Chapter Ten
Tangannya di Pinggangku
POV: Zivana Nadira
Erga datang pada Selasa sore memakai kemeja hitam tanpa apron.
Aku sudah tahu dia akan datang. Tetap saja, melihatnya duduk di tribun membuat rangkaian langkahku terasa lebih ringan.
Latihan hari itu terbuka untuk tim sponsor. Ada fotografer, perwakilan merek olahraga, dan dua orang media internal. Aku seharusnya fokus pada kamera profesional yang mengikuti gerakanku.
Sebaliknya, setiap selesai satu putaran, mataku mencari kasir yang membawa termos di baris kedua.
“Pacar?” tanya Keenan ketika kami menunggu sesi foto.
“Bukan.”
“Tapi penglihatannya diperiksa setiap tiga puluh detik.”
“Aku memastikan dia nggak menyentuh kopiku.”
“Termosnya ada di samping dia.”
“Makanya.”
Keenan tertawa. Erga melihat kami dari jauh. Ekspresinya tidak berubah, tetapi tangannya berhenti membuka tutup termos.
Bagus.
Sedikit cemburu akan membuatnya sehat.
Setelah latihan, tim sponsor meminta foto para atlet dan pendamping. Coach Maya menolak ikut. Keenan sudah berdiri bersama fisioterapisnya. Aku menoleh ke tribun.
“Erga,” panggilku.
Dia menunjuk dirinya sendiri.
“Di sini.”
“Saya?”
“Di sini cuma ada satu Erga.”
Dia turun dengan langkah ragu. Fotografer mengaturku di tengah dan Erga di sebelah kanan.
“Lebih dekat,” kata fotografer.
Erga bergeser sekitar dua sentimeter.
“Mas, itu bukan lebih dekat. Itu gempa kecil.”
Orang-orang tertawa. Aku menoleh pada Erga. Tangannya kaku di samping tubuh.
“Tangannya jangan kaku,” kataku.
“Saya bukan atlet foto.”
Aku mengambil tangan kanannya dan meletakkannya di pinggangku.
Tubuh Erga langsung menegang.
“Takut salah tempat,” bisiknya.
Aku mempertahankan tangannya di sana. “Kalau sama aku, tempatnya memang di situ.”
Tatapannya jatuh kepadaku. Kamera memotret pada detik yang sama.
“Bagus!” seru fotografer. “Sekali lagi, lihat kamera.”
Aku melihat kamera. Erga mencoba. Namun telapak tangannya masih terasa hangat menembus kain jaket latihanku, dan aku tahu dari ujung jarinya yang sedikit menekan bahwa dia sama sadar akan sentuhan itu seperti aku.
Foto selesai. Erga hendak menarik tangan, tetapi kutahan satu detik lebih lama.
“Sudah,” katanya pelan.
“Aku tahu.”
“Lalu?”
“Tangannya nyaman.”
Telinganya memerah. Kemenangan kedua minggu ini.
Keenan mendekat setelah fotografer pergi. “Kenalkan?”
“Erga, ini Keenan. Keenan, ini kasirku.”
Erga mengangkat alis. “Kasirmu?”
“Aku pelanggan tetap.”
Keenan menjabat tangan Erga. “Senang akhirnya ketemu. Nadira sering—”
Sikutku mendarat di sisi tubuhnya.
“Sering apa?” tanya Erga.
“Sering mengeluh kopinya pahit,” jawab Keenan sambil meringis.
“Tapi selalu datang,” kata Erga.
“Karena kursinya nyaman,” balasku.
“Tentu.”
Nada itu terlalu tenang. Aku ingin tahu apakah dia cemburu kepada Keenan. Keinginan tersebut kekanak-kanakan, tetapi sulit ditolak.
“Keenan sering menemaniku latihan sejak junior,” kataku.
“Informasi bagus.”
“Dia juga tahu semua kebiasaanku.”
“Termasuk kebiasaan mencuri whipped cream?”
Keenan menoleh kepadaku. “Kamu masih melakukan itu?”
Aku menyesal memulai percakapan.
Erga tersenyum kecil. Tidak ada posesif, tidak ada sikap menandai wilayah. Entah kenapa, kedewasaan itu justru membuatku lebih ingin mengguncang ketenangannya.
Di lorong menuju ruang ganti, aku mengejarnya.
“Kamu nggak cemburu?”
Erga berhenti. “Harus?”
“Nggak.”
“Baik.”
Dia kembali berjalan. Aku berdiri dengan kesal selama dua detik, lalu menyusul.
“Sedikit juga nggak?”
“Keenan temanmu.”
“Dia tinggi, atlet, dan wajahnya lumayan.”
“Saya punya mata.”
“Jadi?”
Erga membuka tutup termos dan menuang americano ke cangkir. “Saya tidak punya hak untuk cemburu.”
Kalimat itu membuatku berhenti bermain.
“Kalau punya hak?” tanyaku.
