Chapter Twenty
Dua Tahun
POV: Zivana Nadira
Tawaran itu nyata.
Dua tahun berlatih di pusat skating Eropa, akses ke koreografer internasional, kompetisi kualifikasi, serta jalur menuju panggung yang selama ini kuimpikan.
Semua orang mengucapkan selamat.
Aku hanya ingin tahu apakah Erga akan memintaku tinggal.
Sore setelah rapat federasi, aku datang ke kedai. Erga sudah tahu. Coach Maya rupanya menghubungi tim sponsor, dan berita menyebar cepat.
Di meja pojok ada folder bening.
“Apa ini?” tanyaku.
“Informasi kota tujuan.”
Aku membukanya. Daftar apartemen dekat arena. Rute kereta. Perkiraan biaya hidup. Tiga kedai kopi yang buka sampai malam. Bahkan ada catatan mana yang menyediakan americano tanpa gula.
“Kamu buat ini kapan?”
“Tadi siang.”
“Aku belum menerima tawarannya.”
“Tapi kamu akan mempertimbangkan.”
Aku menutup folder. “Kamu benar-benar pengin aku pergi?”
Erga berdiri di seberang meja, kedua tangan masuk saku apron. “Saya ingin kamu sampai ke tempat yang selama ini kamu kejar.”
“Itu bukan jawaban.”
“Itu jawaban saya.”
“Dua tahun, Erga.”
“Saya bisa menghitung.”
“Aku akan jauh.”
“Ada telepon.”
“Zona waktunya beda.”
“Kita atur.”
Semua jawabannya masuk akal. Aku membenci semuanya.
Aku berdiri dan mendekat sampai jarak kami hilang. “Kamu nggak mau menahan aku?”
Rahangnya mengeras. “Kalau saya tahan, kamu akan bahagia?”
“Aku ingin tahu aku penting.”
“Kamu penting.”
“Nggak kelihatan.”
Tangannya terangkat, hampir menyentuh pinggangku, lalu jatuh kembali.
“Kalau saya bilang jangan pergi, mungkin kamu akan tinggal,” katanya. “Dan suatu hari nanti, saat kamu melihat pertandingan yang seharusnya bisa kamu ikuti, kamu akan ingat saya sebagai alasan kamu tidak ada di sana.”
“Kamu nggak tahu itu.”
“Saya tahu rasanya meninggalkan sesuatu yang dicintai.”
Aku teringat kamera dan kuliahnya. “Jadi karena kamu menyerah, aku harus pergi?”
“Karena saya menyerah, saya nggak akan minta kamu melakukan hal yang sama.”
Dadaku sakit. Aku ingin membantah, tetapi sebagian diriku memahami. Itulah yang membuatnya lebih buruk.
“Kalau aku pergi, apa kita?” tanyaku.
Erga diam terlalu lama.
“Kita belum pernah memberi nama,” jawabnya.
Kalimat itu terasa seperti pintu ditutup tepat di depan wajah.
“Benar,” kataku. “Aku cuma pelanggan yang terlalu sering duduk di pangkuan kasir.”
“Jangan begitu.”
“Lalu bagaimana?”
“Saya nggak tahu.”
Aku tertawa pendek, tanpa senang. “Untuk seseorang yang selalu tahu apa yang baik buat masa depanku, kamu sedikit sekali tahu tentang kita.”
Aku mengambil folder dan tas.
“Nadira.”
“Aku perlu berpikir.”
“Tentang tawarannya?”
Aku memandangnya. “Tentang kenapa aku terus mencoba membuatmu menginginkan aku, sementara kamu selalu siap membiarkanku pergi.”
Wajah Erga retak. Hanya sesaat, tetapi aku melihat sakit di sana.
Dia tetap tidak menahanku.
Di luar kedai, aku membuka folder lagi. Semua informasi disusun rapi. Ada catatan kecil pada halaman terakhir:
Kalau kopinya buruk, telepon. Saya ajari dari jauh.
Aku menekan kertas itu ke dada sambil marah pada ketulusan yang terasa seperti penolakan.
Aku tahu Erga mencintaiku. Setiap halaman dalam folder membuktikannya.
Masalahnya, dia mencintaiku dengan cara yang membuatku bebas pergi.
Dan untuk pertama kalinya, kebebasan terasa sangat mirip dengan tidak dibutuhkan.
Aku tidak langsung pulang. Mobil berhenti dua blok dari kedai, dan aku meminta pengemudi menunggu. Dari balik kaca, lampu Titik Pulang masih terlihat. Erga berdiri di pintu, mungkin berharap aku kembali.
Aku hampir turun.
Ponselku berdering. Coach Maya menanyakan keputusan rapat. Aku mengatakan belum tahu.
“Kesempatan ini tidak datang dua kali,” katanya.
“Aku tahu.”
“Lalu apa yang menahanmu?”
Aku melihat sosok Erga dari kejauhan. “Seseorang yang bahkan nggak mau menahan.”
Coach Maya diam sejenak. “Mungkin karena dia tahu kamu akan membenci tali, siapa pun yang memegangnya.”
