Chapter Four

Kursi Milikku

POV: Zivana Nadira

Kursi pojokku ditempati orang lain.

Seorang laki-laki berkemeja biru duduk di sana bersama laptop, dua kabel charger, tiga buku, dan kepercayaan diri seseorang yang berniat menetap sampai cicitnya lahir.

Aku berdiri di pintu Kedai Titik Pulang sambil memandangi pemandangan itu seperti baru menemukan orang asing tidur di ranjangku.

Erga sedang mengantarkan minuman ke meja lain. Dia melihatku, lalu mengikuti arah tatapanku.

“Selamat malam,” katanya, seolah tidak ada pelanggaran hukum yang sedang berlangsung.

“Itu kursiku.”

“Secara hukum, itu aset kedai.”

“Aku duduk di sana hampir dua tahun.”

“Beliau datang empat puluh menit lebih awal.”

“Usir.”

Erga menatapku datar. “Alasan pengusirannya?”

“Aku datang.”

“Kuat, tapi kayaknya pengacara kami akan keberatan.”

Aku meletakkan tas di meja kasir. “Kamu seharusnya menyimpan kursi itu.”

“Kamu belum reservasi.”

“Harus reservasi sekarang?”

“Bisa. Ada biaya.”

“Berapa?”

“Satu kali mengakui kopi buatan saya enak.”

“Aku berdiri saja.”

Erga tertawa dan menunjukkan meja kecil di dekat jendela. Di atasnya sudah ada americano, air putih, dan cheesecake. Rupanya dia memindahkan tempatku sebelum aku datang.

Aku duduk, tetapi rasa kesal tidak hilang. Dari posisi ini, lampu jalan memantul di kaca dan orang yang lewat bisa melihat wajahku. Kursi pojok biasanya menyembunyikanku dari pintu.

Lima menit kemudian, dua pengunjung mengenaliku. Mereka meminta foto dengan sopan. Aku berdiri, tersenyum, dan melakukan semua yang seharusnya. Ketika mereka pergi, bahuku kembali tegang.

Erga muncul membawa partisi kayu kecil yang biasanya dipakai menutup area penyimpanan. Dia meletakkannya di samping meja sehingga pandangan dari pintu terhalang.

“Renovasi dadakan,” katanya.

“Aku nggak minta.”

“Program cenayang kami berkembang.”

Dia pergi sebelum aku sempat berterima kasih.

Aku menatap punggungnya sambil menyendok whipped cream. Inilah masalah Erga. Dia melakukan sesuatu yang membuat dadaku hangat, lalu meninggalkannya begitu saja seolah tidak penting.

Ketika kedai mulai sepi, laki-laki berkemeja biru menutup laptop. Aku langsung berdiri.

Erga lebih cepat. Dia membersihkan meja pojok, menyemprot permukaannya, lalu menatapku.

“Silakan, Yang Mulia.”

Aku membawa cangkir dan duduk di tempat biasa. “Mulai besok, kursi ini jangan diberikan ke orang lain.”

“Kalau ada pelanggan datang lebih dulu?”

“Bilang sudah dipesan.”

“Atas nama siapa?”

“Nadira.”

Erga menopang tangan di sandaran kursi seberang. “Kalau saya bilang kursi ini milik saya juga?”

Aku menatap kursi kosong di depanku, lalu kembali kepadanya. “Berarti kita duduk berdua.”

Jawaban itu keluar terlalu mudah.

Erga membeku sepersekian detik. Sangat singkat, tetapi aku melihatnya. Ada kepuasan kecil yang terasa memalukan saat menyadari aku bisa membuat lelaki setenang dia kehilangan respons.

“Kursinya cuma satu,” katanya.

“Aku tahu.”

“Jadi berduanya bagaimana?”

Aku bergeser ke sisi kiri, menyisakan ruang sempit. “Kamu kurus. Muat.”

“Saya ingin mempertahankan pekerjaan dan sirkulasi darah.”

“Pengecut.”

“Pelanggan yang baik tidak memaksa kasir duduk pangku.”

“Siapa bilang pangku?” Aku menepuk ruang di sampingku. “Pikiranmu ke mana?”

Wajah Erga berubah cukup banyak untuk membuatku ingin tertawa. Sebelum dia membalas, Sasa memanggil dari mesin kopi.

“Ga, pesanan meja tiga!”

Erga segera pergi. Langkahnya normal, tetapi telinganya merah.

Aku memenangkan ronde itu.

Kemenangan kecil tersebut membuat suasana latihan keesokan harinya lebih mudah ditoleransi. Aku menyelesaikan rangkaian langkah tanpa kesalahan besar, lalu memeriksa ponsel saat istirahat.

Ada foto dari akun kedai. Kursi pojok diberi kertas bertuliskan: DICADANGKAN UNTUK ATLET GALAK. DILARANG DUDUK TANPA IZIN TERTULIS.

Aku tersenyum sebelum sadar Keenan sedang duduk di sebelahku.

“Nah,” katanya. “Itu wajah orang yang sedang nggak nunggu siapa-siapa?”

“Aku cuma lihat sesuatu yang lucu.”

“Namanya siapa?”

Aku memasukkan ponsel ke tas. “Kalau latihanmu terlalu ringan, aku bisa minta Coach menambah putaran.”

Keenan mengangkat tangan menyerah.

