Chapter Nine

Dunia di Atas Es

POV: Erga Oktariano

Sabtu pagi, aku berdiri di depan arena sambil membawa dua cangkir kopi, satu kotak sarapan, dan apron cadangan.

Apron utamaku masih dibawa Nadira.

Dia mengirim foto benda itu terlipat di atas tempat tidurnya dengan pesan: Jaminan supaya kamu benar-benar datang.

Aku tidak menjelaskan bahwa tanpa jaminan pun, aku mungkin akan datang satu jam lebih awal.

Arena jauh lebih dingin daripada kedai. Bau es bercampur logam dan karet memenuhi lorong. Dari balik pintu, terdengar gesekan bilah serta suara Coach Maya memberi instruksi.

Seorang perempuan berambut pendek menghentikanku.

“Area latihan tertutup.”

“Saya diundang Nadira.”

Tatapannya turun ke kopi dan kotak makanan. “Anda katering?”

“Secara emosional, mungkin.”

Pintu terbuka sebelum aku diusir. Nadira muncul dengan jaket latihan dan pelindung sepatu. Wajahnya tanpa riasan, rambut dikuncir tinggi.

“Dia sama aku, Coach.”

Coach Maya menatapku sekali lagi. “Jangan mengganggu.”

“Saya profesional dalam berdiri diam.”

Nadira menahan senyum dan membawaku ke tribun rendah. Dia mengambil americano, lalu memeriksa kotak sarapan.

“Aku nggak pesan.”

“Salah produksi.”

“Bohongmu masih jelek.”

“Tapi makanannya enak.”

Dia mengambil potongan pisang sebelum kembali ke es.

Untuk pertama kalinya aku melihat latihan dari dekat. Tidak ada kostum berkilau atau cahaya khusus. Hanya Nadira dalam pakaian hitam, es penuh goresan, dan suara napas yang terdengar setiap kali dia melewati tribun.

Dia jatuh pada percobaan lompatan pertama.

Bangun.

Jatuh lagi pada percobaan ketiga.

Bangun.

Pada percobaan kelima, tubuhnya berputar cepat, tetapi pendaratan membuat lututnya menyentuh es. Coach Maya meniup peluit.

“Cukup. Ulangi rangkaian masuknya tanpa lompatan.”

“Sekali lagi.”

“Nadira.”

“Aku bisa.”

Dia mengambil posisi sebelum izin diberikan. Kali ini kakinya terpeleset saat lepas landas. Tubuhnya menghantam es cukup keras hingga suara benturannya mencapai tribun.

Aku berdiri tanpa sadar.

Nadira tetap diam beberapa detik.

Semua naluriku menyuruh turun, tetapi Coach Maya lebih dekat. Dia berjongkok, memeriksa bahu dan kepala Nadira. Setelah memastikan tidak ada cedera serius, dia membantu Nadira duduk.

Tatapan Nadira menemukan aku di tribun.

Ada rasa malu di sana.

Dia tidak ingin aku melihat bagian ini.

Aku kembali duduk, bukan karena tidak peduli, melainkan karena wajahnya memintaku tidak membuat jatuh itu lebih besar daripada yang sebenarnya.

Latihan dihentikan lima menit. Nadira datang ke tribun sambil membawa handuk.

“Kalau mau tertawa, sekarang,” katanya.

“Saya sedang menghitung.”

“Apa?”

“Empat jatuh.”

“Lima.”

“Yang tadi lebih mirip keputusan buruk daripada jatuh.”

Dia menjatuhkan diri di kursi sebelahku. “Aku kelihatan payah.”

“Kelihatannya sakit.”

“Itu bukan jawaban.”

Aku menyerahkan air putih. “Saya belum pernah lihat orang jatuh seindah itu.”

“Jangan bohong.”

“Baik. Jatuhnya mengerikan.”

Dia menendang sepatuku pelan.

Aku membuka kotak sarapan. “Lima menit. Makan setengah pisang. Habis itu kalau masih mau jatuh, saya temani menghitung.”

Nadira menatapku. “Kamu nggak mau bilang aku harus berhenti?”

“Coach-mu ada untuk itu.”

