Chapter Twenty Nine

Jangan Cintai Aku dari Jauh

POV: Erga Oktariano

Nadira datang ke kedai pukul sebelas lewat empat puluh tujuh menit dengan medali masih tergantung di leher.

Kedai sudah tutup. Sasa sengaja meninggalkan dua cangkir di meja pojok sebelum pulang bersama Bima. Aku sudah membersihkan mesin kopi dua kali, mengatur kursi tiga kali, dan menata gudang sampai semua kardus sejajar. Tidak ada satu pun kegiatan itu yang membuat jantungku lebih siap.

Bel di pintu berbunyi.

Nadira masuk memakai jaket tim di atas kostum pertandingan. Rambutnya sudah dilepas dan riasan di sekitar matanya sedikit luntur. Dia membawa bunga, tas, serta wajah perempuan yang baru menang di depan satu negara—tetapi langsung mengulurkan semuanya kepadaku begitu pintu tertutup.

“Pegang.”

Aku menerima tumpukan itu. “Selamat datang, Juara.”

“Jangan pakai suara kasir.”

“Saya cuma punya satu suara.”

“Bohong. Suara waktu kamu menciumku beda.”

Bunga di tanganku hampir jatuh.

Nadira tersenyum puas, lalu berjalan melewati meja pojok. “Gudang.”

“Kenapa harus gudang?”

“Karena pintunya bisa dikunci.”

Dia masuk lebih dulu. Begitu aku menyusul, terdengar bunyi klik dari belakang. Gudang itu sebenarnya sudah lebih pantas disebut ruang penyimpanan kecil: rak biji kopi, apron cadangan, tumpukan gelas, dan satu kursi lipat yang entah kenapa tidak kukeluarkan tadi.

Nadira bersandar pada pintu. “Aku kasih kamu dua pilihan. Jujur kalau kamu menginginkan aku, atau aku terus goda sampai kamu nggak bisa bohong.”

“Kalau saya pilih dua-duanya?”

Senyumnya tumbuh perlahan. “Akhirnya pintar.”

Tidak ada pelanggan, kamera, atau masa depan abstrak yang bisa kujadikan tempat bersembunyi. Hanya ada Nadira, begitu dekat sampai kilau di kelopak matanya masih terlihat, menungguku melakukan sesuatu yang selama ini selalu kuhindari: meminta tempat.

“Saya menginginkan kamu,” kataku.

Nadira tidak bergerak.

“Saya membutuhkan kamu. Saya takut kamu pergi, lalu menyadari hidupmu jauh lebih mudah tanpa kasir yang nggak bisa ikut ke mana-mana.”

“Terus?”

Satu kata itu memaksaku melanjutkan.

“Saya ingin menjadi orang pertama yang kamu telepon saat menang. Juga saat kalah. Saya ingin tahu kalau kakimu sakit, bukan setelah kamu pingsan. Saya ingin boleh marah kalau kamu memaksakan latihan dan boleh bilang saya rindu tanpa merasa sedang menahanmu.” Napasku tersangkut, tetapi Nadira tetap menunggu. “Saya ingin punya tempat di hidupmu. Bukan cuma kursi di tribun. Tempat yang kamu pilih dengan sadar.”

Aku menggenggam ujung lengan jaketnya. “Dan kalau suatu hari kamu nggak menang lagi, saya tetap menginginkan tempat itu. Saya jatuh cinta kepada perempuan yang mencuri whipped cream, tidur sampai meninggalkan bekas di meja, dan marah kepada es seolah benda itu bisa minta maaf. Medali ini indah, tapi bukan alasan saya mencintai kamu.”

Nadira menutup mata sebentar. Saat membukanya lagi, ketakutan yang selalu bersembunyi di balik keberaniannya terlihat tanpa pelindung.

Matanya mulai basah. “Itu yang kutunggu.”

“Saya juga takut.”

“Aku tahu.”

“Dua tahun itu lama. Zona waktunya beda. Saya nggak selalu bisa datang. Ibu masih membutuhkan saya. Kedai—”

“Aku nggak meminta kamu meninggalkan semuanya.” Nadira mendekat. “Aku meminta kamu berhenti memutuskan sendirian bahwa aku lebih baik tanpa kamu.”

Aku menunduk. “Maaf.”

“Maafnya diterima setelah satu hal.”

Tangannya menarik kerah apronku.

“Satu ciuman,” katanya.

“Di arena juga katanya satu.”

“Waktu itu aku belum tahu ternyata enak.”

“Nadira.”

“Kalau kamu terus menyebut namaku pakai suara begitu, jatahmu aku tambah.”

Aku tertawa, dan dia memakai momen itu untuk menarikku mendekat.

Kali ini aku tidak membiarkannya melakukan semuanya lebih dulu. Satu tanganku menahan pinggangnya, tangan lain menyentuh sisi wajahnya. Aku menciumnya pelan pada awalnya, memberi kesempatan terakhir untuk mundur. Nadira justru merangkul leherku dan memperdalam ciuman itu.

Seluruh keraguan yang pernah membuatku diam seolah runtuh sedikit demi sedikit. Ciuman itu hangat, lama, dan jujur. Tidak ada yang diambil diam-diam. Kami saling memilih setiap kali jarak di antara kami kembali tertutup.

