Chapter Twenty Six

Orang yang Kucari

POV: Zivana Nadira

Pesan Erga baru kubaca tiga menit sebelum masuk arena.

Saya sampai.

Dua kata itu membuat kedua lututku hampir kehilangan tenaga.

“Ponsel,” kata Coach Maya sambil mengulurkan tangan.

Aku menyerahkannya, lalu menyentuh gelang tali sepatu di pergelangan kiri. Di balik tirai, suara ribuan penonton terdengar seperti ombak. Musik peserta sebelumnya berakhir dan tepuk tangan meledak.

“Pergelangan?” tanya Coach.

“Baik.”

“Pergelangan kaki?”

“Masih sakit sedikit.”

“Sedikit versi atlet atau manusia?”

“Atlet.”

Coach Maya menghela napas dan memeriksa balutan terakhir kali. “Jangan cari siapa pun di tribun. Fokus pada program.”

Aku mengangguk, lalu langsung bertanya, “Tribun atas terlihat dari es?”

“Nadira.”

“Aku cuma bertanya.”

“Kamu akan melihat cahaya, bukan wajah.”

Aku tahu. Tiket Erga berada hampir di baris paling tinggi. Bahkan kalau dia datang, aku mungkin tidak bisa membedakannya dari ribuan kepala lain.

Namun dia datang.

Setelah rumah sakit, hujan, kedai, dan semua alasan untuk terlambat, dia memilih berada di sini.

Namaku diumumkan. Tirai terbuka.

Es memantulkan cahaya putih. Aku meluncur menuju posisi awal, membiarkan bunyi bilah menenangkan napas. Kostum putih keperakan terasa ringan di tubuh. Gelang tersembunyi di bawah lengan kostum, menekan kulit seperti denyut kedua.

Aku mengambil posisi.

Di arena sebesar ini, Erga mungkin hanya satu titik yang tidak akan pernah kutemukan. Namun untuk pertama kalinya, aku tidak membutuhkan tatapannya untuk merasa berharga.

Dia sudah melihatku saat aku jatuh. Saat tidur dengan air liur di meja. Saat gagal, marah, dan takut. Kalau aku menang malam ini, itu bukan agar dia akhirnya mencintaiku.

Dia sudah mencintaiku sebelum cahaya menyala.

Musik dimulai.

Gerakan pertama mengalir keluar dari ingatan tubuh. Satu putaran, perubahan edge, rangkaian langkah yang selama berbulan-bulan terasa seperti perang. Pergelangan kaki mengirim rasa sakit kecil. Aku mengakuinya, lalu terus bergerak.

Lompatan pertama bersih.

Pada lompatan kedua, tubuhku sedikit miring, tetapi bilah bertahan. Penonton menahan napas lalu bertepuk tangan.

Program ini bercerita tentang seseorang yang mencari jalan pulang. Dulu aku belum tahu bagaimana memainkan perasaannya. Malam ini aku mengerti.

Pulang bukan berarti berhenti pergi.

Pulang adalah tahu ada tempat yang tetap mengenalimu setelah semua perjalanan mengubahmu.

Aku memasuki lompatan tersulit. Sesaat sebelum lepas landas, bayangan semua kegagalan datang: jatuh, rasa sakit, komentar, kontrak dua tahun, pintu kedai yang tertutup di antara kami.

Lalu suara Erga muncul dalam ingatan.

Kalau masih mau jatuh, saya temani menghitung.

Aku melompat.

Tubuhku berputar. Waktu mengecil menjadi cahaya dan udara dingin. Bilah menyentuh es dengan sedikit getaran, kemudian stabil.

Aku berhasil.

Senyum muncul tanpa diperintah.

Di rangkaian terakhir, aku tidak lagi berpikir tentang nilai. Aku meluncur untuk setiap pagi ketika tubuhku sakit, setiap malam ketika kedai menjadi tempat aman, dan setiap versi diriku yang tetap bangkit.

Musik berhenti.

Aku berada di posisi akhir, dada naik turun, air mata sudah jatuh sebelum tepuk tangan terdengar.

Seluruh arena berdiri.

Coach Maya berteriak dari tepi. Keenan memukul papan pembatas. Kamera mendekat.

Aku seharusnya melihat papan skor.

Sebaliknya, aku mencari tribun paling atas.

Ribuan wajah menyatu dalam gelap. Lampu membuat semuanya kabur.

“Di mana kamu?” bisikku.

Mataku bergerak dari kiri ke kanan.

Lalu aku melihat satu warna yang tidak seharusnya ada di arena: cokelat, dikenakan di luar jaket seseorang yang berdiri paling tinggi sambil menutup mulut dengan tangan.

Apron.

Erga.

Aku tidak bisa melihat wajahnya dengan jelas. Tidak perlu. Tidak ada manusia waras yang datang ke kejuaraan nasional memakai apron kedai.

Tanganku naik ke dada, tepat di atas jantung.

Dari kejauhan, sosok itu melakukan hal yang sama.

Tangisku pecah.

Bagi ribuan orang, aku baru saja menyelesaikan program terbaik dalam hidupku.

Namun di tengah semua cahaya, yang membuatku merasa benar-benar sampai adalah satu lelaki di tribun paling jauh yang akhirnya membiarkan dirinya terlihat.

Papan skor belum muncul. Aku dibawa ke area tunggu, tetapi kepalaku terus menoleh sampai apron itu hilang di antara penonton.

“Tarik napas,” kata Coach Maya.

“Dia datang.”

“Saya tahu. Dia menelepon Sasa tiga kali untuk memastikan pintunya.”

Aku tertawa sambil menangis. Di layar kecil, pengulangan lompatan terakhir diputar. Untuk pertama kali aku tidak mencari kekurangan. Aku melihat perempuan yang berani meninggalkan es dan percaya tubuhnya akan menemukan pijakan lagi.

Mungkin cinta juga begitu. Aku bisa pergi, tumbuh, berubah, lalu tetap memilih tempat mendarat.

Nilai muncul dan namaku naik ke posisi pertama. Coach memelukku. Setelah itu dia mendorong bahuku ke arah pintu.

“Delapan menit,” katanya. “Setelah itu kembali jadi atlet nasional.”

“Sekarang aku jadi apa?”

“Perempuan yang sudah terlalu lama membuat satu kasir menunggu.”

Aku berlari.