Chapter Twenty Seven

Aku Cukup Melihatmu Bersinar

POV: Erga Oktariano

Ketika Zivana Nadira meluncur ke tengah arena, seluruh suara di dalam gedung seperti ditarik menjauh.

Bukan benar-benar sunyi. Tribun masih dipenuhi gemerisik jaket dan bisikan ribuan orang yang menunggu. Namun, dari kursi paling atas yang kudapat setelah berlari nyaris tanpa napas, semuanya terdengar sangat jauh. Dunia mengecil menjadi sebidang es, satu lingkar cahaya, dan perempuan yang berdiri sendirian di tengahnya.

Aku masih mengenakan apron kedai di balik jaket. Ujung celanaku basah terkena genangan di jalan. Dadaku sakit karena berlari dari halte setelah bus terjebak macet, tetapi rasa sakit itu lenyap ketika Nadira mengangkat wajah.

Kostumnya putih keperakan. Setiap kali dia bergerak, ribuan kilau kecil menyala di bahu dan pinggangnya. Wajahnya tampak tenang di layar besar, nyaris dingin, seperti Zivana Nadira yang dikenal semua orang: juara yang tidak goyah, bintang yang terlalu tinggi untuk disentuh.

Hanya aku yang tahu tangan kanannya sedang mengepal.

Empat jari menekan telapak, lalu ibu jarinya mengusap buku telunjuk sekali.

Kebiasaan itu selalu muncul saat dia takut.

Aku mencondongkan tubuh, seakan jarak di antara kami bisa dipangkas dengan cara itu. “Aku di sini,” bisikku, meski dia tidak mungkin mendengar. “Nadira, aku datang.”

Lampu tribun diredupkan. Nada pertama mengalun.

Nadira membuka kedua lengannya.

Gerakannya bermula perlahan, satu kaki mengiris es dengan suara tipis. Tubuhnya miring mengikuti lengkung lintasan, ringan sekali sampai gaunnya terlihat lebih dulu bergerak. Musik meninggi dan dia mempercepat laju. Putaran pertamanya begitu rapat, perak di kostumnya melebur menjadi garis cahaya.

Orang-orang di bawahku berseru ketika dia keluar dari putaran dengan bersih.

Aku tidak.

Aku lupa caranya bersuara.

Aku teringat arena latihan yang dingin, saat lututnya membentur es lalu dia duduk sambil menahan tangis. Aku teringat jari-jarinya yang memerah ketika mengikat tali sepatu dan caranya berkata, “Sekali lagi,” bahkan saat pelatihnya menyuruh berhenti. Orang lain melihat satu putaran sempurna. Aku melihat seluruh jatuh yang dibawanya ke dalam putaran itu.

Dia mengambil ancang-ancang untuk lompatan pertama.

Kaki kirinya menekan tepi es. Bahunya berputar. Untuk sesaat tubuhnya benar-benar lepas dari dunia—terangkat, berputar di bawah cahaya, begitu indah hingga aku merasa jantungku ikut tertinggal di udara.

Dia mendarat.

Bersih.

Tribun meledak. Tanganku mencengkeram pagar di depanku. Nadira melanjutkan gerakan tanpa kehilangan satu ketukan, tetapi setelah dua langkah, bahu kirinya turun sedikit.

Tak seorang pun di sekitarku bereaksi. Mereka tidak mengenali gerakan sekecil itu.

Aku mengenalinya.

Itu caranya melepaskan takut setelah berhasil.

Semalam dia sempat mengirim satu pesan: Besok jangan lihat skor. Lihat aku saja. Aku membacanya berkali-kali tanpa berani menganggap kalimat itu sebagai permintaan. Kupikir dia hanya sedang gugup. Baru sekarang aku mengerti. Di arena yang akan mengukur setiap putaran, menghukum setiap goyah, dan mengubah keberaniannya menjadi angka, Nadira membutuhkan setidaknya satu pasang mata yang tidak sedang menilainya.

Mata yang tahu bahwa bahunya turun bukan bagian dari koreografi. Mata yang akan tetap menganggapnya indah bahkan seandainya dia jatuh.

Air mataku jatuh sebelum aku sempat merasa malu.

Program ini pernah dia ceritakan kepadaku di kedai, lewat tengah malam, sambil memeluk secangkir cokelat hangat yang sudah dingin. Tentang seseorang yang tersesat terlalu lama dan akhirnya menemukan jalan pulang. Waktu itu aku bertanya seperti apa rumahnya.

Nadira menatapku lama, lalu tersenyum kecil. “Belum tahu. Mungkin nanti ketemu.”

Di atas es malam ini, dia menjadi orang yang sedang mencari itu.

