Chapter Thirteen

Jatuh ke Pelukan yang Tepat

POV: Erga Oktariano

Setelah Nadira mengatakan permintaan ciumannya hanya ditunda, tidur menjadi kegiatan teoritis.

Aku bekerja, pulang, memejamkan mata, lalu mendengar ulang suaranya. Cium dulu. Disusul tatapan kecewa ketika dia melihat reaksiku berubah.

Tiga hari kemudian, aku datang ke arena dengan tekad menjaga jarak.

Tekad itu bertahan sampai Nadira jatuh ke pelukanku.

Kejadiannya bukan di atas es. Latihan sudah selesai. Dia berjalan memakai pelindung bilah, membawa tas besar, sementara aku menunggu dekat pintu dengan kopi. Salah satu tali tas tersangkut pada ujung bangku. Nadira kehilangan keseimbangan tepat ketika aku mendekat.

Tubuhnya menghantam dadaku. Satu tanganku menangkap pinggang, tangan lain menahan punggungnya.

Tas jatuh. Kopi selamat secara ajaib.

Nadira memeluk leherku karena refleks. Wajahnya hanya beberapa sentimeter dari wajahku.

“Aku nggak jatuh,” katanya.

“Tentu.”

“Kamu yang berdiri di jalan.”

“Saya memang sering berjalan dengan bangku terikat di kaki.”

Dia tidak segera berdiri.

Aku juga tidak melepaskan.

Tubuhnya pas di antara kedua lenganku, lebih ringan daripada dugaanku dan jauh lebih berbahaya. Napas Nadira menyentuh dagu. Jemarinya tetap bertaut di belakang leherku.

“Sudah seimbang?” tanyaku.

“Belum.”

Kakinya sudah menapak sempurna.

“Nadira.”

“Lantainya licin.”

“Karpetnya kering.”

“Aku atlet. Percaya penilaianku.”

Aku tertawa pelan. Dada Nadira bergerak mengikuti tawa kecilnya. Beberapa atlet lewat dan pura-pura tidak melihat. Keenan justru mengangkat kedua jempol sebelum masuk ruang ganti.

“Temanmu mendukung proses evakuasi,” kataku.

Nadira menoleh sebentar, lalu memeluk leherku lebih erat. “Biarin.”

Satu kata itu mengubah pelukan konyol menjadi sesuatu yang tidak bisa lagi kusebut kecelakaan.

Tanganku di pinggangnya mengencang sedikit. Nadira kembali menatapku. Tidak ada candaan di wajahnya sekarang.

Aku bisa mencium dia. Hanya perlu menunduk sedikit. Dia tidak akan menolak—atau setidaknya tubuhnya tidak menunjukkan penolakan.

Namun kalimatnya malam itu kembali teringat: belum siap menjelaskan artinya.

Aku melepaskan pinggangnya perlahan.

“Sekarang seimbang,” kataku.

Nadira berdiri sendiri. Kekecewaan melintas di wajahnya, lalu disembunyikan dengan cepat.

“Pengecut.”

“Disiplin.”

“Membosankan.”

“Masih bawa kopi.”

“Dimaafkan sedikit.”

Kami duduk di tribun. Nadira membuka tutup cangkir dan menemukan gambar sepatu skate kecil yang kubuat dengan spidol.

“Jelek,” katanya.

“Saya berhenti kuliah desain, bukan berarti kehilangan rasa.”

“Kamu kuliah desain?”

Aku menyesal menyebutnya. “Dulu.”

“Kenapa berhenti?”

“Ayah meninggal. Ibu sakit. Ada hal yang lebih mendesak.”

Nadira tidak langsung memberi simpati. Aku menghargainya. Belas kasihan adalah alasan utama aku jarang bercerita.

“Kamu masih suka?” tanyanya.

“Kadang.”

“Masih menggambar?”

“Di cangkir pelanggan galak.”

“Serius.”

“Sesekali.”

Dia mengambil cangkirku dan membandingkan gambar seadanya itu dengan logo sepatu di tasnya. “Buat aku sesuatu.”

“Apa?”

“Terserah.”

“Pesanan desain harganya mahal.”

Nadira mendekat. “Bisa kubayar.”

Aku langsung mengenali nada itu. “Pakai uang.”

“Nggak seru.”

“Justru sangat membantu ekonomi.”

Dia tertawa. Setelah itu, tatapannya turun ke tanganku.

“Tadi kenapa lepas?”

“Kamu sudah berdiri.”

“Bukan itu.”

Aku memutar cangkir. “Kamu bilang belum siap.”

“Untuk dicium. Bukan dipeluk.”

“Informasi penting sebaiknya diberikan di awal.”

Nadira membuka kedua tangan. “Sekarang sudah tahu.”

“Apa ini?”

“Kesempatan revisi.”

Aku menatap sekeliling. Arena hampir kosong. Coach Maya berbicara di ujung lain. Keenan sudah pergi.

“Kamu benar-benar menyebalkan,” kataku.

“Tapi?”

Aku menariknya ke dalam pelukan.

