Chapter Nineteen
Kursi yang Salah
POV: Erga Oktariano
Ibu pulang seminggu kemudian. Kedai kembali normal, kecuali Nadira sekarang masuk ke area staf seolah memiliki izin permanen.
Malam itu, dia menemukanku di gudang sedang menyusun stok. Satu-satunya kursi ditempati kardus susu.
“Aku capek,” katanya.
“Pindahkan kardus.”
“Berat.”
Aku mengangkat kardus dan meletakkannya di lantai. Sebelum kursi kosong sepenuhnya, Nadira duduk di pangkuanku.
Tubuhku berhenti berfungsi.
“Berdiri,” kataku.
“Capek.”
“Ada kursi.”
“Aku sukanya tempat ini.”
Tangannya melingkari leherku. Lututnya berada di kedua sisi pahaku, wajahnya dekat sekali.
“Saya bisa jantungan.”
“Bagus. Berarti kamu masih bereaksi kalau aku dekat.”
“Nadira.”
“Nah, suara itu.”
“Suara apa?”
“Suara saat kamu hampir kehilangan kontrol.”
Dia bergeser sedikit agar lebih nyaman. Aku mencengkeram sisi kursi, menolak meletakkan tangan sembarangan.
Nadira mengambil tanganku dan menaruhnya di pinggangnya.
“Sudah pernah dapat izin,” katanya.
“Izin terbatas.”
“Aku memperluas masa berlaku.”
Aku tertawa gugup. “Kamu datang cuma untuk membunuh saya?”
“Aku datang karena rindu.”
Kalimat itu membuat semua candaan berhenti.
“Kita ketemu kemarin.”
“Tetap rindu.”
Aku menatap matanya. Tidak ada jalan keluar berupa tawa. Nadira benar-benar merindukanku.
Tanganku mengencang di pinggangnya. Dia mendekat. Hidung kami nyaris bersentuhan.
“Kalau aku minta sekarang?” bisiknya.
“Minta apa?”
“Kamu tahu.”
“Saya perlu dengar.”
Nadira tersenyum tipis. “Cium aku.”
Aku memastikan sekali, seperti janjiku. “Serius?”
“Serius.”
Aku bergerak mendekat.
Ponsel Nadira berdering tepat sebelum bibir kami bertemu.
Dia mengumpat pelan dan hendak mengabaikannya, tetapi layar menunjukkan Coach Maya. Nadira menerima panggilan tanpa turun dari pangkuanku.
“Ya, Coach?”
Aku mendengar kata federasi, program luar negeri, dan rapat besok pagi.
Wajah Nadira berubah. Tangannya yang melingkari leherku mengendur.
“Baik. Besok aku datang.”
Panggilan berakhir.
“Apa?” tanyaku.
“Belum pasti.” Dia turun dari pangkuanku. Ruang yang tadi terlalu sempit mendadak terasa dingin. “Ada tawaran latihan.”
“Di mana?”
“Luar negeri.”
Aku berdiri. “Itu bagus.”
Nadira menatapku seolah jawabanku salah. “Aku belum bilang durasinya.”
“Berapa lama?”
“Dua tahun.”
Dua tahun adalah lebih dari tujuh ratus malam tanpa kursi pojok, tanpa cangkir hitam, tanpa dia menarik apronku.
“Kesempatan besar,” kataku.
“Cuma itu?”
Aku ingin berkata jangan pergi. Kata-katanya sudah berada di dada, menekan sampai sakit. Namun aku melihat arena, lompatan, dan semua jatuh yang membawanya ke kesempatan ini.
“Kamu harus dengar penawarannya dulu.”
Nadira mengambil tas. “Iya.”
“Nadira—”
“Aku pulang.”
“Tadi kamu bilang rindu.”
Dia berhenti di pintu gudang. “Tadi aku juga hampir menciummu.”
Lalu pergi.
Aku tetap berdiri di antara kardus-kardus, menyadari betapa cepat masa depan bisa masuk melalui satu panggilan dan mengubah kursi yang salah menjadi tempat terakhir aku hampir memilikinya.
Sasa menemukan aku beberapa menit kemudian. Dia melihat kursi, pintu gudang, dan wajahku.
“Kalian bertengkar?”
“Nggak.”
“Ciuman gagal?”
Aku menatapnya. “Bagaimana kamu tahu?”
“Ada aura tragedi di antara kardus susu.”
Aku menceritakan tawaran dua tahun tanpa menyebut posisi duduk Nadira sebelum telepon. Sasa bersandar pada rak.
“Kamu akan bilang apa?”
“Supaya dia pergi.”
