Chapter Twenty Five

Tiket yang Tidak Dijual

POV: Erga Oktariano

Pada pagi kejuaraan, Ibu kembali sesak.

Ambulans tidak diperlukan, tetapi dokter meminta beliau dibawa untuk pemeriksaan. Bima sedang ujian. Aku mengantar Ibu ke klinik, menunggu hasil, lalu melihat jam bergerak lebih cepat daripada yang bisa kuterima.

Nadira tampil pukul tujuh malam.

Pukul empat, kami masih menunggu obat.

“Kamu harus pergi,” kata Ibu.

“Nanti.”

“Nanti kamu terlambat.”

“Saya nggak akan meninggalkan Ibu.”

“Ibu tidak sendirian. Bima sedang ke sini.”

Aku menatap tiket di ponsel. Perjalanan normal satu jam. Hari Sabtu, lalu lintas menuju arena bisa dua kali lipat.

“Dia nggak tahu saya datang,” kataku.

“Justru itu alasan kamu harus pergi.”

Aku menatap Ibu.

Beliau mengulurkan tangan dan merapikan kerahku seperti ketika aku masih sekolah. “Kamu menjual kamera Ayah, meninggalkan kuliah, mengambil semua shift. Ibu bangga, tapi Ibu juga takut kamu menjadikan pengorbanan sebagai satu-satunya cara merasa berguna.”

“Ini bukan tentang saya.”

“Itu masalahnya. Tidak pernah tentang kamu.”

Aku menunduk. Ibu mengambil ponselku dan membuka foto Nadira berkebaya yang diam-diam disimpan Sasa ke grup kedai.

“Perempuan ini datang memakai pakaian secantik itu untuk siapa?”

“Untuk acara penghargaan.”

“Dan setelahnya?”

Aku tidak menjawab.

“Dia sudah datang berkali-kali,” kata Ibu. “Sekarang giliran kamu.”

“Selama ini kamu pikir mencintai diam-diam itu mulia,” lanjutnya. “Kadang itu cuma takut terlihat.”

Kalimatnya tepat mengenai luka.

Bima tiba pukul empat lewat tiga puluh. Aku menyerahkan obat dan instruksi, lalu berlari ke parkiran. Hujan turun deras. Aplikasi transportasi membatalkan dua kali.

Pak Dimas menelepon karena pegawai shift malam tidak datang. Kedai kekurangan orang.

“Saya nggak bisa masuk,” kataku.

“Kamu selalu bisa.”

“Malam ini nggak.”

Itu pertama kalinya aku memilih sesuatu untuk diriku tanpa mencari pengganti lebih dulu.

Aku akhirnya mendapat motor sewaan. Jalan utama macet total. Pukul enam, jarak masih dua belas kilometer. Aku turun dan berpindah ke kereta, berlari melewati stasiun dengan sepatu basah.

Di peron, napasku tersengal. Seorang petugas mengatakan kereta berikutnya terlambat delapan menit. Delapan menit bisa menjadi selisih antara melihat Nadira masuk arena dan hanya mendengar tepuk tangan setelah semuanya selesai.

Aku menelepon Sasa.

“Kalau saya terlambat, rekam.”

“Nggak. Kamu harus sampai.”

“Sa.”

“Dia butuh kamu di sana, bukan video dari saya.”

“Dia bilang jangan datang kalau merasa harus.”

“Dan kamu merasa harus?”

Aku melihat tiket di layar. “Saya ingin.”

“Berarti lari lebih cepat.”

Kereta tiba. Aku masuk saat pintu hampir tertutup.

Di dalam gerbong, aku melihat apron cokelat yang sengaja kubawa dalam tas. Nadira mengenali warna itu bahkan dari jauh. Ide memakai apron di arena terdengar konyol, tetapi kursiku berada di tribun atas. Aku ingin memberi satu kemungkinan dia bisa melihatku.

Pukul enam lewat empat puluh lima, kereta berhenti dua stasiun sebelum tujuan karena gangguan sinyal.

Aku turun bersama puluhan orang dan berlari mencari kendaraan. Hujan berubah gerimis. Napasku mulai sakit.

Pesan dari Sasa masuk.

Dia tampil sebentar lagi. Kamu di mana?

Jalan.

Lari kalau perlu.

Aku memang berlari.

Di tangga stasiun, kakiku terpeleset. Lutut menghantam anak tangga dan telapak tangan lecet. Orang-orang berhenti membantu, tetapi aku langsung berdiri.

Untuk sesaat, aku membayangkan Nadira jatuh di atas es lalu bangkit sebelum rasa sakit selesai menjalar. Aku akhirnya memahami bahwa datang malam ini bukan gesture besar. Ini hanya satu langkah kecil memasuki bahasanya: jatuh, lalu tetap bergerak ke tempat yang dipilih.

Aku membersihkan darah dengan tisu dan kembali berlari.

Sepanjang trotoar, aku mengingat semua malam ketika Nadira datang sebelas menit sebelum tutup. Dia selalu datang, bahkan setelah latihan terburuk, bahkan memakai kebaya, bahkan saat marah.

Malam ini giliranku datang.

Aku mencapai arena pukul enam lewat lima puluh delapan. Antrean pemeriksaan masih panjang. Petugas mengatakan pintu tribun akan ditutup saat program dimulai.

Aku menunjukkan tiket, melewati pemeriksaan, lalu berlari menaiki tangga. Kursiku berada hampir paling atas.

Ketika sampai, lampu mulai diredupkan.

Aku mengenakan apron cokelat di luar jaket. Orang di sebelah menatap aneh. Aku tidak peduli.

Di layar besar, Nadira berdiri di lorong masuk. Kostumnya putih keperakan. Wajahnya tenang, tetapi aku mengenali cara tangan kirinya menyentuh gelang.

Aku duduk sambil mencoba mengatur napas.

Jarak kami begitu jauh. Nadira tidak tahu aku hampir tidak sampai. Tidak tahu tentang Ibu, kereta, hujan, atau kedai yang kutinggalkan.

Dia tidak perlu tahu.

Namun untuk pertama kalinya, aku mempertanyakan kalimat itu. Mungkin cinta tidak selalu harus disembunyikan agar murni. Mungkin Nadira berhak tahu bahwa aku memilih berada di sini, sama seperti aku berhak mengakui betapa pentingnya malam ini bagiku.

Aku mengeluarkan ponsel dan mengetik pesan sebelum petugas meminta semua perangkat disenyapkan.

Saya sampai.

Pesan hanya centang satu. Nadira sudah berada di lorong tanpa ponsel.

Tidak masalah. Kali ini aku tidak menyembunyikan kedatanganku. Dia akan membacanya nanti, menang atau kalah.

Aku datang bukan agar dilihat.

Lampu arena padam sepenuhnya.

Namanya diumumkan.

Saat Nadira meluncur ke tengah es, seluruh arena menahan napas.

Aku juga.

Namun untuk alasan yang berbeda.

Untuk pertama kalinya, aku akan melihat perempuan yang kucintai berdiri tepat di pusat cahaya yang selama ini dia kejar.

Dan mungkin, setelah malam ini, aku akhirnya mengerti apakah mencintainya cukup dari tempat sejauh ini—atau aku harus belajar meminta dirinya menoleh.