuatu yang jauh lebih berbahaya dari kecantikannya, dari keberaniannya, dari cara ia memanggilku “sayang” atau memakai hoodie-ku: aku menemukan bahwa aku suka bicara dengannya.
Ia lucu—lucu dengan cara kering yang tak kuduga, melempar komentar tajam soal kolega Singapura tadi yang membuatku hampir tersedak air. Ia cerdas, mengejar argumenku sampai ke sudut lalu tertawa ketika aku kehabisan bantahan. Ia mendengarkan—benar-benar mendengarkan, menaruh dagunya di tangan dan menatapku seolah apa yang kukatakan adalah hal paling menarik yang pernah ia dengar, meski aku cuma bercerita soal ibu dan Kayla dan warung kopi tempatku dulu kerja.
“Jadi kamu barista, freelance koding, sama kuliah—barengan?” Ia menggeleng, takjub. “Aku waktu kuliah ngeluh cuma karena tugas numpuk. Kamu kerja dua tempat sambil jaga IPK. Kok bisa nggak stres?”
“Siapa bilang nggak stres.” Aku menyeruput minumanku. “Aku cuma nggak punya waktu buat nunjukin stresnya. Beda.”
Ia tertawa, tapi matanya tidak ikut tertawa—ada sesuatu yang lain di sana, sesuatu yang menyerap kalimatku lebih dalam dari yang kumaksudkan. “Itu sedih, Adrian.”
“Itu efisien,” koreksiku, dan ia melempar tisu ke arahku, dan aku menghindar, dan untuk sesaat kami berdua tertawa seperti dua orang biasa yang tidak sedang menanggung apa pun.
Aku bercerita lebih banyak dari yang pernah kuceritakan pada siapa pun. Bukan yang paling dalam—belum—tapi lebih banyak. Tentang laptop retak yang masih kusimpan di laci meski sudah tak terpakai. Tentang Reza dan skema “Operasi Jembatan Hati”-nya dulu, yang membuat Freya tertawa sampai harus menutup mulut dengan tangan—dan aku, melihat tawa itu dari jarak sedekat ini, alih-alih dari seberang kantin seperti dulu, merasakan sesuatu yang hampir menyakitkan saking manisnya. Tentang bagaimana aku masih bangun jam empat pagi meski tak ada lagi yang mengharuskan.
“Kenapa jam empat?” tanyanya.
“Kebiasaan. Dulu tiga puluh menit pertama buat nyeduhin teh ibu sebelum dia bangun.”
Ia terdiam sebentar, menatapku dengan ekspresi yang tidak bisa kubaca—sesuatu yang lembut dan sakit sekaligus. “Kamu ngurusin ibumu dari kecil, ya.”
“Ada aku, ada adik. Bapak nggak ada.” Aku mengangkat bahu, mencoba meringankan sesuatu yang tidak ringan. “Ya, gitu deh. Nggak usah dibahas.”
Ia tidak memaksa. Tapi ia meraih gelasnya, dan sebelum minum, ia berkata pelan, “Kayaknya banyak yang kamu tanggung sendirian, ya, Adrian. Dari dulu.”
Kalimat itu—diucapkan begitu lembut, begitu tepat—menembus sesuatu di dadaku yang biasanya kujaga rapat. Karena tidak ada yang pernah mengatakan itu padaku. Semua orang melihat hasilnya: yang rajin, yang mapan, yang bisa diandalkan. Ibu bangga, Kayla kagum, Pak Har dulu memuji, kantor mengandalkan. Semua melihat menara yang berhasil kubangun. Tak seorang pun pernah bertanya berapa harga batu bata yang kupasang sendirian, di malam-malam ketika tak ada yang melihat.
Ia melihat harganya. Dan entah bagaimana, dilihat seperti itu—benar-benar dilihat, bukan dikagumi, tapi dilihat—terasa lebih menakutkan daripada seluruh kerentanan yang selama ini kuhindari.
Setelah makan, kami berjalan pelan di sepanjang tepi sungai. Malam hangat. Lampu-lampu memantul di air. Turis lewat, pasangan-pasangan berfoto, seorang pemain biola jalanan memainkan sesuatu yang pelan di kejauhan. Dan di tengah semua keramaian itu, entah bagaimana, terasa seolah cuma ada kami berdua—seolah kota sebesar ini sengaja mengosongkan dirinya untuk memberi kami ruang.
Kami tidak banyak bicara sekarang. Kami sudah melewati fase bicara. Yang tersisa adalah keheningan yang aneh dan penuh, keheningan dua orang yang tahu ada sesuatu di udara tapi tak satu pun berani menamainya.