“Aku cuma ingin dia bilang ingin aku tinggal.”
“Dan setelah dia bilang?”
Pertanyaan itu menyakitkan karena aku tidak tahu. Jika Erga meminta, mungkin aku benar-benar tinggal. Mungkin beberapa tahun kemudian aku akan menyesal. Mungkin aku akan membencinya. Mungkin dia benar.
Namun memahami alasannya tidak membuat luka terasa lebih kecil.
Aku membuka percakapan kami. Mengetik Aku cinta kamu, lalu menghapusnya. Mengetik Tahan aku, menghapus lagi. Akhirnya kukirim:
Aku sampai rumah.
Balasan datang cepat.
Pergelangannya dikompres.
Aku tertawa pahit. Bahkan saat hubungan kami retak, dia tetap mengingat bagian tubuhku yang sakit.
Aku benci kamu, tulisku.
Tanda mengetik muncul lama.
Saya tahu.
Tidak ada pembelaan. Itu membuat air mataku akhirnya jatuh.
Aku melihat folder di pangkuan. Di antara daftar apartemen dan rute kereta, Erga menyelipkan satu halaman kosong dengan judul: HAL YANG BISA KITA ATUR.
Di bawahnya belum ada isi.
Mungkin dia tidak sepenuhnya siap melepaskan. Mungkin dia hanya tidak tahu cara meminta tempat.
Aku menutup folder. Besok aku akan menerima tawaran itu. Namun sebelum pergi, aku ingin Erga mengatakan satu hal jujur—bukan tentang masa depanku, melainkan tentang apa yang akan kehilangan jika aku benar-benar pergi.
Malam itu aku membuka video latihan, tetapi setiap gerakan terasa kosong. Aku berhenti setelah sepuluh menit dan menelepon Tiara.
“Aku akan ambil tawarannya,” kataku.
“Selamat.”
“Aku nggak merasa senang.”
“Karena Erga?”
“Karena dia sudah menyiapkan hidupku di sana seolah dirinya nggak perlu masuk.”
Tiara diam sebelum bertanya, “Kamu sudah memasukkan dia?”
Pertanyaan itu membuatku kesal. “Aku terus datang. Aku terus menggoda. Aku hampir menciumnya.”
“Itu menunjukkan kamu menginginkan dia sekarang. Bukan bahwa kamu memilihnya dalam rencana dua tahun.”
Aku tidak punya jawaban.
Aku membuka halaman HAL YANG BISA KITA ATUR. Dengan pena, kutulis: panggilan video, jadwal kompetisi, kopi yang dikirim, kunjungan saat jeda musim. Tanganku berhenti pada baris terakhir.
Status kami.
Kosong.
Aku memotret halaman itu dan mengirimkannya kepada Erga.
Bantu isi.
Balasannya datang setelah beberapa menit.
Kapan kita bicara?
Besok.
Di kedai?
Di mana pun kamu nggak bisa kabur.
Gudang?
Untuk pertama kali malam itu, aku tertawa.
Sekarang kamu yang minta?
Katanya saya harus belajar.
Aku menatap pesan itu sampai rasa sakit mereda sedikit. Erga mungkin tidak memintaku tinggal. Namun dia mulai meminta tempat dalam keputusan yang kubuat.
Besok aku akan menerima tawaran dua tahun tersebut.
Setelah itu, aku akan memaksa lelaki paling sabar di dunia menjawab satu pertanyaan yang tidak bisa diselesaikan dengan daftar apartemen: apakah dia hanya ingin melihatku bersinar, atau berani mengakui bahwa dia juga ingin dicintai olehku.
- 1 Pelanggan Terakhir
- 2 Tempat Aku Boleh Kalah
- 3 Kopi yang Tidak Pernah Habis
- 4 Kursi Milikku
- 5 Kasir yang Terlalu Ramah
- 6 Tiga Jam untuk Satu Tatapan
- 7 Bidadari di Depan Mesin Kasir
- 8 Aku Datang untuk Kamu
- 9 Dunia di Atas Es
- 10 Tangannya di Pinggangku
- 11 Bahasa yang Kupelajari untukmu
- 12 Tarik Apron, Pangkas Jarak
- 13 Jatuh ke Pelukan yang Tepat
- 14 Bau Kopi dan Tempat Aman
- 15 Poster Tanpa Nama
- 16 Kalau Aku Mau Baristanya
- 17 Benda yang Bisa Dijual
- 18 Ciuman di Telapak Tangan
- 19 Kursi yang Salah
- 20 Dua Tahun reading
- 21 Pulang dalam Keadaan Apa Pun
- 22 Minta Aku Tinggal
- 23 Pergilah
- 24 Kalau Kamu Minta
- 25 Tiket yang Tidak Dijual
- 26 Orang yang Kucari
- 27 Aku Cukup Melihatmu Bersinar
- 28 Bintang yang Turun dari Arena
- 29 Jangan Cintai Aku dari Jauh
- 30 Kebaya yang Sama