Setiap rentangan tangannya seperti meraba pintu dalam gelap. Setiap langkah menyeberangi kesepian yang tidak pernah sanggup dia ceritakan. Ketika musik melembut, dia meluncur mundur dengan wajah menengadah. Cahaya menyentuh pipinya, dan selama satu detik dia tampak rapuh—bukan atlet yang ada di poster arena, melainkan perempuan yang pernah tertidur di meja kedai karena terlalu lelah, yang suka mencuri buih susu dari sendokku, yang akan menendang kakiku di bawah meja kalau aku memanggilnya keras kepala.

Perempuan yang sengaja memakai kebaya hanya untuk membuatku kehilangan kemampuan berpikir.

Perempuan yang begitu berani menggodaku, tetapi diam-diam selalu bertanya apakah aku akan tetap tinggal setelah melihat seluruh lukanya.

Aku ingin menjawab sekarang.

Aku akan tinggal.

Bahkan kalau aku hanya boleh tinggal sejauh ini.

Musik kembali membesar. Nadira memasuki rangkaian langkah tercepat. Bilah sepatunya mengetuk dan menggores es dalam irama yang tajam. Dia berbelok, menyilang, merendahkan tubuh, lalu bangkit dengan kedua lengan terbuka. Ada keagungan dalam setiap geraknya, tetapi bukan keagungan yang membuatnya terasa jauh. Justru untuk pertama kalinya, aku merasa dia sedang memperlihatkan semua bagian dirinya sekaligus: keberanian, ketakutan, luka, keras kepala, kesepian, dan harapan yang selama ini disembunyikan di balik wajah tenang.

Lalu dia bersiap untuk kombinasi lompatan terakhir.

Aku tahu bagian ini yang paling ditakutinya. Aku pernah melihatnya gagal tiga kali berturut-turut saat latihan. Pada percobaan keempat, pergelangan kakinya terpelintir. Dia masih ingin berdiri, dan aku harus berjongkok di hadapannya sambil berkata bahwa berhenti satu malam tidak akan membuat mimpinya pergi.

Sekarang dia melaju semakin cepat.

Satu putaran. Mendarat.

Tanpa jeda, tubuhnya terangkat lagi.

Sesaat ujung bilahnya tampak goyah ketika menyentuh es. Napasku berhenti. Namun Nadira menahan porosnya, membuka tangan, lalu mengubah kegoyahan itu menjadi lengkung yang begitu halus seakan memang bagian dari koreografi.

Seluruh arena berdiri.

Aku tetap duduk.

Bukan karena aku tidak ingin berdiri. Kedua kakiku tidak sanggup menyangga tubuhku.

Nadira berputar untuk bagian terakhir, semakin cepat hingga tubuhnya menjadi pusat dari seluruh cahaya di arena. Di pergelangan tangan kirinya, tepat ketika lengan kostumnya tersibak, terlihat garis gelang tipis berwarna putih kusam.

Tali sepatu seluncur lama yang pernah kubuatkan menjadi gelang dengan simpul buruk.

Dia memakainya.

Di kejuaraan nasional. Pada penampilan terpenting dalam hidupnya.

Tangisku pecah tanpa suara.

Aku menangis bukan karena sedih. Bukan juga karena merasa kecil di hadapan cahaya sebesar dirinya. Aku menangis karena mencintai seseorang ternyata bisa memenuhi dada sampai tidak ada ruang tersisa untuk apa pun selain syukur. Nadira ada di sana. Dia hidup. Dia bergerak. Dia masih berani mengejar sesuatu yang berkali-kali menjatuhkannya. Setelah semua malam ketika dia meragukan dirinya sendiri, dia akhirnya berdiri di pusat cahaya yang memang pantas menjadi miliknya.

Dan aku sempat menjadi orang yang melihatnya bangkit.

Itu sudah cukup.

Kalau cintaku hanya diizinkan menjadi sebuah kursi kosong di sudut hidupnya, akan kududuki kursi itu tanpa menuntut dia menoleh. Kalau aku hanya boleh membuatkan minuman hangat setelah latihan, mengikat tali sepatunya ketika tangannya gemetar, atau menjadi nama yang sesekali dia ingat saat hari terasa berat, semua itu tetap lebih banyak daripada yang berani kuminta dari dunia.

Tentu aku menginginkannya.

Aku ingin menggenggam tangannya di depan semua orang. Ingin menjadi tempat pertama yang dia datangi saat menang dan tempat terakhir yang dia cari saat kalah. Ingin mendengar godaan tidak tahu malunya setiap hari sampai rambut kami memutih. Cintaku bukan suci karena tidak memiliki keinginan. Cintaku hanya tidak ingin mengubah keinginan itu menjadi utang yang harus dia bayar.

