Chapter Eighteen

Ciuman di Telapak Tangan

POV: Zivana Nadira

“Bukan masalahmu.”

Tiga kata itu mengikutiku sampai kamar Ibu Ratih.

Perempuan itu sedang duduk dengan bantal tinggi, wajahnya pucat tetapi senyumnya hangat. Begitu tahu aku Nadira, dia tidak meminta foto atau membahas medali.

“Jadi kamu yang membuat Erga pulang sambil senyum sendiri?” tanyanya.

Aku hampir tersedak air putih.

“Bu.”

“Dia jarang cerita. Ibu terpaksa mengamati.”

Aku duduk di samping ranjang. “Dia juga jarang membiarkan orang membantu.”

“Sejak ayahnya meninggal, dia pikir menjadi anak baik artinya tidak boleh merepotkan siapa pun.”

Ibu Ratih melihat tas kamera kosong yang dibawa Bima masuk. Kesedihan melewati wajahnya.

“Dia menjual kamera itu?”

Aku mengangguk.

“Padahal ayahnya memberikan supaya dia terus membuat sesuatu.”

Aku memikirkan poster, kartu nama, dan cara Erga menolak kesempatan seperti mimpinya hanya benda yang boleh dijual saat orang lain membutuhkan.

“Saya bisa bantu biaya rumah sakit,” kataku.

Ibu Ratih menggenggam tanganku. “Kalau kamu menawarkan langsung, dia akan menolak.”

“Saya tahu.”

“Jangan diam-diam membayar juga. Dia akan merasa harga dirinya diambil.”

“Lalu saya harus apa?”

“Tetap ada. Itu yang paling sulit dia terima.”

Aku membantu Ibu Ratih makan dan menemani sampai beliau tidur. Ketika keluar, Erga berdiri di lorong dengan dua gelas kopi mesin otomatis.

“Rasanya seperti air hukuman,” kataku setelah mencicipi.

“Tidak semua rumah sakit punya barista.”

“Yang satu ini punya. Sedang menganggur.”

Kami duduk berdampingan. Erga tampak lebih tua di bawah lampu putih. Tangannya kasar, ada bekas tinta dan luka kecil karena kerja.

Aku mengambil tangan itu.

“Nadira—”

“Diam.”

Aku membalik telapak tangannya, melihat garis, kapalan, dan bekas luka tipis. Tangan ini membuat kopi, membayar tagihan, menggambar poster, menjaga ibu, dan terus memberi tanpa pernah terbuka meminta.

Aku menunduk dan mencium telapak tangannya.

Erga tidak bergerak.

“Tangan ini terlalu sering bekerja buat orang lain,” kataku. “Sekali-sekali biarkan orang lain menjaganya.”

“Kamu nggak perlu membayar apa pun.”

“Aku tidak sedang membayar.”

Aku menatapnya. “Aku tinggal karena ingin.”

“Latihanmu?”

“Selesai.”

“Istirahatmu?”

“Aku bisa tidur di kursi.”

“Nadira.”

“Kalau kamu terus mengusir, aku cium lagi. Tempatnya naik.”

Tatapannya otomatis turun ke bibirku. Sedikit kepuasan muncul meski suasana tidak tepat untuk bercanda.

“Ancaman?” tanyanya.

“Peringatan.”

“Ancamannya?”

Aku mendekat ke telinganya. “Aku kunci pintunya, dudukin kamu, lalu bikin kamu mengaku kalau selama ini kamu juga menginginkan aku.”

Erga menutup mata sebentar. “Rumah sakit bukan tempat yang tepat.”

“Makanya aku cuma memperingatkan.”

Dia tertawa pelan untuk pertama kali hari itu.

Kami menyusun cara membantu tanpa mengambil kendali. Proyek desain sponsor akan dibayar resmi. Aku meminta mereka memberi uang muka wajar, bukan berlebihan. Bima mencari informasi bantuan asuransi. Aku menawarkan mengantar Ibu Ratih kontrol setelah pulang, bukan membayar diam-diam.

“Kenapa kamu melakukan semua ini?” tanya Erga.

Aku bisa menjawab karena aku mencintaimu. Kalimatnya sudah jelas di kepalaku.

Namun ketakutan lama menahannya di tenggorokan.

“Karena kamu penting,” jawabku.

“Sebagai?”

Sekarang giliran pertanyaannya menghantamku.

