Chapter Seven

Bidadari di Depan Mesin Kasir

POV: Erga Oktariano

Ada banyak hal yang tidak dijelaskan dalam pelatihan pegawai kedai.

Cara menghadapi mesin espresso bocor, ada. Cara menenangkan pelanggan yang salah memesan, ada. Cara tetap bernapas ketika perempuan yang sudah hampir dua tahun diam-diam kamu cintai masuk memakai kebaya biru tua, tidak ada.

Susu di tanganku tumpah.

Aku baru menyadarinya ketika cairan hangat mengenai jari.

“Malam,” kata Nadira.

Tidak ada jawaban keluar dari mulutku.

Dia berdiri di depan kasir dengan rambut disanggul rendah. Anting perak kecil bergerak ketika kepalanya miring. Bordir pada kebayanya menangkap cahaya setiap kali dia bernapas. Riasannya lembut, tetapi warna bibirnya adalah warna yang sudah pernah membuatku gagal bekerja secara normal.

Kali ini, otakku benar-benar menyerah.

“Kamu masih ingat cara bicara, Mas Kasir?”

Aku meletakkan pitcher sebelum menjatuhkannya. “Maaf.”

“Kenapa?”

“Kedai kami nggak menerima pembayaran pakai cahaya surgawi.”

Hening berlangsung setengah detik. Lalu Sasa tertawa paling keras. Pelanggan lain ikut tertawa, sementara telinga Nadira berubah merah.

Aku berharap lantai terbuka dan menelan tubuhku sampai ke pusat bumi.

“Maksud saya—”

“Cahaya surgawi?” Nadira mengulang.

“Sistem kasirnya belum mendukung.”

“Begitu.” Dia mendekat sedikit. “Berarti aku harus bayar pakai apa?”

“Uang masih aman.”

“Sayang sekali.”

Aku tidak bertanya bagian mana yang disayangkan. Kelangsungan jantungku bergantung pada ketidaktahuan.

Nadira berbalik pelan. “Aku kelihatan aneh?”

“Nggak.”

“Terlalu ramai?”

“Nggak.”

“Kamu cuma bisa bilang nggak?”

“Saya sedang menyusun ulang kosakata.”

Sasa menepuk bahuku saat melewati. “Aku pulang dulu. Sepertinya di sini sudah ada penerangan berlebih.”

Aku mengancamnya dengan tatapan. Dia justru mengangkat jempol kepada Nadira sebelum pergi.

Beberapa pelanggan meminta foto. Nadira melayani semuanya dengan senyum sopan. Aku melihat satu laki-laki menatap terlalu lama dan mendadak memahami kenapa manusia purba menciptakan senjata.

Pintu terbuka, membawa angin malam. Nadira merapatkan bahu. Bagian belakang kebayanya lebih terbuka daripada yang kusadari.

Tanpa berpikir panjang, aku melepas apron dan menyampirkannya ke bahunya.

Nadira menoleh perlahan. “Apa ini?”

“Dingin.”

“Aku dandan tiga jam.”

“Saya tahu.”

“Terus kenapa malah ditutupin pakai apron bau kopi?”

Aku merapikan tali apron di depan bahunya, lalu menyadari kami berdiri terlalu dekat. Aroma parfumnya lembut, sesuatu seperti melati dan kayu. Sulit menyusun kalimat ketika matanya berada sejajar dengan bibirku.

“Karena kalau saya terus lihat,” kataku, “kayaknya saya bakal melakukan tindakan kriminal.”

Alisnya terangkat. “Tindakan kriminal apa?”

“Nutup kedai sebelum waktunya supaya nggak ada orang lain yang lihat.”

Nadira terdiam.

Aku juga. Rupanya bagian otakku yang menangani pengendalian ucapan telah ikut rusak bersama susu tadi.

Wajah Nadira perlahan memerah, tetapi senyum yang muncul bukan senyum malu. Itu senyum seseorang yang baru menemukan tombol berbahaya dan ingin menekannya lagi.

“Jadi aku cantik?” tanyanya.

“Itu pertanyaan jebakan.”

“Jawab.”

“Cantik.”

“Seberapa?”

“Nadira.”

“Aku menempuh perjalanan hampir satu jam. Aku pantas dapat jawaban lengkap.”

Jantungku berhenti pada bagian perjalanan hampir satu jam. Sebelum aku bisa menanyakan kenapa dia datang sejauh itu, Nadira melangkah lebih dekat. Bibirnya berada di dekat telingaku ketika dia berbisik.

“Kalau cuma boleh dilihat sama kamu, aku juga nggak keberatan.”

Seluruh suara kedai menghilang.

“Nadira…”

“Kenapa?” Napasnya menyentuh telingaku. “Kamu lebih suka kalau aku lepas—”

Tanganku langsung menutup mulutnya.

Mata Nadira membesar. Sedetik kemudian, lengkung senyum terasa di telapak tanganku.

Aku baru sadar sedang menyentuh bibirnya.

