Chapter Seventeen

Benda yang Bisa Dijual

POV: Erga Oktariano

Ibu harus menjalani observasi tiga hari.

Dokter bilang kondisinya stabil, tetapi ada pemeriksaan lanjutan dan penyesuaian obat. Kata stabil seharusnya menenangkan. Angka pada estimasi biaya membuat ketenangan itu tidak bertahan lama.

Nadira tertidur di kursi tunggu dengan kepala di bahuku. Dia masih memakai pakaian yang sama dari kedai. Jarinya menggenggam ujung kemejaku, seperti saat kami menonton film.

Aku membangunkannya pukul lima.

“Pulang,” kataku. “Kamu latihan jam delapan.”

“Aku bisa izin.”

“Jangan.”

“Erga, ibumu—”

“Sudah stabil. Bima ada di sini.”

Nadira terlihat ingin berdebat. Aku menyentuh rambutnya. “Terima kasih sudah tinggal. Sekarang pergi latihan.”

Dia akhirnya menurut setelah memaksaku berjanji memberi kabar.

Pagi itu, Bima membawa tas Ibu dan tagihan awal. Tabunganku tidak cukup. Sebagian gaji bulan ini sudah dipakai untuk biaya kuliahnya, sebagian lagi untuk cicilan rumah.

“Aku bisa cuti semester,” kata Bima.

“Nggak.”

“Kita butuh uang.”

“Tugasmu kuliah.”

“Tugasmu bukan menanggung semua.”

Aku tidak menjawab. Dalam tas kamera di lemari rumah ada satu benda yang masih bernilai cukup besar: kamera analog milik Ayah, lengkap dengan dua lensa.

Kamera itu yang pertama kali mengajariku melihat cahaya. Ayah membelinya sebelum aku lahir dan menyerahkannya ketika aku diterima kuliah desain. Setelah beliau meninggal, aku tidak pernah benar-benar memakainya lagi. Terlalu takut rusak. Terlalu sayang untuk dijual.

Sore hari, aku membawanya ke toko kamera bekas.

Pemilik toko memeriksa bodi, rana, dan lensa. Dia menyebut harga. Cukup untuk biaya awal, tidak cukup untuk seluruh pemeriksaan.

Di dompetku ada tiket kejuaraan nasional Nadira yang kubeli tiga bulan lalu. Harganya tidak sebanding dengan kamera, tetapi bisa membantu sedikit jika dijual kembali.

Aku menatap tiket elektronik di layar.

Lalu mematikan ponsel.

“Saya jual kameranya,” kataku.

Pemilik toko mulai menyiapkan formulir. Saat hendak menyerahkan kamera, tanganku sulit melepaskan tali kulitnya.

Aku ingat Ayah mengajariku mengatur fokus. Jangan terburu-buru menekan tombol, katanya. Lihat dulu apa yang benar-benar ingin disimpan.

Aku menekan tombol rana sekali untuk terakhir kalinya. Tidak ada film di dalam. Hanya bunyi mekanis singkat, seperti pintu yang ditutup.

“Tiketnya nggak dijual?” tanya Bima ketika aku kembali ke rumah sakit.

Dia rupanya melihat layar ponselku tadi.

“Nggak.”

“Kamera itu peninggalan Ayah.”

“Saya tahu.”

“Pertandingannya bisa ditonton online.”

“Tapi nggak bisa diulang.”

“Nadira bahkan belum tentu tahu Kakak datang.”

Aku memasukkan bukti transfer ke dompet. “Aku datang bukan supaya dia tahu.”

Bima menatapku lama. “Kakak cinta banget, ya?”

Aku duduk di kursi lorong. Selama ini kalimat itu hanya hidup di kepalaku. Mengucapkannya membuat semuanya terasa lebih nyata dan lebih menakutkan.

“Iya.”

“Dia tahu?”

“Nggak perlu.”

“Kenapa?”

“Karena dia punya banyak hal yang harus dikejar.”

“Dan Kakak?”

Aku tersenyum kecil. “Aku punya kedai.”

Bima mengumpat pelan. Sebelum dia melanjutkan, Nadira muncul dari ujung lorong membawa makanan dan termos.

“Apa yang dijual?” tanyanya.

Aku dan Bima sama-sama diam.

Nadira melihat tas kamera kosong di kakiku. “Erga.”

“Kamera lama.”

“Kenapa nggak bilang?”

“Karena bukan masalahmu.”

Begitu kalimat itu keluar, aku ingin menariknya kembali.

Wajah Nadira menutup. “Benar. Aku cuma pelanggan.”

“Bukan begitu.”

“Lalu apa?”

Aku tidak punya nama yang aman untuk kami. Nadira menunggu, kemudian meletakkan makanan di kursi.

“Aku akan lihat Ibu Ratih.”

Dia pergi sebelum aku menjawab.

