Chapter Eight

Aku Datang untuk Kamu

POV: Zivana Nadira

Erga menutup mulutku dengan tangannya.

Itu seharusnya membuatku tersinggung. Tidak ada orang yang berani melakukan hal seperti itu kepadaku, bahkan ketika aku sedang cerewet setelah latihan.

Masalahnya, telapak tangannya hangat dan wajahnya terlihat begitu panik sampai aku ingin mengulangi kalimat yang sama hanya untuk melihat reaksinya lagi.

Setelah pelanggan terakhir pergi, aku masih duduk di kursi pojok dengan apron Erga di bahu. Tiara sudah pulang setelah mengirim pesan bahwa dia tidak mau menjadi obat nyamuk. Tinggal aku dan Erga, disertai mesin kopi yang berdengung rendah.

Dia menghindari tatapanku sejak insiden “lepas”.

“Kamu marah?” tanyaku.

“Nggak.”

“Malu?”

“Sedang mempertimbangkan pindah negara.”

“Aku cuma bercanda.”

“Itu yang membuatnya lebih buruk.”

Aku tahu kalimat itu seharusnya membuatku berhenti. Namun ada kepuasan yang terlalu menyenangkan setiap kali ketenangan Erga retak karena aku. Di depan orang lain, aku selalu menjadi pihak yang harus menjaga ekspresi. Bersama Erga, aku bisa menjadi penyebab kekacauan.

Dia membalik tanda menjadi closed. Sebelum kembali ke meja kasir, aku berdiri dan duduk di atas permukaannya.

“Turun,” katanya.

“Capek.”

“Ada kursi.”

“Aku mau di sini.”

Erga menjaga jarak satu lengan. “Kalau jatuh, jangan masukkan kedai ke daftar pihak yang digugat.”

“Tangkap.”

“Nadira.”

“Kenapa setiap gugup kamu cuma bisa menyebut namaku?”

“Karena doa pendek paling efektif saat darurat.”

Aku tertawa. Dia masih tidak menatap penuh. Jadi aku mengulurkan tangan, menangkap ujung apron yang sudah kukembalikan, lalu menariknya sedikit.

Erga terpaksa maju setengah langkah.

“Lihat aku.”

“Sudah.”

“Yang benar.”

Tatapannya akhirnya naik. Tidak bercanda, tidak menghindar. Matanya bergerak dari sanggulku, anting, bordir kebaya, lalu berhenti pada wajah.

“Aku kelihatan terlalu berlebihan?” tanyaku.

“Nggak.”

“Terlalu berbeda?”

“Kamu tetap kamu.”

“Itu bukan pujian.”

“Buat saya, itu pujian.”

Jari yang memegang apronnya mengendur sedikit.

“Kamu adalah hal terindah yang pernah masuk lewat pintu kedai ini,” katanya. “Dan saya pernah lihat kucing oren masuk sambil bawa ikan curian, jadi standarnya cukup tinggi.”

Aku memukul dadanya pelan. “Kamu nggak bisa serius lebih dari lima detik?”

“Kalau terlalu lama, saya bisa bilang sesuatu yang menyesal saya katakan.”

“Coba.”

Dia menatapku, dan untuk sesaat aku merasa Erga benar-benar akan mengatakannya. Sesuatu yang selama ini tersembunyi dalam air putih yang selalu disiapkan, kursi yang dijaga, dan kantong dingin di pergelanganku.

Namun dia mundur.

“Kenapa datang ke sini?” tanyanya.

Jawaban jujur berada tepat di ujung lidah.

Karena aku ingin kamu melihatku.

Karena seratus pujian tidak berarti sebelum aku mendapat satu darimu.

Karena saat memikirkan diriku terlihat cantik, wajah pertama yang ingin kulihat adalah wajahmu.

“Kebetulan lewat,” jawabku.

Alis Erga terangkat. “Memakai kebaya lengkap pada jam segini?”

“Jakarta penuh kemungkinan.”

“Dan kemacetan.”

“Jangan merusak suasana.”

Aku kembali berlindung di balik candaan. Erga mengizinkannya, seperti biasa. Namun kali ini aku membenci betapa mudahnya dia membiarkanku mundur.

