Chapter Six
Kompor Bernama Reza
POV: Adrian Pramudya · (Arc 1 — Kampus)
Ada satu hal yang lebih berbahaya dari jatuh cinta diam-diam: jatuh cinta diam-diam sambil punya sahabat bernama Reza.
Aku sudah berusaha keras menutupinya. Aku tidak pernah menyebut nama Freya—aku bahkan tidak pernah mengaku aku tahu namanya. Tapi Reza punya insting yang tidak dimilikinya di bidang akademik: ia bisa mencium perasaan orang lain dari jarak seratus meter, menembus tembok, dan menembus, khususnya, kebohongan-kebohongan kecil yang kupasang di wajahku. Sejak insiden roti di kantin, ia memperlakukan urusan hatiku seperti proyek pribadi yang wajib ia selesaikan, dengan atau tanpa persetujuanku—biasanya tanpa.
Semuanya memuncak pada suatu siang, ketika ia menaruh nampan makan siangnya di depanku dengan bunyi keras yang disengaja, lalu membuka sebuah buku tulis—buku tulis baru, sampulnya masih mengilap—dan di halaman pertamanya tertulis, dengan spidol, huruf kapital:
OPERASI JEMBATAN HATI.
“Reza.”
“Dengar dulu.” Ia membuka halaman kedua, tempat ia telah menggambar—aku bersumpah demi seluruh kabel di lab komputer—sebuah bagan. Kotak-kotak. Panah-panah. Ada satu kotak bertuliskan “TARGET (F)” dan satu lagi bertuliskan “ASET (KAMU, WALAU NGGAK MEYAKINKAN)”.
“Kamu bikin bagan.”
“Aku bikin strategi. Bagan cuma alat.” Ia mengetuk halaman itu dengan pulpen, gaya jenderal. “Oke. Fase satu: pertemuan tak sengaja yang sangat disengaja. Kamu tahu dia sering di perpustakaan, kan? Kamu ‘kebetulan’ butuh buku di rak yang sama. Kalian meraih buku yang sama. Tangan bersentuhan. Musik latar. Selesai.”
“Itu bukan strategi. Itu sinetron.”
“Sinetron itu tayang belasan tahun, Adrian. Ada yang bisa dipelajari dari ketahanan pasar.” Ia membalik halaman. “Fase dua, kalau fase satu gagal—dan mengingat kamu, kemungkinan besar gagal—kita pakai jalur adik kelas. Aku kenal anak Hukum. Aku bisa atur kamu ‘jadi tutor koding dadakan’ buat acara fakultas mereka. Kamu keliatan pinter, dia terpesona, aku dapat komisi comblang. Semua menang.”
“Nggak ada yang menang. Terutama aku.”
“Fase tiga—“
“Ada fase tiga?”
“Selalu ada fase tiga.” Ia menatapku dengan mata berkilat. “Surat. Tulisan tangan. Aku yang diktekan, kamu yang salin biar keliatan tulus. Aku udah nyiapin draf. Pembukanya: ‘Sejak pertama melihatmu, duniaku yang penuh kode akhirnya menemukan variabel yang tak bisa kudefinisikan.’ Gimana? Nyastra, kan? Nyastra.”
“Itu terdengar kayak error message yang dikasih puisi.”
“Justru itu keunikanmu! Dijual, bukan disembunyiin!” Ia membalik ke halaman berikutnya, yang—astaga—berisi jadwal. Kolom hari. Kolom kegiatan. Kolom “tingkat risiko”. “Nih, aku udah bikin timeline. Minggu ini pendekatan. Minggu depan chat pertama. Dua minggu lagi ajak makan—tapi yang murah dulu, aku tahu kondisimu, aku ini sahabat yang pengertian. Sebulan lagi—“
“Sebulan lagi aku diwisuda kalau tenggatku telat terus gara-gara ngurusin ini.”
“—sebulan lagi,” ia melanjutkan, tak terganggu sama sekali, “kalian resmi. Aku bikin pidato. Aku udah nyiapin juga, mau denger?”
“Enggak.”
“Judulnya ‘Dari Kode ke Kode Hati’.”
“Reza, tolong.”
Aku menutup buku tulisnya dengan satu tangan. “Reza. Kamu ngabisin berapa lama bikin ini?”
Ia terdiam sepersekian detik. “...Semalaman.”
“Kamu punya kuis Jaringan besok.”
“Aku tahu.” Ia menghela napas dramatis. “Tapi kuis Jaringan bisa diulang. Momen ini enggak. Aku ini investasi jangka panjang buat kebahagiaanmu, Yan. Suatu hari kamu bakal berterima kasih dan ngasih aku jadi best man.”
