Chapter Six

Tiga Jam untuk Satu Tatapan

POV: Zivana Nadira

Aku sudah punya gaun untuk malam penghargaan.

Warnanya hitam, potongannya sederhana, dan menurut Tiara—penata gayaku—cukup elegan untuk membuat wartawan menulis kata anggun setidaknya tiga kali.

Lalu Erga bilang kebaya membuat perempuan terlihat anggun.

Keesokan paginya, gaun hitam itu mendadak terlihat seperti kain berkabung.

“Kita sudah fitting dua kali,” kata Tiara ketika aku meminta pilihannya diganti. “Acara tinggal enam hari.”

“Aku berubah pikiran.”

“Tentang gaunnya atau tentang seseorang?”

Aku menatapnya melalui cermin. “Tentang gaunnya.”

Tiara mengangguk dengan wajah orang yang sama sekali tidak percaya. “Baik. Orang yang tidak ada hubungannya ini suka warna apa?”

Aku ingin menyangkal, tetapi jawaban sudah muncul di kepala: biru tua. Warna celemek kecil yang dipakai Erga saat stok apron cokelat dicuci. Dia pernah bilang warna gelap lebih menenangkan daripada hitam.

“Biru tua,” jawabku.

Tiara tersenyum. “Tentu tentang gaun.”

Enam hari berikutnya menjadi rangkaian keputusan yang seharusnya tidak serumit program skating. Model kebaya terlalu ramai. Yang kedua terlalu pengantin. Yang ketiga membuatku terlihat seperti akan menghadiri rapat organisasi. Yang keempat berwarna biru tua, berpotongan bersih, dengan bordir perak halus di bagian lengan.

Aku memilih yang keempat dalam tiga detik.

Pada malam acara, proses bersiap memakan waktu hampir tiga jam. Rambutku disanggul rendah. Riasan dibuat lembut, dengan warna bibir yang pernah berhasil membuat Erga kesulitan fokus. Kebaya itu pas mengikuti tubuh tanpa terlihat berlebihan. Kainnya membatasi langkah, tetapi tidak cukup untuk membuatku menyesal.

Mama berdiri di ambang pintu kamar hotel ketika Tiara memasang anting terakhir.

“Cantik sekali,” katanya. “Akhirnya kamu mau pakai kebaya.”

“Sekali-sekali.”

“Biasanya kamu bilang ribet.”

“Masih ribet.”

“Lalu kenapa?”

Tiara berdeham untuk menyembunyikan tawa. Aku mengambil clutch dan berpura-pura tidak mendengar.

Acara berlangsung hampir tiga jam. Aku menerima penghargaan Atlet Inspiratif, berfoto dengan sponsor, menjawab pertanyaan soal kejuaraan nasional, lalu tersenyum sampai pipiku terasa kaku. Semua orang bilang aku cantik. Pembawa acara, atlet lain, manajer sponsor, bahkan dua wartawan perempuan yang kutemui di lorong.

Tidak satu pun pujian itu terasa seperti pujian yang kutunggu.

Pukul sembilan lewat sepuluh, Mama mengajak pulang bersama. Aku melihat waktu tempuh menuju Kedai Titik Pulang. Empat puluh dua menit.

Kalau jalan lancar, aku akan tiba sebelum tutup.

“Aku ikut mobil Tiara,” kataku.

Mama mengernyit. “Kalian mau ke mana?”

“Ada yang harus kuambil.”

“Malam-malam?”

“Penting.”

Tiara, yang baru berdiri di belakang Mama, mengangkat kedua alis. Namun dia cukup setia untuk tidak membongkar bahwa tidak ada barangku di mobilnya.

Kami berangkat lima menit kemudian. Begitu mobil keluar dari area hotel, Tiara bertanya, “Kedai kopi?”

“Kenapa kedai kopi?”

“Karena dari tadi kamu cek jam, bukan foto penghargaan. Dan aku pernah lihat nama Titik Pulang muncul di ponselmu empat kali dalam sehari.”

“Aku cuma mau beli kopi.”

“Dengan kebaya yang fitting-nya membuat tiga orang hampir bertengkar?”

Aku melihat ke jendela. “Dia pernah bilang suka kebaya.”

“Nah.”

“Bukan suka aku pakai kebaya. Kebaya secara umum.”

“Dan kamu ingin mempersempit objek penelitiannya.”

Aku memilih diam.

Kemacetan membuat perkiraan waktu kedatangan terus mundur. Pukul sembilan lewat tiga puluh delapan, aku mulai mengetuk-ngetukkan kuku pada clutch. Pukul sembilan lewat empat puluh lima, aku mengirim pesan ke akun kedai.