Entah bagaimana, tanpa kesepakatan, langkah kami melambat sampai hampir berhenti, di satu titik yang lebih gelap di antara dua lampu jalan, di mana pantulan air membuat wajahnya berkilau samar dan kota terasa jauh.
Freya berbalik menghadapku. Dekat. Terlalu dekat—jarak yang sama seperti insiden “sayang” itu, dua puluh sentimeter, jarak di mana aku bisa menghitung bulu matanya.
“Adrian,” katanya, dan suaranya berbeda sekarang, lebih pelan, tanpa topeng profesional, tanpa alibi “biar efisien”. “Boleh aku tanya sesuatu?”
“Boleh.” Suaraku serak.
Ia menatapku. Matanya turun sebentar—cuma sebentar, tapi aku menangkapnya—ke bibirku, lalu kembali ke mataku. Dan seluruh dunia menyusut jadi dua puluh sentimeter udara malam di antara kami, udara yang tiba-tiba terasa penuh muatan listrik. Aku bisa merasakan setiap sarafku menyala. Empat tahun—lebih—aku menghabiskan hidupku menjaga jarak dari perempuan ini, dan sekarang jarak itu tinggal dua puluh sentimeter, dan untuk pertama kalinya aku tidak ingin menutupnya dengan tembok. Aku ingin menutupnya dengan sesuatu yang lain.
Aku ingin menciumnya.
Kesadaran itu datang begitu jelas, begitu telanjang, sampai aku hampir kehilangan keseimbangan. Aku, yang selama ini bahkan tak berani menyebut namanya, sekarang berdiri di tepi sungai di kota asing, condong—tanpa kusadari, tubuhku condong—ke arahnya.
“Kamu selama ini—“ ia mulai, suaranya nyaris berbisik, matanya tak lepas dari mataku, “—apa kamu pernah ngerasa kita udah pernah—“
Ponselku berdering.
Keras. Nyaring. Merusak. Nama ibu berkedip di layar.
Momen itu pecah seperti kaca. Freya menarik diri, tersenyum canggung, dan aku—dengan tangan gemetar dan hati yang berdetak karena dua alasan sekaligus—mengangkat telepon, karena ibu tidak pernah menelepon malam-malam kecuali ada sesuatu.
Sebagian kecil dariku, sebagian yang jahat dan egois, ingin mengabaikan telepon itu. Ingin membiarkannya berdering, meraih tengkuk Freya, dan menyelesaikan kalimat yang tergantung di antara kami. Empat tahun. Dua puluh sentimeter. Aku sedekat itu.
Tapi aku tidak pernah, dalam hidupku, bisa mengabaikan ibu. Kebiasaan lama—keluarga selalu lebih dulu, selalu—terlalu dalam untuk kulawan bahkan di detik paling menentukan sekalipun.
“Halo, Bu?”
Dan sesuatu di nada ibu di ujung sana—suara Kayla samar di belakang, kata “rumah sakit” yang terselip, napas ibu yang tak seperti biasa—membuat seluruh kehangatan malam itu tiba-tiba mendingin, dan dua puluh sentimeter tadi terlupakan seketika, tergantikan oleh satu ketakutan lama yang kukira sudah lama kukubur: ketakutan kehilangan orang yang kusayang saat aku sedang jauh, persis seperti dulu, persis seperti Bapak.
- 1 Orang yang Tak Punya Waktu
- 2 Cahaya yang Tak Boleh Dikejar
- 3 Aturan Main
- 4 Kebaikan Tanpa Nama
- 5 Dua Dunia
- 6 Kompor Bernama Reza
- 7 Satu Payung
- 8 Beban yang Tak Diceritakan
- 9 Nyaris
- 10 Cukup
- 11 Empat Tahun Kemudian
- 12 Nama di Daftar Onboarding
- 13 Bidadari yang Sama
- 14 Protokol Jarak
- 15 Kopi yang Terlalu Pas
- 16 Meja yang Mendekat
- 17 Error di Sini, Sayang
- 18 Wangi yang Salah
- 19 Orang Ketiga
- 20 Cemburu yang Tak Diakui
- 21 Tugas ke Singapura
- 22 Makan Malam "Urusan Kerja" reading
- 23 Retak yang Ditunjukkan
- 24 Pulang Bawa Perasaan
- 25 Adrian Balik Menyerang
- 26 Sejarak Senti
- 27 Empat Tahun
- 28 Cukup, Katanya
- 29 Cinta yang Manis
- 30 Sejauh Nol Meja