Chapter Twenty Four
Kalau Kamu Minta
POV: Zivana Nadira
Catatan yang kutinggalkan hanya berisi satu kalimat.
Kalau kamu minta, mungkin aku akan tinggal.
Itu bukan tawaran yang adil. Aku sudah menerima kontrak. Federasi mengumumkan keberangkatan. Tinggal akan merusak jalur yang kubangun bertahun-tahun.
Namun sebagian diriku masih ingin diuji. Ingin tahu apakah cinta Erga cukup egois untuk memanggilku kembali.
Dia tidak datang malam itu.
Tidak ada telepon. Tidak ada pesan meminta tinggal.
Pagi berikutnya, hanya ada satu foto: tanda reservasi di kursi pojok. Di bawah namaku, Erga menambahkan kata PULANG.
Aku menangis di ruang ganti.
“Dia mencintaimu,” kata Coach Maya setelah menemukan aku.
“Aku tahu.”
“Lalu kenapa kamu terlihat seperti ditinggalkan?”
“Karena dia selalu mencintai dari tempat yang nggak bisa kuraih.”
Coach Maya duduk di sebelahku. “Apa kamu benar-benar ingin dia memintamu tinggal?”
“Aku ingin dibutuhkan.”
“Itu bukan pertanyaan yang sama.”
Aku menatap gelang tali sepatu di pergelangan. Erga tidak meminta aku tinggal. Tetapi dia menyimpan benda yang kubuang, belajar bahasa duniaku, menjual kamera tanpa menjual tiket, dan membuat rencana agar hubungan kami bertahan dua tahun.
Mungkin kebutuhannya selalu ada. Dia hanya tidak tahu cara mengubahnya menjadi permintaan.
“Aku akan berhenti menggoda,” kataku.
Coach Maya mengangkat alis.
“Sampai dia berhenti bersembunyi. Aku capek membuat semua gerakan.”
Hari-hari berikutnya menjadi sunyi. Aku tidak datang ke kedai. Tidak mengirim foto. Tidak mengeluh soal kopi. Erga juga tidak memaksa. Dia hanya mengirim satu pesan setiap malam.
Sudah makan?
Pergelangannya bagaimana?
Istirahat.
Aku membaca semuanya tanpa membalas.
Pada hari ketiga, dia mengirim foto americano dengan dua cangkir.
Saya salah buat satu lebih.
Aku tahu dia bohong. Erga tidak pernah salah menghitung pesananku.
Pada hari keempat, foto kursi pojok.
Sasa mau memberikannya ke pelanggan lain. Sudah saya pertahankan.
Hari kelima, tidak ada foto. Hanya rekaman suara lima detik berisi bunyi mesin espresso dan kalimat pelan: “Kedainya terlalu sepi.”
Aku mendengarnya tujuh kali.
Jari sudah berada di tombol panggil ketika Mama masuk kamar. Aku segera mematikan layar.
“Kalian bertengkar?” tanyanya.
“Kami sedang belajar.”
“Belajar apa?”
“Dia belajar mengejar. Aku belajar berhenti mempermudah.”
Mama duduk di tepi ranjang. “Jangan membuat cinta menjadi ujian yang jawabannya cuma kamu tahu.”
Aku terdiam. Mungkin diamku mulai berubah dari batas menjadi hukuman. Malam itu, ketika pesan Erga datang, aku membalas untuk pertama kalinya.
Sudah makan.
Tiga titik langsung muncul.
Bagus.
Hanya itu. Dia tidak memanfaatkan celah untuk memaksa percakapan. Entah kenapa, sikap itu membuatku semakin rindu.
Seminggu menuju kejuaraan, dia mengirim foto tiketnya. Tempat duduk di tribun paling atas.
Saya datang.
Aku mengetik banyak jawaban dan menghapusnya. Akhirnya kukirim:
Jangan datang kalau cuma merasa harus.
Balasannya langsung muncul.
Saya membeli tiket ini sebelum kamu tahu saya mencintaimu.
Dadaku sesak.
Kenapa?