Aku menggenggam tangannya. “Sebagai orang yang ingin kupunya di hidupku. Untuk sekarang, cukup itu.”

Erga mengangguk. Dia tidak memaksa nama atau janji.

Menjelang tengah malam, kepalaku jatuh ke bahunya. Tangannya menyelimuti kedua tanganku.

“Pulang saja,” katanya. “Saya masih di sini.”

Aku menggeleng. “Aku juga.”

Di lorong rumah sakit yang dingin, tanpa kebaya dan lampu arena, untuk pertama kalinya kami berhenti saling mengusir dari bagian hidup yang sulit.

Bima datang membawa selimut dan menemukan kepalaku di bahu kakaknya. Aku hendak bangun, tetapi Erga menahan tanganku.

“Tidur saja,” katanya.

Bima tersenyum terlalu lebar. “Aku nggak lihat apa-apa.”

“Bagus,” jawab Erga.

“Tapi kalau butuh foto buat undangan nanti—”

Erga melempar tisu kepadanya. Aku tertawa dan akhirnya duduk tegak.

Kami makan bertiga dari kotak yang kubawa. Bima menceritakan masa kecil Erga, termasuk kebiasaannya tidur sambil memeluk kamera Ayah. Erga berusaha menghentikan, tetapi aku mencatat semuanya.

“Jadi dulu kamu romantis sama kamera?”

“Saya berumur sembilan tahun.”

“Sekarang romantis sama mesin espresso.”

“Saya pulang saja.”

Tanganku langsung menangkap lengannya. “Duduk.”

Erga menurut. Bima menatap tangan kami, lalu pura-pura sangat tertarik pada nasi.

Setelah Bima pergi ke kamar Ibu, aku bertanya, “Kalau kameranya bisa ditebus, kamu masih mau?”

“Itu cuma benda.”

“Jangan bohong.”

Erga menatap telapak yang tadi kucium. “Mau.”

“Bagus. Berarti kita cari cara.”

“Kita lagi.”

“Biasakan.”

Aku menautkan jemari kami. “Aku nggak akan menyelesaikan semuanya buat kamu. Tapi aku juga nggak akan duduk diam sementara kamu menjual seluruh bagian dirimu.”

“Bagaimana kalau saya memang ingin memberi?”

“Sisakan sesuatu supaya orang lain bisa mencintaimu.”

Wajah Erga berubah. Kalimat itu mungkin terlalu telanjang, tetapi aku tidak menariknya.

Dia mengangkat tangan kami dan mencium buku jariku. Sentuhannya lembut, nyaris khidmat.

“Saya sedang mencoba,” katanya.

Untuk malam itu, itu cukup.

Pagi datang bersama suara troli sarapan. Erga bangun lebih dulu dan mencoba menarik tangannya tanpa membangunkanku. Aku mempererat genggaman.

“Sudah bangun?”

“Belum.”

“Orang tidur nggak menjawab.”

“Atlet bisa.”

Dia tersenyum. Aku suka wajahnya pada pagi hari—lelah, tidak sempat menyusun pertahanan, dan lebih jujur.

“Aku latihan jam sepuluh,” kataku.

“Saya antar.”

“Ibumu?”

“Bima datang jam sembilan.”

“Kamu harus tidur.”

“Kamu juga.”

“Aku bisa tidur di mobil.”

“Saya bisa tidur di kedai.”

Kami berdebat sampai Ibu Ratih menyuruh kami diam dari dalam kamar.

Sebelum pergi, aku meninggalkan termos kopi yang kubuat sendiri menggunakan instruksi Erga melalui video call. Rasanya tidak sempurna. Ketika Erga mencicipi, dia tetap mengangguk serius.

“Enak?” tanyaku.

“Ada niat baik.”

“Rasanya?”

“Niat baiknya sangat kuat.”

Aku memukul lengannya, lalu dia tertawa.

Di depan lift, aku menahan pintu dan menatapnya. “Aku akan kembali setelah latihan.”

“Nggak perlu kalau capek.”

“Aku nggak meminta izin.”

Pintu lift mulai menutup. Erga memasukkan tangan untuk menahannya, lalu berkata, “Saya tunggu.”

Dua kata itu menghangatkan perjalanan sampai arena. Untuk orang lain mungkin sederhana. Dari Erga, itu adalah kemajuan: dia akhirnya mengakui ingin seseorang kembali.