Chapter Twenty Two

Minta Aku Tinggal

POV: Zivana Nadira

Aku datang untuk memberikan Erga kesempatan terakhir.

Bukan agar dia membatalkan mimpiku. Bukan agar keputusan dua tahun itu berubah. Aku hanya ingin mendengar bahwa kepergianku memiliki harga bagi dirinya.

Kedai sudah tutup ketika aku tiba. Erga membiarkanku masuk tanpa bertanya. Di meja pojok ada tanda baru: TEMPAT INI MENUNGGU ZIVANA NADIRA PULANG.

Dadaku menghangat, tetapi belum cukup.

“Bagus,” kataku. “Sekarang bagaimana dengan orangnya?”

Erga berdiri di depan kasir. “Orangnya juga menunggu.”

“Sebagai apa?”

Dia tidak menjawab.

Aku berjalan mendekat dan menarik apron sampai wajah kami hanya berjarak beberapa sentimeter.

“Minta aku tinggal.”

Napas Erga tersendat. “Nadira.”

“Sekali saja. Jadi orang egois. Bilang kamu nggak mau aku pergi.”

Tangannya naik ke pinggangku. Aku menunggu, seluruh tubuh tegang.

“Saya nggak mau kamu pergi,” katanya akhirnya.

Hatiku melonjak.

“Tapi kamu harus pergi.”

Lalu jatuh lebih keras.

“Kenapa selalu ada tapi?”

“Karena perasaan saya nggak boleh menentukan masa depanmu.”

“Aku yang menentukan.”

“Dan saya tidak akan memberi alasan yang membuatmu memilih karena takut kehilangan saya.”

“Bagaimana kalau aku memang takut?”

“Kita cari cara supaya kamu nggak kehilangan apa pun.”

“Kita bahkan nggak punya nama.”

“Kalau nama itu membuatmu tinggal, saya nggak akan memberikannya malam ini.”

Aku melepaskan apron seolah kainnya membakar tangan.

“Jadi kamu menolak aku untuk kebaikanku?”

“Saya menolak menjadi alasan kamu melepaskan panggungmu.”

“Aku bukan anak kecil.”

“Saya tahu.”

“Berhenti memutuskan apa yang bisa kutanggung.”

Erga menutup mata. Ketika membukanya, rasa sakit terlihat jelas.

“Pergi,” katanya.

Satu kata itu menghancurkan lebih banyak daripada semua penjelasan.

Aku menatapnya, menunggu kata kedua. Tidak ada.

“Aku sudah menandatangani kontrak,” kataku. “Keberangkatan sebulan setelah kejuaraan. Aku tahu secara logis aku harus pergi.”

“Lalu kenapa meminta saya?”

“Karena aku ingin tahu ada seseorang yang akan kehilangan aku.”

Erga mendekat. “Saya akan kehilangan lebih dari yang bisa saya jelaskan.”

“Jelaskan.”

“Saya akan kehilangan sebelas menit sebelum tutup. Kursi pojok. Kopi yang tidak pernah habis. Orang yang membuat saya membuka laptop desain lagi. Orang pertama yang bertanya apa yang saya mau dan marah ketika saya nggak punya jawaban.”

Suaranya pecah.

“Saya akan kehilangan tempat saya menaruh semua perhatian yang selama ini terasa alami.”

Dadaku sakit mendengarnya. “Lalu kenapa masih bilang pergi?”

“Karena kehilangan saya bukan alasan kamu kehilangan dirimu.”

Aku ingin menciumnya sekaligus memukulnya.

“Kamu pikir cinta selalu sesederhana siapa mengorbankan apa?”

“Tidak.”

“Tapi kamu terus memperlakukannya seperti laporan rugi laba.”

Erga menunduk. “Itu satu-satunya cara saya tahu menjaga orang.”

“Belajar cara lain.”

Aku menampar dadanya dengan kedua telapak, bukan keras, hanya putus asa. “Bodoh.”

“Iya.”

“Pengecut.”

“Iya.”

“Aku hampir mencium kamu.”

“Saya tahu.”

“Aku duduk di pangkuanmu.”

“Sulit dilupakan.”

“Aku datang memakai kebaya cuma buat kamu.”

Erga membeku.

Rahasia itu akhirnya keluar.

Erga meraih meja kasir untuk menyangga tubuh. “Tiga jam itu—”

“Buat kamu.”

“Perjalanan hampir satu jam?”

“Buat kamu.”

“Apron yang dibawa pulang?”

“Tidur di samping bantalku.”

Wajahnya berubah merah meski kami sedang bertengkar.

“Jangan fokus ke bagian itu,” bentakku.

“Saya sedang berusaha.”

Aku hampir tertawa. Hampir. Lalu rasa sakit kembali lebih besar.

“Apa?”

“Aku menempuh hampir satu jam karena ingin kamu melihatku. Aku pilih warna yang kamu suka. Aku berdandan tiga jam. Semua itu buat kamu.”

Tatapan Erga runtuh. Tangannya meraihku, tetapi aku mundur.

“Dan kamu masih menyuruhku pergi.”

“Karena sekarang saya semakin tahu betapa berbahayanya kalau saya minta.”

Air mataku jatuh. “Kalau begitu jangan pernah bilang kamu nggak tahu aku memilih siapa.”

Aku mengambil tas.

Di pintu, Erga memanggil namaku. Aku berhenti, berharap dia akhirnya berubah pikiran.

“Saya mencintai—”

Kalimatnya terputus.

Aku menunggu. Dia tidak menyelesaikan.

“Selesaikan saat kamu sudah berani,” kataku.

Aku pergi dan membiarkan pintu menutup di antara kami.

Di luar, aku menangis di dalam mobil tanpa suara. Bukan karena Erga tidak mencintaiku.

Justru karena aku tahu dia mencintaiku begitu besar sampai rela membuat dirinya sendiri menjadi orang yang kubenci.

Di mobil, aku membuka pesan lama kami. Foto latte hati rusak. Apron di atas piyama. Tulisan izin terbatas di telapak tangannya. Setiap godaan yang dulu membuatku tertawa sekarang menjadi bukti betapa dekat kami sebelum ketakutan ikut duduk di antara kami.

Aku mengetik satu pesan.

Kalau kamu memintaku kembali malam ini, aku akan turun dari mobil.

Tidak kukirim.

Aku tahu masalah kami tidak akan selesai dengan satu adegan romantis di bawah hujan. Erga harus belajar meminta tanpa merasa bersalah. Aku harus belajar memilih tanpa menjadikan ketakutannya sebagai ujian.

Namun pemahaman tidak membuat keinginan menghilang.

Aku melihat kedai semakin jauh dari kaca belakang dan berharap, dengan bagian diriku yang paling tidak rasional, pintu itu terbuka dan Erga berlari mengejar.