Ketika akhirnya berhenti untuk bernapas, Nadira menyandarkan dahi pada dahiku. Pipinya memerah, tetapi senyumnya tidak punya malu sedikit pun.

“Masih mau aku pergi?” tanyanya.

“Saya nggak pernah mau.”

Senyumnya memudar.

“Tapi saya tetap ingin kamu pergi,” lanjutku. “Bukan karena saya nggak butuh kamu. Justru karena saya mencintai kamu. Pergi karena itu mimpimu. Pulang bukan karena gagal, bukan karena kasihan, tapi karena kita memang saling memilih.”

Nadira mengusap air mata di pipiku dengan ibu jari. “Nah. Ternyata bisa jujur.”

“Sulit.”

“Aku bisa kunci kamu di sini setiap kali kambuh.”

“Itu tindak pidana.”

“Kamu akan lapor?”

Aku melihat pintu terkunci, lalu wajahnya. “Kayaknya tidak.”

Kami keluar dari gudang setelah belasan menit—sebagian besar benar-benar dipakai bicara. Di meja pojok, Nadira mengeluarkan folder keberangkatan. Halaman bertuliskan HAL YANG BISA KITA ATUR masih kosong sejak pertengkaran terakhir kami.

Malam itu kami mengisinya bersama.

Panggilan video tiga kali seminggu, tetapi boleh lebih banyak kalau rindu. Tidak menghilang ketika marah. Tidak memakai kalimat “aku nggak apa-apa” kalau kenyataannya tidak. Nadira harus memberitahu cedera. Aku harus memberitahu masalah Ibu dan keuangan. Kunjungan disesuaikan kemampuan, bukan gengsi. Kalau salah satu terlalu lelah, kami boleh hanya menyalakan panggilan tanpa bicara.

Pada baris STATUS, Nadira menulis: PACAR.

Kemudian dia mencoretnya.

Aku menatapnya. “Kenapa?”

Dia menulis lagi: MAS KASIR MILIK ZIVANA NADIRA.

“Kepemilikan manusia dilarang.”

“Protes ditolak.”

Aku mengambil pulpen dan menulis di bawahnya: ATLET GALAK MILIK ERGA OKTARIANO.

“Aku bukan milik siapa-siapa.”

“Nah.”

Nadira mendengus, lalu mencoret dua kalimat itu. Versi terakhir kami tulis bersama: ERGA + NADIRA, SAMA-SAMA MEMILIH.

Itu yang kami simpan.

Setelahnya, Nadira menarik map lain dari tas. Isinya cetakan desain poster yang selama ini kusimpan tanpa nama.

“Besok kirim portofolio ini,” katanya.

“Besok kamu harus pemulihan.”

“Aku bisa pemulihan sambil mengawasi.”

“Saya belum siap menerima proyek sungguhan.”

“Aku juga nggak pernah merasa siap sebelum masuk arena.” Dia mengetuk halaman pertama. “Kamu yang menyuruhku melompat setelah jatuh. Sekarang gantian.”

Aku memandangi namaku yang sudah dia tulis di sampul. Untuk pertama kalinya, mimpi lama itu tidak terasa seperti kemewahan yang harus kukorbankan. Ia terasa seperti sesuatu yang boleh kubawa ke masa depan kami.

Satu bulan kemudian, aku berdiri bersamanya di bandara. Tidak ada hujan dramatis atau pengumuman penerbangan yang terlambat. Justru itu yang membuat keberangkatannya terasa nyata. Koper-koper berbaris. Orang-orang berpelukan, lalu berjalan menuju pemeriksaan seolah perpisahan adalah hal biasa.

Nadira memegang gelang tali sepatu di pergelangan kirinya. Aku membawa kamera Ayah yang berhasil ditebus menggunakan bayaran pertama dari proyek desain poster untuk dua atlet junior.

“Jangan cuma menunggu,” katanya.

“Saya akan menjaga Ibu, mengurus kedai, mendesain, dan merindukan kamu secara produktif.”

“Bagian terakhir harus paling banyak.”

“Tentu.”

Dia memelukku, erat sekali sampai medalinya yang tersimpan di tas menekan dada kami. “Kalau aku kalah?”

“Telepon.”

“Kalau aku menang?”

“Tetap telepon.”

“Kalau aku cuma kangen?”

“Terutama itu.”

Nadira menciumku singkat sebelum masuk ke antrean. Setelah beberapa langkah, dia berbalik dan menunjuk dadaku.

“Jangan pergi.”

Dulu aku mungkin akan menjawab bahwa aku selalu ada, seolah keberadaan pasif sudah cukup. Kali ini aku mengerti permintaannya.

“Saya akan berjalan ke arahmu,” jawabku. “Kamu juga pulang ke arah saya.”

Dia tersenyum, lalu melanjutkan langkah.

Kepergiannya tetap sakit. Namun jarak itu tidak lagi kosong atau sepihak. Ada dua mimpi di dalamnya, dua orang yang sama-sama bergerak, dan satu tempat yang kami bangun dengan kata-kata jujur.

Aku tidak lagi mencintai Nadira dari jauh.

Aku mencintainya melintasi jarak yang kami pilih bersama.