Chapter Twelve
Nama di Daftar Onboarding
POV: Adrian Pramudya · (Arc 2 — Dunia Kerja)
Ada satu kata yang, seumur hidupku, tidak pernah kupercaya: takdir. Aku percaya pada kerja keras. Aku percaya pada perhitungan. Aku percaya bahwa hidup adalah kumpulan sebab dan akibat yang, kalau kau cukup disiplin, bisa kau arahkan sedikit demi sedikit ke tempat yang kau mau.
Aku tidak percaya pada takdir sampai suatu Selasa pagi yang biasa, ketika sebuah email masuk ke kotak masukku dan mengubah segalanya lewat satu baris teks di tengah dokumen membosankan.
Pagi itu tidak ada yang istimewa. Aku datang paling awal, seperti biasa. Aku sudah menyelesaikan dua code review sebelum orang lain sampai. Kopi kedua sudah setengah habis. Matahari baru saja meninggi cukup untuk menyinari deretan meja kosong yang perlahan mulai terisi. Kalau ada yang bertanya bagaimana perasaanku pagi itu, aku akan menjawab: biasa saja. Tenang. Terkendali. Persis seperti yang kuinginkan dari sebuah hari.
Itulah yang kupelajari kemudian tentang hari-hari yang mengubah hidup: mereka tidak pernah memberi peringatan. Tidak ada firasat, tidak ada langit yang tiba-tiba gelap, tidak ada nada dramatis. Mereka datang menyamar sebagai hari yang paling biasa, supaya kau tidak sempat memasang pertahanan.
Emailnya dari HR. Subjeknya: Onboarding Schedule & New Joiners — This Week. Jenis email yang biasanya kubaca dengan setengah perhatian, karena sebagai Tech Lead aku cuma perlu tahu siapa yang masuk ke timku, dan bulan ini tidak ada yang masuk ke timku. Sisanya bukan urusanku.
Tapi Mbak Vero dari HR punya kebiasaan melampirkan daftar lengkap semua new joiner, lintas divisi, “biar semua saling kenal, ya, biar kekeluargaan,” katanya. Jadi di bawah nama-nama divisi bisnis dan operasional, ada satu sub-bagian kecil: Legal.
Dan di bawahnya, satu nama.
Freya Calista — Legal Staff.
Aku membacanya sekali. Lalu aku berhenti membaca apa pun.
Ruangan seolah menjauh. Suara Gilang yang sedang menelepon di seberang meja, dentang lift, dengung AC—semua meredup jadi latar yang jauh, seolah seseorang menurunkan volume dunia. Aku menatap dua kata itu di layar, dua kata yang sudah empat tahun tidak kubiarkan diriku ucapkan, dua kata yang kukira sudah kukubur dengan rapi di seberang lapangan wisuda.
Freya Calista.
Tenang, kataku pada diriku, dengan suara yang bahkan di dalam kepalaku terdengar gemetar. Tenang. Ini pasti kebetulan. Orang tidak muncul kembali di hidupmu cuma karena kau pernah menginginkannya. Dunia tidak bekerja seperti itu. Dunia tidak sebaik itu—dan juga tidak sekejam itu.
Aku mulai membangun pembelaan, cepat, seperti orang yang menambal bendungan sebelum air tumpah. Freya bukan nama yang sangat langka. Calista juga tidak. Pasti ada ratusan Freya Calista di kota ini—ribuan, mungkin. Peluang bahwa ini adalah Freya Calista yang itu, Freya Calista dari Fakultas Hukum, Freya Calista yang membuat satu perpustakaan lupa bernapas, Freya Calista yang menyimpan payung reyotku—peluangnya sangat kecil. Kecil sekali. Praktis nol.
Lagi pula, kenapa ia harus di sini? Ia lulusan hukum terbaik. Ia pasti sudah jadi associate di firma bergengsi, atau lanjut S2 ke luar negeri, atau apa pun yang dilakukan orang seterang dia. Kenapa ia harus jadi legal staff di kantor kecil sebuah perusahaan teknologi, di divisi yang, jujur saja, bukan divisi paling glamor di dunia?
Tidak masuk akal. Perhitungannya tidak masuk akal.
Tapi bahkan sambil menyusun semua pembelaan itu, ada bagian kecil di dalam diriku—bagian yang tak pernah bisa kubungkam sepenuhnya—yang berbisik pelan: tapi bagaimana kalau iya?