Bima duduk di sampingku. “Kakak pintar sekali.”

“Diam.”

“Bisa memahami edge lompatan, tapi nggak bisa menjawab satu pertanyaan.”

Aku menatap pintu kamar Ibu. Untuk pertama kalinya, pengorbanan yang biasanya terasa benar mulai menunjukkan sisi buruknya. Aku menjaga semua orang dari bebanku sampai mereka tidak punya tempat di dalam hidupku.

Dan dari cara Nadira pergi, mungkin aku baru saja membuat perempuan yang paling ingin tinggal merasa tidak dibutuhkan.

Aku menemukannya di kafetaria dua puluh menit kemudian. Nadira duduk sendiri, makanan yang dibawanya masih tertutup. Aku menarik kursi di depannya.

“Maaf.”

“Untuk bagian mana?”

“Mengatakan ini bukan masalahmu.”

“Memang bukan.”

“Saya ingin masalah ini bukan masalah siapa pun.”

Nadira mengangkat wajah. “Itu berbeda.”

“Saya tahu.”

Aku menjelaskan tagihan, kamera, dan ketakutanku menerima bantuan. Nadira mendengar tanpa memotong. Setelah selesai, dia tidak menawarkan uang lagi.

“Boleh aku bantu cari cara yang nggak membuatmu merasa dikasihani?” tanyanya.

Pertanyaan itu terasa seperti pintu yang dibuka, bukan didobrak.

“Boleh.”

Kami memeriksa polis asuransi Ibu, program bantuan rumah sakit, dan pembayaran proyek desain sponsor. Nadira menelepon kepala pemasaran agar kontrakku diproses lebih cepat dengan tarif normal. Bukan hadiah. Pekerjaan.

“Kamera itu bisa ditebus?” tanyanya.

“Mungkin kalau belum dijual lagi.”

“Nanti kamu beli sendiri dari bayaran desain.”

“Kalau cukup.”

“Kalau nggak cukup, buat lebih banyak desain.”

Aku tertawa kecil. Solusinya sangat Nadira: bukan menyelamatkanku, melainkan menuntutku bergerak.

Dia membuka makanan dan menyodorkan sendok. “Makan.”

“Saya bisa sendiri.”

“Aku tahu. Tapi sekarang aku sedang kesal dan ingin menyuapimu.”

Aku menerima satu suapan agar dia berhenti menatap galak.

“Apa kita?” tanyanya lagi setelah beberapa menit.

Aku menatap meja. “Seseorang yang sangat penting bagi saya.”

“Itu belum nama.”

“Saya belum tahu cara memberi nama tanpa merasa meminta terlalu banyak.”

Nadira menghela napas. “Belajar. Kamu cepat belajar bahasa skating. Harusnya bahasa manusia juga bisa.”

Dia tidak mendapatkan jawaban penuh malam itu. Namun ketika kembali ke kamar Ibu, Nadira berjalan di sampingku, bukan di depan atau di belakang. Dan untuk pertama kalinya, aku membiarkan seseorang ikut membawa masalah yang selama ini kupikul sendirian.

Ibu terbangun ketika kami masuk. Tatapannya langsung jatuh pada tangan kami yang masih bergandengan.

“Akhirnya,” katanya.

Aku melepaskan terlalu cepat. Nadira justru mengambilnya kembali.

“Ibu harus istirahat,” kataku.

“Ibu sudah istirahat puluhan tahun menunggu kamu punya keberanian.”

Nadira tertawa. Aku merasa dikhianati oleh dua perempuan sekaligus.

Ibu meminta melihat poster yang kubuat. Nadira menunjukkannya dari ponsel dan bercerita tentang respons sponsor seolah desain itu memenangkan penghargaan besar.

“Ayahmu pasti bangga,” kata Ibu.

Aku tidak siap mendengar itu. Tenggorokanku menegang.

Nadira tidak mencoba menghibur dengan kata-kata. Dia hanya menekan punggung tanganku memakai ibu jarinya.

“Kameranya nanti dicari lagi,” ujar Ibu.

“Nggak perlu.”

“Perlu,” kata Nadira dan Ibu bersamaan.

Aku menatap mereka. “Kalian baru kenal.”

“Kami punya kepentingan sama,” jawab Nadira.

“Apa?”

“Mencegah kamu menjual semua yang membuatmu hidup.”

Kalimat itu menempel bahkan setelah Ibu kembali tidur. Aku menyadari Nadira tidak marah karena kamera semata. Dia takut melihatku terus mengikis diri sampai suatu hari tidak ada yang tersisa untuk dicintai.

Malam itu, aku membuka kembali email proyek desain. Untuk pertama kalinya, aku tidak menganggapnya pekerjaan sampingan. Mungkin itu jalan kembali kepada bagian diriku yang kukira sudah selesai.