Chapter Fifteen
Poster Tanpa Nama
POV: Erga Oktariano
Sponsor Nadira mengunggah poster kejuaraan dengan foto buram, tiga jenis font, dan warna yang membuat mataku sakit.
Aku melihatnya saat istirahat siang dan melakukan kesalahan: mengomentarinya di depan Sasa.
“Hierarkinya nggak jelas. Wajah Nadira tertutup teks. Informasi tanggal malah paling kecil.”
Sasa mengunyah roti. “Kamu peduli posternya atau wajah Nadira tertutup?”
“Keduanya bisa benar.”
“Buat yang lebih bagus.”
“Saya sedang kerja.”
“Kamu sedang mengeluh.”
Malamnya, setelah kedai tutup, aku mengunduh foto resmi Nadira dan membuka aplikasi desain yang sudah berbulan-bulan tidak kusentuh. Niat awalnya hanya memperbaiki layout sebagai latihan. Dua jam kemudian aku masih memilih antara biru es dan perak untuk aksen.
Aku tidak memakai foto Nadira yang paling sempurna. Kupilih gambar setelah pendaratan: rambut sedikit terlepas, napas terlihat, dan senyum kecil muncul karena dia tahu baru melewati sesuatu yang sulit.
Itulah Nadira yang kukenal.
Pagi hari, aku mengirim desain melalui alamat anonim ke email tim sponsor. Tidak meminta bayaran, tidak mencantumkan nama. Hanya menulis bahwa materi tersebut boleh dipakai jika membantu.
Dua hari kemudian, poster itu muncul di semua akun resmi.
Responsnya jauh lebih baik. Penjualan tiket naik. Beberapa akun olahraga memuji desain baru. Aku menyimpan satu tangkapan layar, lalu menutupnya sebelum rasa bangga tumbuh terlalu besar.
Nadira datang malam itu dengan ponsel di tangan.
“Lihat,” katanya sambil menunjukkan poster.
“Bagus.”
“Jauh lebih bagus dari yang lama.”
“Yang lama memang kejahatan visual.”
Dia menatapku. “Kamu pernah kuliah desain.”
“Banyak orang pernah.”
“Orang yang buat ini tahu gerakanku.” Nadira memperbesar foto. “Dia pilih frame setelah pendaratan, bukan saat pose akhir.”
“Mungkin kebetulan.”
“Dia juga memakai biru yang sama dengan kebayaku.”
Aku mengambil lap. “Biru tua warna umum.”
“Dan font yang sama dengan tulisan reservasi baru di kursiku.”
Aku berhenti mengelap meja.
Nadira tersenyum pelan. “Ketemu.”
“Saya tidak tahu apa yang kamu bicarakan.”
“Bohongmu jelek.”
“Tapi posternya bagus?”
“Sangat.”
Dia berjalan mengitari meja kasir. Aku mundur satu langkah. Nadira maju. Punggungku akhirnya menyentuh rak cangkir.
“Kenapa anonim?” tanyanya.
“Karena tim sponsor tidak minta.”
“Kenapa gratis?”
“Saya sedang latihan.”
“Kenapa pilih foto itu?”
Aku menatap layar. “Karena kamu kelihatan bahagia.”
“Aku terlihat berantakan.”
“Dua hal itu bisa terjadi bersamaan.”
Tatapan Nadira melembut. “Kamu selalu pilih versi aku yang orang lain nggak lihat.”
“Versi itu tetap kamu.”
Dia berdiri sangat dekat. Tangannya menyentuh dada kemejaku, tepat di atas saku.
“Bayarannya apa?”
“Nggak perlu.”
“Aku nggak suka berutang.”
“Ini hadiah.”
“Hadiah biasanya ada acara.”
“Anggap hadiah karena berhasil istirahat dua hari tanpa kabur ke arena.”
Nadira tertawa, tetapi tangannya tetap di dadaku. “Aku bisa bayar pakai cara lain.”
“Uang sangat diterima.”
“Pengecut.”
“Disiplin finansial.”
Dia berdiri berjinjit. Aku yakin kali ini dia akan mencium. Bibirnya berhenti di dekat telinga.
“Aku simpan utangnya,” bisiknya. “Nanti kutambah bunga.”
Nadira mundur, meninggalkanku bersandar pada rak seperti korban perampokan yang sukarela menyerahkan dompet.
“Satu hal lagi,” katanya.
“Apa?”
“Tim sponsor mau bertemu desainernya.”
“Nggak perlu.”
“Mereka mau bayar dan menawarkan proyek lanjutan.”
Aku menggeleng. “Saya sudah punya pekerjaan.”
“Kamu juga masih suka desain.”
“Suka bukan berarti harus kembali.”
“Kenapa?”
Pertanyaan itu terlalu dekat dengan luka lama. “Karena hidup saya sudah berjalan ke arah lain.”
Nadira memandangku lama. “Kamu menyuruh aku terus mengejar sesuatu yang kusuka.”
“Situasi kita beda.”
“Tentu. Aturan bijakmu cuma berlaku buat orang lain.”
Dia mengambil tas dan berjalan ke pintu. Untuk pertama kalinya, Nadira pergi dalam keadaan marah bukan karena aku terlalu jauh, melainkan karena aku menolak melangkah untuk diriku sendiri.
Di meja tertinggal kartu nama kepala pemasaran sponsor.
Pada bagian belakang, Nadira menulis:
Aku suka dilihat olehmu. Sekarang coba lihat dirimu sendiri.
Aku membaca kalimat itu berulang kali setelah kedai tutup.
Untuk pertama kalinya dalam bertahun-tahun, mimpiku yang lama tidak terasa mati.
