Chapter Fourteen
Bau Kopi dan Tempat Aman
POV: Zivana Nadira
Aku tidak kehilangan keseimbangan di mobil.
Aku hanya sengaja menyandarkan kepala ke bahu Erga lima menit setelah kami berangkat.
“Ngantuk?” tanyanya.
“Nggak.”
“Pusing?”
“Nggak.”
“Leher sakit?”
“Erga.”
“Hm?”
“Diam.”
Dia diam. Mobil yang kami pesan melaju pelan melewati hujan. Aku menggenggam lengannya supaya tidak bergeser saat kendaraan berbelok. Kemejanya membawa aroma kopi, sabun, dan sedikit vanila.
“Aku suka baumu,” kataku.
Tubuh Erga menegang. “Kedengarannya mengkhawatirkan.”
“Bau kopi.”
“Itu lebih masuk akal.”
“Bikin terasa seperti pulang.”
Kali ini dia tidak membalas.
Aku hampir mengangkat kepala karena malu, tetapi tangan Erga bergerak dan menutupi jemariku yang melingkari lengannya.
“Tidur saja,” katanya pelan. “Masih empat puluh menit.”
Aku memejamkan mata.
Tidak benar-benar tidur. Aku mendengarkan napasnya, suara hujan, dan sesekali getaran ponsel. Erga tidak pernah memeriksanya karena tangan satunya tetap berada di atas tanganku.
Aku tumbuh dengan banyak tempat. Rumah besar milik Mama. Hotel saat kompetisi. Ruang ganti. Apartemen sementara dekat arena. Namun kata pulang tidak pernah benar-benar melekat pada bangunan.
Ternyata pulang bisa berbau kopi dan duduk kaku karena takut membangunkan seseorang.
Mobil berhenti mendadak. Tubuhku terdorong, dan Erga menahan bahuku.
“Maaf,” kata pengemudi.
“Nggak apa-apa,” jawab Erga.
Aku tetap menyandar. “Aku belum jatuh.”
“Saya tahu.”
“Tangannya boleh tetap di situ.”
Telapak tangannya berada di bahuku. Perlahan turun ke lengan, lalu berhenti pada siku. Sentuhan itu sopan, hampir terlalu sopan.
“Kamu selalu setakut ini menyentuh perempuan?” tanyaku.
“Nggak.”
Aku mengangkat kepala. “Oh?”
“Cuma perempuan yang bisa menghancurkan fokus saya dengan kebaya.”
Aku tersenyum dan kembali menyandar. “Bagus.”
“Apa yang bagus?”
“Berarti khusus.”
Dia tidak menyangkal.
Di tengah perjalanan, Mama menelepon. Aku mengangkat tanpa mengubah posisi.
“Kamu di mana?”
“Pulang.”
“Sama siapa?”
Aku menatap Erga. Dia menggeleng kecil, mungkin meminta agar tidak menimbulkan masalah.
“Teman,” jawabku.
“Keenan?”
“Bukan.”
“Siapa?”
“Nanti aku kenalkan.”
Erga menoleh cepat. Aku menutup telepon sebelum Mama bisa mengejar.
“Kenalkan?” tanyanya.
“Kamu keberatan?”
“Sebagai apa?”
Pertanyaan itu kembali muncul: apa kami?
Kasir dan pelanggan tidak berpelukan lama di tribun. Teman tidak meletakkan tangan di pinggang sambil bertukar izin. Namun pacar juga belum. Kami berada di ruang di antara nama-nama, cukup dekat untuk saling menginginkan dan cukup takut untuk menyebutnya.
“Sebagai orang yang kopinya sering kuminum,” jawabku.
“Aman.”
“Dan orang yang bau bajunya kusuka.”
“Kurang aman.”
“Dan orang yang hampir kucium.”
“Sangat tidak aman.”
Aku tertawa. Ketika mobil tiba di depan rumah, aku belum ingin turun.
