Chapter Three
Kopi yang Tidak Pernah Habis
POV: Erga
Tiga hari setelah Nadira memintaku datang ke latihan “lain kali”, dia muncul dengan warna bibir yang berbeda.
Aku tidak menyadarinya.
Itu bukan pembelaan. Itu pengakuan sebelum persidangan dimulai.
“Ada yang beda?” tanyanya begitu berdiri di depan kasir.
Aku memperhatikan rambutnya. Diikat seperti biasa. Jaket hitam yang sama. Anting kecil berbentuk garis. Tidak ada luka baru di wajah.
“Sepatunya bersih.”
Nadira menatapku tanpa berkedip. “Aku belum pernah masuk ke sini pakai sepatu skate.”
“Makanya bersih.”
“Lihat yang benar.”
Aku mencoba lagi. Ada sesuatu pada wajahnya, tetapi menatap terlalu teliti terasa seperti tindakan yang perlu surat izin.
“Kamu tidur cukup?”
“Salah.”
“Makan siang?”
“Erga.”
Nada suaranya membuat seorang pelanggan yang sedang mengambil sedotan ikut menoleh. Aku menurunkan suara.
“Kasih petunjuk.”
“Kalau dikasih tahu, bukan sadar namanya.”
Dia berbalik dan menuju kursi pojok dengan langkah yang sedikit lebih keras. Aku meminta Sasa membuat pesanannya, lalu berpura-pura sibuk memeriksa stok.
“Lipstik,” bisik Sasa.
Aku menoleh. “Apa?”
“Warna lipstiknya beda.”
“Kamu tahu dari mana?”
“Karena mataku dipakai.”
Aku melirik Nadira. Warna bibirnya memang lebih gelap dari biasanya, merah dengan sedikit cokelat. Cocok dengan kulitnya. Terlalu cocok, sampai aku paham kenapa otakku tadi memilih memperhatikan benda lain.
“Kenapa dia tanya ke aku?”
Sasa berhenti menuang susu. “Kadang aku kasihan sama perempuan.”
“Jawab pertanyaanku.”
“Itu jawabannya.”
Aku membawa americano ke meja pojok. Nadira sedang memeriksa ponsel dan tidak mendongak ketika cangkir diletakkan.
“Lipstiknya bagus,” kataku.
“Sasa bilang?”
“Aku punya mata.”
“Tapi perlu bantuan buat memakainya.”
“Aku lebih cepat menyadari hal penting.”
Kali ini dia mendongak. “Lipstikku nggak penting?”
Aku menunjuk pergelangan tangan kanannya. “Kamu menahan cangkir pakai tangan kiri sejak masuk. Pergelanganmu sakit lagi?”
Wajah Nadira berubah. Kekesalan masih ada, tetapi sekarang bercampur sesuatu yang lebih sunyi.
“Sedikit.”
“Jatuh?”
“Dua kali.”
“Enam jadi dua. Berarti esnya mulai takut.”
Aku kembali ke belakang meja, mengambil kantong gel dingin dari freezer kecil, lalu membungkusnya dengan serbet bersih. Ketika kubawa ke meja, Nadira langsung menggeleng.
“Nggak perlu.”
“Saya nggak bertanya.”
“Aku bukan anak kecil.”
“Anak kecil biasanya lebih gampang disuruh merawat luka.”
Dia menatap kantong itu seolah sedang mempertimbangkan melemparkannya ke wajahku. Akhirnya tangan kirinya terulur.
“Biar aku sendiri.”
“Pergelangan yang sakit tangan kanan. Kalau kamu tekan sendiri, bahumu ikut tegang.”
“Sejak kapan kasir jadi fisioterapis?”
“Sejak atlet profesional datang dengan kebiasaan mengambil keputusan buruk.”
Aku duduk di kursi seberang. Nadira meletakkan tangan kanannya di meja dengan enggan. Jemarinya panjang dan ada kapalan kecil di pangkal telapak. Aku menempelkan kantong dingin di sisi pergelangannya tanpa menekan terlalu keras.
