Chapter Twenty Eight

Bintang yang Turun dari Arena

POV: Zivana Nadira

Aku baru menjadi juara nasional ketika aku kabur dari konferensi pers.

Medalinya bahkan belum dikalungkan. Jaket tim belum terpasang sempurna di bahuku. Di belakang, seseorang memanggil namaku, sementara dua wartawan menyodorkan mikrofon dan bertanya tentang skor tertinggi musim ini.

Aku tidak peduli pada skor.

Aku sudah menemukannya di tribun. Sekarang aku harus memastikan dia tidak menghilang lagi.

“Delapan menit,” kata Coach Maya sambil menahan petugas media yang hendak mengejarku. “Kalau lewat, saya sendiri yang menyeret kamu kembali.”

“Sepuluh.”

“Tujuh karena menawar.”

Keenan tertawa dan membuka jalan di antara kru televisi. “Pergi sana, Juara. Mukamu lebih menyeramkan daripada waktu mau lompat.”

Mama sempat menangkap lenganku. Di belakangnya, manajer tim berdiri bersama perwakilan sponsor yang sudah menyiapkan senyum untuk foto kemenangan.

“Nadira, semua orang menunggu.”

“Aku juga sedang menunggu seseorang.”

Tatapan Mama bergerak ke tribun atas, ke arah yang tadi kucari setelah musik berhenti. “Laki-laki dengan apron itu?”

Aku mengangguk. Untuk sekali ini aku tidak merasa perlu membela atau menjelaskan Erga.

Jemari Mama perlahan melepaskan lenganku. “Temui dia. Setelah itu kembali dan selesaikan tanggung jawabmu.”

Itu bukan restu besar seperti di film. Namun dari Mama, kalimat itu berarti dia akhirnya percaya aku bisa memiliki kemenangan dan seseorang yang ingin kubawa pulang bersamanya.

Aku berlari melewati lorong servis dengan sepatu olahraga yang belum terikat benar. Tubuhku masih panas, tetapi pergelangan kaki kiriku mulai berdenyut setelah adrenalin turun. Orang-orang yang kulewati memberi selamat. Aku membalas dengan anggukan, terlalu takut kalau berhenti sedetik saja, Erga akan memutuskan pertemuan dari kejauhan tadi sudah cukup.

Baginya, mungkin memang cukup.

Itulah masalahnya.

Lorong tribun atas kosong ketika aku tiba. Hanya ada gelas kertas, bendera kecil yang tertinggal, dan suara penonton dari bawah. Kursi tempat apron cokelat itu kulihat sudah tidak berpenghuni.

Dadaku mengempis.

“Erga?”

Tidak ada jawaban.

Aku hampir menelepon ketika langkah kaki berderap dari tangga. Erga muncul di belokan, terengah-engah, rambutnya basah oleh keringat. Apron kedai mencuat dari balik jaket dan lutut celananya robek sedikit. Matanya semerah mataku.

Kami berhenti beberapa meter terpisah.

Semua kalimat yang kususun saat mencari lorong ini mendadak hilang.

“Kamu datang,” kataku.

“Saya bilang akan datang.” Napasnya belum teratur. “Kamu seharusnya di bawah.”

“Aku lihat kamu.”

Tatapannya goyah. “Saya kira kamu nggak mungkin sadar.”

Aku berjalan mendekat sampai hanya satu langkah tersisa. “Aku selalu nyari kamu.”

Ada sesuatu yang runtuh di wajahnya. Bukan kesedihan. Pertahanan.

“Nadira—”

“Jangan bicara dulu.”

Kedua tanganku memegang wajahnya. Untuk pertama kalinya, aku tidak memberi kalimat nakal yang bisa kutarik menjadi candaan. Tidak ada ancaman kosong, tidak ada pertanyaan yang membuat dia harus menebak. Aku menariknya turun dan mencium bibirnya.

Erga membeku sepersekian detik.

Lalu lengannya melingkari pinggangku.

Ciuman itu tidak rapi. Kami masih kehabisan napas, aku masih menangis, dan hidung kami sempat berbenturan. Namun ketika Erga membalas dengan hati-hati, seolah aku adalah sesuatu yang benar-benar boleh disentuhnya, seluruh suara arena menjauh.

Aku mundur sebelum keberanianku berubah menjadi alasan Coach Maya mencoretku dari tim. Dahi kami tetap menempel.

“Itu bukan permainan,” kataku.

“Sekarang saya tahu.”

“Bukan karena aku menang.”

“Bukan.”

“Dan bukan ucapan terima kasih karena kamu datang.”

Air mata baru jatuh dari sudut matanya. “Saya paham.”

Aku memukul dadanya pelan. “Berhenti tahu semuanya. Giliran kamu bicara.”

“Saya sedang berusaha mengingat caranya.”

Tawaku pecah di sela tangis. Menyebalkan. Bahkan setelah membuatku berbulan-bulan marah, dia masih bisa membuat dadaku terasa ringan dengan satu kalimat datar.

Suara langkah lain mendekat. Sasa muncul bersama Bima yang membawa kamera digital hitam. Mereka berhenti begitu melihat posisi tangan Erga di pinggangku.

“Kami bisa balik lagi,” kata Sasa, sama sekali tanpa niat pergi.

