Chapter Twenty Three

Pergilah

POV: Erga Oktariano

Saya mencintai kamu.

Tiga kata itu gagal keluar ketika paling dibutuhkan. Setelah Nadira pergi, kata-katanya terdengar mudah di kedai kosong. Tidak ada artinya lagi.

Aku masuk ke gudang, duduk di kursi yang pernah dipakainya sebagai pangkuan, dan akhirnya menangis.

Tidak dramatis. Tidak ada suara keras. Air mata hanya jatuh sementara tanganku mencengkeram apron di tempat Nadira tadi menariknya.

Di rak sebelah, masih ada gelas kertas berisi gambar hati rusak yang kami buat bersama. Nadira menyimpannya beberapa hari lalu, lalu mengembalikan karena katanya kedai lebih pantas menjaga barang bukti.

Aku membenci semua benda yang mengingatkan bahwa kebahagiaan kami pernah sangat sederhana.

Satu pesan. Satu cangkir. Satu tangan di pinggang. Sekarang setiap hal kecil memiliki tanggal kedaluwarsa.

Sasa menemukan aku setelah kembali mengambil ponsel.

“Kamu bilang apa?” tanyanya.

“Pergi.”

“Astaga.”

“Dia memang harus pergi.”

“Kamu bisa bilang itu sambil mengaku cinta.”

“Kalau saya mengaku, dia bisa tinggal.”

“Dan kalau kamu terus diam, dia bisa pergi sambil mengira tidak dicintai.”

“Dia tahu.”

Sasa menatapku marah. “Orang nggak seharusnya dipaksa menyusun cinta dari remah-remah tindakanmu. Sesekali bilang.”

Aku tidak punya pembelaan.

Sasa duduk di lantai gudang. “Kalau dia pergi, kedai tetap buka. Hidupmu tetap jalan. Itu benar.”

“Lalu?”

“Tapi berhenti bertingkah seolah itu berarti kamu tidak boleh menginginkannya tinggal dalam hidupmu.”

“Saya sudah membuat rencana dua tahun.”

“Rencana bukan pengakuan.”

Dia mengambil spidol dan menulis pada kardus: ERGA MENCINTAI NADIRA. Tulisan besar itu terlihat konyol.

“Hapus.”

“Ucapkan dulu.”

“Saya mencintai Nadira.”

“Sekali lagi tanpa suara orang membaca daftar stok.”

Aku mengulangnya. Kali kedua terasa lebih sakit. Kali ketiga terdengar seperti sesuatu yang seharusnya sudah lama kuberikan kepadanya.

Keesokan harinya, aku menyelesaikan folder keberangkatan Nadira. Jadwal transportasi, daftar dokumen, klinik olahraga, kontak darurat, serta kedai kopi yang buka malam. Di halaman kosong yang pernah dia isi, kutambahkan jadwal panggilan dan rencana menabung untuk kunjungan.

Aku membawanya ke arena. Nadira baru selesai latihan dan tidak terlihat senang melihatku.

“Apa lagi?”

“Foldernya belum lengkap.”

“Aku bisa urus sendiri.”

“Saya tahu.”

Dia mengambilnya dengan enggan. Saat melihat halaman HAL YANG BISA KITA ATUR, ekspresinya berubah.

“Jadwal telepon?”

“Kalau kamu mau.”

“Kunjungan enam bulan sekali?”

“Kalau saya bisa menabung.”

“Kirim kopi?”

“Saya sedang cari cara kemasnya.”

Nadira menutup folder. “Kamu menyiapkan semua ini, tapi tetap nggak bisa bilang aku ini siapa.”

“Orang yang saya ingin tetap ada, bahkan kalau jaraknya ribuan kilometer.”

“Itu hampir jawaban.”

Aku menarik napas. “Saya mencintai kamu.”

Nadira membeku.

Setelah semua kesempatan yang kulewatkan, kalimat itu akhirnya keluar di lorong arena, tanpa musik atau persiapan.

“Ulangi,” katanya.

“Saya mencintai kamu.”

Air matanya jatuh. Dia memukul lenganku sekali. “Kenapa baru sekarang?”

Aku menangkap tangan yang memukul dan menahannya di dada. “Karena saya pikir kalau tidak mengatakannya, kamu bisa pergi tanpa merasa bersalah.”

“Yang kamu lakukan justru membuatku pergi sambil merasa nggak pernah dipilih.”

“Saya memilih kamu setiap hari.”

“Dalam diam. Sendirian. Tanpa mengizinkanku ikut.”

Kalimat itu tepat. Aku menunduk sampai dahi kami hampir bersentuhan.

“Ajari saya,” kataku.

“Aku sudah capek mengajar.”

“Saya tetap akan belajar.”

Nadira menutup mata. Untuk sesaat, tangannya di dadaku melunak. Namun ketika aku hendak memeluk, dia mundur.

“Jangan pakai satu pengakuan untuk menutup semua luka.”

Aku menurunkan tangan. “Baik.”

“Dan jangan cuma menunggu.”

“Baik.”

“Aku masih mau mencium kamu.”

Jantungku tersandung. Nadira mengusap air mata dengan kesal. “Tapi sekarang aku lebih ingin kamu merasakan susahnya mengejar.”

“Karena saya bodoh.”

“Sangat.”

“Dan takut kalau cinta saya berubah jadi alasan kamu berhenti.”

Nadira menatapku lama. “Aku juga mencintai kamu.”

Dadaku terasa pecah sekaligus utuh.

Dia mendekat, tetapi berhenti sebelum memeluk. “Tapi aku masih marah.”

“Boleh.”

“Aku belum memaafkanmu.”

“Saya tunggu.”

“Berhenti selalu menunggu.”

“Lalu saya harus apa?”

“Kejar.”

Nadira menyerahkan folder kembali, lalu berjalan pergi.

Aku berdiri dengan pengakuan yang akhirnya terucap dan jarak yang justru semakin lebar.

Malam itu dia datang ke kedai sekali lagi. Tidak masuk. Dari balik kaca, dia meletakkan cangkir kertas kosong di meja luar lalu pergi.

Di bawah cangkir ada secarik kertas.

Aku belum membacanya. Untuk beberapa detik, aku hanya menatap kursi di seberang kaca—tempat yang selalu dia pilih ketika ingin dilihat tetapi tidak siap masuk.

Aku tahu catatan itu akan mengubah sesuatu.

Aku belum tahu apakah masih ada waktu untuk memperbaikinya.

Ketika akhirnya kubuka catatan itu, tanganku gemetar.

Kalau kamu minta, mungkin aku akan tinggal.

Aku membaca sampai hurufnya kehilangan bentuk. Pintu kedai hanya beberapa langkah. Kalau berlari sekarang, mungkin mobil Nadira belum jauh.

Aku bahkan sudah meraih kunci.

Lalu teringat cara matanya menyala ketika bicara tentang arena luar negeri. Semua jatuh, cedera, dan pagi buta. Memintanya tinggal malam ini akan memberiku apa yang kuinginkan dan mengambil sesuatu yang tidak bisa kukembalikan.

Aku meletakkan kunci.

Sebagai gantinya, aku menulis balasan pada belakang catatan:

Kalau saya minta kamu pergi, bukan berarti saya ingin hidup tanpa kamu.

Kalimat itu kusimpan di dompet. Bukan jawaban yang cukup. Hanya bukti bahwa untuk pertama kalinya, aku mulai membedakan merelakan dengan menghilang.