“Kamu nggak takut aku cedera?”

“Takut.”

“Lalu kenapa nggak larang?”

Aku melihat permukaan es. “Karena kamu tahu risiko tubuhmu lebih baik daripada saya. Saya cuma bisa memastikan kamu nggak menghadapi semuanya sendirian.”

Wajah Nadira mendadak terlalu tenang.

Dia mengambil pisang, memakannya setengah, lalu berdiri. Sebelum kembali ke es, tangannya menyentuh bahuku.

“Hitung yang benar.”

Percobaan berikutnya gagal, tetapi dia tidak jatuh. Percobaan kedua mendarat dengan goyah. Pada percobaan ketiga, rotasinya selesai dan bilahnya menyentuh es dengan bersih.

Aku berdiri serta bertepuk tangan sendirian.

Coach Maya menoleh tajam. Aku segera duduk.

Nadira meluncur melewatiku dengan senyum yang tidak berhasil dia sembunyikan.

Setelah latihan, dia kembali ke tribun dengan pipi merah dan rambut berantakan.

“Jadi?” tanyanya.

“Esnya mulai tahu diri.”

“Tentang aku.”

Aku menatap perempuan yang baru jatuh lima kali dan masih meminta satu kesempatan lagi. Di televisi, keindahannya terlihat mudah. Dari sini, aku akhirnya tahu berapa banyak benturan yang disembunyikan oleh satu pendaratan sempurna.

“Kamu hebat,” kataku.

Tidak ada candaan sesudahnya.

Nadira menunduk, tetapi aku sempat melihat matanya berkaca-kaca.

“Datang lagi Selasa,” katanya.

“Saya kerja.”

“Tukar shift.”

“Kamu suka menyuruh.”

“Dan kamu biasanya menurut.”

Aku hendak menyangkal, lalu menyadari sedang berdiri di arena pukul tujuh pagi sambil membawa sarapan yang tidak diminta.

Nadira tersenyum menang. “Selasa. Jam enam sore.”

“Baik.”

“Bawa kopi.”

“Tentu.”

“Dan Erga?”

“Hm?”

Dia mendekat, merapikan kerah jaketku yang sebenarnya tidak berantakan. “Apronmu masih sama aku.”

“Saya tahu.”

“Kalau mau kembali, ambil sendiri.”

Lalu dia pergi ke ruang ganti, meninggalkanku memahami bahwa undangan Selasa mungkin tidak sepenuhnya tentang latihan.

Sebelum pergi, Coach Maya menghampiriku. Aku bersiap ditegur karena bertepuk tangan, tetapi dia justru melihat kotak sarapan yang sudah kosong.

“Dia biasanya menolak makan saat latihan buruk,” katanya.

“Saya mengancam akan menyalahkan es.”

“Apa pun caranya, berhasil.” Tatapannya tajam. “Tapi jangan membuat dia kehilangan fokus.”

“Saya nggak berniat.”

“Orang jarang berniat.”

Nadira keluar lagi dengan telapak tangan lecet. Dia menyerahkannya kepadaku begitu saja. Aku membersihkan luka kecil dan menempelkan plester, sementara jemarinya menggenggam dua jariku agar tidak bergerak.

“Kalau aku gagal di kejuaraan nanti?” tanyanya.

“Kita salahkan es.”

“Serius.”

Aku merapikan ujung plester. “Kamu akan pulang, minum kopi, marah dua hari, lalu latihan lagi.”

“Kamu yakin?”

“Saya baru lihat kamu jatuh lima kali demi satu pendaratan. Jawabannya jelas.”

Genggamannya mengencang.

“Kalau aku menang?”

“Kamu tetap pulang dan minum kopi. Bedanya, saya kasih cheesecake gratis.”

“Cuma cheesecake?”

“Hadiah lain bisa dinegosiasikan setelah hasil keluar.”

Nadira menatap bibirku begitu terang-terangan sampai aku menyadari pilihan kata sendiri.

“Aku ingat itu,” katanya.

Aku juga. Sayangnya, tubuhku mengingat tatapan itu lebih baik daripada kepala mengingat cara menjaga jarak.