Chapter One
Pelanggan Terakhir
POV: Erga Oktariano
Zivana Nadira selalu datang sebelas menit sebelum kedai tutup.
Bukan sepuluh. Bukan dua belas. Sebelas.
Aku pernah berpikir itu kebetulan, sampai kebetulan yang sama terjadi empat kali dalam seminggu selama hampir dua tahun. Sekarang, setiap jam menunjukkan pukul sembilan lewat empat puluh sembilan, tanganku akan otomatis mengambil cangkir hitam dari rak paling atas.
Satu americano hangat tanpa gula.
Segelas air putih.
Sepotong cheesecake dengan whipped cream lebih banyak dari ukuran resmi kedai.
Pesanannya cuma americano. Dua lainnya adalah bentuk ketidakprofesionalanku sebagai kasir.
“Kalau terus begini, kedai kita bangkrut gara-gara whipped cream.”
Sasa muncul dari belakang mesin espresso sambil membawa lap. Tatapannya turun ke piring di tanganku, lalu naik ke wajahku dengan ekspresi seorang auditor yang baru menemukan penyelewengan anggaran.
“Nggak akan.” Aku menambahkan satu putaran krim lagi. “Aku potong dari jatah makan.”
“Gajimu aja hampir nggak cukup buat disebut gaji.”
“Makanya gampang dipotong.”
Sasa mendengus. “Dia belum tentu datang.”
Jam digital di dinding berubah menjadi 21.49.
Bel kecil di atas pintu berbunyi.
Aku tidak perlu menoleh untuk tahu siapa yang masuk. Udara malam ikut menerobos bersama aroma dingin yang samar, lalu terdengar suara tas diletakkan di lantai dekat kursi pojok.
Sasa menatapku.
Aku mengangkat bahu seolah tidak baru memenangkan perdebatan yang bahkan tidak kami ucapkan.
Nadira mengenakan jaket olahraga hitam dengan logo federasi di dada. Rambutnya diikat asal, beberapa helai menempel di pelipis. Tidak ada riasan, tidak ada senyum untuk kamera, dan tidak ada kemiripan dengan perempuan yang wajahnya terpampang di layar televisi pusat perbelanjaan dua lantai di bawah.
Kecuali matanya.
Mata itu tetap sama. Tajam, gelap, dan malam ini terlihat sangat lelah.
Dia duduk tanpa membuka jaket. Bahunya sedikit lebih rendah daripada biasanya. Tangan kanannya mengepal di atas paha, sementara tangan kirinya sibuk melepaskan ikat rambut lalu memasangnya kembali.
Hari latihan yang buruk.
Aku membawa pesanannya sebelum dia memanggil.
“Saya belum pesan,” katanya.
“Kami sedang mengadakan program cenayang untuk pelanggan tertentu.”
“Menyeramkan.”
“Terima kasih.”
“Itu bukan pujian.”
“Tetap saya terima. Kedai hampir tutup, saya nggak boleh pilih-pilih.”
Sudut bibirnya bergerak sedikit. Hampir menjadi senyum, tetapi urung di tengah jalan.
Aku meletakkan americano di depannya, air putih di sisi kanan, lalu cheesecake di tengah meja.
Tatapannya langsung tertuju pada whipped cream.
“Aku nggak pesan kue.”
“Salah produksi.”
“Bentuknya bagus.”
“Kesalahannya konseptual.”
Nadira menatapku selama dua detik. “Kamu bohongnya jelek.”
“Tapi kuenya enak.”
Dia tidak membantah. Garpu kecil diambil, lalu ujungnya menyendok whipped cream terlebih dahulu, seperti biasa. Perempuan yang selalu memesan minuman tanpa gula itu punya hubungan rahasia dengan semua benda manis yang tidak tercantum di pesanannya.
Aku tidak mengekspos kemunafikan tersebut. Setiap orang berhak menyimpan rahasia, termasuk atlet nasional yang mencuri krim dari kue salah produksi.
Aku kembali ke belakang meja kasir. Sasa sudah membawa tasnya dan berdiri di dekat pintu staf.
“Aku pulang dulu,” katanya.
“Hati-hati.”
Dia melirik ke arah Nadira, lalu mendekatkan mulut ke telingaku. “Jangan lupa napas.”
“Aku sudah latihan sejak lahir.”
“Nggak kelihatan kalau dia datang.”
Sebelum sempat kubalas, Sasa kabur sambil tertawa kecil.