Kali ini tidak ada jatuh, tas tersangkut, atau alasan keseimbangan. Nadira langsung melingkarkan tangan di pinggangku dan menyandarkan wajah di dada.

Kami diam cukup lama sampai aku lupa arena itu dingin.

“Begini lebih baik,” gumamnya.

“Masih licin?”

“Sangat.”

Aku tersenyum di atas kepalanya.

Saat Nadira akhirnya melepaskan diri, pipinya merah. Dia mengambil tas tanpa menatapku.

“Besok antar pulang,” katanya.

“Perintah lagi?”

“Aku mungkin kehilangan keseimbangan di mobil.”

Aku tidak bertanya bagaimana seseorang bisa kehilangan keseimbangan sambil duduk.

Aku sudah belajar bahwa bersama Nadira, hukum fisika sering kali hanya alasan untuk mendekat.

Aku mengantarnya pulang keesokan malam seperti yang diperintahkan. Di dalam mobil, Nadira duduk lebih dekat daripada perlu meski bangku belakang luas.

“Kamu belum buat desain pesananku,” katanya.

“Baru sehari.”

“Pelayananmu lambat.”

“Kliennya belum bayar uang muka.”

“Aku bisa bayar sekarang.”

“Uang.”

“Kamu terobsesi uang.”

“Tagihan juga.”

Dia membuka galeri dan menunjukkan beberapa foto skating. “Pilih satu.”

Aku menggulir perlahan. Kebanyakan menampilkan Nadira pada pose akhir atau saat terbang. Aku berhenti pada foto ketika dia baru selesai mendarat. Rambutnya sedikit berantakan dan senyumnya kecil, hampir tidak terlihat.

“Yang ini,” kataku.

“Kenapa? Posisi tanganku jelek.”

“Kamu terlihat bahagia.”

Nadira mengambil kembali ponsel dan memperbesar foto. “Orang biasanya pilih yang saat lompat.”

“Orang melihat apa yang mereka suka.”

“Dan kamu suka aku yang berantakan?”

“Saya suka kamu yang sungguhan.”

Dia tidak membalas. Beberapa menit kemudian, kepalanya jatuh ke bahuku. Tangan kirinya melingkari lenganku.

“Bajumu bau kopi,” katanya.

“Keluhan?”

“Belum tahu.”

Hujan mulai turun di luar. Pengemudi menaikkan AC karena kaca berembun. Nadira semakin merapat, dan aku meletakkan jaket di atas kakinya.

“Erga.”

“Hm?”

“Kalau nanti aku terlalu banyak minta, bilang.”

Aku memandang tangannya yang memegang lenganku. “Sejauh ini, saya masih mampu.”

“Aku bisa lebih merepotkan.”

“Sudah terlihat potensinya.”

Dia mencubit pelan. Lalu, seolah baru mengambil keputusan, Nadira menyelipkan jemarinya di antara jemariku.

Kami bergandengan tangan sampai mobil tiba. Tidak ada candaan yang bisa menyamarkan itu sebagai kecelakaan.

Ketika dia turun, telapak tanganku terasa dingin karena kehilangan hangatnya.

Aku mulai memahami bahaya sebenarnya. Bukan Nadira yang terus mendekat. Aku juga mulai menunggu setiap kesempatan untuk tidak menjauh.

Pada malam yang sama, dia mengirim foto kopi instan dari rumah.

Rasanya menyedihkan.

Saya sudah bilang jangan berharap dari bubuk dalam sachet.

Antar kopi.

Kedai tutup.

Baristanya masih hidup.

Aku tertawa, tetapi lima belas menit kemudian benar-benar membuat kopi menggunakan alat manual di rumah. Bima melihatku menuangnya ke botol termos kecil.

“Mau ke mana?”

“Mengantar pesanan.”

“Jam sebelas malam?”

“Pelanggan prioritas.”

Bima menatap kemeja yang baru kuganti. “Pelanggan atau calon kakak ipar?”

Aku mengambil kunci motor dan pergi sebelum interogasi berlanjut.

Nadira menungguku di pos keamanan komplek memakai hoodie besar dan sandal. Tidak ada kebaya, riasan, atau lampu arena. Dia tetap membuatku lupa kalimat pembuka.

“Kamu benar-benar datang,” katanya.

“Ada biaya antar.”

“Bayarannya nanti.”

Dia menerima termos, tetapi tidak langsung kembali. Kami duduk di bangku dekat pos, berbagi satu cangkir karena aku lupa membawa dua.

“Kamu nggak harus selalu menurut,” katanya.

“Saya tahu.”

“Terus kenapa datang?”

Aku menatap uap kopi. “Karena saya mau.”

Nadira menyandarkan kepala di bahuku. Kami menghabiskan minuman dalam diam. Tidak ada sentuhan berani atau kalimat nakal. Hanya dua orang duduk terlalu malam karena belum siap berpisah.

Saat aku pulang, Nadira berdiri di bawah lampu gerbang sambil memeluk termos. Pemandangan sederhana itu terasa lebih intim daripada hampir berciuman.