Nadira mendesis.
“Sakit?”
“Dingin.”
“Itu biasanya sifat benda yang keluar dari freezer.”
“Kamu selalu nyebelin kalau sedang perhatian?”
“Supaya perhatian saya tidak disalahartikan.”
Kalimat itu keluar lebih cepat daripada pertimbanganku. Mata Nadira terangkat, langsung menangkap wajahku.
“Disalahartikan jadi apa?”
Tanganku masih berada di bawah tangannya, menopang pergelangan agar kantong tidak bergeser. Jarak di antara kami tidak dekat, tetapi sentuhan kecil itu mendadak terasa terlalu jelas.
“Pelayanan premium,” jawabku.
“Oh.”
Hanya satu suku kata. Entah kenapa terdengar kecewa.
Aku menahan kantong itu selama lima menit. Nadira tidak menarik tangannya lagi. Dia juga tidak membuka ponsel. Sesekali ibu jarinya bergerak tanpa sengaja dan menyentuh sisi jariku.
Setiap kali itu terjadi, aku harus mengingatkan diri bahwa menyentuh seseorang karena cedera bukan peristiwa romantis.
Tubuhku tidak terlalu tertarik pada penjelasan tersebut.
Sudut bibirnya naik, membuat warna baru itu terlihat semakin jelas. Aku segera menggeser pandangan ke cangkir.
“Tetap saja,” katanya. “Harusnya kamu sadar.”
“Besok pakai warna hijau. Aku janji langsung tahu.”
“Aku mau terlihat cantik, bukan keracunan.”
“Kamu tetap akan—”
Aku berhenti tepat waktu.
Nadira menyipitkan mata. “Tetap akan apa?”
“Tetap akan dikenali.”
“Pengecut.”
Aku memilih mundur sebelum mulutku menciptakan masalah yang tidak bisa diselesaikan dengan diskon karyawan.
Seorang perempuan berdiri di depan kasir beberapa menit kemudian. Usianya mungkin dua puluhan, membawa laptop dan memakai kartu identitas kantor. Setelah membayar latte, dia tidak segera pergi.
“Mas, boleh minta akun Instagram?”
“Instagram kedai ada di struk.”
“Bukan kedainya.” Dia tersenyum. “Punya Mas.”
Aku belum sempat menjawab ketika suara kursi bergeser dari pojok.
“Erga.”
Aku menoleh. Nadira mengangkat cangkirnya.
“Ini salah.”
“Apa yang salah?”
“Rasanya.”
Aku meminta maaf kepada pelanggan di depanku, menyerahkan struk, lalu menghampiri Nadira. Dia mendorong cangkir.
Aku mencicipi sedikit memakai sendok baru. Rasanya persis seperti yang kubuat setiap malam.
“Salahnya di mana?”
“Terlalu pahit.”
“Americano memang pahit.”
“Biasanya nggak sepahit ini.”
Aku menatap wajahnya. Dia balas menatap dengan ekspresi tenang, kecuali ujung jarinya mengetuk meja terlalu cepat.
Pelanggan perempuan tadi masih berdiri di dekat pintu, memeriksa struk seolah akun pribadiku mungkin tercetak secara ajaib di belakangnya.
“Mau kubuatkan baru?” tanyaku.
“Nggak perlu.”
“Tambah air?”
“Nggak.”
“Gula?”
Nadira terlihat tersinggung. “Kamu tahu aku nggak pakai gula.”
“Berarti kopinya tidak salah.”
“Aku bilang salah, ya salah.”
Aku menahan senyum. “Baik.”
Dia menarik cangkir kembali, lalu meminumnya dua teguk tanpa ekspresi. Kopi yang katanya salah itu akhirnya dihabiskan untuk pertama kali sejak aku mengenalnya.
Pelanggan perempuan tadi pergi.
Ketukan jari Nadira berhenti.
Menarik.