Hanya tertidur—seperti Nadira di kursi pojok pada malam-malam ketika dia terlalu lelah untuk mengaku.
Sasa menemukan kartu itu keesokan paginya.
“Telepon,” katanya.
“Tidak.”
“Kenapa?”
“Saya sudah lama berhenti.”
“Jadi kemampuanmu kadaluarsa?”
“Bukan itu.”
Dia meletakkan kartu di atas mesin kasir. “Kamu menyuruh Nadira istirahat karena dua hari nggak akan menghapus kemampuannya. Tapi kamu menganggap beberapa tahun menghapus punyamu.”
Aku membenci ketika orang memakai kalimatku sendiri.
Sepanjang shift, kartu itu tetap berada di dekat kasir. Setiap kali mengambil uang atau mencetak struk, aku melihat nama kepala pemasaran tersebut.
Malamnya Nadira tidak datang. Hanya ada pesan singkat.
Masih marah. Telepon orang di kartu itu.
Ancaman?
Peringatan. Ancamannya lebih parah.
Apa?
Aku berhenti menggoda selama seminggu.
Aku langsung mengambil kartu.
Itu pemerasan.
Efektif?
Aku tidak menjawab. Aku menelepon nomor tersebut sebelum keberanian hilang. Percakapan berlangsung lima belas menit. Mereka tidak hanya ingin membeli desain poster, tetapi meminta tiga materi lanjutan untuk kampanye digital.
Setelah telepon berakhir, tanganku gemetar. Bukan karena takut gagal. Karena bagian diriku yang sudah lama dikubur mendadak bergerak lagi.
Aku mengirim pesan kepada Nadira.
Saya telepon.
Balasannya datang cepat.
Bagus. Besok aku datang menagih bunga.
Bukannya tadi marah?
Masih. Tapi aku bisa marah sambil menggoda.
Aku tertawa sendiri di kedai kosong.
Malam itu, aku membuka laptop dan mulai membuat materi kedua. Kali ini tidak anonim. Di sudut file, kutulis nama yang sudah lama tidak kupakai secara profesional: Erga Oktariano.
Setiap garis terasa canggung, tetapi nyata. Nadira tidak hanya membuatku ingin memahami mimpinya. Tanpa sadar, dia juga menarik mimpiku sendiri keluar dari tempat persembunyian.
Di layar, foto Nadira sedang tersenyum setelah mendarat.
Aku membalas senyum itu dari balik meja kasir.
Nadira datang keesokan malam dalam keadaan tidak lagi marah. Dia berdiri di depan kasir dan mengulurkan tangan.
“Apa?” tanyaku.
“Bukti kamu menelepon.”
Aku menunjukkan email berisi brief proyek. Dia membacanya, lalu tersenyum bangga seolah aku baru memenangkan kompetisi.
“Sekarang bayaranku,” katanya.
“Bukannya saya yang dibayar?”
“Aku yang memaksamu menelepon.”
“Sistem ekonomimu menyeramkan.”
Nadira menunjuk pipinya sendiri. “Satu.”
“Apa?”
“Ciuman terima kasih.”
Aku menatap sekeliling. Masih ada Sasa dan dua pelanggan.
“Kamu bisa menunggu sampai sepi?”
“Bisa. Tapi aku nggak mau.”
Dia menarik tali apron, membuatku membungkuk. Sebelum aku memutuskan apa pun, Nadira mencium pipiku—lama, hangat, dan sangat sengaja.
Sasa menjatuhkan sendok.
Nadira melepaskan apron. “Itu pokoknya.”
“Bunganya?”
Matanya turun ke bibirku. “Disimpan sampai kamu berani menagih.”
Dia berjalan ke kursi pojok dengan kemenangan penuh. Aku berdiri di belakang kasir, wajah panas, sambil menyadari bahwa setiap kemajuan dalam karier baruku mungkin akan dibayar dengan kerusakan permanen pada jantung.
Namun saat membuka brief proyek dan melihat namaku tercantum sebagai desainer, aku tidak takut.
Untuk pertama kalinya, masa depan tidak hanya berisi kewajiban. Ada kemungkinan. Ada warna. Ada perempuan di kursi pojok yang percaya pada kemampuanku bahkan ketika aku sendiri belum percaya.
- 1 Pelanggan Terakhir
- 2 Tempat Aku Boleh Kalah
- 3 Kopi yang Tidak Pernah Habis
- 4 Kursi Milikku
- 5 Kasir yang Terlalu Ramah
- 6 Tiga Jam untuk Satu Tatapan
- 7 Bidadari di Depan Mesin Kasir
- 8 Aku Datang untuk Kamu
- 9 Dunia di Atas Es
- 10 Tangannya di Pinggangku
- 11 Bahasa yang Kupelajari untukmu
- 12 Tarik Apron, Pangkas Jarak
- 13 Jatuh ke Pelukan yang Tepat
- 14 Bau Kopi dan Tempat Aman
- 15 Poster Tanpa Nama reading
- 16 Kalau Aku Mau Baristanya
- 17 Benda yang Bisa Dijual
- 18 Ciuman di Telapak Tangan
- 19 Kursi yang Salah
- 20 Dua Tahun
- 21 Pulang dalam Keadaan Apa Pun
- 22 Minta Aku Tinggal
- 23 Pergilah
- 24 Kalau Kamu Minta
- 25 Tiket yang Tidak Dijual
- 26 Orang yang Kucari
- 27 Aku Cukup Melihatmu Bersinar
- 28 Bintang yang Turun dari Arena
- 29 Jangan Cintai Aku dari Jauh
- 30 Kebaya yang Sama