Entah kenapa, di tengah semua kekonyolan itu, ada sesuatu yang menghangat di dadaku. Karena aku tahu, di balik bagan dan fase-fase absurd itu, Reza sungguh-sungguh. Ia begadang semalaman—mempertaruhkan kuisnya sendiri—bukan untuk menggangguku, tapi karena ia benar-benar ingin melihatku bahagia, dengan satu-satunya cara yang ia tahu: berisik, salah, dan tulus.
Itu membuat apa yang harus kukatakan berikutnya jadi jauh lebih berat.
Tapi Reza, seperti api, tidak butuh persetujuan untuk membakar.
Sore itu, tanpa memberitahuku, ia mengeksekusi Fase Satu versinya sendiri.
Aku sedang berjalan melintasi koridor penghubung ketika ia muncul dari belakang, mencengkeram bahuku, dan berbisik dengan urgensi seorang agen rahasia, “Jam dua belas arah. Jangan panik.”
Aku menoleh. Dan di ujung koridor, berjalan ke arah kami, membaca sesuatu di ponselnya—Freya.
“Reza, apa yang—“
“Aku udah atur. Kalian bakal papasan pas di depan mesin minuman. Aku bakal ‘nabrak’ kamu dari belakang, kamu kesenggol ke arah dia, dia nangkep, mata ketemu mata—“
“Jangan.”
“—terus aku ilang, kalian ngobrol, dan namaku dikenang sebagai pahlawan cinta—“
“Reza, jangan—“
Terlambat. Ia sudah mengambil ancang-ancang.
Aku melakukan satu-satunya hal yang bisa dilakukan seorang pengecut terlatih: aku membelok tajam ke kiri, masuk ke tangga darurat terdekat, dan menghilang secepat kakiku bisa membawaku, meninggalkan Reza yang tersandung dorongannya sendiri dan hampir menabrak mesin minuman itu—sendirian, tanpa aset, di depan target yang menatapnya heran sebelum berlalu.
Aku berhenti dua lantai di bawah, punggung menempel di dinding tangga, jantung berdebar bukan karena lari.
Karena selama dua detik tadi, sebelum aku membelok, aku sempat melihatnya dari dekat. Sangat dekat. Cukup dekat untuk mendengar langkahnya, untuk melihat bahwa ia sedang setengah tersenyum pada apa pun yang ia baca di ponselnya, untuk tahu bahwa kalau aku tidak lari, mungkin aku benar-benar akan berpapasan dengannya, dan mungkin dunia tidak akan runtuh, dan mungkin—mungkin—
Aku menutup pikiran itu sebelum ia sempat selesai. Karena “mungkin” adalah saudara kandung “nanti”, dan aku sudah tahu ke mana kedua kata itu bermuara.
Ponselku bergetar. Pesan dari Reza: ”KAMU KE MANA?? Aku hampir mati dipeluk mesin minuman. Dia ngeliatin aku kayak aku spesies baru. Pengorbananku sia-sia. TEGA.” Lalu, tiga detik kemudian: ”Btw dia tadi senyum pas jalan. Bukan ke aku sih. Tapi manis. Kamu rugi gede.”
Aku menatap pesan itu lama. Bukan ke aku sih. Aku tahu itu. Senyum itu untuk apa pun yang ada di ponselnya, untuk dunianya sendiri yang tidak pernah menyertakanku. Tapi anehnya, membaca deskripsi Reza tentang senyum yang tidak kulihat itu terasa lebih menyakitkan daripada kalau aku melihatnya sendiri—karena artinya, bahkan momen-momen kecilnya pun terjadi tanpaku, dan akan terus begitu, dan aku sendiri yang memilihnya demikian.
Aku tidak membalas pesan itu.
Reza menemukanku di tangga, sepuluh menit kemudian, dengan wajah antara kesal dan khawatir.
“Kenapa lari?” tanyanya, duduk di sampingku di anak tangga. Kali ini tidak ada bagan, tidak ada fase. Cuma dia dan aku dan gema tangga yang sepi.
Aku diam lama. Lalu aku memutuskan untuk memberinya sesuatu yang selama ini kusimpan—bukan seluruhnya, tapi cukup untuk membuatnya berhenti.
“Reza, kamu tahu kenapa aku nggak pernah beli kopi di kedai tempat aku kerja?”
Ia mengernyit. “Karena pelit?”