Aku mulai menghitung uang kas. Biasanya Nadira akan membuka ponsel, memeriksa video latihan, kemudian menggerutu setiap kali menemukan kesalahan. Malam ini layar ponselnya tetap gelap. Americano hanya disentuh sekali. Cheesecake kehilangan seluruh whipped cream, tetapi bagian kuenya masih utuh.
Aku ingin bertanya apa yang terjadi.
Namun Nadira tidak datang ke sini untuk diinterogasi.
Orang-orang sudah menanyakan terlalu banyak hal kepadanya. Kenapa lompatan terakhirnya meleset. Apakah cederanya pulih. Seberapa yakin dia menghadapi kejuaraan nasional. Kenapa performanya menurun. Kapan dia akan membawa medali.
Di kedai ini, dia boleh duduk tanpa jawaban.
Aku mematikan lampu di area depan, menyisakan lampu gantung di atas meja kasir dan satu lampu dinding dekat kursi pojok. Musik juga kuturunkan sampai hanya terdengar seperti gumaman dari langit-langit.
“Udah tutup?” tanya Nadira.
“Belum.”
“Lampunya dimatikan.”
“Penghematan. Whipped cream mahal.”
Kali ini senyumnya benar-benar muncul, meski hanya sebentar.
Lalu dia menyandarkan punggung, melipat kedua tangan di atas meja, dan meletakkan kepala di sana.
“Lima menit,” katanya.
“Silakan.”
“Bangunin.”
“Ada biaya alarm.”
“Potong dari harga whipped cream.”
“Itu aset kedai, Kak.”
Dia mengangkat wajah sedikit. “Jangan panggil Kak.”
“Baik, Bu Nadira.”
“Erga.”
Ada ancaman tipis dalam caranya menyebut namaku. Anehnya, mendengar namaku keluar dari mulutnya selalu terasa seperti menerima sesuatu yang terlalu mahal untuk kubawa pulang.
“Tidur saja,” kataku. “Nanti kubangunin.”
Dia kembali meletakkan kepala.
Lima menit berubah menjadi dua puluh tiga.
Aku tidak membangunkannya.
Aku membersihkan mesin espresso pelan-pelan, memasukkan kursi satu demi satu tanpa menyeret kakinya, lalu mencuci gelas yang sebenarnya sudah bersih. Sesekali aku melihat ke meja pojok untuk memastikan dadanya masih naik turun.
Dalam tidur, wajah Nadira kehilangan semua ketegangan. Alisnya tidak lagi tertarik. Tangannya terbuka di samping pipi. Ada bekas merah tipis di pergelangan yang mungkin berasal dari sarung tangan latihan.
Aku pernah melihatnya tampil di layar besar. Gaun berkilau, rambut tertata sempurna, tubuhnya berputar di atas es seolah gravitasi hanya berlaku kepada orang lain. Komentator menyebutnya anggun. Surat kabar menyebutnya harapan. Orang-orang di media sosial menyebutnya terlalu dingin, terlalu cantik, terlalu ambisius, terlalu banyak hal yang mungkin tidak pernah mereka tanyakan langsung kepadanya.
Di depanku, harapan nasional itu tidur dengan pipi menempel di lengan dan sedikit whipped cream tertinggal di sudut bibir.
Aku menyukainya dalam versi ini.
Masalahnya, aku juga menyukainya dalam semua versi lain.
Aku mengambil tisu, tetapi berhenti sebelum menyentuh wajahnya. Setelah berpikir sebentar, kuletakkan tisu itu di samping piring. Ada batas antara memperhatikan dan merasa berhak. Aku hafal letaknya, meski kadang rasanya menyebalkan.
Pukul sepuluh lewat dua puluh, Nadira bergerak. Matanya terbuka perlahan, kemudian langsung melebar saat melihat kedai telah kosong.
“Jam berapa?”
“Masih hari yang sama.”
Dia meraih ponsel. “Kamu bilang lima menit.”
“Aku bilang nanti kubangunin. Nggak menyebut tahunnya.”
Nadira menatapku galak, tetapi suaranya masih berat oleh tidur. “Kenapa nggak dibangunin?”
“Kelihatannya kamu butuh.”
Jawabanku membuat tatapannya berubah. Tidak banyak—hanya kehilangan sedikit ketajaman.
Dia melihat sekeliling. Lampu redup. Kursi-kursi sudah masuk. Pintu depan terkunci, tetapi tanda open masih menyala. Aku belum membaliknya karena tidak ingin bunyi rantainya membangunkannya.
