Chapter Eleven
Bahasa yang Kupelajari untukmu
POV: Erga Oktariano
Pergelangan tangan Nadira membengkak pada hari Kamis.
Dia tetap datang ke kedai, tetap memesan americano, lalu mencoba menyembunyikan tangan kanannya di bawah meja seperti aku belum hafal caranya menahan cangkir ketika sedang sakit.
Aku meletakkan kantong dingin di depannya.
“Nggak perlu.”
“Pakai.”
“Besok sudah sembuh.”
“Tubuh manusia belum punya fitur pembaruan semalam.”
Nadira mendorong kantong itu kembali. “Aku harus latihan.”
Aku duduk di kursi seberang. “Besok program penuh?”
Matanya menyempit. “Siapa yang kasih tahu?”
“Kamu menyebut jadwalnya minggu lalu.”
“Aku menyebut sekali.”
“Saya mendengar.”
Dia tidak menjawab. Aku mengeluarkan ponsel dan membuka video latihan terakhir yang dikirimnya. Pada bagian rangkaian langkah, tangan kanannya menegang setelah jatuh.
“Kamu menahan benturan pakai telapak,” kataku. “Kalau tetap latihan spin dan jatuh lagi, bebannya kena tempat yang sama.”
“Kamu bukan dokter.”
“Benar. Makanya saya nggak bilang cederanya apa. Saya cuma bilang sakitnya akan tambah parah kalau terus dipakai.”
“Aku kehilangan satu hari.”
“Lebih baik daripada kehilangan dua minggu.”
Nadira membuang muka ke jendela. Di luar, hujan membuat lampu jalan kabur. Aku tahu diamnya bukan persetujuan. Dia sedang menghitung semua yang bisa hilang kalau tubuhnya berhenti satu hari: ritme, keyakinan, penilaian Coach Maya, mungkin peluang menang.
“Dalam skating,” kataku, “memaksa takeoff dari edge yang salah bikin lompatanmu tetap salah meskipun rotasinya selesai, kan?”
Dia menoleh.
“Tubuhmu juga sedang memberi edge yang salah. Istirahat bukan membatalkan lompatan. Cuma mengulang masuknya.”
“Kamu belajar istilah itu supaya bisa menguliahi aku?”
“Saya belajar supaya tahu kapan harus diam dan kapan boleh khawatir.”
Wajahnya melunak, tetapi hanya sesaat. “Kalau aku kehilangan feeling?”
“Kita cari lagi.”
“Kita?”
Aku sadar kata itu keluar terlalu alami. “Kamu dan timmu.”
“Oh.”
Kekecewaan kecil dalam suaranya membuatku ingin mengoreksi. Aku tidak sempat. Nadira mengambil kantong dingin, meletakkannya pada pergelangan, lalu menahan ringis.
“Temani aku ke klinik besok,” katanya.
“Coach-mu?”
“Aku mau kamu.”
Tiga kata sederhana. Dampaknya tidak sederhana.
Keesokan paginya, aku menukar shift dan menemaninya ke dokter olahraga. Hasil pemeriksaan menunjukkan strain ringan. Nadira diwajibkan istirahat dua hari dan boleh kembali bertahap setelahnya.
Di lorong klinik, dia berjalan sambil menatap lembar rekomendasi seolah itu surat hukuman.
“Dua hari,” gumamnya.
“Bukan dua tahun.”
“Kamu nggak paham.”
“Jelaskan.”
Dia berhenti. “Kalau aku berhenti, orang lain tetap latihan. Mereka maju saat aku diam.”
“Dan kalau kamu paksa, mereka maju saat kamu cedera lebih lama.”
“Aku benci kalau kamu masuk akal.”
“Saya bisa coba bodoh kalau membantu.”
Nadira tertawa kecil. Di parkiran, hujan turun lagi. Aku membuka payung dan berjalan di sisi kanannya supaya lengannya tidak terkena orang berlalu-lalang.
“Kenapa repot belajar semua itu?” tanyanya.
“Semua apa?”
“Edge, takeoff, jadwal program, cara aku jatuh.”
Aku seharusnya memberi jawaban ringan. Internet agresif. Kasir punya waktu terlalu banyak. Namun tatapannya tidak meminta candaan.
“Karena saya ingin mengerti saat kamu bicara,” jawabku.
Langkah Nadira berhenti di bawah payung. Bahunya menyentuh lenganku.
“Orang biasanya cuma ingin tahu aku menang atau kalah.”
“Itu bagian paling pendek dari pekerjaanmu.”
“Kamu tahu?”
“Sekarang tahu.”
Dia bergerak semakin dekat agar masuk ke bawah payung, meski ruang di sisinya masih cukup. Kepalanya hampir menyentuh bahuku.
“Dua hari,” katanya.
“Dua hari.”
“Kamu harus memastikan aku nggak kabur ke arena.”
“Saya bisa menyita sepatu.”
“Berani?”
“Tidak. Harganya lebih mahal dari motor saya.”
Nadira tertawa lagi, lalu tangan kirinya menyelip di lenganku. Gerakannya seolah hanya agar tidak terpeleset, tetapi parkiran rata dan kering di bawah kanopi.
Aku tidak menunjukkannya.
Di mobil, dia mengirim pesan kepada Coach Maya bahwa ia akan istirahat. Setelah menekan kirim, wajahnya terlihat seperti baru mengaku kalah.
“Kamu tetap atlet meskipun dua hari nggak pakai sepatu,” kataku.
“Kalau aku jadi menyebalkan?”
“Tidak ada perubahan berarti.”
Dia menyikut lenganku dengan tangan kiri.