Bima justru mengangkat kamera. “Senyum, Kak.”

Erga cepat-cepat melepaskan pinggangku. Aku menangkap tangannya dan mengembalikannya ke tempat semula.

“Jangan kaku,” kataku.

“Ada keluarga.”

“Kalau sama aku, tempatnya memang di situ.”

Sasa menutup mulut agar tidak menjerit. Bima memotret tepat ketika telinga kakaknya memerah.

Aku baru menyadari kamera itu mirip dengan foto lama yang pernah kulihat di rumah Erga. “Bukannya ini kamera ayah kalian?”

Bima menurunkannya. “Yang ini pinjaman. Kamera Ayah dijual Kak Erga waktu—”

“Bim,” potong Erga.

Terlambat.

Dalam lima menit yang terlalu singkat, dua pengkhianat paling berguna dalam hidupku membongkar semuanya. Kamera ayahnya yang dijual saat biaya rumah sakit membengkak. Uang tiket yang tidak pernah dipakainya untuk hal lain. Shift tambahan. Poster pertandinganku yang dibuat tanpa nama. Perjalanannya hari ini dari klinik, berganti bus dua kali, lalu berlari karena jalan ditutup.

Aku melihat telapak tangannya. Ada lecet merah dan serpihan debu di dekat ibu jari.

“Kamu jatuh?”

“Sedikit.”

“Kenapa nggak bilang?”

“Kamu sedang tampil.”

Jawaban itu begitu khas Erga sampai rasanya ingin kupeluk dan kuguncang sekaligus. Aku mengangkat telapak tangannya, lalu mencium bagian yang lecet—di tempat yang sama ketika dulu dia menutup mulutku karena kebaya biru.

“Bodoh,” bisikku.

“Iya.”

“Aku nggak butuh kamu memberikan semua yang kamu punya lalu pura-pura nggak menginginkan apa pun.”

Senyumnya lenyap. “Saya nggak mau kebaikan saya menjadi tagihan.”

“Kamu pikir cuma ada dua pilihan? Menagihku atau menghapus dirimu sendiri?” Aku menggenggam tangannya lebih erat. “Kamu boleh ingin sesuatu dariku. Kamu boleh takut aku pergi. Kamu bahkan boleh bilang kamu butuh aku.”

“Kalau itu membuatmu merasa harus tinggal?”

“Aku yang memutuskan apa yang kulakukan dengan perasaanmu.” Suaraku bergetar, tetapi kali ini tidak kusembunyikan. “Jangan ambil pilihanku hanya karena kamu takut menjadi beban.”

Erga menatapku lama. “Saya sedang belajar.”

“Belajarnya lambat.”

“Tapi saya datang.”

Itu benar. Malam ini dia tidak menunggu di sudut. Dia berlari turun ketika tahu aku mencarinya.

Coach Maya muncul di ujung lorong sambil menunjuk jam. “Tiga puluh detik sebelum juara nasional kita saya gendong sendiri.”

“Aku berat,” kataku.

“Saya atlet angkat beban kalau sedang marah.”

Aku menoleh lagi kepada Erga. “Malam ini ke kedai.”

“Kamu punya podium, konferensi pers, dan makan tim.”

“Setelah itu.”

“Kamu akan capek.”

Aku menarik ujung apronnya sampai tubuh kami kembali dekat. “Aku baru mencium kamu, Mas Kasir. Jangan langsung bikin aku menyesal.”

“Baik.”

“Kita belum selesai bicara.”

“Saya tunggu.”

Aku menatap tajam.

Dia memahami kesalahannya. “Saya datang. Nggak bersembunyi.”

“Bagus.”

Kucium bibirnya sekali lagi, cepat dan sengaja, di depan semua orang. Bima memotret. Sasa hampir menjatuhkan ponselnya. Coach Maya memijat pelipis.

Ketika kembali ke ruang media, medali akhirnya dikalungkan di leherku. Kilatan kamera menyala tanpa henti. Pertanyaan pertama datang dari wartawan yang melihatku memindai tribun setelah penampilan.

“Apa yang Anda cari di antara penonton?”

Biasanya aku akan memberi jawaban aman tentang dukungan tim atau keluarga. Kali ini aku memegang mikrofon dan tidak mencari jalan keluar.

“Rumah,” jawabku.

Aku tidak menjelaskan. Jawaban itu bukan milik publik.

Di samping panggung, Mama menatapku ketika aku mengembalikan mikrofon. “Jawaban yang berbahaya.”

“Lebih berbahaya terus pura-pura nggak punya.”

Sudut bibirnya naik tipis. “Kalau begitu, jangan membuat rumahmu menunggu terlalu lama.”

Sesudah konferensi, ponselku bergetar.

Selamat, Juara Nasional.

Aku membalas sambil tersenyum.

Cuma selamat?

Tanda mengetik muncul lama.

Saya sedang menyusun ulang kosakata.

Malam ini aku naikkan tingkat kesulitan.

Tanda itu muncul, hilang, lalu muncul lagi.

Gudangnya saya bersihkan.

Aku tertawa sampai Coach Maya menoleh curiga.

Malam ini aku akan meminta jawaban tanpa candaan. Dan kalau Erga masih mencoba mencintaiku dari tempat yang terlalu jauh, aku sendiri yang akan menariknya mendekat.