“Masuk?” tanyaku.
Erga melihat rumah besar di balik pagar. “Malam ini?”
“Takut ketemu Mama?”
“Saya pakai kemeja bau kopi dan belum punya jawaban untuk pertanyaan sebagai apa.”
“Jawab kasir.”
“Lalu kenapa kasirnya mengantar kamu pulang?”
Aku mendekat ke telinganya. “Karena pelanggannya cantik dan sangat dia suka.”
Erga memalingkan wajah. Jarak bibir kami nyaris hilang. Tidak ada yang bergerak selama beberapa detik.
Aku belum siap meminta. Dia tidak akan mengambil tanpa diminta.
Jadi aku mencium sudut bibirnya—begitu dekat hingga napas kami sama-sama berhenti, tetapi tetap bukan bibir sepenuhnya.
“Selamat malam, Mas Kasir.”
Aku turun sebelum keberanian mengkhianatiku.
Di balik pagar, aku menoleh. Erga masih duduk di mobil dengan dua jari menyentuh sudut bibir.
Malam itu aku akhirnya mengaku kepada diri sendiri.
Aku bukan lagi sekadar nyaman.
Aku jatuh cinta kepada Erga Oktariano, dan dari caraku terus mendekat, sepertinya aku tidak berniat jatuh dengan anggun.
Mama menungguku di ruang keluarga. Tatapannya turun ke wajahku, lalu ke mobil yang baru pergi.
“Teman?” tanyanya.
“Iya.”
“Teman yang membuatmu lupa melepas senyum dari pintu sampai sofa?”
Aku duduk dan mengambil bantal. “Namanya Erga.”
“Atlet?”
“Kasir kedai kopi.”
Mama terdiam terlalu lama. Aku langsung defensif.
“Kenapa?”
“Mama belum bilang apa-apa.”
“Wajah Mama bilang banyak.”
Dia duduk di sampingku. “Kamu suka dia?”
Aku bisa berbohong kepada Erga, Tiara, bahkan diri sendiri selama beberapa minggu. Malam ini rasanya melelahkan.
“Iya.”
Kata itu menakutkan dan melegakan pada saat bersamaan.
“Dia tahu?”
“Mungkin.”
“Kamu bilang?”
“Belum.”
“Lalu bagaimana dia tahu?”
Aku mengingat semua tindakanku dan menutupi wajah dengan bantal. “Aku cukup jelas.”
Mama tertawa, lalu menjadi serius. “Kejuaraan tinggal dekat. Jangan sampai hubungan baru mengganggu fokus.”
Ketakutan lama langsung bangun. “Makanya aku belum bilang.”
“Kamu takut dia menuntut waktu?”
“Semua orang akhirnya menuntut.”
Mama tidak menyangkal. Sebagian dari keyakinan itu berasal darinya.
Ponselku berbunyi. Pesan dari Erga.
Sudah masuk rumah?
Sudah.
Pergelangan dikompres sebelum tidur.
Tidak ada permintaan agar aku menelepon, tidak ada keluhan karena waktuku sedikit. Hanya perhatian yang bahkan tidak menuntut balasan.
Mama membaca ekspresiku. “Dia membuatmu tenang?”
“Dia membuatku mau pulang.”
Malam itu, aku menyimpan kalimat tersebut untuk diriku sendiri. Belum kuberikan kepada Erga. Namun untuk pertama kalinya, cinta tidak terasa seperti ancaman terhadap mimpiku.
Ia terasa seperti seseorang yang menunggu lampu arena padam dan tetap mengenaliku tanpa kostum.
Sebelum tidur, aku menelepon Erga. Dia mengangkat pada dering kedua.
“Pergelangannya sudah dikompres?” adalah kalimat pertamanya.
“Sudah, Dokter Kasir.”
“Bagus.”
“Aku bilang ke Mama soal kamu.”
Hening.
