Chapter Thirty

Kebaya yang Sama

POV: Zivana Nadira

Setahun kemudian, aku berbohong kepada Erga untuk pertama kalinya sejak kami berjanji tidak menyembunyikan hal penting.

Besok aku latihan seharian. Mungkin nggak bisa video call.

Balasannya datang ketika pesawatku baru mendarat.

Jangan memaksa pergelangan kakimu. Telepon setelah selesai.

Aku menahan senyum sambil menarik koper. Secara teknis, aku memang tidak bisa melakukan video call. Aku akan berdiri langsung di depannya.

Hubungan jarak jauh kami tidak indah setiap hari. Pada bulan kedua, kami bertengkar karena aku menyembunyikan cedera. Pada bulan keempat, Erga melewatkan dua panggilan karena Ibu Ratih masuk rumah sakit dan dia kembali berkata semuanya baik-baik saja. Kami pernah saling diam selama enam jam—rekor terburuk kami—sebelum sama-sama menelepon pada detik yang hampir bersamaan.

Namun kami tidak pernah menghilang.

Aku memenangkan dua kompetisi regional dan jatuh pada debut internasional. Malam kekalahan itu, Erga tidak menyuruhku kuat. Dia hanya menemani lewat layar sampai tangisku berhenti. Sebaliknya, ketika studio desain visual atlet miliknya mendapat klien luar negeri pertama, aku memesan kue dengan tulisan terlalu panjang sampai nama studionya salah eja.

Pada bulan keenam, Erga datang memakai bayaran proyek pertamanya. Dia duduk di pinggir arena latihan dengan kamera Ayah di tangan, lalu mengeluh karena aku memeluknya sebelum dia sempat menaruh tas. Aku bilang peraturan ciuman dihitung ulang setiap berganti zona waktu. Dia tidak protes setelah ciuman ketiga.

Kami gagal dengan cara-cara kecil, lalu memperbaikinya sebelum kegagalan itu berubah menjadi jarak yang sesungguhnya.

Malam kepulanganku, Tiara membantuku mengenakan kebaya biru tua yang sama. Jahitannya perlu disesuaikan sedikit karena bahu dan pinggangku berubah setelah setahun latihan. Anting peraknya masih sepasang. Bordirnya masih menangkap cahaya setiap kali aku bergerak.

“Yakin nggak mau kasih tahu?” tanya Tiara sambil membenahi sanggulku.

“Aku mau lihat apakah dia masih bisa lupa bicara.”

“Kalian video call hampir tiap malam. Dia sudah kebal melihat muka kamu.”

“Kebaya ini punya riwayat kriminal.”

Tiara mendengus. “Kalau nanti kedainya tutup karena kasirnya pingsan, kamu yang tanggung jawab.”

Kami tiba pukul sembilan lewat empat puluh sembilan. Kedai Titik Pulang masih sama dari luar: lampu kuning hangat, papan kayu yang sedikit miring, dan jendela besar tempatku dulu melihat Erga sebelum berani masuk.

Namun ada satu perubahan. Di lantai atas terpampang papan kecil bertuliskan OKTARIANO VISUAL—STUDIO KREATIF ATLET. Hurufnya sederhana dan jelek.

Pasti Erga sengaja membuatnya sendiri agar tidak perlu membayar desainer.

Melalui kaca, kulihat dia berdiri di belakang kasir memakai apron cokelat baru. Rambutnya sedikit lebih panjang. Lengan kemejanya digulung sampai siku. Dia sedang menunjukkan sesuatu di laptop kepada seorang atlet muda, sementara Sasa menyiapkan minuman.

Dadaku berdebar lebih keras daripada sebelum final nasional.

Aku membuka pintu.

Bel berbunyi.

Seperti setahun lalu, kedai membeku.

Sasa berhenti menuang susu. Atlet muda di depan kasir menoleh. Dua pelanggan di kursi tengah mengangkat wajah bersamaan. Erga menatapku, lalu benar-benar kehilangan suara.

Tidak ada susu yang tumpah kali ini. Kemajuan kecil.

Aku berjalan sampai depan kasir. “Malam, Mas.”

Bibirnya bergerak tanpa bunyi.

“Masih ingat cara bicara?”

Dia berkedip, kemudian keluar dari balik kasir tanpa melepas pandangannya dariku. “Kamu bilang latihan.”

“Latihan mengejutkan pacar.”

“Harusnya saya curiga. Pesanmu terlalu sopan.”

Dia berhenti tepat di depanku. Tatapannya bergerak dari sanggul, anting, bordir kebaya, lalu kembali ke wajahku. Tidak ada lagi ketakutan dalam cara dia melihatku. Hanya takjub yang sama dan keyakinan baru bahwa dia boleh menunjukkannya.

“Cantik,” katanya.

Satu kata itu tetap mampu membuatku lebih gugup daripada tepuk tangan satu arena.

Aku mendekat ke telinganya. “Kalau cuma boleh dilihat sama kamu, aku juga nggak keberatan.”

“Nadira…”

“Kenapa? Kamu lebih suka kalau aku lepas—”

Tangannya langsung menutup mulutku.