Malamnya, kertas itu masih ada. Aku melepaskannya dan membawanya ke kasir.

“Atlet galak?”

Erga sedang menghitung struk. “Deskripsinya akurat.”

“Aku bisa menuntut.”

“Bukti sudah kamu cabut sendiri.”

Aku melipat kertas itu dan memasukkannya ke saku jaket. “Aku sita.”

“Untuk apa?”

“Barang bukti.”

“Kalau mau, saya buatkan bingkai.”

“Boleh.”

Dia menatapku, mungkin mengira aku bercanda. Aku tidak memberinya kepastian.

Saat kedai sepi, Erga akhirnya duduk di kursi seberang. Bukan di sampingku, tetapi itu tetap kemajuan.

“Capek?” tanyanya.

“Lumayan.”

“Jatuh berapa kali?”

“Satu.”

“Esnya makin sopan.”

“Aku berhasil menyelesaikan rangkaian langkah.”

“Bagus.”

Aku menunggu komentar tambahan. Tidak ada.

“Cuma itu?”

“Mau sertifikat?”

“Setidaknya terlihat lebih kagum.”

“Saya kagum.” Erga menunjuk cangkirku. “Tapi kalau saya terlalu heboh, nanti atletnya besar kepala dan pintu kedai harus diperlebar.”

Aku menendang pelan kaki kursinya. Dia tertawa, lalu bertanya musik apa yang kupakai untuk program baru.

Aku menyebut judul komposisinya. Kupikir dia hanya akan mengangguk, tetapi tangannya mengetuk meja mengikuti empat ketukan pertama.

“Kamu tahu?”

“Kamu pernah memutarnya di kedai.”

“Sekali. Enam bulan lalu.”

“Musiknya bagus.”

“Atau kamu ingat karena aku yang memutar?”

Erga mendadak tertarik pada bekas goresan di meja. “Dua-duanya mungkin.”

Aku menahan senyum. “Programnya tentang seseorang yang terus mencari jalan pulang.”

“Akhirnya ketemu?”

“Aku belum memutuskan.”

“Bukankah koreografinya sudah jadi?”

“Gerakannya sudah. Perasaannya belum.”

Dia memahami jawabanku lebih cepat daripada kebanyakan orang. Dalam skating, dua atlet bisa melakukan gerakan yang sama dan membuat penonton merasakan hal berbeda. Teknik membuat tubuh bertahan di atas es. Perasaan membuat seseorang di tribun lupa bernapas.

“Mungkin orangnya bukan kehilangan jalan,” kata Erga. “Mungkin dia belum tahu tempat mana yang boleh disebut pulang.”

Aku menatapnya. Suara kedai mendadak terasa jauh, meski mesin pendingin masih berdengung di belakang.

“Kalau menurutmu, tempat seperti apa yang boleh disebut pulang?”

Dia memikirkan pertanyaanku dengan sungguh-sungguh. “Tempat kita nggak harus terlihat baik-baik saja.”

Dadaku mengencang.

Itu persis alasan aku datang ke sini.

Aku menunduk dan menyendok sisa krim yang sudah mencair, takut Erga melihat sesuatu yang terlalu jelas pada wajahku.

“Jawabanmu lumayan,” kataku.

“Dari skala?”

“Dua setengah.”

“Kejam.”

“Makanya jangan ambil kursiku lagi.”

Hanya satu kata, diucapkan tanpa berlebihan. Namun entah kenapa, pujian itu terasa lebih nyata daripada ratusan komentar yang kuterima setiap hari.

Aku menyesap kopi. “Kalau aku nggak datang, kamu tetap simpan kursinya?”

“Sampai kedai tutup.”

“Setiap hari?”

“Kalau itu yang kamu mau.”

Aku seharusnya menjawab santai. Sebaliknya, dadaku terasa terlalu penuh oleh sesuatu yang bahkan belum punya nama.

“Itu yang aku mau,” kataku.

Erga mengangguk. Tidak menggoda, tidak bertanya lebih jauh.

Sebelum pulang, dia memberikan spidol hitam dan selembar kertas baru.

“Tulis sendiri,” katanya.

“Apa?”

“Nama reservasinya. Tulisan saya dianggap menghina atlet nasional.”

Aku menulis ZIVANA NADIRA dengan huruf kapital, lalu berpikir sebentar dan menambahkan satu baris kecil di bawahnya: BESERTA SATU KASIR KALAU SEDANG TIDAK SIBUK.

Erga membaca, kemudian menunjuk dirinya sendiri. “Kasirnya siapa?”

“Di sini cuma ada satu yang cukup menyebalkan.”

“Sasa juga bisa.”

“Aku bilang kasir, bukan pengkhianat yang membocorkan warna lipstik.”

Dia menahan tawa. “Baik. Tapi kasirnya tidak dijamin tersedia.”

“Aku bisa reservasi.”

“Biayanya mahal.”

Aku berdiri dan mendekat cukup jauh untuk melihat senyum di matanya. “Nanti aku bayar.”

“Pakai apa?”

Aku membiarkan pertanyaan itu menggantung, lalu memasukkan kertas lama ke saku dan berjalan menuju pintu.

“Belum aku putuskan,” kataku tanpa menoleh.

Malam itu, sebuah kursi menjadi milikku.

Aku belum menyadari bahwa perlahan-lahan, aku juga mulai menganggap orang yang menjaganya sebagai milikku.