“Karena aku hafal harganya,” kataku. “Aku tahu satu gelas kopi itu setara berapa jam aku berdiri di belakang mesin. Jadi tiap kali aku pengin, aku otomatis ngitung, dan tiap kali aku ngitung, keinginannya ilang. Itu bukan pelit. Itu cara bertahan hidup.” Aku menatap tanganku. “Cinta buat aku juga gitu, Za. Tiap kali aku mulai pengin, aku otomatis ngitung. Waktu yang nggak kupunya. Uang yang nggak kupunya. Hati yang, kalau patah, nggak ada anggaran buat benerinnya. Dan tiap kali aku selesai ngitung, jawabannya selalu sama: aku nggak sanggup.”
“Adrian—“
“Cinta itu kemewahan, Za.” Suaraku pelan, tapi rata, tanpa drama, dan justru karena itu terasa lebih tajam. “Dan aku sedang berhemat. Bukan buat pelit sama diri sendiri. Tapi karena ada orang-orang yang butuh aku utuh—ibu, Kayla—dan aku nggak boleh nyisihin bagian dari diriku buat sesuatu yang belum tentu bisa kumiliki. Aku nggak punya cukup diri buat dibagi-bagi.”
Aku menarik napas. Ada bagian yang jarang kubiarkan keluar, dan entah kenapa, di tangga sepi itu, ia keluar sendiri.
“Kamu tahu, waktu Bapak meninggal, yang paling kuingat bukan sedihnya. Yang paling kuingat itu semua ‘nanti’ yang nggak kesampaian. Pantai yang nggak jadi. Sepeda yang nggak diajarin. Bapak ngumpulin waktu buat kami, Za, dan waktu itu keburu habis sebelum sempet dipakai.” Aku menatap lantai tangga. “Sejak itu aku janji sama diriku: aku nggak akan pernah naruh harapan di sesuatu yang bisa direbut sebelum sempat kupunya. Dan cinta—cinta itu barang yang paling gampang direbut. Sama jarak. Sama keadaan. Sama waktu yang nggak pernah cukup.”
“Jadi kamu milih nggak punya sama sekali biar nggak kehilangan.”
“Aku milih nggak berutang,” koreksiku. “Biar nggak ada yang ditagih.”
Reza tidak menjawab. Untuk pertama kalinya sejak aku mengenalnya, ia benar-benar kehabisan kata.
Kami duduk di tangga itu cukup lama. Akhirnya ia bicara, suaranya berbeda—lebih pelan, lebih tua. “Kamu tahu masalahmu apa, Yan? Kamu ngitung semuanya. Semuanya. Tapi kamu lupa satu hal.”
“Apa?”
“Ada barang yang justru makin mahal kalau nggak kamu ambil.” Ia berdiri, menepuk kepalaku pelan seperti kakak menepuk adik, lalu naik tangga meninggalkanku. Di anak tangga terakhir, ia berhenti tanpa menoleh. “Renungin aja. Sambil ngitung.”
Ia pergi. Dan aku duduk sendiri di tangga darurat itu, memikirkan kalimatnya, mencoba—seperti biasa—menghitungnya. Aku menghitung waktu, uang, jarak, risiko, semua variabel yang biasanya patuh berbaris dan memberiku jawaban yang sama.
Tapi malam itu, untuk pertama kalinya, ada satu perhitungan yang tidak bisa kuselesaikan—karena ada satu angka yang tidak kutahu cara mengukurnya: berapa harga sesuatu yang tidak pernah kau coba miliki, dan tetap terasa hilang.
- 1 Orang yang Tak Punya Waktu
- 2 Cahaya yang Tak Boleh Dikejar
- 3 Aturan Main
- 4 Kebaikan Tanpa Nama
- 5 Dua Dunia
- 6 Kompor Bernama Reza reading
- 7 Satu Payung
- 8 Beban yang Tak Diceritakan
- 9 Nyaris
- 10 Cukup
- 11 Empat Tahun Kemudian
- 12 Nama di Daftar Onboarding
- 13 Bidadari yang Sama
- 14 Protokol Jarak
- 15 Kopi yang Terlalu Pas
- 16 Meja yang Mendekat
- 17 Error di Sini, Sayang
- 18 Wangi yang Salah
- 19 Orang Ketiga
- 20 Cemburu yang Tak Diakui
- 21 Tugas ke Singapura
- 22 Makan Malam "Urusan Kerja"
- 23 Retak yang Ditunjukkan
- 24 Pulang Bawa Perasaan
- 25 Adrian Balik Menyerang
- 26 Sejarak Senti
- 27 Empat Tahun
- 28 Cukup, Katanya
- 29 Cinta yang Manis
- 30 Sejauh Nol Meja