Masih buka?

Jawaban datang kurang dari satu menit.

Kursinya masih menunggu.

Aku membaca kalimat itu dua kali.

“Senyummu merusak riasan,” kata Tiara.

“Aku nggak senyum.”

“Tentu.”

Kami tiba pukul sembilan lewat lima puluh dua. Lampu kedai masih menyala. Dari dalam mobil, aku melihat Erga di balik mesin espresso, mengenakan apron cokelat dan sedang berbicara dengan Sasa.

Keberanianku, yang bertahan di depan ratusan orang dan belasan kamera, mendadak menguap.

“Aku kelihatan berlebihan?” tanyaku.

Tiara menatapku seolah baru mendengar es meminta selimut. “Kamu serius?”

“Jawab.”

“Kamu kelihatan seperti alasan seseorang lupa namanya sendiri.”

Aku kembali melihat pantulan wajahku di kaca mobil. Terlalu rapi. Terlalu jelas bahwa aku datang dari acara besar. Bagaimana kalau Erga cuma bilang bagus, lalu kembali mencuci cangkir? Bagaimana kalau dia tidak menyadari aku menempuh hampir satu jam hanya agar dilihat olehnya?

Aku membuka pintu, lalu menutupnya lagi.

“Nadira.”

“Aku sedang berpikir.”

“Kamu bisa melakukan triple lutz di atas pisau, tapi takut masuk kedai?”

“Lutz tidak bisa menatap balik.”

Tiara tertawa. Aku menyuruhnya diam, lalu mencoba tiga ekspresi di kaca: tenang, tidak peduli, dan sedikit terkejut seolah kebetulan lewat memakai kebaya penuh pada pukul sepuluh malam.

Semuanya terlihat bodoh.

“Masuk saja,” kata Tiara. “Kalau reaksinya kurang bagus, aku tabrak kedainya.”

“Jangan. Kopinya masih kubutuhkan.”

Aku akhirnya turun. Udara malam menyentuh leher dan membuat bulu kudukku berdiri. Setiap langkah menuju pintu terasa lebih menegangkan daripada meluncur ke tengah arena.

Melalui kaca, aku melihat Erga menoleh.

Tangannya berhenti di udara.

Sasa mengikuti tatapannya. Seorang pelanggan yang sedang mengangkat sendok ikut membeku. Lalu kepala-kepala lain berputar ke arahku seperti gerakan yang sudah dilatih.

Bel di atas pintu berbunyi saat aku masuk.

Tidak ada yang bicara.

Erga masih menatapku dari belakang mesin kopi, mulutnya sedikit terbuka. Susu yang sedang dituangkannya melewati tepi cangkir dan tumpah ke meja.

Tiga jam persiapan, enam hari mengubah pakaian, dan empat puluh dua menit perjalanan mendadak terasa sepadan.

Aku berjalan ke depan kasir sambil menahan senyum.

“Malam,” kataku.

Erga berkedip sekali.

Lalu dua kali.

Aku menyandarkan satu tangan di meja. “Kamu masih ingat cara bicara, Mas Kasir?”

Menjelang masuk, aku sempat teringat percakapan singkat beberapa minggu lalu. Seorang perempuan berkebaya muncul di iklan televisi kedai, lalu Erga bilang kebaya membuat seseorang terlihat anggun tanpa harus berusaha menarik perhatian. Aku tidak pernah memberitahunya bahwa komentar itu menempel di kepalaku.

Keenan juga sudah menebak tujuanku malam ini. Di acara tadi, dia memandang kebayaku lalu bertanya apakah “kasir itu” menyukai pakaian tradisional. Aku menyangkal terlalu cepat. Dia tertawa dan berkata aku menyebut nama Erga lebih sering daripada nama koreograferku sendiri.

Sekarang susu yang tumpah dan wajah kosong Erga sudah memberi jawaban sebelum mulutnya bekerja. Untuk pertama kalinya malam itu, pujian semua orang lain terasa tidak penting.

Aku sengaja berputar kecil di depan meja kasir, membiarkan kain dan bordir perak menangkap cahaya. Beberapa pengunjung kembali berbisik. Namun aku hanya memperhatikan satu wajah.

“Kalau kamu tetap diam,” kataku, “aku pulang.”

Tangan Erga langsung terangkat, seolah hendak menahanku meski jarak kami masih dua meter.

Gerakan refleks itu membuat sesuatu yang hangat mekar di dadaku.

Aku tidak datang untuk kopi. Tidak datang karena kebetulan lewat. Aku datang untuk satu tatapan, dan dari cara Erga menatapku sekarang, aku mendapat jauh lebih banyak daripada yang berani kuharapkan.