Aku membenci bagian itu. Bagian itu yang, empat tahun lalu, membuatku memutar kaki ke arah perpustakaan. Bagian itu yang membuatku basah kuyup di tengah hujan demi payung. Bagian itu yang menyimpan tawa, kopi, tatapan di belakang panggung seminar. Bagian yang kukira sudah mati kelaparan setelah empat tahun tak kuberi makan—dan ternyata cuma tidur, dan ternyata cuma butuh dua kata di email HR untuk bangun lagi dengan lapar yang sama.
Aku menutup mata sebentar. Aku mencoba mengingat wajahnya—dan itu kesalahan, karena aku bisa. Setelah empat tahun, setelah ratusan wajah rapat dan ribuan baris kode, aku masih bisa memanggil wajahnya dengan detail yang membuatku malu pada diriku sendiri. Cara alisnya berkerut waktu konsentrasi. Cara ia menyingkirkan rambut dengan tangan kiri. Cara ia mengecilkan volume tawanya supaya muat di dalam ruangan.
Empat tahun. Dan tidak ada satu detail pun yang memudar.
Aku menutup email itu dengan perasaan lega yang kupaksakan. Kebetulan. Cuma kebetulan nama. Aku sudah dewasa, aku Tech Lead, aku tidak akan gemetar cuma karena melihat dua kata di email HR.
Masalahnya, tubuh tidak sepandai kepala dalam berbohong.
Sepanjang hari itu, aku tidak bisa fokus. Aku membaca satu baris kode tiga kali tanpa menangkapnya. Dalam rapat dengan tim Shenzhen, aku ditanya sesuatu dan harus meminta mereka mengulang—hal yang tidak pernah kulakukan. Kopi yang dibawakan Gilang jadi dingin di mejaku, tak tersentuh.
Dan setiap kali ada orang lewat di lorong, mataku—pengkhianat lama yang kukira sudah kujinakkan—otomatis menoleh. Mencari. Persis seperti dulu, di koridor Fakultas Hukum, empat tahun lalu.
Berhenti, kataku pada mataku. Itu bukan dia. Tidak mungkin dia.
“Bang.” Gilang melongok dari balik monitor. “Abang kenapa? Dari tadi mukanya kayak abis liat hantu.”
“Nggak apa-apa.”
“Beneran? Abang bahkan nggak marah pas Shenzhen minta deadline dimajuin. Biasanya Abang bakal nulis email tiga paragraf pakai kata ‘unfortunately’ tiga kali.” Ia menyipitkan mata. “Ada apa sih?”
“Nggak ada apa-apa, Gilang.” Aku menutup laptop sedikit terlalu keras. “Kerjaanmu gimana?”
“Nah, banting setir lagi.” Ia mengangkat tangan. “Oke, oke. Tapi kalau Abang butuh ngomong, aku di sini. Gratis. Bonus kopi.”
Ia kembali ke mejanya, tapi aku bisa merasakan ia masih melirik sesekali, penasaran. Gilang mungkin telat soal laporan, tapi ia tidak pernah telat membaca suasana. Dan suasana yang kupancarkan hari itu, aku yakin, adalah suasana seseorang yang sedang berperang dengan sesuatu yang tak kelihatan.
Aku mencoba bekerja. Aku benar-benar mencoba. Aku membuka dokumen arsitektur yang harus kurevisi, menatap diagramnya, dan mendapati diriku menggambar—tanpa sadar—sebuah lengkungan kecil di pojok kertas catatan. Sebuah bentuk yang, setelah kutatap beberapa detik, kusadari menyerupai payung. Aku mencoret bentuk itu keras-keras, seolah bisa mencoret juga apa yang ada di kepalaku.
Aku pulang malam itu tanpa menyelesaikan setengah dari yang seharusnya. Di apartemen, aku berdiri lama di depan jendela, menatap kota, dan berkata pada diriku sendiri untuk kesekian kali: kebetulan. Besok aku akan lihat orang asing, dan semua kegilaan ini akan selesai.
Yang kubutuhkan adalah agar hari ini cepat berlalu, agar besok datang, agar aku bisa membuktikan pada diriku sendiri bahwa aku benar—bahwa ini cuma kebetulan nama, bahwa Freya Calista yang akan berjalan masuk ke kantor ini adalah orang asing bermata biasa dan senyum biasa yang tak akan berarti apa-apa bagiku.