Tangannya berhenti menuang. Kopi hampir melewati batas, tetapi dia menegakkan termos tepat waktu.
“Nadira.”
“Itu bukan jawaban.”
Dia menyerahkan cangkir. Jari kami bersentuhan, lalu Erga tidak langsung melepaskan.
“Kalau punya hak,” katanya pelan, “mungkin saya akan minta tangan saya tetap di pinggangmu lebih lama.”
Sekarang giliranku kehilangan suara.
Erga melepaskan cangkir dan berjalan menuju pintu arena seolah tidak baru membalikkan seluruh permainan.
Aku menyusul dengan langkah cepat. “Kamu nggak boleh ngomong begitu lalu pergi.”
“Saya harus kembali kerja.”
“Erga.”
Dia menoleh. Ada senyum tipis pada wajahnya.
Aku ingin membalas, tetapi semua kalimat berani menghilang. Jadi aku mengambil ponsel dan membuka foto yang baru dikirim fotografer.
Dalam gambar itu, wajahku menghadap kamera. Erga seharusnya juga begitu, tetapi matanya tertuju kepadaku. Tangannya berada di pinggangku dengan sikap hati-hati, seolah sedang memegang sesuatu yang ingin dijaga, bukan dimiliki.
Aku mengirim foto itu kepadanya.
Tangannya kelihatan cocok, tulisku.
Ponselnya berbunyi. Dia membaca pesan, menatapku dari dekat pintu, lalu mengetik.
Atletnya juga lumayan.
Aku mendengus.
Cuma lumayan?
Balasannya datang saat dia sudah keluar.
Kalau saya jujur, nanti kamu makin susah diatur.
Aku menyimpan foto itu sebagai favorit.
Masalahnya bukan lagi apakah Erga menginginkanku.
Masalahnya, dia mungkin akan terus menolak mengaku sampai aku kehilangan seluruh rasa malu untuk memaksanya.
Aku menyusulnya sampai lorong keluar dan menarik lengan kemejanya. “Tunggu.”
Erga berhenti. Lorong sedang kosong. Aku berdiri di depannya, menghalangi jalan.
“Kamu selalu bicara soal hak,” kataku. “Hak menyentuh, hak cemburu, hak berharap.”
“Itu penting.”
“Kalau aku yang kasih?”
Tatapannya turun sekilas ke bibirku. “Kasih apa?”
Aku mengambil tangannya lagi dan meletakkannya di pinggangku. Kali ini tidak ada fotografer, tidak ada alasan pose.
“Izin untuk ini.”
Jemarinya menegang di sisi tubuhku. “Kamu sedang main-main?”
“Menurutmu?”
“Saya nggak tahu. Itu masalahnya.”
Kejujurannya mengenai tempat yang tidak nyaman. Aku terus menuntut dia mengambil risiko, tetapi selalu menyimpan jalan untuk mundur dengan kata bercanda.
Aku belum siap menutup jalan itu.
“Kalau begitu, anggap aku sedang latihan,” kataku.
“Latihan apa?”
“Membuatmu kehilangan kontrol.”
Erga tertawa pelan. “Kamu sudah lulus.”
Tangannya belum pergi dari pinggangku. Ibu jarinya bergerak sedikit, hampir seperti belaian, dan seluruh keberanianku mendadak berbalik menyerang diri sendiri.
Aku melepaskannya lebih dulu.
“Kembali kerja sana, Mas Kasir.”
“Diusir setelah dipakai latihan?”
“Sebelum aku menaikkan levelnya.”
“Ancaman?”
Aku mundur sambil tersenyum. “Janji.”
- 1 Pelanggan Terakhir
- 2 Tempat Aku Boleh Kalah
- 3 Kopi yang Tidak Pernah Habis
- 4 Kursi Milikku
- 5 Kasir yang Terlalu Ramah
- 6 Tiga Jam untuk Satu Tatapan
- 7 Bidadari di Depan Mesin Kasir
- 8 Aku Datang untuk Kamu
- 9 Dunia di Atas Es
- 10 Tangannya di Pinggangku reading
- 11 Bahasa yang Kupelajari untukmu
- 12 Tarik Apron, Pangkas Jarak
- 13 Jatuh ke Pelukan yang Tepat
- 14 Bau Kopi dan Tempat Aman
- 15 Poster Tanpa Nama
- 16 Kalau Aku Mau Baristanya
- 17 Benda yang Bisa Dijual
- 18 Ciuman di Telapak Tangan
- 19 Kursi yang Salah
- 20 Dua Tahun
- 21 Pulang dalam Keadaan Apa Pun
- 22 Minta Aku Tinggal
- 23 Pergilah
- 24 Kalau Kamu Minta
- 25 Tiket yang Tidak Dijual
- 26 Orang yang Kucari
- 27 Aku Cukup Melihatmu Bersinar
- 28 Bintang yang Turun dari Arena
- 29 Jangan Cintai Aku dari Jauh
- 30 Kebaya yang Sama