Chapter Two

Tempat Aku Boleh Kalah

POV: Zivana Nadira

Aku tidak mengundang orang menonton latihan.

Bahkan Mama harus mengirim pesan dua hari sebelumnya kalau ingin datang. Bukan karena arena itu tempat rahasia, melainkan karena aku benci dilihat saat belum sempurna.

Orang-orang menyukai hasil akhir. Kostum berkilau, rambut rapi, senyum saat musik berhenti. Mereka tidak perlu melihat pantatku membentur es atau mendengar Coach Maya mengatakan putaranku mirip cucian tersangkut di mesin.

Jadi, mengundang Erga semalam adalah keputusan bodoh.

Keputusan yang lebih bodoh adalah mengatakan bahwa aku bercanda sebelum dia sempat menjawab.

“Fokus.”

Suara Coach Maya memotong pikiranku. Aku menekuk lutut, mengambil ancang-ancang, lalu melompat.

Ujung bilahku menghantam es dengan sudut yang salah. Tubuhku mendarat miring. Pinggul kanan menyentuh permukaan lebih dulu, disusul telapak tangan.

Rasa sakit menjalar sampai bahu.

“Sekali lagi,” kataku.

“Istirahat dua menit.”

“Aku masih bisa.”

“Saya tidak menanyakan kemampuanmu.” Coach Maya menunjuk bangku. “Duduk.”

Aku meluncur ke tepi dengan rahang mengeras. Keenan sedang melepas pelindung bilah di bangku sebelah. Dia menyerahkan botol air tanpa diminta.

“Wajahmu kayak habis ditolak pinjaman,” katanya.

“Diam.”

“Triple lutz-nya yang salah, kenapa aku yang dimarahi?”

Aku merebut botol itu. Ponselku tergeletak di atas handuk. Tidak ada pesan baru.

Tentu saja tidak ada. Erga tidak punya nomor pribadiku. Selama ini kami hanya berkomunikasi lewat akun kedai, itu pun kalau aku bertanya apakah kursi pojok masih kosong.

“Nunggu seseorang?”

“Nggak.”

Keenan mengikuti arah mataku ke pintu tribun. “Kalau bohong, lihatnya jangan ke pintu setiap tujuh belas detik.”

“Kamu ngitung?”

“Aku mulai bosan lihat kamu jatuh.”

Aku menyiramkan sedikit air ke sepatunya.

Latihan berakhir dua jam kemudian dengan catatan buruk pada empat elemen. Coach Maya memintaku berhenti sebelum kakiku berubah menjadi alasan medis. Aku menurut karena berdebat membutuhkan energi yang sudah habis.

Di ruang ganti, ada tiga pesan dari Mama, dua dari manajer, dan satu foto dari akun Kedai Titik Pulang.

Foto itu menampilkan cangkir hitam di kursi pojok dengan tulisan di secarik kertas: TEMPAT TIDUR SEMENTARA DITUTUP UNTUK RENOVASI.

Aku menatap layar lebih lama daripada seharusnya.

Pesan berikutnya masuk.

Bercanda. Kursinya aman.

Aku membalas sebelum harga diriku sempat mencegah.

Kamu nggak kerja?

Sedang. Saya karyawan teladan yang sempat membuat papan larangan demi pelanggan menyebalkan.

Jadi kamu nggak datang.

Tanda mengetik muncul, hilang, lalu muncul lagi.

Katanya bercanda.

Aku menggigit bagian dalam pipi. Kesalahan sendiri ternyata lebih menjengkelkan ketika dikembalikan dengan sopan.

Memang. Latihannya jelek.

Aku mengunci layar sebelum dia menjawab.

Malamnya, aku datang pukul sembilan lewat empat puluh sembilan. Cangkir hitam sudah menunggu. Begitu duduk, Erga meletakkan americano dan air putih tanpa komentar.

Tidak ada cheesecake.

“Kuenya mana?” tanyaku.

“Katanya nggak pernah pesan.”

“Aku sedang memastikan program cenayangmu bekerja.”

“Cenayangnya tersinggung karena undangannya dicabut.”

Aku menatapnya. “Kamu mau datang?”

“Saya harus kerja.”

“Itu juga bukan jawaban.”

Erga mengangkat sebelah alis. Aku baru sadar sedang mengulang kalimat yang sering dia pakai untuk mengejek caraku menghindar.

Dia akhirnya mengeluarkan cheesecake dari balik nampan. Whipped cream-nya lebih tinggi daripada semalam.

“Bagaimana latihannya?” tanyanya.

Aku mengambil garpu. “Jelek.”

“Seberapa jelek?”

“Kalau es punya mulut, mungkin dia akan minta ganti atlet.”

“Berarti esnya nggak tahu diri. Sudah diinjak tiap hari masih banyak maunya.”

Aku terkekeh, lalu langsung kesal karena begitu mudah dibuat tertawa.

“Kamu bahkan nggak tahu latihannya apa.”

“Program pendek.”

Garpu berhenti di depan mulutku. “Dari mana tahu?”

“Kejuaraan tinggal beberapa bulan. Jadwal program pendek biasanya mulai dipadatkan sekarang.”

“Kamu cari di internet?”