Aku hampir memercayainya. Aku selalu hampir memercayai hal-hal yang paling ingin kupercaya.
Ternyata aku tidak perlu menunggu sampai minggu depan.
Ternyata “new joiner minggu ini” berarti, secara harfiah, minggu ini. Dan ternyata HR punya kebiasaan lain yang tidak kuketahui: memperkenalkan karyawan baru divisi mana pun ke seluruh kantor lewat pertemuan singkat di ruang serbaguna, hari pertama mereka.
Hari itu adalah hari ini.
Mbak Vero memanggil lewat pengeras: “Teman-teman, boleh kumpul sebentar ke ruang tengah? Kenalan sama keluarga baru kita, ya!”
Aku hampir tidak ikut. Aku punya rapat, aku punya alasan, aku punya seribu cara untuk menghindar. Tapi Gilang menyeretku—“Ayo Bang, masa Tech Lead nggak dateng, nanti dikira sombong”—dan aku, karena tidak punya alasan yang cukup masuk akal untuk menolak tanpa terlihat aneh, ikut.
Aku berdiri di barisan belakang, tangan di saku, hati yang kubilang pada diriku sendiri sudah tenang. Kebetulan, kuulang dalam kepala. Cuma kebetulan nama.
Mbak Vero mulai memperkenalkan satu per satu. Anak baru marketing—seorang pemuda ceria yang langsung disambut riuh. Anak baru operasional—perempuan berkacamata yang tersipu waktu diminta memperkenalkan diri. Tepuk tangan sopan. Aku setengah mendengarkan, sudah bersiap kembali ke mejaku begitu selesai, sudah menyiapkan rasa lega yang akan kurasakan ketika ternyata legal staff baru itu adalah orang yang sama sekali tak kukenal.
Gilang, di sampingku, berbisik, “Bang, tegang amat. Rileks, Bang, ini cuma kenalan.”
“Aku rileks.”
“Tangan Abang di saku ngepal, Bang.”
Aku melonggarkan kepalan yang bahkan tidak kusadari kubuat.
“Dan yang terakhir,” kata Mbak Vero, dan waktu—entah bagaimana—terasa melambat, seperti air yang melambat di sekitar batu, “dari divisi legal. Ayo, Mbak, maju. Perkenalkan diri.”
Selama satu detik sebelum aku mengangkat wajah, aku sempat menikmati sisa terakhir dari dunia lamaku—dunia di mana ini cuma kebetulan, dunia di mana aku sudah menang dan sudah tenang dan sudah cukup.
Lalu aku mengangkat wajah.
Dan seluruh dunia yang selama empat tahun kubangun dengan begitu hati-hati—setiap tembok, setiap perhitungan, setiap “cukup” yang kuucapkan—runtuh dalam satu detik, tanpa suara, cuma karena satu orang melangkah maju dan tersenyum ke ruangan.
Itu dia.
Bukan kebetulan nama. Bukan orang asing bermata biasa. Bukan salah satu dari ribuan Freya Calista yang kukarang semalaman untuk menenangkan diri.
Itu benar-benar, sungguh-sungguh, mustahilnya, dia.
- 1 Orang yang Tak Punya Waktu
- 2 Cahaya yang Tak Boleh Dikejar
- 3 Aturan Main
- 4 Kebaikan Tanpa Nama
- 5 Dua Dunia
- 6 Kompor Bernama Reza
- 7 Satu Payung
- 8 Beban yang Tak Diceritakan
- 9 Nyaris
- 10 Cukup
- 11 Empat Tahun Kemudian
- 12 Nama di Daftar Onboarding reading
- 13 Bidadari yang Sama
- 14 Protokol Jarak
- 15 Kopi yang Terlalu Pas
- 16 Meja yang Mendekat
- 17 Error di Sini, Sayang
- 18 Wangi yang Salah
- 19 Orang Ketiga
- 20 Cemburu yang Tak Diakui
- 21 Tugas ke Singapura
- 22 Makan Malam "Urusan Kerja"
- 23 Retak yang Ditunjukkan
- 24 Pulang Bawa Perasaan
- 25 Adrian Balik Menyerang
- 26 Sejarak Senti
- 27 Empat Tahun
- 28 Cukup, Katanya
- 29 Cinta yang Manis
- 30 Sejauh Nol Meja