Tanganku kutarik secepat tersengat listrik.

“Jangan lanjutkan kalimat itu.”

“Kenapa?” tanyanya polos, seolah tidak baru berusaha membunuhku. “Aku mau bilang lepas apron.”

“Tentu.”

“Pikiranmu ke mana?”

Aku mengambil lap dan mulai membersihkan susu yang sudah dibersihkan dua menit lalu. “Kopi seperti biasa?”

“Aku mau sesuatu yang manis.”

“Cheesecake?”

“Bukan.”

Tanganku berhenti.

Nadira membiarkanku menderita selama tiga detik sebelum tertawa. “Vanilla latte.”

“Kamu jahat.”

“Baru sadar?”

Dia duduk di kursi pojok dengan apronku masih menyelimuti bahunya. Tulisan reservasi namanya berada di atas meja. Kebaya biru, apron cokelat, dan senyum puas itu membentuk gambar yang mungkin akan tinggal di kepalaku sampai tua.

Aku membuat vanilla latte dengan tangan yang sedikit gemetar. Ketika kubawa ke mejanya, Nadira tidak langsung mengambilnya.

“Duduk,” katanya.

“Saya kerja.”

“Kedainya hampir tutup.”

“Masih ada pelanggan.”

Nadira melirik sekeliling. Semua pelanggan mendadak sangat sibuk dengan minuman masing-masing sambil jelas-jelas memasang telinga.

“Mereka juga ingin kamu duduk,” katanya.

Salah satu pelanggan mengangkat jempol. Pengkhianatan publik.

Aku akhirnya duduk di kursi seberang.

Nadira mengeluarkan plakat penghargaan dari tas kain yang dibawa Tiara. “Aku dapat ini.”

“Selamat.”

“Kali ini sudah boleh.”

Aku membaca tulisan Atlet Inspiratif pada plakat. “Kamu memang menginspirasi.”

“Siapa?”

“Banyak orang.”

“Kamu?”

Pertanyaan itu menghapus seluruh candaan dari wajahku. Aku ingin menjawab jujur. Bahwa melihatnya jatuh dan bangkit membuatku malu pada semua alasan yang kupakai untuk meninggalkan mimpiku. Bahwa beberapa malam, aku membuka kembali aplikasi desain hanya karena warna kostumnya memberi ide. Bahwa dia menginspirasiku jauh sebelum plakat itu dibuat.

“Iya,” kataku akhirnya. “Saya juga.”

Tatapan Nadira melembut.

Untuk beberapa detik, tidak ada yang bersembunyi di balik godaan.

Lalu dia menyeruput latte dan mengerutkan hidung. “Terlalu manis.”

“Kamu yang minta.”

“Aku berubah pikiran.”

“Mau americano?”

“Nggak.” Dia mendorong cangkir ke arahku. “Habiskan.”

Aku minum dari sisi yang berlawanan. Nadira memperhatikan bibirku menyentuh cangkir, lalu tersenyum kecil.

Baru setelah menelan aku sadar sisi yang berlawanan tidak membuat tindakan itu kurang terasa seperti ciuman tidak langsung.

Malam itu, untuk pertama kalinya, aku berharap dengan sungguh-sungguh.

Dan karena berharap selalu datang bersama ketakutan, aku juga mulai takut kehilangan sesuatu yang bahkan belum pernah menjadi milikku.

Nadira belum langsung pulang. Dia melepas satu anting karena telinganya sakit, lalu meletakkannya di telapak tanganku.

“Simpan.”

“Kenapa saya?”

Dia menyebut harga anting itu. Aku hampir menjatuhkannya.

“Saya harus jual motor kalau hilang.”

“Berarti jaga baik-baik.”

Benda mungil itu terasa lebih berat daripada seharusnya. Nadira mempercayakan sesuatu yang mahal kepadaku dengan mudah, sementara aku bahkan belum berani mempercayakan perasaanku kepadanya.

Ketika dia hendak pulang, kukembalikan anting itu. Kukira dia akan memasangnya sendiri, tetapi Nadira mengangkat rambut dan memiringkan kepala.

“Bantu.”

Jemariku menyentuh daun telinganya. Dia diam luar biasa tenang, tetapi napasnya berubah ketika ibu jariku tanpa sengaja menyapu sisi leher.

“Sudah,” kataku.

“Yang satunya.”

“Kamu cuma melepas satu.”

“Sayang sekali.”

Aku tidak menanyakan apa yang disayangkan. Nadira tersenyum, mengambil tas, lalu berjalan ke pintu dengan apronku masih di bahu.

“Apronnya,” panggilku.

Dia menoleh. “Jaminan supaya kamu datang ke latihan.”

“Saya sudah bilang akan datang.”

“Aku tahu. Tapi aku suka punya barangmu.”

Pintu tertutup sebelum aku menemukan jawaban. Malam itu, bukan cuma apron yang dibawa Nadira. Sebagian besar kemampuanku berpikir waras ikut pergi bersamanya.