Siang itu, aku mengantarnya pulang. Sebelum turun, Nadira menahan pintu.
“Erga.”
“Ya?”
“Terima kasih sudah belajar bahasaku.”
Aku menatap pergelangan yang dibebat, lalu wajahnya.
“Terima kasih sudah membiarkan saya mendengar.”
Nadira turun tanpa membalas. Namun sesaat sebelum menutup pintu, dia menunduk dan mencium cepat pipiku.
“Itu bonus konsultasi,” katanya.
Pintu tertutup.
Aku tetap duduk, memegang pipi, sementara Nadira berjalan masuk tanpa menoleh.
Langkahnya terlihat tenang. Dari pantulan pintu kaca, aku bisa melihat dia tersenyum lebar.
Aku baru menyalakan mesin ketika ponsel berbunyi. Nadira mengirim foto dirinya berdiri di balik pintu dengan satu tangan menutupi wajah.
Jangan geer. Aku cuma lega dokternya nggak menyuruh amputasi.
Aku membalas bahwa amputasi jarang direkomendasikan untuk strain ringan. Dia mengirim stiker marah, kemudian memintaku mengirim daftar film yang bisa ditonton selama dua hari istirahat.
Permintaan itu membuat siangku berubah menjadi riset baru. Aku memilih film tentang penari yang pulih dari cedera, lalu menghapusnya karena terlalu dekat dengan pekerjaannya. Memilih komedi, menghapus yang kisah cintanya berakhir buruk, kemudian sadar aku bertindak seperti pustakawan emosional.
Akhirnya kukirim tiga judul komedi dan satu dokumenter seni.
Nonton sama aku, balasnya.
Aku melihat jadwal kerja. Malam ini saya tutup jam sepuluh.
Aku tunggu di kedai.
Malam itu, Nadira datang membawa tablet. Setelah kedai tutup, kami duduk berdampingan di kursi pojok dan menonton satu film dari layar kecil. Dia mengeluh lima menit sekali, mengambil popcorn milikku, dan akhirnya menyandarkan kepala di bahuku.
Setengah film berlalu sebelum aku sadar tangannya menggenggam ujung kemejaku.
“Takut?” tanyaku saat adegan menegangkan.
“Nggak.”
“Kemeja saya hampir robek.”
“Kualitasnya jelek.”
Aku tidak meminta dia melepaskan.
Ketika film selesai, Nadira masih tidak bergerak. Lampu tablet memantulkan wajahnya yang damai. Aku ingin menyentuh rambutnya, tetapi tanganku berhenti di udara.
“Kalau mau, sentuh saja,” katanya tanpa membuka mata.
Aku menurunkan tangan ke kepalanya dan merapikan rambut yang jatuh di pelipis.
“Kamu belum tidur?”
“Aku atlet. Kesadaran tubuhku bagus.”
“Termasuk saat mengeces di meja?”
Matanya langsung terbuka. “Aku nggak pernah ngeces.”
“Ada dokumentasi.”
Nadira bangkit dan mencoba merebut ponselku dengan tangan kiri. Aku mengangkatnya tinggi. Dia hampir jatuh ke dadaku lagi, lalu berhenti sangat dekat.
“Hapus,” katanya.
“Bayar.”
“Mau dibayar apa?”
Tatapannya turun ke bibirku.
Aku menyerahkan ponsel. “Gratis.”
“Pengecut.”
“Pergelanganmu belum sembuh. Jangan melakukan negosiasi berat.”
Dia memeriksa galeri dan tidak menemukan foto apa pun. Aku memang tidak pernah memotretnya saat tidur.
Nadira menatapku lagi, kali ini lebih lembut. “Kamu bahkan nggak mengambil fotonya.”
“Beberapa hal nggak perlu disimpan untuk tetap diingat.”
Dia kembali menyandarkan kepala di bahuku. Tangannya menemukan tanganku di antara kami, lalu menggenggamnya.
Dua hari tanpa latihan ternyata tidak membuat Nadira kehilangan apa pun. Justru pada malam itu, aku mendapat sesuatu yang belum pernah berani kuminta: waktu bersamanya yang tidak perlu alasan.
Saat mengantarnya ke pintu, Nadira mengangkat tangan kami yang masih bergandengan. “Ini juga bagian terapi?”
“Efek samping.”
“Jangan disembuhkan.”
- 1 Pelanggan Terakhir
- 2 Tempat Aku Boleh Kalah
- 3 Kopi yang Tidak Pernah Habis
- 4 Kursi Milikku
- 5 Kasir yang Terlalu Ramah
- 6 Tiga Jam untuk Satu Tatapan
- 7 Bidadari di Depan Mesin Kasir
- 8 Aku Datang untuk Kamu
- 9 Dunia di Atas Es
- 10 Tangannya di Pinggangku
- 11 Bahasa yang Kupelajari untukmu reading
- 12 Tarik Apron, Pangkas Jarak
- 13 Jatuh ke Pelukan yang Tepat
- 14 Bau Kopi dan Tempat Aman
- 15 Poster Tanpa Nama
- 16 Kalau Aku Mau Baristanya
- 17 Benda yang Bisa Dijual
- 18 Ciuman di Telapak Tangan
- 19 Kursi yang Salah
- 20 Dua Tahun
- 21 Pulang dalam Keadaan Apa Pun
- 22 Minta Aku Tinggal
- 23 Pergilah
- 24 Kalau Kamu Minta
- 25 Tiket yang Tidak Dijual
- 26 Orang yang Kucari
- 27 Aku Cukup Melihatmu Bersinar
- 28 Bintang yang Turun dari Arena
- 29 Jangan Cintai Aku dari Jauh
- 30 Kebaya yang Sama