Aku tidak cukup berani menyebutnya cemburu. Ada perbedaan antara mencintai seseorang dan sengaja mencari bukti bahwa dia mungkin mencintaimu juga. Yang kedua bisa mengubah orang waras menjadi penafsir cuaca dari gerakan alis.
Jadi aku mengambil cangkir kosong tanpa komentar.
“Masih pahit?” tanyaku.
“Sangat.”
“Tapi habis.”
“Aku menghargai jerih payah pegawai kecil.”
“Terima kasih, Yang Mulia.”
Nadira mengangkat dagu, tetapi matanya menyimpan tawa.
Sebelum pulang, dia berhenti di depan kasir. Tidak ada pelanggan lain. Sasa sedang membawa sampah ke belakang.
“Warna ini benar-benar bagus?” tanyanya.
Kali ini aku melihat langsung ke bibirnya. Kesalahan besar. Jarak kami hanya dipisahkan meja kasir dan sisa keberanianku.
“Bagus,” jawabku.
“Cuma bagus?”
Aku menarik napas. “Bikin susah fokus kerja.”
Nadira terdiam. Untuk pertama kalinya malam itu, dia terlihat tidak punya jawaban.
Aku hampir merasa menang sampai dia mendekat sedikit.
“Kalau begitu,” katanya pelan, “besok aku pakai lagi.”
Dia pergi dengan senyum kecil, meninggalkanku di depan mesin kasir yang mendadak terlalu panas.
Aku menatap cangkirnya di bak cuci.
Biasanya kopi Nadira tidak pernah habis.
Malam ini, tidak ada setetes pun tersisa.
Dan meski aku tahu seharusnya tidak mencari makna di dasar cangkir, harapan tetap tumbuh di tempat paling bodoh.
Sasa kembali dari belakang sambil membawa kantong sampah. Dia melihat pintu yang baru saja tertutup, lalu pergelangan tanganku yang masih dingin karena kantong gel.
“Tadi kamu pegang tangannya?”
“Cedera.”
“Itu diagnosis atau alasan?”
Aku mengambil cangkir Nadira dan membawanya ke bak cuci. “Tolong matikan lampu depan.”
“Warna lipstiknya apa?”
Aku membuka keran terlalu keras. “Merah kecokelatan.”
Sasa terdiam sesaat, lalu tertawa sampai harus berpegangan pada meja.
“Katanya nggak sadar.”
“Tadi sudah lihat.”
“Dan sekarang hafal.”
Aku tidak membalas. Di dasar cangkir, ada bekas samar warna bibir Nadira. Aku membilasnya sampai hilang, tetapi warna yang sama telanjur menetap di kepala.
- 1 Pelanggan Terakhir
- 2 Tempat Aku Boleh Kalah
- 3 Kopi yang Tidak Pernah Habis reading
- 4 Kursi Milikku
- 5 Kasir yang Terlalu Ramah
- 6 Tiga Jam untuk Satu Tatapan
- 7 Bidadari di Depan Mesin Kasir
- 8 Aku Datang untuk Kamu
- 9 Dunia di Atas Es
- 10 Tangannya di Pinggangku
- 11 Bahasa yang Kupelajari untukmu
- 12 Tarik Apron, Pangkas Jarak
- 13 Jatuh ke Pelukan yang Tepat
- 14 Bau Kopi dan Tempat Aman
- 15 Poster Tanpa Nama
- 16 Kalau Aku Mau Baristanya
- 17 Benda yang Bisa Dijual
- 18 Ciuman di Telapak Tangan
- 19 Kursi yang Salah
- 20 Dua Tahun
- 21 Pulang dalam Keadaan Apa Pun
- 22 Minta Aku Tinggal
- 23 Pergilah
- 24 Kalau Kamu Minta
- 25 Tiket yang Tidak Dijual
- 26 Orang yang Kucari
- 27 Aku Cukup Melihatmu Bersinar
- 28 Bintang yang Turun dari Arena
- 29 Jangan Cintai Aku dari Jauh
- 30 Kebaya yang Sama