“Kamu selalu pulang selarut ini?” tanyanya.
“Kalau ada pelanggan yang menjadikan meja kedai sebagai kasur, iya.”
“Kamu bisa usir aku.”
“Bisa.”
“Kenapa nggak?”
Aku menutup laci kasir. “Takut dapat ulasan satu bintang.”
“Pengecut.”
“Saya pekerja bergaji rendah yang memikirkan reputasi.”
Nadira menunduk, memperhatikan cangkir yang kopinya sudah dingin. Beberapa detik berlalu tanpa candaan.
“Aku nggak bisa tidur di tempat lain,” katanya akhirnya.
Tanganku berhenti di atas mesin kasir.
“Di rumah ada Mama. Di arena ada Coach. Di mobil ada manajer. Semua orang bakal tanya kenapa aku capek.” Jarinya menggeser gagang cangkir. “Di sini kamu cuma kasih kopi jelek dan membiarkan aku diam.”
“Kopinya nggak jelek.”
“Aku sedang bicara serius.”
“Aku tahu.”
Aku juga tahu kalau kutatap terlalu lama, sesuatu di wajahku mungkin akan mengkhianatiku. Jadi aku mengambil lap dan mengusap permukaan meja kasir yang sudah bersih.
“Kalau begitu, tidur saja kalau memang butuh,” kataku. “Aku masih punya banyak pekerjaan palsu supaya kelihatan sibuk.”
Nadira tertawa pelan.
Bukan senyum sopan untuk kamera. Bukan tawa pendek yang biasa dia berikan kalau leluconku terlalu buruk untuk dihargai. Tawa itu kecil, lelah, tetapi sungguhan.
Dan seperti orang bodoh, aku merasa dua puluh tiga menit pulang terlambat adalah harga yang sangat murah untuk mendengarnya.
Dia berdiri, mengenakan tas di bahu, lalu berjalan ke meja kasir. Saat menyerahkan pembayaran, ujung jarinya nyaris mengenai tanganku. Aku menarik tangan lebih cepat daripada yang diperlukan.
Nadira memperhatikannya, tetapi tidak berkomentar.
“Besok aku latihan program baru,” katanya.
“Semoga esnya kooperatif.”
“Datanglah kalau mau lihat.”
Aku mendongak.
Tatapan kami bertemu. Untuk sesaat, wajahnya terlihat terlalu terbuka—seolah undangan itu bukan sesuatu yang biasa dia berikan.
Lalu Nadira mengangkat satu bahu.
“Bercanda,” katanya. “Kamu pasti kerja.”
Dia berbalik sebelum aku sempat menjawab. Bel pintu berbunyi, udara malam masuk, kemudian sosoknya menghilang di balik kaca.
Aku tetap berdiri dengan struk pembayaran di tangan.
Besok memang aku bekerja.
Tapi untuk pertama kalinya dalam hampir dua tahun, aku mulai menghitung berapa banyak kebohongan yang harus kubuat agar bisa meninggalkan kedai lebih cepat.
- 1 Pelanggan Terakhir reading
- 2 Tempat Aku Boleh Kalah
- 3 Kopi yang Tidak Pernah Habis
- 4 Kursi Milikku
- 5 Kasir yang Terlalu Ramah
- 6 Tiga Jam untuk Satu Tatapan
- 7 Bidadari di Depan Mesin Kasir
- 8 Aku Datang untuk Kamu
- 9 Dunia di Atas Es
- 10 Tangannya di Pinggangku
- 11 Bahasa yang Kupelajari untukmu
- 12 Tarik Apron, Pangkas Jarak
- 13 Jatuh ke Pelukan yang Tepat
- 14 Bau Kopi dan Tempat Aman
- 15 Poster Tanpa Nama
- 16 Kalau Aku Mau Baristanya
- 17 Benda yang Bisa Dijual
- 18 Ciuman di Telapak Tangan
- 19 Kursi yang Salah
- 20 Dua Tahun
- 21 Pulang dalam Keadaan Apa Pun
- 22 Minta Aku Tinggal
- 23 Pergilah
- 24 Kalau Kamu Minta
- 25 Tiket yang Tidak Dijual
- 26 Orang yang Kucari
- 27 Aku Cukup Melihatmu Bersinar
- 28 Bintang yang Turun dari Arena
- 29 Jangan Cintai Aku dari Jauh
- 30 Kebaya yang Sama