“Internet diciptakan supaya kasir bisa terlihat pintar.”

Aku menyandarkan punggung. “Coba sebut satu lompatan.”

“Salchow.”

“Selain itu.”

“Toe loop, loop, flip, lutz, axel.”

“Kamu menghafal nama, belum tentu paham bedanya.”

Erga menyilangkan tangan. “Toe loop memakai bantuan toe pick. Salchow berangkat dari sisi dalam bilah. Lutz dari sisi luar dan arahnya berlawanan dengan rotasi.”

Aku lupa memasukkan garpu ke mulut.

Dia melanjutkan, “Axel satu-satunya yang masuk dari depan, jadi putarannya punya tambahan setengah. Saya dapat nilai berapa?”

“Kamu nonton pertandingan?”

“Kadang.”

“Pertandinganku?”

“Kadang internet memutar video secara otomatis.”

“Selama dua puluh menit?”

“Algoritmanya agresif.”

Aku membuka ponsel, mencari rekaman kejuaraan regional tiga bulan lalu, lalu meletakkannya di atas meja. Video berhenti tepat sebelum kombinasi lompatan yang membuatku kehilangan poin.

“Kalau memang nonton, salahku di mana?”

Erga melihat layar, kemudian wajahku. “Ini ujian pelanggan atau pegawai?”

“Jawab.”

Dia memutar ulang bagian itu dua kali. Aku bersiap mendengar komentar aman seperti kurang tinggi atau kurang cepat. Orang yang tidak paham biasanya memilih salah satu dari dua kata itu.

“Kamu sudah ragu sebelum lepas landas,” katanya.

Aku mengernyit. “Kelihatan?”

“Sedikit. Di lompatan sebelumnya, bahumu lepas. Yang ini bahumu seperti menunggu tubuhmu jatuh.”

Jawabannya bukan istilah teknis, tetapi tepat mengenai sesuatu yang bahkan tidak tertulis pada lembar evaluasi. Hari itu aku memang takut. Pergelangan kakiku baru pulih dan tubuhku mengingat rasa sakit lebih baik daripada kepalaku mengingat instruksi.

“Terus?” tanyaku.

“Terus apa?”

“Kalau kamu pelatih, kamu akan bilang apa?”

Erga mematikan layar. “Untungnya saya kasir. Tanggung jawab saya cuma memastikan kamu nggak minum kopi dingin.”

“Pengecut.”

Dia mengambil cangkirku, berjalan ke mesin, lalu mengganti americano yang memang sudah dingin. Saat kembali, dia meletakkannya tanpa meminta bayaran tambahan.

“Kalau harus bilang sesuatu,” katanya, “saya akan bilang rasa takut itu ada karena tubuhmu ingin melindungi diri. Bukan berarti kamu mendadak jadi atlet buruk.”

Aku menatap permukaan kopi yang mengepulkan uap.

Coach Maya selalu bilang rasa takut harus dikalahkan. Mama bilang rasa takut tidak boleh terlihat. Manajerku bilang sponsor menyukai kisah kebangkitan, tetapi tidak menyukai proses ketika atlet masih berantakan.

Erga hanya bilang tubuhku sedang mencoba melindungiku.

Untuk pertama kalinya sejak jatuh siang tadi, aku berhenti marah kepada kakiku sendiri.

Aku meletakkan garpu. Ada sesuatu yang hangat bergerak di dadaku, kecil tetapi mengganggu. Hampir semua orang yang mendekatiku tahu aku atlet. Banyak yang bahkan hafal jumlah medali. Namun mereka biasanya berhenti pada hal-hal yang mudah dipamerkan.

Erga tahu sisi bilah yang kupakai untuk memulai lutz.

“Kenapa belajar?” tanyaku.

“Supaya kalau kamu mengeluh, aku tahu harus menyalahkan es, sepatu, atau gravitasi.”

“Bukan aku?”

“Kamu sudah punya cukup banyak orang untuk melakukan itu.”

Kedai tetap sama—lampu hangat, suara mesin, meja kayu dengan goresan kecil di sudut. Namun mendadak kursi ini terasa lebih lunak.

“Aku jatuh enam kali,” kataku.

Erga tidak terlihat kaget. “Sakit?”

“Lumayan.”

“Mau cerita?”

Aku memutar garpu di piring. “Nggak.”

“Oke.”

Tidak ada pertanyaan lanjutan. Tidak ada nasihat supaya aku beristirahat. Dia hanya menggeser air putih lebih dekat dan kembali ke mesin kopi.

Aku memandang punggungnya.

Mungkin alasan aku bisa tidur di sini bukan karena kopinya. Jelas bukan karena kopinya; americano malam ini terlalu pahit.

Mungkin karena hanya di tempat ini, kegagalanku tidak segera berubah menjadi rapat evaluasi.

“Erga.”

Dia menoleh. “Hm?”

“Kalau aku benar-benar mengundangmu lain kali, datang.”

“Baik.”

“Jangan geer. Aku cuma butuh orang buat menyalahkan es.”

Erga tersenyum kecil. “Tentu.”

Aku kembali menyendok whipped cream, berharap dia tidak menyadari telingaku mulai panas.

Sayangnya, dari senyumnya, sepertinya dia menyadari semuanya.