“Kamu benar-benar mau lihat aku latihan?” tanyaku.

“Kalau undangannya tidak dicabut dalam tiga detik.”

“Aku tidak akan cabut.”

“Kapan?”

“Sabtu pagi. Jam tujuh.”

“Pagi sekali.”

Aku menarik apronnya lagi. “Katanya aku menginspirasi.”

“Inspirasi ternyata tidak mengenal jam tidur.”

“Datang.”

“Baik.”

“Jangan terlambat.”

“Baik.”

“Bawakan kopi.”

“Ini undangan atau pesanan katering?”

“Keduanya.”

Aku melepaskan apron, tetapi tangan Erga lebih cepat menangkap pergelangan tanganku. Sentuhannya hati-hati, tepat di bawah bekas nyeri.

“Masih sakit?” tanyanya.

“Sudah lebih baik.”

Ibu jarinya menyentuh sisi pergelangan, singkat dan ringan. Sentuhan itu jauh lebih sederhana daripada semua godaanku, tetapi membuat napasku tersendat.

Aku bisa berbisik tentang melepas kebaya tanpa malu. Namun satu sentuhan penuh perhatian darinya tetap mampu mengacaukan seluruh keberanianku.

“Bagus,” katanya, lalu melepaskanku.

Aku turun dari meja. Langkahku menuju pintu lebih pelan karena kain kebaya, atau mungkin karena aku belum ingin pergi.

“Erga.”

“Ya?”

Aku menoleh. “Aku bohong.”

Dia menunggu.

Aku hampir mengaku. Hampir.

“Latte tadi nggak terlalu manis.”

Erga tersenyum seolah tahu itu bukan kebohongan yang kumaksud. “Hati-hati di jalan.”

Di mobil, aku melepas sepatu hak tinggi dan menyandarkan kepala. Ponselku penuh foto acara. Namun gambar yang terus terulang di kepala adalah wajah Erga ketika melihatku masuk.

Tiara mengirim pesan.

Reaksinya?

Aku mengetik jawaban, menghapusnya, lalu mengetik lagi.

Dia lupa bicara.

Balasan datang cepat.

Sesuai target?

Aku melihat apron cokelat yang entah bagaimana masih kubawa di pangkuan. Erga lupa memintanya kembali. Atau aku sengaja tidak mengembalikan—aku belum memutuskan versi mana yang lebih aman.

Lebih dari target, jawabku.

Aku datang malam itu untuk mendapatkan satu tatapan.

Aku pulang dengan keinginan agar Erga tidak pernah berhenti menatapku.

Sesampainya di rumah, aku menggantung kebaya itu sendiri. Apron Erga masih terlipat di pangkuan. Aku menempelkan kain cokelat itu di depan kebaya biru dan tertawa kecil melihat betapa tidak cocoknya mereka.

Namun ketika kubawa ke wajah, aroma kopi dan sabun membuat kedai terasa dekat. Aku segera menurunkannya begitu sadar sedang mencium apron laki-laki seperti tokoh drama murahan.

“Gila,” gumamku.

Ponselku berbunyi. Pesan dari Erga.

Apronnya jangan dipakai tidur.

Aku memandangi kamera keamanan kecil yang tidak mungkin menjangkau kamar, lalu mengetik.

Geer. Aku taruh di lantai.

Kasihan. Dia tidak salah apa-apa.

Kalau mau menyelamatkan, ambil Sabtu.

Jam tujuh?

Jam enam empat puluh lima. Bawa kopi.

Itu penculikan apron atau pemerasan?

Keduanya.

Aku meletakkan apron di samping bantal. Bukan untuk dipeluk. Hanya supaya tidak kusut—setidaknya itu kebohongan yang kupilih.

Lima menit kemudian, pesan lain masuk.

Kamu benar-benar cantik malam ini.

Tidak ada candaan setelahnya. Aku menekan ponsel ke dada dan menatap langit-langit seperti remaja yang baru pertama kali dipuji.

Seratus orang mengatakan hal serupa malam ini. Hanya kalimat Erga yang membuatku tidak bisa tidur.