Kedai meledak oleh tawa. Aku mencium telapak tangannya seperti dulu, lalu tersenyum di sana sampai dia buru-buru menariknya.

“Setahun di luar negeri nggak memperbaiki kelakuanmu,” katanya.

“Malah dapat pelatihan lanjutan.”

Dia menggeleng, tetapi matanya basah.

“Datang buat kopi?” tanyanya.

Aku menggeleng. “Datang buat Mas Kasir.”

“Nggak dijual.”

Tanganku menarik ujung apronnya. “Kalau dicicipin?”

“Kedai masih ramai.”

“Makanya aku belum cium. Aku sedang sopan.”

“Itu ancaman?”

“Peringatan. Ancamannya lebih parah.”

Erga melirik pelanggan yang terang-terangan menonton, lalu kembali kepadaku. “Saya sudah menunggu satu tahun. Kayaknya mereka bisa menunggu satu menit.”

Kali ini dia yang menciumku lebih dulu.

Sorakan memenuhi kedai. Sasa bertepuk tangan paling keras. Aku tertawa di bibirnya sebelum melingkarkan tangan di lehernya. Ciuman itu tidak lama, tetapi cukup untuk membuat perjalanan belasan jam dan semua malam dengan layar ponsel di antara kami terasa terbayar.

Ketika kami berpisah, dahi kami tetap menempel.

“Kali ini saya boleh tutup kedai lebih cepat?” tanyanya.

“Boleh.” Aku menyentuh ujung hidungnya. “Bidadarinya sudah pulang.”

Erga membalik tanda menjadi closed. Pelanggan terakhir keluar sambil masih menoleh dan tersenyum. Sasa membawa koperku ke belakang, lalu kabur bersama Tiara dengan alasan tidak mau menjadi figuran di penutup novel orang lain.

Sebelum mematikan lampu, Erga membawaku ke kursi pojok. Di dinding atasnya tergantung foto besar dari kejuaraan nasional: aku berada di tengah cahaya dengan tangan menyentuh dada. Di sudut bingkai tersimpan potongan apron lama yang robek saat dia berlari ke arena.

Di bawah foto tertulis:

AKU CUKUP MELIHATMU BERSINAR.

“Kamu yang cetak?” tanyaku.

“Proyek pertama studio.”

Di meja samping foto tergeletak kamera ayahnya. Sudah ditebus, dirawat, dan kini dipakai lagi. Di layar laptop, kulihat desain kampanye beberapa atlet muda. Erga bukan lagi hanya orang yang menyiapkan kopi setelah mimpi orang lain selesai dilatih. Dia sedang membangun mimpinya sendiri tanpa meninggalkan tempat yang dicintainya.

Aku mengambil spidol, lalu menambahkan satu baris di bawah tulisan pada bingkai:

TAPI AKU TETAP INGIN KAMU BERDIRI DI SISIKU.

Erga membacanya. “Saya di sini.”

“Aku tahu.” Aku menyelipkan jemari di antara jemarinya. “Aku juga akan pergi lagi dua minggu lagi.”

“Saya tahu.”

“Musim depan mungkin lebih sibuk.”

“Studio juga mulai ramai.”

“Jadi kita masih akan bertengkar.”

“Kemungkinan besar.”

Aku menatapnya. “Tetap jangan pergi dari hidupku.”

Erga mengangkat tangan kami dan mencium buku-buku jariku. “Nggak akan. Tapi saya juga nggak akan berdiri diam. Saya akan terus berjalan ke arahmu.”

Itulah jawaban yang selama ini kuinginkan. Bukan janji bahwa kami tidak akan pernah berjauhan. Bukan pengorbanan salah satu mimpi supaya yang lain merasa aman. Kami hanya berjanji tidak menjadikan jarak sebagai tempat bersembunyi.

Erga mematikan lampu satu per satu hingga tinggal cahaya di atas kursi pojok. Kami duduk berhimpitan di kursi yang sejak awal terlalu sempit untuk dua orang. Bau kopi masih sama. Bahunya masih menjadi tempat ternyaman untuk menyandarkan kepala.

Di luar, dunia tetap besar. Akan ada kompetisi, proyek, penerbangan, cedera, tagihan, dan panggilan yang mungkin terlewat. Namun setelah semua cahaya padam, kami tahu ke mana harus pulang—dan kami cukup berani untuk meminta satu sama lain kembali.

“Masih mau menagih bunga desain poster?” tanya Erga.

Aku menarik apronnya sampai wajah kami kembali dekat. “Sudah menumpuk satu tahun.”

“Bisa dicicil?”

“Nggak.”

“Berarti kedainya harus tutup lebih lama.”

Aku tersenyum. Mas Kasir rupanya sudah belajar menggoda balik.

Di balik pintu kedai yang ditutup lebih cepat, apron cokelat dan kebaya biru berdiri berdampingan di bawah satu cahaya hangat.

Aku tetap bersinar.

Erga tidak lagi bersembunyi.

Dan rumah, akhirnya, adalah tempat kami saling memilih tanpa meminta siapa pun meredup.