Chapter Twelve

Tarik Apron, Pangkas Jarak

POV: Zivana Nadira

Dua hari istirahat membuatku menemukan tiga hal.

Pertama, aku buruk dalam berdiam diri.

Kedua, Erga benar tentang pergelanganku.

Ketiga, mencium pipinya adalah keputusan bagus yang perlu ditingkatkan.

Malam kedua, aku datang setelah kedai tutup untuk mengembalikan kantong dingin. Itu alasan resmi. Alasan sebenarnya adalah aku ingin melihat apakah Erga masih menyentuh pipinya setiap kali mengingat kejadian di mobil.

Dia sedang mengepel ketika aku mengetuk kaca. Begitu melihatku, dia menunjuk tanda closed.

Aku mengangkat kantong dingin dan membuat wajah memelas.

Erga membuka pintu. “Pengembalian barang bisa besok.”

“Aku pelanggan prioritas.”

“Kamu gangguan prioritas.”

Aku masuk sebelum dia berubah pikiran. Kedai gelap kecuali lampu meja kasir. Musik sudah mati. Tanpa pelanggan dan suara mesin, ruang itu terasa lebih kecil.

Erga kembali mengepel. “Pergelangannya?”

“Lebih baik.”

“Tidak latihan diam-diam?”

“Aku cuma melakukan gerakan kaki di ruang tamu.”

“Itu latihan.”

“Tidak pakai es.”

“Kamu selalu negosiasi seperti pengacara kriminal?”

Aku duduk di atas meja kasir. “Aku bosan.”

“Ada kursi.”

“Aku sukanya di sini.”

Erga menyandarkan gagang pel ke dinding. “Turun.”

“Buat aku turun.”

Tatapannya berubah. Hanya sedikit, tetapi cukup membuat jantungku mempercepat langkah.

Dia mendekat sampai berdiri di antara kedua lututku, tetap menyisakan jarak aman. “Jangan menantang orang yang pegang alat kebersihan.”

“Aku takut.”

“Wajahmu nggak mendukung.”

Aku menangkap ujung apronnya dan menarik.

Jarak aman itu hilang.

“Aku penasaran,” kataku. “Apron ini yang bikin kamu kelihatan menarik, atau memang orangnya?”

“Turun dulu.”

“Cium dulu.”

Erga membeku.

Dadaku ikut menegang, tetapi wajahku tetap tenang. Aku sudah menyiapkan jalan keluar: tertawa, bilang bercanda, lalu pulang membawa kemenangan kecil.

“Kamu serius?” tanyanya.

Tatapan Erga tidak lagi gugup. Terlalu langsung. Terlalu siap menerima jawabanku.

Keberanianku runtuh tepat ketika dibutuhkan.

“Nggak,” jawabku sambil tersenyum. “Aku cuma ingin lihat mukamu.”

Sesuatu di mata Erga meredup.

Dia melepaskan peganganku dari apron dengan hati-hati, bukan kasar. “Sudah puas?”

“Lumayan.”

“Bagus.”

Erga mengambil pel dan kembali bekerja.

Kemenanganku terasa hambar.

Aku turun dari meja dan mengikutinya. “Kamu marah?”

“Nggak.”

“Kecewa?”

“Kenapa saya harus kecewa?”

Nada datarnya lebih menyakitkan daripada jika dia mengaku.

“Erga.”

“Hm?”

“Kalau aku serius, kamu bakal nurut?”

Dia berhenti mengepel tetapi tidak menoleh. “Kalau kamu serius, jangan kasih saya alasan untuk menganggapnya permainan.”

Aku terdiam.

Selama ini aku menikmati cara Erga kehilangan kata-kata. Setiap godaan memberiku bukti bahwa aku punya pengaruh. Namun aku tidak pernah memikirkan bagaimana rasanya di pihak orang yang terus diberi harapan lalu diberi tahu semuanya lelucon.

“Maaf,” kataku.

Erga akhirnya menoleh. “Kamu nggak salah karena bercanda.”

“Tapi aku salah kalau sengaja bikin kamu berharap.”

Dia tidak membantah. Itu jawaban paling jujur yang bisa kuterima.

Aku mendekat, mengambil tangannya, lalu meletakkannya di pinggangku seperti saat foto. “Yang ini bukan bercanda.”

“Nadira.”

“Aku suka kalau kamu menyentuhku.”

Napasnya tertahan.

“Tapi aku belum siap menjelaskan artinya,” lanjutku. “Jadi jangan cium aku malam ini.”

Erga menatapku lama. “Kamu rumit.”

“Aku tahu.”

“Dan sangat merepotkan.”

“Kamu juga tahu.”

Tangannya tetap di pinggangku, hangat dan mantap. Tidak menarik lebih dekat, tetapi juga tidak pergi.

“Kalau begitu,” katanya, “jangan minta sesuatu yang belum siap kamu terima.”

“Kalau nanti aku siap?”

“Minta lagi.”

“Kamu akan nurut?”