Karena pertandingan itu nggak bisa diulang.
Aku menyentuh gelang. Sebelum sempat menjawab, Coach Maya memanggil kembali ke es.
Latihan hari itu adalah yang terburuk dalam sebulan. Aku kehilangan ritme, jatuh dua kali, dan salah menghitung musik. Tempat aman yang biasanya kutuju tidak bisa kudatangi karena aku sendiri yang menutup pintunya.
Malamnya, aku berdiri di seberang jalan dari Kedai Titik Pulang. Melalui kaca, kulihat Erga membersihkan kursi pojok meski tidak ada yang duduk di sana.
Aku hampir menyeberang.
Namun aku ingat keputusan sendiri. Kalau masuk sekarang, kami akan kembali menggoda, menyentuh, dan menunda percakapan yang sebenarnya.
Aku berbalik.
Ponselku berbunyi.
Saya tahu kamu di seberang jalan.
Aku menoleh. Erga berdiri di balik kaca, melihat langsung kepadaku.
Dia tidak keluar. Aku tidak masuk.
Kami hanya berdiri dipisahkan hujan dan jalan, dua orang yang sudah mengaku cinta tetapi belum tahu cara hidup di dalamnya.
Aku mengangkat tangan yang memakai gelang.
Erga menyentuh dadanya.
Lalu aku pergi.
Kejuaraan tinggal tiga hari. Setelahnya, keberangkatan akan datang cepat.
Waktu kami semakin sedikit, tetapi untuk pertama kalinya aku tidak ingin mengisinya dengan flirting.
Aku ingin Erga melihatku di arena dan memutuskan sendiri apakah cinta kami cukup untuk diperjuangkan, bukan hanya direlakan.
Malam sebelum kejuaraan, aku membuka tas kostum dan menemukan bungkusan kecil yang diselipkan Coach Maya. Isinya dua sachet kopi, satu foto kursi pojok, dan catatan tulisan Erga.
Besok jangan cari saya. Lihat lurus. Cahaya ada di tempatmu berdiri.
Aku memegang kertas itu sampai ujungnya kusut.
Lelaki bodoh itu bahkan dalam dukungan masih memintaku tidak mencarinya.
Aku membalik catatan dan menulis balasan meski tidak tahu kapan akan diberikan:
Aku bisa melihat cahaya. Tapi aku tetap ingin tahu rumahku ada di mana.
Gelang tali sepatu kupasang lebih erat. Besok aku akan tampil untuk diriku sendiri, bukan untuk membuktikan nilai kepada siapa pun.
Namun setelah musik berhenti, aku tetap akan mencari satu apron cokelat di antara ribuan orang.
- 1 Pelanggan Terakhir
- 2 Tempat Aku Boleh Kalah
- 3 Kopi yang Tidak Pernah Habis
- 4 Kursi Milikku
- 5 Kasir yang Terlalu Ramah
- 6 Tiga Jam untuk Satu Tatapan
- 7 Bidadari di Depan Mesin Kasir
- 8 Aku Datang untuk Kamu
- 9 Dunia di Atas Es
- 10 Tangannya di Pinggangku
- 11 Bahasa yang Kupelajari untukmu
- 12 Tarik Apron, Pangkas Jarak
- 13 Jatuh ke Pelukan yang Tepat
- 14 Bau Kopi dan Tempat Aman
- 15 Poster Tanpa Nama
- 16 Kalau Aku Mau Baristanya
- 17 Benda yang Bisa Dijual
- 18 Ciuman di Telapak Tangan
- 19 Kursi yang Salah
- 20 Dua Tahun
- 21 Pulang dalam Keadaan Apa Pun
- 22 Minta Aku Tinggal
- 23 Pergilah
- 24 Kalau Kamu Minta reading
- 25 Tiket yang Tidak Dijual
- 26 Orang yang Kucari
- 27 Aku Cukup Melihatmu Bersinar
- 28 Bintang yang Turun dari Arena
- 29 Jangan Cintai Aku dari Jauh
- 30 Kebaya yang Sama