Selama ini aku mengira mencintai dalam diam adalah bentuk keberanian terbesar yang kumiliki. Ternyata ada ketakutan yang bersembunyi di dalamnya: jika tidak pernah meminta tempat, aku tidak akan pernah mendengar bahwa tempat itu tidak tersedia. Nadira selalu jauh lebih berani dariku. Dia jatuh di depan orang banyak, bangkit, lalu mengambil ancang-ancang untuk melompat lagi.

Malam ini, sambil memandangnya, aku ingin belajar keberanian yang sama.

Melihatnya bersinar tidak menghapus rinduku.

Itu membuat rinduku terasa layak.

Nada terakhir turun perlahan. Nadira meluncur ke tengah, menekuk satu lutut, lalu membentangkan sebelah tangan ke depan seperti seseorang yang akhirnya menemukan pintu rumahnya. Wajahnya terangkat. Matanya terpejam.

Musik berhenti.

Selama satu detik, arena benar-benar diam.

Lalu suara manusia pecah dari segala arah.

Orang-orang berdiri sambil bertepuk tangan. Beberapa meneriakkan namanya. Bendera kecil berkibar di tribun bawah. Bunga-bunga dilemparkan ke atas es. Aku akhirnya bangkit dengan berpegangan pada kursi, wajahku basah dan napasku berantakan. Di tengah seluruh kemegahan itu, Nadira membuka mata.

Dia tidak melihat papan skor.

Dia tidak memandang bunga di dekat kakinya atau kamera yang mendekat ke wajahnya.

Dia mencari tribun.

Kepalanya bergerak dari kiri ke kanan. Sekali. Dua kali. Dahinya mengernyit. Senyum kemenangan yang tadi muncul di bibirnya perlahan digantikan kegelisahan yang sangat kukenal.

Jantungku memukul tulang rusuk.

Tidak mungkin dia mencariku. Dari bawah sana, barisan kursi ini pasti hanya gelap berisi ribuan wajah. Aku bahkan duduk terlalu tinggi, nyaris di dinding paling belakang. Datang terlambat. Berantakan. Mengenakan jaket yang tidak serasi dan apron kedai yang mencuat dari bawahnya karena aku lupa melepasnya.

Apron itu.

Tanganku bergerak lebih dulu. Kubuka ritsleting jaket dan membiarkan warna cokelat tua apron terlihat. Logo kedai di dadaku menangkap sedikit cahaya dari arena.

“Nadira!”

Suaraku tenggelam dalam ribuan teriakan.

Tetapi dia berhenti mencari.

Wajahnya mengarah tepat ke tempatku berdiri.

Jarak di antara kami terlalu jauh untuk memastikan matanya benar-benar menemukanku. Namun kemudian tangannya terangkat ke dada—tepat di atas jantung—gerakan yang pernah kami gunakan saat kata-kata tidak cukup. Aku menempelkan telapak tanganku ke tempat yang sama.

Senyumnya berubah.

Bukan senyum untuk juri. Bukan senyum tenang yang sudah dilatih untuk kamera. Itu senyum kecil yang selalu muncul ketika dia mendapat satu teguk kopi dari cangkirku lalu berpura-pura tidak mencurinya. Senyum yang miring sedikit di sebelah kanan. Senyum Nadira milikku—bukan karena aku memilikinya, melainkan karena aku mengenali asalnya.

Aku kira cintaku sudah sempurna hanya dengan melihatnya.

Aku tidak tahu bahwa sejak awal, dia juga ingin dilihat olehku.

Namanya muncul di puncak papan skor. Angka-angka menyala. Arena kembali bergemuruh, tetapi Nadira masih menatap ke arahku. Bibirnya bergerak membentuk dua kata yang tidak dapat kudengar.

Kamu datang.

Aku mengangguk sambil tertawa di sela tangis.

Selalu.

Dia dibawa keluar arena oleh pelatihnya. Kamera dan petugas mengerumuninya sampai sosoknya hilang di balik lorong. Ponselku bergetar bertubi-tubi. Pesan pertama dari Ibu. Pesan kedua dari teman-teman kedai. Lalu satu pesan dari nomor pelatih Nadira muncul di layar.

Jangan pulang. Dia mencarimu.

Dahulu, mungkin aku akan menunggu di tempat. Meyakinkan diri bahwa kebahagiaannya lebih penting, lalu memakai kalimat itu sebagai alasan untuk bersembunyi. Namun cinta tidak selalu berarti tinggal diam di kejauhan. Kadang-kadang cinta berarti berani mendekat ketika seseorang telah mengulurkan tangan.

Aku mengusap wajah dengan lengan jaket, melewati orang-orang yang masih bersorak, lalu berlari menuruni tangga tribun.

Untuk pertama kalinya, aku tidak pergi hanya untuk melihat Nadira bersinar.

Aku pergi karena cahaya itu sedang mencari jalan pulang kepadaku.