Sudut bibirnya naik. “Nanti saya putuskan.”

Aku mendorong dadanya. “Sok mahal.”

Dia tertawa dan akhirnya melepaskanku. Ketika aku hendak pergi, Erga menyerahkan kantong dingin kembali.

“Simpan sampai benar-benar pulih.”

“Kalau aku mau mengembalikan lagi?”

“Datang saat buka.”

“Nggak seru.”

Aku berjalan ke pintu, lalu menoleh. “Erga?”

“Apa lagi?”

“Permintaan tadi belum dibatalkan. Cuma ditunda.”

Dia mengembuskan napas dan menutup wajah dengan satu tangan.

Kali ini aku pulang tanpa menyebutnya bercanda.

Di mobil, keberanianku menyusut dan rasa bersalah membesar. Aku mengirim pesan kepada Tiara, menanyakan apakah terus menggoda seseorang bisa dianggap kejam kalau aku sendiri belum berani memberi kepastian.

Balasannya datang dalam bentuk panggilan.

“Kamu suka dia?” tanyanya tanpa salam.

“Pertanyaanmu terlalu langsung.”

“Karena hidupmu terlalu penuh putaran.”

Aku melihat pergelangan yang mulai pulih. “Aku suka berada dekat dia. Aku suka dia melihatku. Aku suka saat tangannya di pinggangku.”

“Itu tiga jawaban iya.”

“Tapi kalau nanti dia meminta sesuatu yang nggak bisa kuberi?”

“Dia pernah meminta?”

“Belum.”

“Jadi kamu menghukum dia atas tuntutan yang cuma ada di kepalamu.”

Aku terdiam.

Selama ini aku percaya semua hubungan pada akhirnya menuntut pilihan. Mama selalu bicara tentang pengorbanan. Mantan pacarku ketika junior pernah meminta aku mengurangi latihan supaya punya waktu normal. Sponsor ingin senyum, federasi ingin medali, publik ingin cerita inspiratif.

Erga belum pernah meminta apa-apa.

Justru aku yang terus meminta: kursi, kopi, waktu, tatapan, sentuhan, bahkan ciuman yang kubatalkan sendiri.

Sesampainya di rumah, aku membuka percakapan dengan Erga.

Kamu benar-benar kecewa tadi?

Jawabannya datang beberapa menit kemudian.

Sedikit.

Kejujuran itu membuat dadaku sesak.

Maaf.

Sudah dimaafkan.

Cepat banget.

Saya lemah terhadap atlet galak.

Aku tersenyum, tetapi belum selesai.

Kalau nanti aku minta lagi, aku nggak akan bercanda.

Tanda mengetik muncul lama.

Kalau nanti kamu minta lagi, saya akan pastikan sekali. Setelah itu saya percaya.

Aku membaca kalimat itu sampai hafal.

Dan kalau aku minta kamu berhenti?

Saya berhenti.

Tidak ada rayuan dalam jawabannya. Hanya batas yang begitu jelas sehingga aku merasa semakin aman.

Kalau aku nggak minta berhenti?

Tidur, Nadira. Pergelanganmu butuh istirahat.

Aku melempar ponsel ke bantal, kesal sekaligus tertawa.

Lelaki itu berhasil lolos malam ini. Namun saat aku siap nanti, aku tidak akan memberinya celah untuk mengalihkan pembicaraan.

Keesokan sore aku tetap datang saat kedai buka, seperti yang diminta. Erga melayaniku dengan sikap normal yang menyebalkan. Dia membuat americano, menaruh air putih, lalu pergi melayani meja lain tanpa satu pun tanda bahwa semalam aku meminta ciuman.

Aku menunggu sampai dia kembali ke kasir.

“Kamu menghindar?”

“Saya bekerja.”

“Sejak tadi kamu nggak lihat aku.”

Erga akhirnya menatap lurus. “Kalau saya lihat terlalu lama, saya ingat kamu duduk di meja dan menarik apron.”

Panas naik ke wajahku. “Terus?”

“Terus saya harus tetap bekerja.”

Jawaban itu lebih memuaskan daripada seharusnya.

Aku berdiri dan menghampiri meja kasir. Kali ini tidak menarik apronnya. Aku hanya menyelipkan dua jari pada tali di samping pinggang, sentuhan kecil yang tidak bisa dilihat pelanggan.

“Aku belum siap dicium,” bisikku. “Tapi kamu boleh terus mengingatnya.”

Erga meletakkan telapak tangan di atas tanganku. “Kamu sengaja menyiksa?”

“Aku sedang belajar jujur.”

“Caramu tetap berbahaya.”

“Kamu suka?”

Dia tidak menjawab dengan kata-kata. Ibu jarinya mengusap buku jariku sekali sebelum melepaskan.

Aku kembali ke kursi dengan senyum yang tidak bisa disembunyikan. Perubahan kecil itu cukup: semalam aku berhenti menjadikan perasaannya permainan. Hari ini, Erga berhenti berpura-pura tidak terpengaruh.