“Bukan itu pertanyaanku.”
“Itu jawaban yang benar.”
“Benar untuk siapa?”
Aku tidak menjawab.
Malamnya, Nadira mengirim satu pesan.
Tadi belum selesai.
Aku tahu dia bisa berarti percakapan atau ciuman.
Yang mana?
Dua-duanya.
Jantungku bergerak keras.
Kapan mau bicara?
Besok setelah rapat.
Aku mengetik banyak hal lalu menghapusnya. Jangan ambil keputusan karena saya. Saya akan rindu. Saya ingin kamu tinggal. Saya takut dua tahun mengubah semuanya.
Pada akhirnya aku hanya mengirim:
Saya tunggu di kedai.
Nadira membalas dengan foto bibirnya dari jarak dekat.
Yang ini juga tunggu.
Aku tertawa sekaligus merasa ingin menangis. Flirting itu biasanya membuatku ringan. Malam ini, foto yang sama terasa seperti hitung mundur.
Sebelum tidur, aku membuka tiket kejuaraan nasional. Kursinya jauh di atas, tetapi cukup untuk melihat seluruh arena. Aku berjanji pada diri sendiri bahwa apa pun keputusan Nadira besok, aku akan tetap berada di sana.
Bukan agar dia melihatku.
Agar setidaknya sekali, aku bisa melihatnya berada tepat di tempat yang seharusnya.
Keesokan hari, Nadira datang setelah rapat tetapi tidak membahas keputusan. Dia duduk di kursi pojok, meminum setengah americano, kemudian mengirim pesan meski aku berdiri di balik kasir.
Gudangnya kosong?
Aku menatapnya. Dia mengangkat alis.
Untuk apa?
Menyelesaikan yang kemarin.
Jantungku berdebar, tetapi aku membalas:
Bicara dulu.
Cium dulu.
Nadira.
Dia berdiri dan benar-benar masuk ke gudang. Aku mengikutinya beberapa menit kemudian setelah meminta Sasa menjaga depan.
Nadira sudah duduk di atas meja stok, bukan pangkuanku. “Aku benci foldermu.”
“Tapi berguna.”
“Aku benci kamu benar.”
“Saya juga.”
“Aku belum memutuskan.”
Aku berdiri di depannya. “Apa yang paling kamu takutkan?”
“Pergi dan kehilangan ini.” Dia menunjuk jarak di antara kami. “Atau tinggal lalu membencimu.”
“Kalau begitu jangan pilih saya sebagai alasan tinggal.”
“Kenapa kamu selalu mudah melepas?”
Aku hampir mengatakan karena seluruh hidupku adalah latihan kehilangan. Ayah, kuliah, kamera. Namun jawaban itu akan mengubah luka menjadi pembenaran.
“Saya nggak mudah,” kataku. “Saya cuma nggak mau rasa sakit saya menjadi rantai buat kamu.”
Air mata memenuhi mata Nadira, tetapi tidak jatuh. Dia menarik apronku dan menempelkan dahi ke dada.
Aku memeluknya.
Ciuman yang hampir terjadi tetap tidak selesai. Namun pelukan kali ini memuat semuanya: keinginan, takut, dan masa depan yang tiba terlalu cepat.
- 1 Pelanggan Terakhir
- 2 Tempat Aku Boleh Kalah
- 3 Kopi yang Tidak Pernah Habis
- 4 Kursi Milikku
- 5 Kasir yang Terlalu Ramah
- 6 Tiga Jam untuk Satu Tatapan
- 7 Bidadari di Depan Mesin Kasir
- 8 Aku Datang untuk Kamu
- 9 Dunia di Atas Es
- 10 Tangannya di Pinggangku
- 11 Bahasa yang Kupelajari untukmu
- 12 Tarik Apron, Pangkas Jarak
- 13 Jatuh ke Pelukan yang Tepat
- 14 Bau Kopi dan Tempat Aman
- 15 Poster Tanpa Nama
- 16 Kalau Aku Mau Baristanya
- 17 Benda yang Bisa Dijual
- 18 Ciuman di Telapak Tangan
- 19 Kursi yang Salah reading
- 20 Dua Tahun
- 21 Pulang dalam Keadaan Apa Pun
- 22 Minta Aku Tinggal
- 23 Pergilah
- 24 Kalau Kamu Minta
- 25 Tiket yang Tidak Dijual
- 26 Orang yang Kucari
- 27 Aku Cukup Melihatmu Bersinar
- 28 Bintang yang Turun dari Arena
- 29 Jangan Cintai Aku dari Jauh
- 30 Kebaya yang Sama