“Soal apa?”
“Bahwa kamu kasir. Jangan geer.”
“Saya hampir menyiapkan pidato.”
“Dia mau ketemu.”
“Besok saya pindah negara.”
Aku tertawa. Setelah tawa reda, suara kami sama-sama melambat.
“Erga, kalau suatu hari aku pergi lama, kamu bakal gimana?”
“Pergi ke mana?”
“Entah. Latihan. Kompetisi.”
Dia tidak langsung menjawab. “Saya akan tetap buka kedai.”
Jawaban itu membuat dadaku dingin. “Cuma itu?”
“Dan menunggu kamu mengeluh kopinya terlalu pahit lewat telepon.”
Hangatnya kembali, tetapi ada sesuatu yang mengganjal. Erga tidak berkata akan menahanku. Sebagian diriku lega. Bagian lain ingin sekali dibutuhkan.
“Kamu nggak akan minta aku tinggal?”
“Kamu ingin saya minta?”
Aku belum mampu menjawab.
“Tidur,” kataku akhirnya. “Besok kamu kerja.”
Setelah telepon berakhir, pertanyaan itu tetap terbuka. Aku jatuh cinta kepada lelaki yang memberiku ruang bernapas. Aku belum tahu bahwa suatu hari nanti, ruang yang sama bisa terasa seperti jarak.
Pagi berikutnya, aku menemukan satu pesan yang dikirim Erga pukul dua belas lewat tujuh belas.
Kalau kamu pergi lama, saya mungkin nggak akan minta kamu tinggal. Tapi bukan berarti saya nggak ingin kamu pulang.
Aku membaca pesan itu sambil duduk di tepi ranjang. Dada yang sejak semalam terasa berat perlahan menghangat.
Aku membalas dengan foto apron cokelatnya yang masih kusimpan.
Kalau mau aku pulang, barangmu jangan diambil dulu.
Itu apron operasional.
Sekarang jaminan.
Jaminan apa?
Aku berpikir lama sebelum menjawab.
Bahwa selalu ada alasan buat balik.
Erga tidak membalas dengan candaan. Dia hanya mengirim satu kalimat.
Kalau begitu simpan baik-baik.
Aku melipat apron itu dan meletakkannya di bagian lemari yang biasa kupakai menyimpan kostum kompetisi. Benda itu tidak mahal, tidak indah, dan masih sedikit berbau kopi.
Namun pagi itu, nilainya terasa lebih besar daripada semua medali yang dipajang Mama di ruang keluarga.
- 1 Pelanggan Terakhir
- 2 Tempat Aku Boleh Kalah
- 3 Kopi yang Tidak Pernah Habis
- 4 Kursi Milikku
- 5 Kasir yang Terlalu Ramah
- 6 Tiga Jam untuk Satu Tatapan
- 7 Bidadari di Depan Mesin Kasir
- 8 Aku Datang untuk Kamu
- 9 Dunia di Atas Es
- 10 Tangannya di Pinggangku
- 11 Bahasa yang Kupelajari untukmu
- 12 Tarik Apron, Pangkas Jarak
- 13 Jatuh ke Pelukan yang Tepat
- 14 Bau Kopi dan Tempat Aman reading
- 15 Poster Tanpa Nama
- 16 Kalau Aku Mau Baristanya
- 17 Benda yang Bisa Dijual
- 18 Ciuman di Telapak Tangan
- 19 Kursi yang Salah
- 20 Dua Tahun
- 21 Pulang dalam Keadaan Apa Pun
- 22 Minta Aku Tinggal
- 23 Pergilah
- 24 Kalau Kamu Minta
- 25 Tiket yang Tidak Dijual
- 26 Orang yang Kucari
- 27 Aku Cukup Melihatmu Bersinar
- 28 Bintang yang Turun dari Arena
- 29 Jangan Cintai Aku dari Jauh
- 30 Kebaya yang Sama